Klub Premier League Punya Uang dan Bintang, tapi Kenapa Masih Tertinggal di Liga Champions?

Richard Andreas | 13 Maret 2026 19:49
Klub Premier League Punya Uang dan Bintang, tapi Kenapa Masih Tertinggal di Liga Champions?
Skuad Manchester City menghampiri para pendukung mereka usai dikalahkan oleh Real Madrid (c) AP Photo/Jose Breton

Bola.net - Pekan pertama babak 16 besar Liga Champions memberikan pengingat keras bagi klub-klub Premier League. Meski dikenal sebagai liga paling kaya dan kompetitif di dunia, hasil di panggung Eropa justru menunjukkan cerita berbeda.

Enam wakil Inggris gagal meraih kemenangan pada leg pertama fase tersebut. Secara agregat, klub-klub Eropa lainnya bahkan unggul telak dengan skor 16-6 atas tim Premier League.

Advertisement

Situasi ini memunculkan kembali pertanyaan lama, apakah kekuatan finansial dan kedalaman skuad Premier League benar-benar cukup untuk mendominasi sepak bola Eropa?

1 dari 6 halaman

Awal Babak 16 Besar Yang Mengecewakan

Awal Babak 16 Besar Yang Mengecewakan

Aksi Declan Rice dalam laga Bayer Leverkusen vs Arsenal di leg pertama 16 besar Liga Champions 2025/2026, Kamis (12/3/2026). (c) AP Photo/Martin Meissner

Babak 16 besar Liga Champions memang baru memasuki setengah jalan. Belum ada tim yang dipastikan lolos atau tersingkir. Namun statistik awal sudah cukup mencolok.

Tidak satu pun dari enam wakil Premier League mampu meraih kemenangan di leg pertama. Hasil itu membuat klub-klub Inggris tertinggal jauh secara agregat dari rival-rival mereka di Eropa.

Memang ada faktor yang perlu dipertimbangkan. Lima dari enam laga tersebut dimainkan di kandang lawan, yang tentu memberi keuntungan tersendiri bagi tim tuan rumah.

Meski begitu, beberapa kekalahan tetap terasa mencolok. Manchester City misalnya harus mengakui keunggulan Real Madrid, sementara Chelsea tumbang dari juara bertahan Paris Saint-Germain.

Arsenal juga kesulitan dan hanya mampu bermain imbang 1-1 saat bertandang ke markas Bayer Leverkusen.

2 dari 6 halaman

Jadwal Padat dan Kelelahan Pemain

Jadwal Padat dan Kelelahan Pemain

Randal Kolo Muani berebut bola dengan Johnny Cardoso dalam laga leg pertama babak 16 besar Liga Champions antara Atletico vs Tottenham di Estadio Metropolitano, 11 Maret 2026 (c) AP Photo/Jose Breton

Penampilan klub-klub Inggris dalam laga tersebut juga memunculkan kesan yang sama, bahwa para pemain tampak kelelahan. Banyak tim terlihat kehilangan fokus, terutama dalam bertahan.

Chelsea kebobolan dua gol di akhir laga melawan PSG. Manchester City dihantam tiga gol Federico Valverde dalam rentang hanya 23 menit. Tottenham bahkan sudah tertinggal 0-4 setelah 23 menit pertandingan.

Premier League dikenal sebagai liga dengan tempo paling cepat dan intens di Eropa. Ritme tinggi ini sering menjadi keunggulan dalam kompetisi domestik, tetapi juga membawa konsekuensi serius menjelang akhir musim.

Seiring bertambahnya cedera dan kelelahan, performa tim pun sering menurun. Pola ini berulang dalam beberapa musim terakhir ketika klub-klub Inggris memasuki fase krusial kompetisi Eropa.

3 dari 6 halaman

Minimnya Bantuan Jadwal Dibanding Liga Lain

Minimnya Bantuan Jadwal Dibanding Liga Lain

Aksi Joao Pedro dalam laga PSG vs Chelsea di leg pertama 16 besar Liga Champions 2025/2026, Kamis (12/3/2026). (c) AP Photo/Michel Euler

Masalah lain yang sering dihadapi klub Inggris adalah jadwal pertandingan yang tidak memberi banyak ruang istirahat.

Ketika Chelsea harus bermain hingga babak perpanjangan waktu melawan klub Championship, Wrexham, PSG justru mendapat akhir pekan tanpa pertandingan.

Lawan mereka, Nantes, bersama operator Ligue 1 sepakat menunda laga untuk memberi PSG waktu persiapan menghadapi Liga Champions.

Situasi serupa juga terjadi di Jerman. Bayern Munchen mendapatkan tambahan waktu persiapan karena pertandingan liga mereka dipindah ke Jumat malam sebelum bertandang ke Atalanta.

Sementara itu di Inggris, Newcastle dan Manchester City justru harus saling berhadapan di Piala FA pada Sabtu malam sebelum menjalani laga Eropa.

Perbedaan perlakuan jadwal ini menjadi salah satu faktor yang membuat klub-klub Inggris harus bekerja lebih keras dibanding rival mereka di benua lain.

4 dari 6 halaman

Kompetisi Liga Domestik Yang Terlalu Ketat

Kompetisi Liga Domestik Yang Terlalu Ketat

Alexis Mac Allister melakukan protes ke wasit dalam laga Galatasaray vs Liverpool di Liga Champions 2025/2026, Rabu (11/3/2026). (c) AP Photo/Khalil Hamra

Faktor lain yang sering disebut adalah tingkat kompetisi Premier League yang sangat brutal. Hampir setiap pertandingan menghadirkan tantangan besar.

Bahkan tim seperti Wolverhampton, yang sempat menuju salah satu musim terburuk dalam sejarah mereka di liga, masih mampu mengambil empat poin dari dua tim Liga Champions, Arsenal dan Liverpool, dalam waktu dua pekan.

Contoh lain terlihat pada akhir Januari. Liverpool kalah dari Bournemouth, Tottenham ditahan Burnley, dan Newcastle United takluk dari Aston Villa.

Namun, di kompetisi Eropa pada periode yang sama, klub-klub Inggris justru tampil dominan. Liverpool menang besar atas Marseille dan Qarabag dengan agregat 9-0, Tottenham mengalahkan Borussia Dortmund dan Eintracht Frankfurt, sementara Newcastle menghancurkan PSV Eindhoven.

Kontras ini memperlihatkan betapa kerasnya persaingan di Premier League dibanding liga domestik lainnya.

5 dari 6 halaman

Statistik Menunjukkan Tidak Ada Dominasi Inggris

Statistik Menunjukkan Tidak Ada Dominasi Inggris

Pemain Newcastle, Joe Willock mencoba menghentikan pergerakan winger Barcelona, Lamine Yamal di duel Liga Champions, 11 Maret 2026. (c) AP Photo/Jon Super

Meski sering disebut sebagai liga terbaik di dunia, statistik lima musim terakhir menunjukkan bahwa dominasi Inggris di Eropa sebenarnya belum terjadi.

Dalam lima musim terakhir Liga Champions, dari sepuluh finalis hanya empat yang berasal dari Inggris. Dua di antaranya berhasil menjadi juara: Chelsea pada 2021 dan Manchester City pada 2023.

Jumlah itu sama dengan Spanyol yang juga memiliki dua juara dalam periode tersebut melalui Real Madrid pada 2022 dan 2024.

Situasi serupa terjadi di Liga Europa. Dari sepuluh finalis dalam lima musim terakhir, hanya tiga yang berasal dari Inggris dan hanya satu yang menjadi juara, yakni Tottenham musim lalu.

Jika berbicara soal dominasi nyata, contoh paling jelas datang dari La Liga pada pertengahan dekade 2010-an. Antara 2014 hingga 2018, sembilan dari sepuluh trofi Liga Champions dan Liga Europa dimenangkan klub Spanyol.

6 dari 6 halaman

Tantangan Berat Bagi Klub Inggris

Kesulitan menaklukkan Eropa juga terlihat dari perjalanan Manchester City di bawah Pep Guardiola. Meski mendominasi Premier League dengan enam gelar liga dalam sembilan musim, City hanya mencapai dua final dan satu semifinal Liga Champions.

Catatan itu menunjukkan bahwa kesuksesan domestik tidak otomatis diterjemahkan menjadi dominasi di Eropa.

Pelatih Arsenal, Mikel Arteta, juga mengakui betapa sulitnya memenangkan Liga Champions. Setelah timnya bermain imbang melawan Bayer Leverkusen, ia menegaskan bahwa setiap laga di kompetisi tersebut menghadirkan tantangan besar.

“Kami tahu betapa pentingnya pertandingan ini dan betapa sulitnya lawan yang kami hadapi,” kata Arteta. “Sekarang kami harus menyelesaikan pekerjaan itu di London.”

Leg kedua babak 16 besar masih akan dimainkan dan peluang klub-klub Inggris belum sepenuhnya tertutup. Namun, jelas ada tantangan besar dalam menjaga kebugaran pemain.

LATEST UPDATE