EDITORIAL: Piala Dunia, Yudhoyono dan Reformasi Yang Tak Pernah Tuntas
Editor Bolanet | 9 Januari 2014 11:02
Bola.net - Bak cincin Sauron di trilogi 'Lord of The Rings', trofi Piala Dunia memiliki daya magis bagi yang pernah menyentuh, atau bahkan sekadar melihat secara langsung. Terbukti, meski konon tak begitu menyukai cabang olahraga body contact macam sepakbola, Presiden Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono tak bisa menghindar dari pesona piala berlapis emas 18 karat tersebut.
Hampir empat warsa lalu, tepatnya 25 Januari 2010, Yudhoyono menyentuh piala yang diracang seniman Italia, Silvio Gazzaniga tersebut. Dalam kesempatan di Istana Negara ini, tak hentinya Yudhoyono mengungkapkan kekaguman dan keinginannya agar Timnas Indonesia bisa meraih trofi -yang pertama kali diserahkan pada legenda Jerman Franz Beckenbauer tersebut. Tak lupa, penggemar voli ini mengajak para pecinta sepakbola Indonesia untuk menjadikan momen tersebut sebagai titik tolak membenahi sepakbola Indonesia yang kacau balau.
Pecinta sepakbola, kita jadikan peristiwa ini sebagai tekad besar untuk kebangkitan kita dalam olahraga sepakbola di Tanah Air, demikian ucap Yudhoyono usai memegang trofi keramat tersebut.
Keesokan harinya, dalam Kereta Luar Biasa yang melaju ke Cirebon, Yudhoyono kembali mengulang ajakannya tersebut. Apa yang kita lihat kemarin adalah piala yang cantik. Seperti menginspirasi dan memotivasi kita untuk bisa melakukan revitalisasi atau kebangkitan kembali sepakbola Indonesia untuk bisa dikatakan berjaya di tingkat Asia Tenggara atau Asia. Dengan demikian, harapan kita bisa masuk putaran dunia, tuturnya.
Meski ini membutuhkan waktu 10-15 tahun lagi, meski ini sangat menantang, kita harus mulai, sambungnya. Mendengar ajakan Yudhoyono, para menteri yang ikut di rombongan tersebut -termasuk Menpora (saat itu) Andi Mallarangeng dan Menko Kesra Agung Laksono- mengangguk takzim.
Sejak saat itu, paras sepakbola kita tak pernah lagi sama. Serangkaian keriuhan yang melanda sepakbola Indonesia, mulai Kongres Sepakbola Nasional, bergulirnya Liga Primer Indonesia sampai demonstasi yang berlangsung di kompleks kantor PSSI, sukses menumbangkan rezim Nurdin Halid. Asa bahwa masa depan sepakbola Indonesia bakal cerah mulai terbit.
Namun, menurunkan rezim lama adalah satu hal. Sementara, menjaga rezim baru tetap lurus pada cita-cita adalah hal lain lagi. Reformasi sepakbola Indonesia bernasib persis seperti reformasi 98, yang sukses menurunkan Soeharto namun akhirnya ditelikung penumpang gelap dan berujung kembali dikuasai status quo.
Melalui serangkaian proses saling sandera, negosiasi politik tingkat tinggi, reformasi sepakbola Indonesia harus kembali ke titik nol. Persatuan dan kesatuan -tak ketinggalan embel-embel ancaman sanksi FIFA- terpilih sebagai alasan dari proses yang disebut sebagai rekonsiliasi tersebut.
Sayang, rekonsiliasi tak seindah namanya. Istilah ini hanya untuk menggambarkan proses mengembalikan orang-orang lama -yang ikut membuat sepakbola Indonesia jeblok- dan menyingkirkan sosok-sosok -yang meski belum bekerja maksimal- memiliki komitmen memperbaiki keropos sepakbola Indonesia. Bahkan, yang paling ironis, atas nama rekonsiliasi pula, Menpora Roy Suryo menghancurkan fondasi perbaikan sepakbola Indonesia, profesionalisme.
Empat tahun berselang dan kini Piala Dunia kembali mampir di Indonesia. Sekadar mampir. Yudhoyono juga kembali berkesempatan menyentuh piala, yang diserahkan pertama kali ke legenda Jerman, Franz Beckenbauer tersebut. Sekadar menyentuh.
Kali ini, nampaknya, Yudhoyono tak lagi berani bersuara keras menggalang reformasi sepakbola. Baginya, bisa jadi, lebih baik main aman dan menyelesaikan sisa-sisa waktunya di singgasana kepresidenan tanpa mencari musuh baru. Mengusik rezim sepakbola saat ini sama saja mengundang masalah di kemudian hari. Apalagi, di negeri di mana politik menjadi panglima dari segala sendi kehidupan, termasuk urusan si kulit bundar. [initial]
(den/mac)
TAG TERKAIT
BERITA TERKAIT
-
5 Pemain Manchester United yang Pernah Memakai Nomor 20 Sebelum Carlos Baleba
Editorial 26 Agustus 2026, 12:06
-
4 Klub yang Bisa Jadi Pelabuhan Nicolas Jackson, Aston Villa Paling Berpeluang?
Editorial 25 Agustus 2026, 11:33
-
FIFA Pecat COO Kevin Lamour Usai Menentang Gianni Infantino
Piala Dunia 18 Agustus 2026, 09:27
-
5 Alternatif Bek Kiri Manchester United jika Gagal Mendapatkan Lewis Hall
Editorial 12 Agustus 2026, 12:51
-
6 Pemain yang Bisa Dijual Real Madrid demi Datangkan Rekrutan Baru
Editorial 5 Agustus 2026, 10:59
LATEST UPDATE
-
Prediksi Chelsea vs Man Utd 31 Oktober 2026
Liga Inggris 30 Oktober 2026, 09:38
-
Prediksi Le Havre vs PSG 31 Oktober 2026
Liga Eropa Lain 30 Oktober 2026, 08:15
-
Sesko Cedera, Ini 5 Striker yang Bisa Direkrut Manchester United pada Januari
Liga Inggris 30 Oktober 2026, 07:02
-
Cristiano Ronaldo Raih B.O.A.T Award, Mengapa Penghargaan Ini Kontroversial?
Liga Champions 30 Oktober 2026, 06:55
-
Mendalami Kebangkitan Ronald Araujo di Liverpool usia Tinggalkan Barcelona
Liga Inggris 30 Oktober 2026, 06:48
-
Manchester United Catat Kerugian Transfer Terbesar di Eropa
Liga Inggris 30 Oktober 2026, 06:41
-
Raphinha Dipanggil Timnas Brasil, Barcelona Kembali Khawatir
Liga Spanyol 30 Oktober 2026, 06:33
-
Barcelona Tutup Sementara Tribune Suporter Usai Insiden El Clasico
Liga Spanyol 30 Oktober 2026, 06:29
-
Barcelona dan Kekalahan di El Clasico yang Mengungkap Pentingnya Evolusi Taktik
Liga Spanyol 30 Oktober 2026, 06:24
-
Arda Guler Bikin Jose Mourinho Sulit Mencadangkannya Lagi
Liga Spanyol 30 Oktober 2026, 05:51
LATEST EDITORIAL
-
4 Pemain Inggris yang Meraih Ballon d'Or sebelum Harry Kane
Editorial 27 Oktober 2026, 13:52
-
Kursi Panas Pelatih Premier League: 4 Manajer yang Berisiko Dipecat Lebih Dulu
Editorial 26 Oktober 2026, 23:49
-
7 Pelatih Gratis yang Bisa Gantikan Michael Carrick di Manchester United
Editorial 26 Oktober 2026, 16:03
-
5 Pemain Argentina yang Bisa Mewarisi Nomor 10 Lionel Messi
Editorial 8 Oktober 2026, 11:18
