Efek Tite - Di Balik Lolosnya Brasil ke Rusia 2018
Gia Yuda Pradana | 30 Maret 2017 11:02
Bola.net - Bola.net - Brasil baru saja memastikan diri menjadi tim pertama yang lolos dari babak kualifikasi ke putaran utama Piala Dunia 2018 di Rusia. Kesuksesan itu tak bisa dilepaskan dari tangan dingin Tite - pelatih mereka.
Brasil menghajar Paraguay 3-0 lewat gol-gol Philippe Coutinho, Neymar dan Marcelo di matchday 14 kualifikasi zona CONMEBOL. Kemenangan itu, didahului tumbangnya Argentina 0-2 di tangan Bolivia, membuat peluang Brasil terbuka lebar. Namun, itu saja belum cukup untuk mem-booking tempat. Kekalahan mengejutkan 1-2 Uruguay atas Peru dalam laga setelahnya lah yang menjamin Brasil akan finis empat besar di kualifikasi Amerika Selatan.
Brasil sejauh ini memimpin dengan 33 poin dengan empat laga tersisa, diikuti Kolombia (24), Uruguay dan Chile (23). Argentina (22) di peringkat lima, posisi untuk inter-confederation playoff. Uruguay dan Argentina masih harus saling berhadapan, yang berarti tak mungkin lagi bagi dua tim itu untuk melempar Brasil dari empat besar. Artinya, Selecao sudah pasti lolos otomatis ke Rusia 2018.
Ketika Adenor Leonardo Bacchi, yang lebih dikenal sebagai 'Tite', ditunjuk menggantikan Dunga untuk melatih Brasil pada 20 Juni 2016, sang pemilik lima gelar juara dunia waktu itu terdampar di peringkat enam kualifikasi zona CONMEBOL. Dengan kata lain, Brasil terancam gagal lolos ke Rusia 2018. Itu menimbulkan keresahan di Negeri Samba.
Maju sembilan bulan ke depan, Brasil sudah menjadi negara pertama, selain tuan rumah, yang memastikan diri akan berlaga di turnamen akbar tahun depan.
Brasil pun masih memegang rekor sebagai satu-satunya tim yang tak pernah gagal lolos ke Piala Dunia. Brasil juga merupakan satu-satunya tim yang sudah menjuarai Piala Dunia lima kali, yakni di Swedia 1958, Chile 1962, Meksiko 1970, Amerika Serikat 1994 dan Korea/Jepang 2002.
Apa yang sebenarnya berubah dari Brasil sejak ditangani mantan pelatih Corinthians tersebut? Seperti dilansir situs resmi FIFA, berikut ini beberapa faktor kunci di balik kesuksesan Brasil, yang berhasil memulihkan nama besar mereka berkat tangan dinginnya.
- Brasil kembali menakutkan dengan formasi 4-1-4-1 racikan Tite.
- Brasil meraih delapan kemenangan beruntun di babak kualifikasi sejak dilatih Tite (Ekuador 0-3 Brasil, Brasil 2-1 Kolombia, Brasil 5-0 Bolivia, Venezuela 0-2 Brasil, Brasil 3-0 Argentina, Peru 0-2 Brasil, Uruguay 1-4 Brasil, Brasil 3-0 Paraguay), dan itulah yang meloloskan mereka ke Rusia 2018.
- Tite menekankan pentingnya etos kerja kolektif dan menguatkan gagasan tentang shared leadership: enam pemain berbeda telah memakai ban kapten dalam delapan laga terakhir di kualifikasi (, , , Dani Alves, Filipe Luis, ).
- Tite membuat Brasil jadi lebih solid di segi defensif, dan itu terbukti dengan hanya dua gol yang bersarang di gawang mereka sejak dilatihnya (2-1 vs Kolombia, 4-1 vs Uruguay).
- Berkat Tite, pemain muda Marquinhos bersinar di jantung pertahanan, sedangkan Casemiro semakin berkembang di posisi gelandang bertahan.
- Tite menginspirasi Paulinho untuk menemukan kembali permainan terbaiknya setelah dua tahun tenggelam.
- Gabriel Jesus membuktikan diri sebagai salah satu elemen penting di tim Brasil sejak diberi debut oleh pelatih berusia 55 tahun pengagum Carlo Ancelotti ini.
- Brasil mencetak 24 gol dalam delapan laga kualifikasi sejak dilatih Tite. Lebih dari separuhnya merupakan kontribusi tiga pemain berbeda (Neymar 5 gol, Jesus 4 gol, Paulinho 4 gol).
Delapan kemenangan beruntun di babak kualifikasi adalah sebuah rekor baru oleh Brasil, mematahkan enam kemenangan beruntun yang diukir Brasil sendiri ketika menuju Piala Dunia 1970.
Brasil masih akan menghadapi Ekuador (31 Agustus 2017), Kolombia (5 September 2017), Bolivia (5 Oktober 2017) dan Chile (10 Oktober 2017). Walau sudah pasti lolos, Brasil pasti siap menyapu bersih empat laga tersisa itu demi mencatatkan 12 kemenangan beruntun di kualifikasi sekaligus mengirim peringatan untuk para rival - terutama untuk menegaskan bahwa mereka bukan lagi tim yang sama dengan seperti ketika hancur di rumah sendiri pada edisi 2014.
Dengan begitu, sang raja sepakbola pun bisa dengan percaya diri mengatakan: Sampai jumpa di Rusia.
TAG TERKAIT
BERITA TERKAIT
-
Kesempurnaan Hansi Flick di Partai Puncak: 8 Final, 8 Menang, 8 Juara
Liga Spanyol 12 Januari 2026, 13:43
-
Bukan Pelatih, Lionel Messi Ungkap Rencana Pensiun, Apa Itu?
Bola Dunia Lainnya 10 Januari 2026, 06:00
-
8 Mantan Anak Buah Ole Gunnar Solskjaer yang Masih Bertahan di Manchester United
Editorial 9 Januari 2026, 11:22
LATEST UPDATE
-
Jadwal Lengkap Premier League 2025/2026 Live di SCTV dan Vidio
Liga Inggris 20 Januari 2026, 08:52
-
Man City Main di Lapangan Sintetis dan Beku, Pep Guardiola: Dilarang Cengeng!
Liga Champions 20 Januari 2026, 08:49
-
Jadwal Lengkap Indonesia Masters 2026, 20-25 Januari 2026
Bulu Tangkis 20 Januari 2026, 08:45
-
Marc Guehi Tiba, Pep Guardiola Gembira
Liga Inggris 20 Januari 2026, 08:25
-
Jadwal Liga Champions Pekan Ini Live di SCTV, 20-22 Januari 2026
Liga Champions 20 Januari 2026, 08:25
-
Emil Audero Cleansheet, Aksi Heroik Gagalkan Kemenangan Verona
Liga Italia 20 Januari 2026, 08:24
LATEST EDITORIAL
-
5 Pemain Liverpool yang Bisa Ikuti Jurgen Klopp ke Real Madrid
Editorial 19 Januari 2026, 12:24
-
4 Bek Tengah yang Bisa Jadi Target Chelsea di Bursa Januari: Ada Eks Real Madrid
Editorial 19 Januari 2026, 12:06
-
5 Kekalahan Terburuk Real Madrid di Copa del Rey Abad Ini
Editorial 16 Januari 2026, 10:19
-
5 Kandidat Pelatih Real Madrid Musim Depan: Zidane, Klopp, Siapa Lagi?
Editorial 15 Januari 2026, 07:26











