Drama Liga Champions Menanti Chelsea: Napoli, Laga Hidup-Mati, dan Dendam Masa Lalu

Richard Andreas | 23 Januari 2026 10:16
Drama Liga Champions Menanti Chelsea: Napoli, Laga Hidup-Mati, dan Dendam Masa Lalu
Para pemain Chelsea merayakan gol timnya dalam pertandingan Liga Champions melawan Pafos, Kamis (22/1/2026). (c) AP Photo/Kin Cheung

Bola.net - Chelsea memang menang tipis 1-0 atas Pafos FC di Stamford Bridge, tetapi hasil itu belum cukup untuk menenangkan perjalanan mereka di Liga Champions.

Kemenangan tersebut membuat peluang Chelsea finis di delapan besar klasemen fase liga masih terbuka, tapi segalanya harus ditentukan pada laga terakhir pekan depan. Rintangan yang menanti bukan sembarang lawan, melainkan Napoli di kandangnya sendiri.

Advertisement

Pertandingan mendatang bukan sekadar perebutan tiket ke babak gugur. Ada sejarah, ada tokoh-tokoh lama, dan ada tekanan besar yang membuat duel di Naples terasa jauh lebih panas dari sekadar angka di papan klasemen.

1 dari 6 halaman

Situasi Klasemen yang Menekan Kedua Tim

Situasi Klasemen yang Menekan Kedua Tim

Pemain Chelsea, Moises Caicedo (kiri), dan Pedro Neto berjalan meninggalkan lapangan setelah laga Liga Champions kontra Pafos, Kamis (22/1/2026). (c) AP Photo/Kin Cheung

Chelsea akan menantang Napoli dengan posisi rapuh. Mereka berada di peringkat kedelapan dengan 13 poin, angka yang juga dimiliki tujuh tim lain dari PSG hingga Atalanta.

Catatan kandang Chelsea di fase liga terbilang sempurna, tetapi performa tandang justru menjadi masalah. Dari tiga laga tandang, mereka hanya mengumpulkan satu poin, hasil imbang 2-2 yang mengecewakan melawan Qarabag.

Di sisi lain, Napoli berada dalam situasi yang tak kalah genting. Juara bertahan Serie A itu terperosok di peringkat ke-25 dan setidaknya membutuhkan satu poin melawan Chelsea untuk memastikan tempat di play-off Februari, sekaligus menghindari eliminasi dini dari Liga Champions.

2 dari 6 halaman

Sejarah Lama Chelsea dan Napoli yang Tak Terlupakan

Sejarah Lama Chelsea dan Napoli yang Tak Terlupakan

Pemain Chelsea, Moises Caicedo (tengah), merayakan golnya dalam pertandingan Liga Champions melawan Pafos, Kamis (22/1/2026). (c) AP Photo/Kin Cheung

Chelsea dan Napoli jarang bertemu, tetapi satu pertemuan di masa lalu meninggalkan jejak yang dalam. Pada Februari 2012, Chelsea bertandang ke Stadio Diego Armando Maradona, yang saat itu masih bernama San Paolo, dan tumbang 1-3 pada leg pertama babak 16 besar.

Di bawah arahan Andre Villas-Boas, Chelsea nyaris kebobolan lebih banyak jika bukan karena sapuan krusial Ashley Cole di garis gawang. Kekalahan itu tampak seperti awal akhir perjalanan mereka di kompetisi tersebut.

Namun cerita berbalik dramatis. Tiga pekan kemudian, Chelsea yang sudah ditangani Roberto Di Matteo menang 4-1 di leg kedua dan melaju hingga akhirnya mengangkat trofi Liga Champions pertama dalam sejarah klub.

Dengan taruhan besar bagi Napoli kali ini, atmosfer di Naples diperkirakan akan lebih mengintimidasi dibanding hampir 14 tahun lalu.

3 dari 6 halaman

Antonio Conte dan Dendam yang Tak Pernah Sepenuhnya Padam

Antonio Conte dan Dendam yang Tak Pernah Sepenuhnya Padam

Pelatih Napoli, Antonio Conte bereaksi pada laga melawan Hellas Verona, 8 Januari 2026. (c) Alessandro Garofalo/LaPresse via AP

Antonio Conte bukan sekadar pelatih Napoli dalam cerita ini. Ia adalah sosok yang membawa Chelsea menjuarai Premier League 2017 dan Piala FA setahun setelahnya, sebelum hubungannya dengan klub berakhir pahit.

Pelatih asal Italia itu sempat menggugat Chelsea atas pemecatan tidak sah, sebuah konflik yang terjadi di era kepemilikan Roman Abramovich. Meski rezim di Stamford Bridge kini telah berganti, sulit membayangkan Conte datang ke laga ini tanpa motivasi ekstra.

Dengan tekanan besar di pundak Napoli untuk bertahan di Liga Champions, peran Conte menjadi semakin sentral. Laga ini bisa menjadi panggung pembuktian, bukan hanya bagi timnya, tetapi juga bagi dirinya sendiri menghadapi salah satu klub yang pernah ia bawa ke puncak.

4 dari 6 halaman

Lukaku, Luka Lama, dan Hubungan yang Retak

Nama Romelu Lukaku kembali mengaitkan dua klub ini dengan emosi yang belum sepenuhnya reda. Striker Belgia itu baru pulih dari cedera paha yang membuatnya absen sepanjang musim bersama Napoli dan sempat duduk di bangku cadangan saat hasil imbang 1-1 melawan Copenhagen.

Bagi Chelsea, Lukaku dikenang sebagai salah satu rekrutan paling mengecewakan. Ia gagal mencetak gol dalam 15 penampilan pada periode pertamanya, lalu kembali pada 2021 dengan status rekor transfer klub, namun hanya menghasilkan 15 gol dari 44 laga.

Yang paling melukai bukan sekadar performa, melainkan wawancara tanpa izin dengan Sky Italia pada musim 2021/22, di mana Lukaku mengkritik pendekatan taktik Thomas Tuchel dan mengaku ingin kembali ke Inter.

Hubungan itu tak pernah benar-benar pulih hingga akhirnya Chelsea menjualnya ke Napoli pada Agustus 2024 dengan nilai awal 30 juta euro.

Lukaku sendiri mengungkapkan kekecewaannya pada Maret tahun lalu kepada Corriere dello Sport. Ia menilai klub telah memperlakukannya secara tidak adil, dari dipisahkan dari tim utama hingga tekanan yang menurutnya sengaja dibiarkan berlarut-larut.

5 dari 6 halaman

Posisi Sulit The Blues

Chelsea sadar mereka berada dalam posisi sulit. Bahkan kemenangan di Naples belum tentu menjamin tempat di delapan besar, mengingat selisih gol bisa menjadi penentu akhir.

Pelatih kepala Chelsea, Liam Rosenior, mencoba meredam tekanan. “Klub ini tidak pernah gentar menghadapi pertandingan apa pun,” kata Rosenior.

LATEST UPDATE