Gurning: Sanksi FIFA Bisa Sebabkan Pengangguran

Gurning: Sanksi FIFA Bisa Sebabkan Pengangguran
Abdulrahman Gurning © Antara
- Pelatih PSPS Pekanbaru Abdulrahman Gurning menilai jika FIFA menjatuhkan sanksi kepada Indonesia maka kemungkinan besar mereka yang terlibat langsung di dunia sepak bola nasional bakal menjadi pengangguran.

"Jelas yang paling kena dampak dari pembekuan FIFA adalah mereka yang terlibat langsung dalam sepak bola, seperti para pemain dan pelatih. Mereka mencari makan di situ, jadi kemungkinan besar mereka bakal menganggur," katanya di Pekanbaru, Ahad.

Menurutnya, sanksi pembekuan itu juga berdampak negatif bagi kelangsungan dunia sepak bola karena perhatian yang selama ini didapatkan dari kepala daerah dan kalangan dunia swasta dalam pembinaan cabang olah raga itu bisa hilang.

Jika liga sepak bola tetap digulirkan, namun liga itu akan berlangsung apa adanya dan tidak akan ada klub-klub mengontrak ataupun membayar gaji pemain di kisaran Rp500 juta, bahkan sampai Rp1 miliar per musim.

"Mungkin kembali ke perserikatan seperti dulu, dan liga berlangsung ala kadarnya. Dengan demikian sepak bola kita kembali ke klub-klub amatir, tidak ada kontrak dan gaji seadanya. Mereka yang mau aja, yang main di klub," jelasnya.

Untuk menghindari ancaman sanksi pembekuan itu, maka Gurning berharap Ketua Normalisasi PSSI Agum Gumelar melobi Presiden FIFA Sepp Blatter untuk memberikan kesempatan sekali lagi untuk bisa menggelar kongres PSSI yang ketiga.

Selain itu, kelompok-kelompok tertentu yang mengacaukan kongres PSSI di Pekanbaru dan di Jakarta yang berakhir "deadlock" hendaknya tidak memaksakan diri, apalagi sampai ngotot jika kesempatan kongres ketiga diberikan.

"Jika kesempatan yang ketiga gagal lagi, maka otomatis mungkin PSSI di skorsing," jelasnya.

Ketua Normalisasi PSSI Agum Gumelar telah berangkat ke Swiss untuk bertemu dengan Presiden FIFA Sepp Blatter sebelum sidang Komite Eksekutif (EXCO) FIFA dengan agenda membahas permasalahan PSSI serta Kongres FIFA di Zurich Swiss, Senin (30/5) hingga Rabu (1/6).

"Tanggal 29 nanti kami akan diterima FIFA. Kami akan bertemu dengan Thierry Regenass dan tim yang akan memproses kasus yang terjadi di Indonesia. Saat pertemuan nanti akan dibahas semuanya," kata Agum di Jakarta, Sabtu, (28/5).

Pihaknya akan berupaya semaksimal mungkin agar Indonesia tidak mendapatkan sanksi tegas dari FIFA. Untuk memperkuat argumennya nanti, Agum juga membawa beberapa dokumen maupun laporan Komite Normalisasi selama bertugas termasuk mengirim surat khusus untuk ketua FIFA Sepp Blatter. (ant/mac)

Berita Terkait