Di Balik Kekalahan Arsenal dari PSG: Saat Strategi Arteta Nyaris Sempurna
Richard Andreas | 1 Juni 2026 23:38
Bola.net - Arsenal harus mengubur mimpi meraih gelar Liga Champions setelah kalah 3-4 dalam adu penalti melawan PSG pada final yang berlangsung di Budapest. Setelah bermain imbang 1-1 selama 120 menit, The Gunners gagal di babak adu penalti.
Ironisnya, jalannya pertandingan sebenarnya banyak berjalan sesuai rencana Mikel Arteta. Arsenal berhasil membatasi ancaman PSG dan memaksa laga berlangsung ketat, tetapi kembali mengalami masalah yang sepanjang musim menghantui mereka: kurang tajam dalam menyerang.
Meski PSG datang sebagai favorit, Arsenal mampu membawa pertandingan ke area yang mereka inginkan. Namun pada akhirnya, minimnya ancaman di sepertiga akhir lapangan membuat mereka gagal mengubah performa disiplin menjadi trofi.
Rencana Arteta Berjalan Sesuai Skenario

Sebelum laga dimulai, banyak yang memperkirakan PSG akan mendominasi penguasaan bola. Tim asuhan Luis Enrique memang memiliki lini tengah yang lebih kuat dalam mengontrol permainan serta lini depan yang penuh kreativitas dan kemampuan menggiring bola.
Karena itu, Arsenal memilih pendekatan yang lebih pragmatis. Arteta ingin laga berlangsung ketat dan tidak terbuka karena pertukaran serangan akan lebih menguntungkan PSG.
Strategi tersebut bahkan mendapat keuntungan ketika Kai Havertz mencetak gol cepat. Penyerang asal Jerman itu memanfaatkan situasi yang menguntungkan setelah dua bek tengah PSG keluar dari posisinya, sebelum berlari bebas dan menuntaskan peluang menjadi gol pembuka.
Keputusan memainkan Havertz sebagai starter di depan Viktor Gyokeres sebenarnya tidak terlalu mengejutkan. Dalam pertandingan besar, Arteta hampir selalu mempercayai Havertz ketika sang pemain berada dalam kondisi fit.
Pilihan yang lebih menarik justru datang di lini tengah. Declan Rice dimainkan di sisi kanan duet gelandang Arsenal, kemungkinan untuk membantu Cristhian Mosquera menghadapi ancaman dari sektor kiri PSG sekaligus mengimbangi kekuatan fisik Fabian Ruiz.
Arsenal Berani Menekan Sebelum PSG Menguasai Laga

Gol cepat sempat memunculkan kekhawatiran bahwa Arsenal mencetak gol terlalu dini. Namun hingga turun minum, pertandingan tidak berubah menjadi serangan melawan pertahanan.
Ketika PSG mencoba membangun serangan dari belakang, Arsenal tetap berani menekan tinggi. Empat pemain depan mereka terus melakukan pressing sehingga PSG kesulitan membawa bola keluar dari area pertahanannya sendiri.
Beberapa peluang menjanjikan lahir dari pendekatan tersebut. Dalam satu momen, Mosquera bahkan mengikuti pergerakan Ruiz hingga ke tengah lapangan sebelum merebut bola dan memulai serangan Arsenal.
Situasi itu membuat PSG menghabiskan lebih banyak waktu daripada yang diperkirakan untuk mengalirkan bola ke area pertahanan Arsenal. Namun keseimbangan tersebut mulai berubah setelah jeda pertandingan.
Arsenal perlahan mundur lebih dalam. PSG pun semakin sering memainkan bola di area pertahanan lawan sambil memutar posisi para penyerangnya untuk mencari celah.
Penalti Dembele Mengubah Arah Pertandingan

Meski PSG mendominasi wilayah permainan pada babak kedua, mereka tetap kesulitan menciptakan peluang benar-benar bersih.
Meski begitu, kartu kuning yang diterima Mosquera dan Bukayo Saka di sisi kanan Arsenal memberi petunjuk area mana yang akan terus diserang PSG. Tim asal Prancis itu kemudian memanfaatkan situasi tersebut.
Khvicha Kvaratskhelia berhasil melewati Mosquera melalui kombinasi umpan cepat. Bek Arsenal itu kemudian menjatuhkan sang winger di kotak penalti dan wasit menunjuk titik putih.
Ousmane Dembele menjalankan tugasnya dengan sempurna untuk menyamakan kedudukan.
Menariknya, meski terlibat langsung dalam proses gol, Dembele dan Kvaratskhelia sebenarnya tidak terlalu berbahaya sepanjang pertandingan. Arsenal cukup berhasil mencegah keduanya melakukan penetrasi berbahaya lewat dribel.
Fakta yang cukup unik justru datang dari Nuno Mendes. Bek kiri PSG itu menjadi pemain yang paling sering melewati lawan melalui dribel. Di belakangnya ada bek tengah Arsenal, William Saliba, yang beberapa kali maju membawa bola ke depan.
Pergantian Arteta Tidak Memberikan Dampak Positif

Tak lama setelah gol penyeimbang PSG, Arteta melakukan perubahan. Jurrien Timber masuk menggantikan Mosquera yang sudah mengantongi kartu kuning.
Perubahan yang lebih besar terjadi ketika Viktor Gyokeres dimasukkan ke lapangan. Menariknya, striker asal Swedia itu tidak menggantikan Havertz, melainkan bermain bersama sang penyerang Jerman. Korban dari perubahan tersebut adalah kapten tim, Martin Odegaard.
Gyokeres sebelumnya tampil cukup baik pada semifinal melawan Atletico Madrid. Namun, di final ini, ia kesulitan mempertahankan bola dan menghubungkan permainan dengan rekan-rekannya.
Masalah lain muncul karena Havertz terpaksa turun lebih dalam. Sebelumnya, Arsenal cukup efektif memainkan bola langsung kepada Havertz. Setelah Gyokeres masuk, jalur distribusi lebih sering diarahkan kepada striker baru tersebut.
Secara teori, keputusan itu masuk akal karena Arteta berharap Gyokeres bisa mengeksploitasi ruang di sisi lapangan. Namun, praktiknya berbeda. Arsenal justru semakin sulit keluar dari tekanan dan nyaris tidak menciptakan peluang berarti setelah pergantian tersebut.
Persoalan Pergantian Pemain Lainnya
Lebih lanjut, Gabriel Martinelli memang menambah energi dalam membantu pertahanan menghadapi pergerakan Achraf Hakimi, tetapi kualitas umpan akhirnya mengecewakan. Noni Madueke juga gagal memaksimalkan beberapa situasi bola mati meski sempat membuat Arsenal menuntut penalti setelah dijatuhkan Mendes.
Dari seluruh pemain pengganti, Eberechi Eze menjadi satu-satunya yang mampu memberikan ketenangan saat menguasai bola. Dengan melihat jalannya pertandingan, Arteta mungkin akan bertanya-tanya apakah seharusnya Eze masuk menggantikan Odegaard lebih dulu ketimbang memasukkan Gyokeres.
Fakta yang paling mencolok adalah kiper PSG, Matvey Safonov, tidak perlu melakukan satu pun penyelamatan setelah pergantian-pergantian tersebut dilakukan.
Final yang Berakhir Seimbang
Di sisi lain, bangku cadangan PSG juga tidak memberikan dampak besar terhadap pertandingan. Meski demikian, menjelang akhir waktu normal, laga sempat menjadi lebih terbuka dengan kedua tim mendapatkan ruang lebih besar.
Babak tambahan berlangsung relatif minim peluang dan karena tidak ada gol tambahan yang tercipta, final Liga Champions untuk pertama kalinya dalam satu dekade harus ditentukan melalui adu penalti.
Pada akhirnya harus ada pemenang dan pecundang. Namu, jika melihat keseluruhan pertandingan, laga ini lebih menyerupai hasil imbang yang sangat ketat. Kedua tim sama-sama gagal menunjukkan kualitas serangan yang cukup untuk memenangkan pertandingan dalam permainan terbuka.
Arsenal sebenarnya berhasil membawa pertandingan ke skenario yang mereka inginkan. Sayangnya, ketika laga ditentukan dari titik penalti, hasil akhirnya tidak berpihak kepada mereka.
TAG TERKAIT
BERITA TERKAIT
-
No Arsenal, No Barcelona! Julian Alvarez Terima Nasib Bertahan di Atletico!
Liga Spanyol 1 September 2026, 19:52
-
Sulit Tebus Tim Utama Arsenal, Ethan Nwaneri Merantau ke Jerman
Liga Inggris 1 September 2026, 18:05
-
5 Pelajaran Kemenangan Arsenal atas Aston Villa: Bukti Mental Juara
Liga Inggris 1 September 2026, 12:24
-
Mikel Arteta Mulai Rasakan Tekanan Besar di Awal Perburuan Gelar Premier League
Liga Inggris 1 September 2026, 10:24
-
Rapor Pemain Arsenal vs Aston Villa: Saka Jadi Penentu, Rice Tampil Solid
Liga Inggris 1 September 2026, 08:50
LATEST UPDATE
-
Ipswich Town vs Liverpool, Bradley Barcola Sudah Bisa Debut?
Liga Inggris 3 September 2026, 20:16
-
Manchester United Tiru Strategi Transfer Carlos Baleba untuk Datangkan Lewis Hall
Liga Inggris 3 September 2026, 20:04
-
Andoni Iraola Menunggu Magis Bradley Barcola di Liverpool
Liga Inggris 3 September 2026, 19:50
-
Manchester United Bakal Jor-joran Belanja Bek di Tahun 2027?
Liga Inggris 3 September 2026, 19:29
-
Marc Cucurella Sukses Bikin Real Madrid Merasa Dapat Bek Kiri Istimewa
Liga Spanyol 3 September 2026, 19:21
-
Eks Liverpool Ini Bakal Gantikan Enzo Fernandez di Chelsea?
Liga Inggris 3 September 2026, 19:12
-
Terungkap, Bintang Arsenal Ini Nyaris Gabung Manchester United di Musim Panas 2026
Liga Inggris 3 September 2026, 19:00
-
Nyetir Sambil Mabuk, Jose Mourinho Semprot Raul Asencio: Memalukan!
Liga Spanyol 3 September 2026, 18:49
-
Detail Kepindahan Chido Obi ke Willem II: Ada Klausul Pembelian Permanen?
Liga Inggris 3 September 2026, 18:37
-
Tempat Menonton Live Siaran Langsung Timnas Indonesia U-20 vs Laos Hari Ini
Tim Nasional 3 September 2026, 18:21
-
Link Streaming Siaran Langsung Timnas Indonesia U-20 vs Laos Hari Ini
Tim Nasional 3 September 2026, 18:14
-
Jadwal Pekan ke-1 BRI Super League di Indosiar dan Vidio, 4-6 September 2026
Bola Indonesia 3 September 2026, 17:14
-
Prediksi BRI Super League: Bali United vs PSS Sleman 4 September 2026
Bola Indonesia 3 September 2026, 16:44
-
Prediksi BRI Super League: Arema FC vs Isenmulang FC 4 September 2026
Bola Indonesia 3 September 2026, 16:16
LATEST EDITORIAL
-
Robert Sanchez Blunder Lagi, 5 Kiper Ini Bisa Jadi Solusi Chelsea
Editorial 27 Agustus 2026, 14:00
-
5 Pemain Manchester United yang Pernah Memakai Nomor 20 Sebelum Carlos Baleba
Editorial 26 Agustus 2026, 12:06
-
4 Klub yang Bisa Jadi Pelabuhan Nicolas Jackson, Aston Villa Paling Berpeluang?
Editorial 25 Agustus 2026, 11:33
-
5 Alternatif Bek Kiri Manchester United jika Gagal Mendapatkan Lewis Hall
Editorial 12 Agustus 2026, 12:51

