Leonardo dan Guardiola, Serupa Tapi Tak Senasib

Editor Bolanet | 1 Oktober 2009 19:28
Leonardo dan Guardiola, Serupa Tapi Tak Senasib
Leonardo (c)ap

Bola.net -
Oleh: Chandra Wijaya

Nama dan Joseph Guardiola sudah tidak asing lagi di telinga penggemar sepak bola baik sebagai pemain ataupun pelatih. Banyak orang mengenal sebagai pemain Brasil yang menjadi legenda di AC Milan dan Joseph Guardiola yang berasal dari Spanyol sebagai legenda bagi . Ada banyak persamaan di antara mereka, tetapi juga menyiratkan perjalanan cerita yang berbeda. Persamaan pertama yang paling jelas adalah saat bermain memperkuat klub mereka masing-masing. menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari AC Milan di tahun 1997-2001. Dengan mencetak 22 gol dan bermain dalam 177 pertandingan bersama selama 4 musim, membuatnya masuk dalam deretan legenda Rossoneri terhebat. juga menjadi andalan ketika memperkuat klub Catalan itu dari tahun 1990-2001. bermain sebanyak 479 kali untuk , dalam 12 musim bermain di sana dia ikut membantu klubnya memenangkan 16 gelar. Sudah pasti namanya melekat kuat sebagai legenda yang tidak terlupakan bagi klub rival berat Real Madrid itu. Kedua, mereka berdua adalah spesialis beroperasi di barisan tengah. bermain sebagai pemain tengah bertipe menyerang dan menjalani peran playmaker setelah sebelumnya sempat bermain sebagai bek kiri. juga menempati posisi bermain di barisan tengah dengan tipe bertahan. Ketiga, dan akhirnya kembali ke klub yang pernah dibelanya itu sebagai pelatih. diangkat menjadi pelatih AC Milan pada bulan Mei 2009, menggantikan Carlo Ancelotti yang pindah melatih . di akhir musim 2007-2008 ditunjuk sebagai pengganti dari Frank Rijkaard yang di musim terakhirnya dianggap gagal melatih . Keempat, sebelum melatih klub utama, keduanya memulai karirnya dengan mengambil peranan yang berhubungan dengan kepelatihan di klubnya. sebelum menjadi pelatih menjadi Direktur Teknik dari AC Milan. Sedangkan menjadi pelatih dari tim muda yang dikenal dengan sebutan Barcelona B. Kelima, di awal kepelatihannya keduanya menjanjikan permainan timnya akan lebih menyerang. mendeklarasikan dia ingin timnya untuk memainkan sepak bola menyerang yang menarik. terus memakai pola menyerang 4-3-3, ditambah dengan penekanan pada etos kerja keras dan melakukan pendekatan lebih personal dengan para pemainnya. Keenam, di awal kepelatihannya keduanya memulainya dengan hasil yang kurang memuaskan. Di awal musim, di bawah kepemimpinan timnya harus kalah 0-4 lawan musuh bebuyutannya, Inter Milan. Kemudian hanya imbang lawan sebelum akhirnya kalah lagi saat lawan . memang sukses membawa mengalahkan klub Wisla Krakow 4-0 di kandang saat melakoni babak kualifikasi Liga Champions leg pertama. Tetap kemudian kalah 0-1 di leg yang kedua. Belum lagi kemudian diikuti dengan kekalahan lawan tim promosi di La Liga. Dengan hasil itu dan pengalaman yang masih hijau dalam melatih klub besar, maka keduanya sama-sama diragukan bisa meneruskan prestasi yang dicapai pelatih sebelumnya. Tetapi dari sinilah perjalanan cerita yang berbeda mulai terjadi. berhasil bangkit dari start-nya yang kurang mulus dengan langsung mencatatkan 20 pertandingan tanpa mengalami kekalahan. Tidak hanya itu di akhir musim, dia sukses mempersembahkan 3 gelar prestisius: La Liga, Copa del Ray dan Liga Champions 2008-2009. Di mana prestasi ini belum pernah terjadi di ranah Spanyol. bukan hanya sekedar sukses melewati musim pertamanya, tetapi mencapai kesuksesan luar biasa yang membuat namanya begitu menjulang di mata pra fans . Dan untuk , sayangnya perjalanan kesuksesan rasanya masih belum terjadi juga padanya. Sampai tanggal 1 Oktober atau di laga kedelapannya di ajang resmi, mencatatkan hasil 3 kali menang, 2 kali imbang dan 3 kali imbang. Hasil yang kurang memuaskan bagi klub sebesar . Hal ini diperparah dengan mulai gerahnya para tifosi . Di dua laga terakhir melawan dan , para fans mencemooh habis-habisan permainan . Di sepanjang pertandingan, fans terus menyerang dengan rentetan ejekan dan siulan. Karena menurut mereka, tim itu bermain sangat buruk dan tidak mampu mencetak gol. Memang 8 laga masih terlalu dini untuk menilai kinerja seorang pelatih. Tetapi hasil yang tak kunjung membaik membuat para suporter sepertinya sudah habis kesabarannya, apalagi setelah kalah di kandang sendiri lawan . Apa sebab kegagalan mengikuti jejak walau cerita keduanya hampir sama? Yang paling jelas adalah kondisi klub saat mereka latih. saat pertama dilatih , tetap berisikan pemain terbaik. Tidak cukup itu saja, mereka juga mendatangkan Dani Alves, Seydou Keita, Martin Caceres, Gerard Pique dan Aliaksandr Hleb. Dengan penuh pemain terbaik seperti itu, maka tidaklah sulit bagi untuk menyusun formasi yang dia inginkan. Hal ini berbeda dengan . Saat dia datang, baru saja melepas ke Real Madrid. Dan semua sudah mengetahui adalah roh utama permainan . Pada 18 Januari 2009, wakil presiden Adriano Galliani sendiri mengatakan kalau tidak tergantikan. Ini juga berarti, kalau siapapun yang ada di saat itu tidak ada yang bisa mengisi peran dari seorang . Tetapi masih ada kemungkinan, ada pemain di luar yang bisa ditempatkan dan dibina untuk menjalankan peran seperti . Namun saat pergi, sama sekali tidak membeli penggantinya. Mereka lebih memilih memaksimalkan . Tetapi nyatanya sampai saat ini, masih gagal menemukan kembali permainan terbaiknya. Peran masih belum sukses dijalankan oleh siapapun yang ada di . Akibatnya sulit sekali mencetak gol. Kemudian penyebab berikutnya adalah kondisi keuangan klub yang berbeda. Saat memimpin, selalu berada dalam kondisi keuangan yang bagus. Karena itu, pemain yang diinginkan kebanyakan sukses didatangkan, karena didukung oleh sumber dana yang memadai. Sedangkan lain lagi, saat menempati jabatan pelatihnya, kondisi keuangan klubnya sedang tidak baik. Dan itu juga yang menjadi alasan penjualan . Meski uang penjualan lumayan besar tetapi kebanyakan tercurah untuk membayar hutang mereka yang menumpuk. Meski mereka sukses mendatangkan Thiago Silva dan Klaas-Jan Huntelaar, tetapi itu belumlah cukup untuk mengisi kekurangan yang ada di . Karena itulah dalam melatih , hanya bisa mengandalkan modal kemampuan minimnya dalam melatih dan keberuntungan untuk bisa menyamai prestasi . Entah sampai kapan masih bertahan. Sampai saat ini Adriano Galliani masih menjamin posisinya. Tetapi apakah dia bisa melewati laga berikutnya? Apalagi sudah pasti hujan cemoohan akan terus menyertai pertandingan mereka selanjutnya. Ini bisa menjadi semacam obat berdosis keras bagi mereka. Obat dosis keras, jika badan penderita bisa menerimanya maka sakit yang diderita akan langsung sembuh. Jika tidak, itu malah akan semakin memperparah sakitnya dan mengganggu organ tubuh lainnya. Begitu juga hujatan fans ini, kalau mereka bisa tahan menghadapinya dan bahkan berhasil memanfaatkannya sebagai umpan balik, maka semua akan itu semacam pelecut tersendiri untuk bermain terus lebih baik lagi. Tidak menutup kemungkinan hasil positif akan datang dan pastinya fans akan kembali memuja mereka. Bukankah yang diinginkan fans adalah hasil yang positif. Tetapi kalau mereka tidak kuat menghadapi itu semua, hasilnya pasti mereka akan semakin terpuruk. Karena dapat dibayangkan bagaimana rasanya dicemooh oleh pendukung sendiri, tekanan super berat yang harus dihadapi pemain dan pelatihnya. Sekarang kita lihat dan tunggu saja, apakah berhasil mengikuti jejak sehingga judul dari tulisan ini akan berubah menjadi "Serupa Tapi Sama-Sama Suksesnya". Atau yang terjadi malah sangat berlawan? Menarik untuk diamati bagaimana usaha keras menghadapi ini semua. (bola/cax)

TAG TERKAIT

BERITA TERKAIT

LATEST UPDATE