Prostitusi di Ukraina
Editor Bolanet | 13 April 2012 09:15
Bola.net - Oleh: Jeffrie Liem
Pada Minggu malam yang panas, sebuah mobil menepi di pelabuhan Odessa, Ukraina selatan. Sekitar 30 anak perempuan berkerumun di sekitarnya, berpose di sorotan lampu depannya. Pengemudi mobil secara perlahan menurunkan kaca mobilnya dan germo perempuan bersandar ke dalam untuk menegosiasikan harga. Dalam satu menit, dua gadis cantik dengan dandanan seksi masuk ke dalam mobil dan sisanya kembali ke perbincangan seru mereka sambil merokok untuk membunuh waktu.
Seorang pekerja seks komersial di sebuah tempat prostitusi di Ukraina. © mojatu
Hanya butuh waktu kurang dari satu dekade setelah runtuhnya Uni Soviet untuk merubah Ukraina tersebut menjadi pusat perdagangan seks internasional. Kondisi geografisnya hampir sempurna. Pelabuhan yang ramai di Laut Hitam adalah sebuah pintu gerbang yang terbuka dari bagian termiskin di Ukraina itu untuk menuju Eropa Barat dan negara-negara Arab.
Menurut data dari Kementerian Dalam Negeri Ukraina, ada sekitar 12.000 pekerja seks di Ukraina. Sebuah jajak pendapat terbaru yang dilakukan oleh Kiev Institut Internasional Sosiologi (KIIS) menemukan bahwa satu dari delapan dari pekerja seks di Ukraina adalah siswa sekolah dan mahasiswa universitas. Dan, menurut Hutsol, angka ini jauh lebih tinggi ketika datang ke Kiev. Kami memperkirakan bahwa 60 persen pekerja seks di Kiev adalah mahasiswa, katanya.
Apa yang menyebabkan banyak siswa di Ukraina jatuh ke dalam lembah prostitusi adalah tingkat pengangguran yang tinggi, pendapatan rendah dan biaya hidup sama dengan negara-negara di Eropa Barat. Menurut statistik resmi penghasilan rata-rata pada tahun 2008 untuk orang yang tinggal di ibukota Ukraina hanya sekitar € 300 (sekitar 3,5 juta rupiah).
Krisis ekonomi global telah menyebabkan penurunan gaji tahun ini, dan ribuan orang kehilangan pekerjaan. Dan, pada saat yang sama, harga untuk makanan dan pakaian, misalnya, sama tingginya bila mereka hidup di Jerman. Tahun ini saja, inflasi diperkirakan akan naik sebesar 20 persen.
Dari Expat Menjadi Sexpat
Menurut Tania Kozak, juru bicara FEMEN, organisasi wanita yang peduli terhadap masalah prostitusi si Ukraina, ada dua hal yang membesarkan wisata seks di Ukraina yaitu situasi depresi ekonomi negara dan persyaratan masuk yang mudah.
FEMEN bekerja sama dengan KIIS telah melakukan survei terhadap 1.200 siswa perempuan untuk menyelidiki hal ini. Dari hasil yang diperoleh, 70 persen mengaku mendapat permintaan dari orang asing untuk melakukan hubungan seks berbayar, baik di diskotik, atau hanya di jalan.
Satu hal yang tidak pernah disadari oleh para turis itu adalah fakta bahwa Pasal 302 KUHP yang mengulas tentang kejahatan prostitusi di Ukraina. Namun itu tidak menghentikan orang-orang untuk melakukan transaksi seks terselubung, baik pada apa yang disebut layanan escort di situs Web atau di klub malam.
November lalu, seorang petugas hotel berusia 21 tahun di sebuah hotel mewah di Kiev ditangkap petugas karena menjadi penghubung antara tamu asing dengan pekerja seks dengan bayaran US $ 100. Gemarnya orang asing yang tinggal dan bekerja di Kiev menggunakan jasa pekerja seks melahirkan sebutan sexpats untuk mereka.
Orang asing hanya tidak menyadari bahwa mereka kadang-kadang juga mempertaruhkan hidup mereka, Kozak memperingatkan. Pernyataan dirinya itu mengacu pada statistik yang menempatkan Ukraina di peringkat atas sebagai negara yang memiliki tingkat infeksi HIV/AIDS tertinggi di Eropa. Menurut statistik dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) 1,6 persen penduduk Ukraina terinfeksi dengan penyakit ini, dibandingkan dengan sekitar 0,1 persen dari populasi Jerman. WHO memperkirakan bahwa di Odessa sendiri ada sekitar 150.000 orang terinfeksi HIV / AIDS.
FEMEN
FEMEN merupakan organisasi wanita yang sangat peduli terhadap permasalahan Prostitusi di Ukraina. Mereka kadang melakukan kampanye yang radikal untuk menyadarkan orang-orang mengenai bahayanya masalah ini. Pada sebuah kesempatan mereka berkumpul di Lapangan Kemerdekaan Kiev, membuka pakaian mereka dan meletakkan beberapa lembar dollar dalam bra mereka. Jika kita berjalan berkeliling dengan mengenakan pakaian tak seorang pun akan memperhatikan kita, ungkap Hutsol menjelaskan alasannya.
Tidak hanya urusan wanita, FEMEN juga aktif menyuarakan pendapat mereka terhadap beberapa isu nasional dan kebijakan pemerintah yang dianggap merusak negara. Beberapa mahasiswa milik Femen pernah menceburkan diri ke dalam genangan lumpur di jalan untuk memprotes kebijakan politik lempar lumpur di negara mereka. Secara khusus, mereka menyuarakan ketidaksenangan mereka dengan perseteruan antara Presiden Victor Yushchenko dan Perdana Menteri Yulia Tymoshenko yang berlangsung lama sehingga melumpuhkan negara. Kami ingin membangunkan orang kembali, kata Hutsol. (spiegel/bola)
TAG TERKAIT
BERITA TERKAIT
LATEST UPDATE
-
3 Tim kuda hitam di Piala Dunia 2026: Norwegia Punya Erling Haaland!
Piala Dunia 9 Juni 2026, 20:30
-
Daftar Pemain dan Nomor Punggung Timnas Portugal di Piala Dunia 2026
Piala Dunia 9 Juni 2026, 19:58
-
Daftar 48 Negara Peserta Piala Dunia 2026
Tim Nasional 9 Juni 2026, 19:45
-
Daftar Pemain dan Nomor Punggung Timnas Brasil di Piala Dunia 2026
Piala Dunia 9 Juni 2026, 18:51
-
Pembagian Grup Piala Dunia 2026
Piala Dunia 9 Juni 2026, 18:40
-
Link Live Streaming Timnas Indonesia vs Mozambik di FIFA Matchday
Tim Nasional 9 Juni 2026, 18:31
-
Daftar Pemain dan Nomor Punggung Timnas Argentina di Piala Dunia 2026
Piala Dunia 9 Juni 2026, 18:22
-
Daftar Lengkap Skuad 48 Negara di Piala Dunia 2026
Piala Dunia 9 Juni 2026, 18:10
-
Jadwal Lengkap Piala Dunia 2026
Piala Dunia 9 Juni 2026, 18:05
-
Jadwal Piala Dunia 2026 Hari Ini di TVRI
Piala Dunia 9 Juni 2026, 18:02
-
Link Live Streaming FIFA Matchday: Timnas Indonesia vs Mozambik
Tim Nasional 9 Juni 2026, 18:01
LATEST EDITORIAL
-
Arsenal Cari Winger Kiri Baru, Ini 5 Kandidatnya
Editorial 4 Juni 2026, 13:59
-
4 Striker Incaran Barcelona untuk Era Baru Hansi Flick
Editorial 3 Juni 2026, 16:19





