Donnarumma dan Malam Balas Dendam yang Manis di Allianz Arena
Gia Yuda Pradana | 1 Juni 2025 17:00
Bola.net - Gianluigi Donnarumma akhirnya bisa tersenyum lebar saat menghadapi Inter Milan, tim yang dulu sering memberinya luka mendalam. Bersama Paris Saint-Germain (PSG), dia sukses menaklukkan Nerazzurri di final Liga Champions 2025. Kemenangan ini bukan sekadar gelar, tapi juga penebusan emosional atas masa lalu yang pahit.
PSG meraih trofi Liga Champions pertamanya, sebuah pencapaian bersejarah bagi klub ibu kota Prancis. Di Allianz Arena, Munich, Les Parisiens tampil luar biasa dan menang telak 5-0 atas Inter Milan. Lima gol mereka dicetak oleh Achraf Hakimi, Desire Doue (dua gol), Khvicha Kvaratskhelia, dan Senny Mayulu.
Bagi Donnarumma, malam itu lebih dari sekadar final. Itu adalah panggung balas dendam yang dibungkus elegansi. Semua rasa sakit yang pernah dia alami seperti larut dalam euforia kemenangan yang akhirnya datang juga.
Derby Milan yang Tak Pernah Bersahabat
Sebelum merantau ke Paris, Donnarumma adalah wajah yang sangat dikenali di kota Milan. Dia sempat jadi andalan AC Milan, klub yang menjadi rival abadi Inter. Namun, dari 11 kali bermain di Derby della Madonnina, hanya dua kemenangan yang bisa dia rasakan.
Sisanya adalah mimpi buruk yang membekas. Enam kekalahan dan tiga hasil imbang mencoreng catatan kariernya. Gawangnya dijebol 21 kali oleh Inter, sementara hanya dua kali dia bisa pulang tanpa kebobolan. Angka-angka itu jadi bayang-bayang yang tak mudah dilupakan.
Salah satu luka terdalam datang pada Februari 2021. AC Milan kalah 0-3 dari Inter di San Siro. Dua gol Lautaro Martinez membuat Donnarumma terpaku di bawah mistar, menatap papan skor dengan tatapan kosong yang tak bisa disembunyikan.
Final Munich: Momen yang Sangat Personal
Final Liga Champions 2025 bukan hanya tentang trofi bagi Donnarumma. Dia datang ke Munich dengan tekad untuk menulis ulang takdir yang dulu tak berpihak. Ini bukan sekadar pertandingan besar, tapi pertarungan batin yang menuntut jawaban tuntas.
Ketika peluit panjang berbunyi, dia tak hanya menjadi saksi sejarah untuk PSG. Donnarumma juga menutup satu bab kelam dalam hidupnya, membuka halaman baru sebagai sosok yang telah berdamai dengan masa lalu. Malam itu, dia tidak hanya menang—dia bangkit sebagai pemenang sejati.
“Kami nyaris tersingkir beberapa kali sepanjang musim ini, tapi akhirnya kami bisa terus melaju dan menyelesaikan musim yang luar biasa,” ujarnya kepada Sky Sport. Kutipan itu menggambarkan betapa panjang dan berliku jalan yang harus dia tempuh hingga berdiri sebagai juara.
Luis Enrique, Arsitek Kepercayaan Diri
Di balik kegemilangan PSG, ada peran besar sang pelatih, Luis Enrique. Donnarumma tahu betul bahwa pria asal Spanyol itu bukan cuma perancang taktik, tapi juga penyelaras suasana ruang ganti. Enrique membangun ruang yang membuat para pemain merasa bebas dan percaya diri.
“Pelatih kami memberi kami kebebasan dan membuat kami tetap tenang. Inilah filosofinya. Dia mempersiapkan final ini dengan cara terbaik, dan kita semua bisa melihat hasilnya,” kata Donnarumma. Ucapan itu menegaskan peran penting pelatih dalam membangun mentalitas juara.
PSG meraih kemenangan bukan hanya karena kualitas individu. Mereka juara karena kolektivitas dan ketenangan yang mereka bawa hingga menit terakhir. Donnarumma menjadi simbol semua itu: dari luka menuju ketenangan, dari trauma menjadi euforia.
Donnarumma: Cerita Pahit yang Berakhir dengan Senyuman
Kisah Gianluigi Donnarumma bukan hanya tentang sepak bola, tapi juga tentang pengampunan dan pembuktian diri. Dia berdiri di Munich bukan sebagai mantan kiper AC Milan yang disakiti Inter, melainkan sebagai penjaga gawang PSG yang membawa harapan dan kemenangan.
Dari Derby della Madonnina yang penuh luka hingga final Liga Champions yang penuh sorak sorai, Donnarumma menempuh perjalanan yang tak mudah. Namun, dia tak pernah berhenti percaya, tak pernah berhenti berjuang.
Kini, cerita itu berakhir dengan senyuman. Donnarumma menatap masa depan, bukan lagi dengan bayang-bayang, melainkan dengan keyakinan bahwa segala luka, pada waktunya, bisa sembuh dengan kemenangan.
TAG TERKAIT
BERITA TERKAIT
-
Usai Cabut dari Real Madrid, Tujuan Xabi Alonso Berikutnya Terungkap
Liga Spanyol 20 Januari 2026, 04:30
-
Kabar Panas dari Stamford Bridge: Chelsea Siap Lepas Gelandang Juara Piala Dunia Ini
Liga Inggris 20 Januari 2026, 03:29
-
Prediksi Copenhagen vs Napoli 21 Januari 2026
Liga Champions 20 Januari 2026, 03:03
-
Prediksi Olympiakos vs Leverkusen 21 Januari 2026
Liga Champions 20 Januari 2026, 03:02
-
Prediksi Sporting CP vs PSG 21 Januari 2026
Liga Champions 20 Januari 2026, 03:01
LATEST UPDATE
-
Jadwal Lengkap Premier League 2025/2026 Live di SCTV dan Vidio
Liga Inggris 20 Januari 2026, 08:52
-
Man City Main di Lapangan Sintetis dan Beku, Pep Guardiola: Dilarang Cengeng!
Liga Champions 20 Januari 2026, 08:49
-
Jadwal Lengkap Indonesia Masters 2026, 20-25 Januari 2026
Bulu Tangkis 20 Januari 2026, 08:45
-
Marc Guehi Tiba, Pep Guardiola Gembira
Liga Inggris 20 Januari 2026, 08:25
-
Jadwal Liga Champions Pekan Ini Live di SCTV, 20-22 Januari 2026
Liga Champions 20 Januari 2026, 08:25
-
Emil Audero Cleansheet, Aksi Heroik Gagalkan Kemenangan Verona
Liga Italia 20 Januari 2026, 08:24
LATEST EDITORIAL
-
5 Pemain Liverpool yang Bisa Ikuti Jurgen Klopp ke Real Madrid
Editorial 19 Januari 2026, 12:24
-
4 Bek Tengah yang Bisa Jadi Target Chelsea di Bursa Januari: Ada Eks Real Madrid
Editorial 19 Januari 2026, 12:06
-
5 Kekalahan Terburuk Real Madrid di Copa del Rey Abad Ini
Editorial 16 Januari 2026, 10:19
-
5 Kandidat Pelatih Real Madrid Musim Depan: Zidane, Klopp, Siapa Lagi?
Editorial 15 Januari 2026, 07:26









