Klub Premier League Punya Uang dan Bintang, tapi Kenapa Masih Tertinggal di Liga Champions?
Richard Andreas | 13 Maret 2026 19:49
Bola.net - Pekan pertama babak 16 besar Liga Champions memberikan pengingat keras bagi klub-klub Premier League. Meski dikenal sebagai liga paling kaya dan kompetitif di dunia, hasil di panggung Eropa justru menunjukkan cerita berbeda.
Enam wakil Inggris gagal meraih kemenangan pada leg pertama fase tersebut. Secara agregat, klub-klub Eropa lainnya bahkan unggul telak dengan skor 16-6 atas tim Premier League.
Situasi ini memunculkan kembali pertanyaan lama, apakah kekuatan finansial dan kedalaman skuad Premier League benar-benar cukup untuk mendominasi sepak bola Eropa?
Awal Babak 16 Besar Yang Mengecewakan

Babak 16 besar Liga Champions memang baru memasuki setengah jalan. Belum ada tim yang dipastikan lolos atau tersingkir. Namun statistik awal sudah cukup mencolok.
Tidak satu pun dari enam wakil Premier League mampu meraih kemenangan di leg pertama. Hasil itu membuat klub-klub Inggris tertinggal jauh secara agregat dari rival-rival mereka di Eropa.
Memang ada faktor yang perlu dipertimbangkan. Lima dari enam laga tersebut dimainkan di kandang lawan, yang tentu memberi keuntungan tersendiri bagi tim tuan rumah.
Meski begitu, beberapa kekalahan tetap terasa mencolok. Manchester City misalnya harus mengakui keunggulan Real Madrid, sementara Chelsea tumbang dari juara bertahan Paris Saint-Germain.
Arsenal juga kesulitan dan hanya mampu bermain imbang 1-1 saat bertandang ke markas Bayer Leverkusen.
Jadwal Padat dan Kelelahan Pemain

Penampilan klub-klub Inggris dalam laga tersebut juga memunculkan kesan yang sama, bahwa para pemain tampak kelelahan. Banyak tim terlihat kehilangan fokus, terutama dalam bertahan.
Chelsea kebobolan dua gol di akhir laga melawan PSG. Manchester City dihantam tiga gol Federico Valverde dalam rentang hanya 23 menit. Tottenham bahkan sudah tertinggal 0-4 setelah 23 menit pertandingan.
Premier League dikenal sebagai liga dengan tempo paling cepat dan intens di Eropa. Ritme tinggi ini sering menjadi keunggulan dalam kompetisi domestik, tetapi juga membawa konsekuensi serius menjelang akhir musim.
Seiring bertambahnya cedera dan kelelahan, performa tim pun sering menurun. Pola ini berulang dalam beberapa musim terakhir ketika klub-klub Inggris memasuki fase krusial kompetisi Eropa.
Minimnya Bantuan Jadwal Dibanding Liga Lain

Masalah lain yang sering dihadapi klub Inggris adalah jadwal pertandingan yang tidak memberi banyak ruang istirahat.
Ketika Chelsea harus bermain hingga babak perpanjangan waktu melawan klub Championship, Wrexham, PSG justru mendapat akhir pekan tanpa pertandingan.
Lawan mereka, Nantes, bersama operator Ligue 1 sepakat menunda laga untuk memberi PSG waktu persiapan menghadapi Liga Champions.
Situasi serupa juga terjadi di Jerman. Bayern Munchen mendapatkan tambahan waktu persiapan karena pertandingan liga mereka dipindah ke Jumat malam sebelum bertandang ke Atalanta.
Sementara itu di Inggris, Newcastle dan Manchester City justru harus saling berhadapan di Piala FA pada Sabtu malam sebelum menjalani laga Eropa.
Perbedaan perlakuan jadwal ini menjadi salah satu faktor yang membuat klub-klub Inggris harus bekerja lebih keras dibanding rival mereka di benua lain.
Kompetisi Liga Domestik Yang Terlalu Ketat

Faktor lain yang sering disebut adalah tingkat kompetisi Premier League yang sangat brutal. Hampir setiap pertandingan menghadirkan tantangan besar.
Bahkan tim seperti Wolverhampton, yang sempat menuju salah satu musim terburuk dalam sejarah mereka di liga, masih mampu mengambil empat poin dari dua tim Liga Champions, Arsenal dan Liverpool, dalam waktu dua pekan.
Contoh lain terlihat pada akhir Januari. Liverpool kalah dari Bournemouth, Tottenham ditahan Burnley, dan Newcastle United takluk dari Aston Villa.
Namun, di kompetisi Eropa pada periode yang sama, klub-klub Inggris justru tampil dominan. Liverpool menang besar atas Marseille dan Qarabag dengan agregat 9-0, Tottenham mengalahkan Borussia Dortmund dan Eintracht Frankfurt, sementara Newcastle menghancurkan PSV Eindhoven.
Kontras ini memperlihatkan betapa kerasnya persaingan di Premier League dibanding liga domestik lainnya.
Statistik Menunjukkan Tidak Ada Dominasi Inggris

Meski sering disebut sebagai liga terbaik di dunia, statistik lima musim terakhir menunjukkan bahwa dominasi Inggris di Eropa sebenarnya belum terjadi.
Dalam lima musim terakhir Liga Champions, dari sepuluh finalis hanya empat yang berasal dari Inggris. Dua di antaranya berhasil menjadi juara: Chelsea pada 2021 dan Manchester City pada 2023.
Jumlah itu sama dengan Spanyol yang juga memiliki dua juara dalam periode tersebut melalui Real Madrid pada 2022 dan 2024.
Situasi serupa terjadi di Liga Europa. Dari sepuluh finalis dalam lima musim terakhir, hanya tiga yang berasal dari Inggris dan hanya satu yang menjadi juara, yakni Tottenham musim lalu.
Jika berbicara soal dominasi nyata, contoh paling jelas datang dari La Liga pada pertengahan dekade 2010-an. Antara 2014 hingga 2018, sembilan dari sepuluh trofi Liga Champions dan Liga Europa dimenangkan klub Spanyol.
Tantangan Berat Bagi Klub Inggris
Kesulitan menaklukkan Eropa juga terlihat dari perjalanan Manchester City di bawah Pep Guardiola. Meski mendominasi Premier League dengan enam gelar liga dalam sembilan musim, City hanya mencapai dua final dan satu semifinal Liga Champions.
Catatan itu menunjukkan bahwa kesuksesan domestik tidak otomatis diterjemahkan menjadi dominasi di Eropa.
Pelatih Arsenal, Mikel Arteta, juga mengakui betapa sulitnya memenangkan Liga Champions. Setelah timnya bermain imbang melawan Bayer Leverkusen, ia menegaskan bahwa setiap laga di kompetisi tersebut menghadirkan tantangan besar.
“Kami tahu betapa pentingnya pertandingan ini dan betapa sulitnya lawan yang kami hadapi,” kata Arteta. “Sekarang kami harus menyelesaikan pekerjaan itu di London.”
Leg kedua babak 16 besar masih akan dimainkan dan peluang klub-klub Inggris belum sepenuhnya tertutup. Namun, jelas ada tantangan besar dalam menjaga kebugaran pemain.
TAG TERKAIT
BERITA TERKAIT
-
Jadwal Lengkap Premier League 2026/2027
Liga Inggris 27 Oktober 2026, 12:28
-
Prediksi Man City vs Brighton 29 Oktober 2026
Liga Inggris 27 Oktober 2026, 11:16
-
Kisah Harry Kane: Dari Beberapa Kali Jadi Pemain Pinjaman hingga Meraih Ballon d'Or
Bundesliga 27 Oktober 2026, 07:35
-
Bukayo Saka Raih Socrates Award di Ballon d'Or 2026
Liga Inggris 27 Oktober 2026, 07:19
-
PSG Pertahankan Gelar Men's Club of the Year di Ballon d'Or 2026
Liga Champions 27 Oktober 2026, 06:03
LATEST UPDATE
-
Ini Satu Hal yang Buat Lamine Yamal Kalah dari Harry Kane dalam Ballon d'Or 2026
Liga Champions 27 Oktober 2026, 15:49
-
Barcelona Lewatkan Kesempatan Rekrut Bomber Tajam Club Brugge, Kini Menyesal?
Liga Spanyol 27 Oktober 2026, 15:42
-
Christian Pulisic Sepakat Perpanjang Kontrak di AC Milan hingga 2031
Liga Italia 27 Oktober 2026, 15:02
-
Pedas! Gary Neville Tuding Bruno Fernandes Sebagai 'Pengkhianat'
Liga Inggris 27 Oktober 2026, 14:55
-
Unai Emery Tutup Pintu untuk Gabung Manchester United
Liga Inggris 27 Oktober 2026, 14:52
-
Michael Carrick Pimpin Sesi Latihan MU Hari Ini, Gak Jadi Dipecat?
Liga Inggris 27 Oktober 2026, 14:42
-
Mikel Arteta Ingatkan Arsenal, Fleetwood Town Bisa Jadi Ancaman di Carabao Cup
Liga Inggris 27 Oktober 2026, 14:22
-
Prediksi Liverpool vs Chelsea 29 Oktober 2026
Liga Inggris 27 Oktober 2026, 14:02
-
Michael Carrick Selamat dari Pemecatan, Manchester United Masih Beri Kesempatan
Liga Inggris 27 Oktober 2026, 13:42
-
Link Live Streaming PSS vs Borneo FC di BRI Super League
Bola Indonesia 27 Oktober 2026, 13:27
LATEST EDITORIAL
-
4 Pemain Inggris yang Meraih Ballon d'Or sebelum Harry Kane
Editorial 27 Oktober 2026, 13:52
-
Kursi Panas Pelatih Premier League: 4 Manajer yang Berisiko Dipecat Lebih Dulu
Editorial 26 Oktober 2026, 23:49
-
7 Pelatih Gratis yang Bisa Gantikan Michael Carrick di Manchester United
Editorial 26 Oktober 2026, 16:03
-
5 Pemain Argentina yang Bisa Mewarisi Nomor 10 Lionel Messi
Editorial 8 Oktober 2026, 11:18




