Meninggalkan Rumah di Usia 18: Kisah Perjuangan Mikel Arteta di PSG
Aga Deta | 29 April 2025 17:20
Bola.net - Mikel Arteta masih berusia 18 tahun ketika menerima panggilan telepon yang mengubah hidupnya. Ia diminta untuk segera berangkat ke Paris, meninggalkan Spanyol dan memulai petualangan baru bersama PSG.
Saat itu, masa depannya di Barcelona tidak menentu. Persaingan di tim utama terlalu ketat dengan kehadiran nama-nama besar seperti Pep Guardiola dan Luis Enrique.
Di saat yang sama, pelatih anyar PSG, Luis Fernandez, melihat peluang besar. Ia ingin membangun kembali tim yang pernah berjaya di era 90-an dengan memasukkan darah muda seperti Arteta.
Keputusan untuk pindah ke Prancis bukan hal mudah bagi Arteta. Tapi ini adalah momen penting yang kemudian membentuk karier gemilangnya di sepak bola.
Awal Perjalanan di Kota Paris

Luis Fernandez baru saja kembali melatih PSG setelah periode sulit klub. Ia ingin merevitalisasi tim dengan pemain muda penuh potensi.
Arteta menjadi salah satu rekrutan penting. Bersama pemain seperti Nicolas Anelka, Jay-Jay Okocha, dan Ali Benarbia, Arteta masuk ke tim yang penuh talenta.
Kepindahan ke Paris terasa berat bagi Arteta muda. “Itu sangat menakutkan buat saya dan keluarga. Saya belum pernah bermain di level profesional saat itu,” ungkap Arteta.
Persahabatan dengan Pochettino dan Tantangan Awal

Di PSG, Arteta bertemu Mauricio Pochettino yang datang dari Espanyol. Keduanya menjalin hubungan yang erat, bahkan seperti ayah dan anak.
“Dia seperti ayah bagi saya. Ia melindungi saya, memberi nasihat, dan saya belajar banyak darinya,” ujar Arteta mengenang.
Awalnya, Arteta harus menghadapi hambatan bahasa dan adaptasi cepat. Tapi Fernandez yakin, “Mikel punya kecerdasan luar biasa. Dia cepat menyesuaikan diri di lapangan maupun luar lapangan.”
Debut Mengesankan dan Pengalaman di Liga Champions

Arteta menjalani debut profesional dalam kekalahan 0-4 dari Auxerre di Piala Prancis. Namun momen penting datang di Liga Champions.
Fernandez memberinya kepercayaan tampil di San Siro melawan AC Milan. “Saya melihat Maldini, Pirlo, Shevchenko… Saya seperti dilempar ke kandang singa,” kenangnya sambil tersenyum.
Meski terkesan berat, laga itu menjadi pengalaman berharga. PSG bermain imbang dan Arteta mulai menunjukkan potensinya.
Menjadi Pemain Penting dan Mencetak Gol Perdana

Setelah itu, Arteta hanya dua kali kalah dari sembilan pertandingan berikutnya. Ia bahkan mencetak gol pertamanya dalam laga melawan Lille.
Fernandez mengatakan, “Kami memintanya memutar badan dan bermain cepat. Ia punya kecerdasan dan kontrol bola yang hebat.”
Performa gemilangnya membuat ia jadi pilar penting tim. Ia dipercaya mengatur permainan dan membantu PSG bangkit dari keterpurukan.
Era Ronaldinho dan PSG yang Bangkit

Musim berikutnya, PSG mendatangkan Ronaldinho seharga 5 juta pounds (sekitar Rp103 miliar). Ia langsung menjadi magnet dan inspirasi di ruang ganti.
“Kami satu kamar selama satu setengah tahun. Dia selalu tersenyum, selalu bahagia. Talentanya tidak bisa dipercaya,” kata Arteta.
PSG berkompetisi di Intertoto Cup dan menang besar atas Gent. Arteta mencetak gol dalam kemenangan 7-1 yang menjadi awal musim positif.
PSG yang Semakin Solid dan Laga Penentu

Bersama Edouard Cisse, Arteta membentuk duet gelandang yang solid. Ia ditugaskan mengatur ritme permainan, sementara Cisse menjaga pertahanan.
“Saya harus bertahan karena saya punya Ronaldinho dan Okocha di depan saya,” candanya. “Itu seperti mimpi, saya sangat diberkati.”
PSG mulai menunjukkan kestabilan. Ronaldinho mulai tajam, Anelka pindah ke Liverpool, dan Arteta semakin matang di lapangan.
Laga Kontra Rangers yang Mengubah Karier

PSG lolos ke UEFA Cup dan menghadapi Rangers di babak ketiga. Arteta tampil penuh di kedua leg dan menjadi pemain kunci.
Laporan pengamatan Rangers bahkan menyebut: “Arteta muda adalah pemain paling berpengaruh di PSG.” Ia menjadi pusat permainan.
PSG kalah lewat adu penalti, tapi Arteta tampil sebagai algojo ketiga setelah Okocha dan Ronaldinho. Momen ini memperkuat mental dan kariernya.
Sumber: Arsenal
TAG TERKAIT
BERITA TERKAIT
-
Mimpi Besar Eden Hazard: Dari Como, Cesc Fabregas Pindah Melatih ke Chelsea
Liga Inggris 6 Februari 2026, 16:26
LATEST UPDATE
-
Efek Michael Carrick: Satu Kebijakan Sederhana yang Mengubah Wajah Manchester United
Liga Inggris 7 Februari 2026, 04:14
-
Livin Mandiri Akhirnya Pecah Telur di Putaran Kedua Proliga 2026
Voli 6 Februari 2026, 23:47
-
Alejandro Garnacho, Harga 40 Juta Euro, dan Ujian Kesabaran di Chelsea
Liga Inggris 6 Februari 2026, 21:26
-
Hasil Persib vs Malut United: Menang 2-0, Maung Bandung Masih Sempurna di Kandang
Bola Indonesia 6 Februari 2026, 21:01
-
3 Laga, 3 Kemenangan: Bagaimana Michael Carrick Membalik Nasib Manchester United
Liga Inggris 6 Februari 2026, 20:53
-
TULUS Ramaikan Ramadan di KLBB Festival 2026, Siap Hadirkan Malam Penuh Rasa di GBK
Lain Lain 6 Februari 2026, 20:33
LATEST EDITORIAL
-
Gelimang Uang Tak Menjamin Bahagia, 4 Bintang Saudi Pro League Ini Katanya Tak Kerasan
Editorial 5 Februari 2026, 11:49
-
8 Kandidat Klub Baru Cristiano Ronaldo Jika Berpisah dengan Al Nassr, Balik ke MU?
Editorial 4 Februari 2026, 15:31
-
10 Pemain Bebas Transfer yang Masih Bisa Direkrut Klub-Klub Top Eropa
Editorial 4 Februari 2026, 14:57
-
Dari Jeremy Jacquet hingga Alisson: 7 Pemain yang Menolak Chelsea untuk Liverpool
Editorial 3 Februari 2026, 14:14
-
10 Transfer Termahal Januari 2026
Editorial 3 Februari 2026, 11:42






