Pussy Riot, Feminis Musuh Bebuyutan Putin Yang Menginvasi Final Piala Dunia 2018
Gia Yuda Pradana | 16 Juli 2018 14:39
Bola.net - Bola.net - Kroasia sedang berada dalam posisi tertinggal 1-2. Pada menit 52, sebuah serangan ke wilayah Prancis dilancarkan demi coba menyamakan kedudukan. Namun wasit Nestor Pitana asal Argentina terpaksa menghentikan pertandingan final Piala Dunia 2018 di Luzhniki Stadium itu untuk sejenak. Serangan yang dibangun oleh Kroasia pun kandas.
Penyebabnya adalah aksi invasi yang dilakukan oleh empat orang. Satu laki-laki dan tiga perempuan yang memakai seragam polisi khas Rusia menerobos masuk ke lapangan.
Para petugas keamanan berlari mengejar berusaha menghentikan para pitch invaders. Dua orang langsung tertangkap, tapi ada satu yang sempat melakukan high five dengan penyerang Prancis Kylian Mbappe.
Sementara itu satu lainnya, yang laki-laki, dihentikan oleh Dejan Lovren, bek Kroasia yang tampak kesal dengan aksi mereka. Lovren bahkan coba menyeretnya keluar dari lapangan.
Setelah tertangkap, empat pitch invaders itu langsung dibawa ke kantor polisi setempat.
Tak lama kemudian, Pussy Riot mengaku bertanggung jawab. Lewat sebuah pernyataan di akun Twitter-nya, Pussy Riot mengungkapkan bahwa empat orang itu adalah anggota mereka.
Siapa, atau apakah Pussy Riot itu? Lalu, apa tujuan mereka melakukan aksi tersebut?
Kelompok Feminis Anti-Kremlin

Pussy Riot adalah sebuah kelompok protes, punk rock, dan feminis Rusia yang berbasis di Moskow dan didirikan pada tahun 2011. Mereka adalah aktivis anti-Kremlin.
Kelompok ini bisa dibilang merupakan musuh bebuyutan presiden Rusia, Vladimir Putin.
Selama ini, Pussy Riot kerap melancarkan protes-protes terhadap Putin. Sejumlah lagu dan video musik yang isinya menentang Putin telah mereka rilis.
Final Piala Dunia, yang merupakan salah satu sporting event paling banyak disaksikan, dan dihadiri langsung oleh Putin, juga presiden Prancis dan Kroasia, menjadi panggung spektakuler bagi mereka untuk melakukan aksinya.
Setelah aksi tersebut, lewat laman Facebook-nya, Pussy Riot mengeluarkan pernyataan bahwa keempat pitch invaders di Luzhniki Stadium adalah “anggotanya.”
Mengutip Tirto.id, Aksi itu dilakukan untuk memprotes pemerintahan Putin. Beberapa tuntutan pun mereka ajukan, antara lain: membebaskan tahanan politik, hentikan represi lewat media sosial, buka kembali persaingan politik, serta sudahi penangkapan tanpa dasar hukum yang jelas.
Seragam polisi yang dipakai keempat orang saat melakukan aksinya juga merupakan salah satu bentuk kritik Pussy Riot terhadap aparat. Menurut mereka, seragam polisi yang dikenakan merepresentasikan “gagalnya reformasi kepolisian Rusia dalam menciptakan rasa aman bagi masyarakatnya.”
Bukan Yang Pertama

Sejauh ini, tidak ada referensi yang dapat menyebutkan secara pasti berapa jumlah anggota Pussy Riot. Namun ada tiga figur yang menjadi pentolan kelompok ini. Mereka adalah Nadezhda Tolokonnikova, Maria Alykhina, dan Yekaterina Samutsevich.
Aksi di Luzhniki Stadium bukanlah yang pertama. Sebelum ini, Pussy Riot sudah terlebih dahulu melakukan beberapa aksi yang tak kalah besar.
Termasuk di antaranya adalah ketika Pussy Riot menduduki Katedral Basil di Lapangan Merah pada awal 2012. Di sana, mereka menyanyikan lagu berjudul “Putin Zassel,” atau dalam bahasa Inggris berarti “Putin Has Pissed Himself”, yang meminta Putin mundur dari jabatannya.
Pada awal Februari 2012, Pussy Riot kembali melakukan aksinya. Kali ini lebih fenomenal: memainkan lagu berjudul “Punk Prayer” di altar suci Katedral Kristus dan Juru Selamat di Moskow. Lewat “Punk Prayer,” Pussy Riot hendak mengkritik keberadaan Gereja Ortodoks yang dinilai anti-perempuan, konservatif, anti-LGBT, dan punya kedekatan lebih dengan Putin.
Pertunjukan yang berlangsung hanya dalam hitungan menit itu rupanya berdampak besar, baik di kancah domestik maupun internasional. Di dalam negeri, anggota Pussy Riot harus menghadapi tuntutan hukum karena dirasa telah mempromosikan “hooliganisme yang dimotivasi oleh kebencian terhadap agama.”
Tolokonnikova dan Alykhina pun dijatuhi hukuman dua tahun penjara. Samutsevich lolos dari jerat hukum, karena pengadilan tidak menemukan keterlibatannya lebih jauh dalam aksi tersebut.
Belum Bakal Berhenti

Semenjak menjabat, Putin memang dikenal tak ragu melakukan berbagai cara demi melanggengkan kekuasaannya.
Misalnya saja saat dia membuat undang-undang yang membatasi kebebasan hak sipil yang dengan mudah dipakai memenjarakan warga atas dalih “perilaku anarkis” sampai merekayasa pengadilan untuk menggebuk lawan politiknya yang “dituduh” melakukan penggelapan anggaran, penipuan pajak, intimidasi kepada aparat, sampai pembunuhan.
Kondisi itulah yang mendorong Pussy Riot dengan kerja-kerja aktivismenya. Sejak pertama kali berdiri, mereka konsisten menyuarakan perlawanan terhadap rezim Putin yang dianggap “tidak manusiawi, ingin berkuasa penuh, dan membungkam kebebasan warga negaranya.”
Dengan kata lain, mereka ingin menciptakan kehidupan masyarakat yang bebas dari pengaruh Putin, semacam pemerintahan yang demokratis dan tidak berbau otoriter.
Sampai hari itu tiba, Pussy Riot sepertinya belum bakal berhenti melancarkan aksi-aksi protes mereka. [initial]
Klik juga:
TAG TERKAIT
BERITA TERKAIT
-
Real Madrid Kalah dari Betis, Mourinho Bingung
Liga Spanyol 5 September 2026, 08:52
-
Rating Pemain Real Madrid saat Tersungkur di Markas Real Betis: Sebuah Kontradiksi
Liga Spanyol 5 September 2026, 08:30
-
Hasil Betis vs Madrid: Los Blancos Takluk!
Liga Spanyol 5 September 2026, 06:27
-
Rating Pemain Real Madrid saat Gulung Malaga: Bellingham, Mbappe, Vinicius Terdepan
Liga Spanyol 31 Agustus 2026, 07:50
LATEST UPDATE
-
Mikel Arteta Murka Penalti Sunderland: Tidak Bisa Terjadi di Level Ini
Liga Inggris 13 September 2026, 09:04
-
Rapor Pemain Chelsea saat Imbang Lawan Hull City: Joao Pedro Bersinar, Hato Terpuruk
Liga Inggris 13 September 2026, 08:34
-
Rapor Pemain Real Madrid saat Menang atas Rayo Vallecano: Mbappe dan Carreras Bersinar
Liga Spanyol 13 September 2026, 07:47
-
Rapor Pemain Arsenal saat Menang atas Sunderland: Raya Gemilang, Saka Penentu
Liga Inggris 13 September 2026, 07:33
-
Hasil Lengkap, Klasemen, Jadwal dan Top Skor Serie A 2026/2027
Liga Italia 13 September 2026, 06:59
-
Hasil Lengkap, Klasemen, Jadwal dan Top Skor La Liga 2026/2027
Liga Spanyol 13 September 2026, 06:47
-
Hasil Lengkap, Klasemen, Jadwal dan Top Skor Premier League 2026/2027
Liga Inggris 13 September 2026, 06:34
-
Man of the Match Madrid vs Rayo: Jude Bellingham
Liga Spanyol 13 September 2026, 05:39
-
Man of the Match Sunderland vs Arsenal: David Raya
Liga Inggris 13 September 2026, 05:12
-
Man of the Match Lazio vs AC Milan: Diego Moreira
Liga Italia 13 September 2026, 04:55
-
Hasil Sunderland vs Arsenal: The Gunners Menang 2-0 dan Kuasai Puncak Klasemen
Liga Inggris 13 September 2026, 04:10
LATEST EDITORIAL
-
Bukan Cuma Ronaldo, 3 Pemain Ini Juga Pernah Membela Real Madrid dan Inter Milan
Editorial 8 September 2026, 20:58
-
Robert Sanchez Blunder Lagi, 5 Kiper Ini Bisa Jadi Solusi Chelsea
Editorial 27 Agustus 2026, 14:00
-
5 Pemain Manchester United yang Pernah Memakai Nomor 20 Sebelum Carlos Baleba
Editorial 26 Agustus 2026, 12:06
-
4 Klub yang Bisa Jadi Pelabuhan Nicolas Jackson, Aston Villa Paling Berpeluang?
Editorial 25 Agustus 2026, 11:33




