Wajah Memalukan Serie A di Liga Champions: Hanya Atalanta yang Lolos 16 Besar

Richard Andreas | 26 Februari 2026 16:15
Wajah Memalukan Serie A di Liga Champions: Hanya Atalanta yang Lolos 16 Besar
Pemain Inter Milan Marcus Thuram (kiri) dan Alessandro Bastoni bereaksi saat laga play-off Liga Champions antara Inter vs Bodo/Glimt di San Siro, Milan, Italia, Selasa, 24 Februari 2026 (c) AP Photo/Luca Bruno

Bola.net - Serie A memang aneh. Sang juara bertahan musim lalu, Napoli hanya mampu finis di peringkat ke-30 klasemen Fase Liga Liga Champions musi mini. Dan pemimpin klasemen musim ini, Inter Milan, tersingkir secara nahas di hadapan Bodo/Glimt.

Italia memang punya identitas sepak bola yang kental, tapi entah mengapa laju mereka di Liga Champions sangat buruk musim ini. Kegagalan klub-klub Italia seolah dijadikan cermin kondisi nasional menjelang play-off timnas.

Advertisement

Musim ini ada empat wakil Italia yang memulai perjuangan di Liga Champions. Napoli langsung tersingkir di fase liga. Inter dan Juventus gagal di play-off fase gugur. Dan kini hanya tersisa Atalanta.

1 dari 6 halaman

Tersingkir dan Jadi Bising

Tersingkir dan Jadi Bising

Pemain Inter Milan Marcus Thuram bereaksi saat laga Liga Champions antara Inter vs Bodo/Glimt di Milan, Italia, Selasa, 24 Februari 2026 (c) Spada/LaPresse via AP

Musim ini, dua wakil Italia tersingkir di babak play-off Liga Champions. Musim lalu, jumlahnya bahkan tiga. Sebelumnya, klub-klub Italia juga pernah tersingkir oleh wakil Belgia dan Belanda, kini oleh klub Norwegia dan Turki.

Nama-nama seperti Ivan Perisic, Noa Lang, Victor Osimhen, hingga Jens Petter Hauge, pemain yang pernah dianggap surplus, kembali menghantui liga lamanya.

Reaksi publik pun berlebihan. Ada klaim sensasional yang membandingkan struktur gaji Bodo/Glimt dengan klub-klub divisi ketiga Italia. Hasil buruk ini lalu dikaitkan dengan kecemasan lama, yaitu bayang-bayang timnas yang terancam absen dari Piala Dunia untuk ketiga kalinya secara beruntun.

Padahal, konteksnya tidak sesederhana itu. Sepak bola Italia memang sedang berada dalam “momen buruk”, tetapi momen bukanlah definisi permanen. Terlebih ketika hasil-hasil lain justru menunjukkan wajah berbeda.

2 dari 6 halaman

Fakta Italia yang Cepat Dilupakan

Kegagalan selalu meninggalkan gema lebih panjang dibanding kesuksesan. Dalam lima tahun terakhir, klub-klub Italia telah tampil di delapan final kompetisi Eropa. Pada awal musim lalu, Serie A bahkan memulai fase liga Liga Champions sebagai pemimpin koefisien UEFA dengan lima wakil.

Di level internasional, tim nasional Italia menjuarai Euro 2021. Tim-tim usia mudanya juga menjadi juara Eropa di level U-17 dan U-19, serta mencapai final Piala Dunia U-20. Namun, di era doom-scrolling dan ekonomi hot-take, pencapaian semacam ini cepat tersapu linimasa.

Italia pernah merasakan betapa singkatnya euforia. Setelah menjuarai Euro di Wembley, trauma datang setahun kemudian saat tersingkir dari play-off Piala Dunia oleh Makedonia Utara. Sejak itu, kekalahan selalu terasa lebih membekas.

3 dari 6 halaman

Final UCL, Luka, dan Persepsi yang Memburuk

Final UCL, Luka, dan Persepsi yang Memburuk

Pelatih Napoli, Antonio Conte bereaksi di laga melawan Juventus, 26 Januari 2026. (c) Fabio Ferrari/LaPresse via AP

Kekalahan telak Inter 0-5 dari PSG di final Liga Champions Mei 2025 lalu meninggalkan gaung besar, jauh melebihi keberhasilan mereka menyingkirkan Bayern Munchen dan Barcelona sebelumnya.

Amarah Jose Mourinho terhadap wasit Anthony Taylor usai final Liga Europa 2023 ikut membayangi Roma, meski mereka nyaris meraih dua trofi Eropa beruntun. Fiorentina pun kalah di dua final Conference League secara berurutan, salah satunya lewat gol menit akhir.

Pertanyaannya kemudian muncul: Apakah penilaian terhadap Serie A akan lebih lunak jika dua atau tiga dari delapan final itu berujung trofi? Atau jika Italia menyapu bersih kompetisi Eropa pada 2023, ketika peluang itu terbuka?

Sejak awal 2020-an, Italia memang tidak kembali ke era dominasi akhir 1980-an hingga awal 2000-an. Namun, mengukur Serie A hari ini dengan standar masa emas itu hampir mustahil, terutama di tengah lanskap ekonomi sepak bola yang makin timpang.

4 dari 6 halaman

Masalah Spesifik, Bukan Krisis Sistemik

Masalah Spesifik, Bukan Krisis Sistemik

Pemain Atalanta, Davide Zappacosta, merayakan gol kedua timnya dalam laga leg kedua play-off Liga Champions kontra Borussia Dortmund, Kamis (26/2/2026) dini hari WIB. (c) Spada/LaPresse via AP

Kasus besar sering mengabaikan detail per klub. Napoli, misalnya, diasuh Antonio Conte yang dikenal sangat efektif di liga domestik, tetapi kerap kesulitan di Liga Champions.

Mereka juga dilanda krisis cedera dan tidak bisa mengandalkan pemain kunci seperti Romelu Lukaku dan Kevin De Bruyne. Perlu diingat, perempat final dua musim lalu adalah pencapaian terbaik Napoli di kompetisi ini.

Inter berada di bawah arahan Cristian Chivu yang baru menjalani pekerjaan besar pertamanya. Juventus dan Atalanta mencoba keluar dari bayang-bayang Max Allegri dan Gian Piero Gasperini, tetapi transisi itu tidak berjalan mulus. Keduanya bahkan berganti pelatih tiga kali sepanjang 2025.

Di Juventus, kebijakan transfer era Cristiano Giuntoli meninggalkan skuad mahal yang tidak sepadan dengan performa. Perombakan struktur pun tak terhindarkan, dengan Damien Comolli kini memimpin sebagai CEO.

Semua ini menunjukkan masalah mikro yang berbeda-beda, bukan satu krisis tunggal bernama Serie A.

5 dari 6 halaman

Margin Tipis yang Menentukan

Sepak bola sering ditentukan oleh detail kecil. Musim lalu, Serie A memasuki hari terakhir fase liga dengan tiga klub di delapan besar, sebelum dua di antaranya tergelincir. Pola serupa terulang musim ini.

Inter, misalnya, mencatat peluang lebih tinggi dalam dua laga melawan Bodo/Glimt dan tiga kali membentur tiang. Kekalahan dari Atletico dan Liverpool juga datang lewat momen-momen krusial.

Juventus bermain dengan sepuluh orang di San Siro, kehilangan Gleison Bremer karena cedera, serta dihantam kartu merah beruntun yang mengubah arah laga.

6 dari 6 halaman

Talenta, Stabilitas, dan Arah Serie A ke Depan

Talenta Italia mungkin tidak sepadat generasi emas 80-an dan 90-an. Namun, pemain seperti Gianluigi Donnarumma, Sandro Tonali, Federico Chiesa, Guglielmo Vicario, hingga Destiny Udogie kini menjadi bagian penting di Premier League.

Mantan gelandang Milan, Cristian Brocchi, menolak anggapan bahwa Italia miskin bakat. Ia menunjuk kemunculan Francesco Pio Esposito, Marco Palestra, Giovanni Leoni, hingga Niccolo Pisilli dalam setahun terakhir sebagai bukti regenerasi masih berjalan.

Serie A mungkin tidak lagi sekuat era 1990-an. Namun, ia juga jauh dari gambaran suram yang dibangun dalam 48 jam terakhir. Di antara nostalgia dan kepanikan, kenyataannya lebih sederhana: sepak bola Italia masih bersaing, meski tak lagi mendominasi.

LATEST UPDATE