Xabi Prieto - Sebuah Kisah Indah Tentang Cinta dan Kesetiaan Dari San Sebastian
Gia Yuda Pradana | 27 Juli 2018 11:04
Bola.net - Bola.net - Di era sekarang, one-club men sudah menjadi komoditas langka di dunia sepakbola. Semakin ke sini, jumlahnya semakin berkurang.
Salah satu yang baru saja menutup lembaran kariernya adalah Xabi Prieto. Dari awal hingga akhir, dia hanya memperkuat Real Sociedad di Negeri Matador Spanyol.
Kecintaan dan kesetiaan pria asal San Sebastian 34 tahun silam itu terhadap klub kota kelahirannya seolah tak ada batasnya. Selama hampir 15 tahun, mantan gelandang Spanyol tersebut selalu mencurahkan segalanya untuk Txuri-urdinak, baik saat senang maupun susah, kala terdegradasi ke Segunda maupun berjuang di kasta tertinggi La Liga.
Selama belasan tahun tanpa gelar juara, tapi mantan kapten Sociedad itu tak menyesalinya. Dia menikmati setiap saat bersama Sociedad.
Bagi Xabi Prieto, Sociedad adalah cinta pertama sekaligus terakhirnya.
Selalu Ada Buat Sociedad

Prieto bergabung dengan klub kota kelahirannya itu di usia 14. Dari tim junior, Prieto terus naik level sampai ke tim utama. Tak berhenti sampai di situ, dia kemudian juga dipercaya memakai ban kapten, dan akhirnya menyandang status legenda.
Selama 14 tahun, dengan 13 pelatih berbeda, tiga musim di Segunda, belasan musim di La Liga, ketika berjuang di pentas elit Liga Champions pada musim 2013/14, Prieto selalu ada.
Perasaannya selalu sama, dari sejak dia masih bocah sebagai seorang suporter, ketika melakoni debut melawan Real Oviedo di Copa del Rey pada 2003, saat mencetak gol perdananya dalam kemenangan tandang 4-1 atas Real Madrid di La Liga pada 2004, hingga akhirnya pensiun di musim 2017/18.
Sejak dari kecil, perasaan itu selalu ada. Bahagia, kata Prieto, seperti pernah dilansir oleh ESPN.
Tetap Setia Walau di Kala Susah

Musim 2006/07, Sociedad finis peringkat 19 di La Liga dan terdegradasi ke Segunda. Prieto sejatinya bisa saja pindah ke klub lain di divisi utama atau ke luar Spanyol. Waktu itu, tak sedikit klub yang mencoba untuk memboyongnya dari San Sebastian. Namun Prieto memilih bertahan.
Perjuangan di Segunda tidak mudah. Butuh tiga musim sebelum akhirnya Sociedad kembali ke kasta tertinggi Spanyol.
Kenapa waktu itu Prieto memilih untuk tetap di Sociead? Dalam sebuah wawancara dengan ESPN pada Oktober 2017, beberapa pekan setelah dia mencapai milestone 500 penampilan berseragam Sociedad, Prieto mengungkapkannya.
Dari sudut pandang profesional, sebenarnya lebih baik pindah ke tim divisi utama atau bermain di luar negeri. Namun saya rasa saya takkan merasa lebih bahagia di tempat lain, papar Prieto kala itu.
Jadi saya menantang diri saya sendiri untuk membawa La Real kembali ke divisi utama. Itu lebih sulit daripada yang kami harapkan - butuh tiga tahun - tapi pada akhirnya kami berhasil. Tahun kami promosi itu merupakan salah satu momen paling indah dalam karier saya.
Saya bahagia. Itu jauh lebih berharga dibandingkan apapun juga, lebih bernilai daripada tawaran-tawaran yang pernah datang pada saya.
Saya ingat bicara dengan agen saya waktu itu, juga dengan orang-orang di keluarga saya yang berasumsi bahwa mungkin lebih baik bagi saya untuk mencoba membangun karier di tempat lain. Namun saya tak pernah bisa membayangkan diri saya memakai seragam yang berbeda. Saya tak pernah bisa membayangkan diri saya di tempat selain San Sebastian.
Momen Tak Terlupakan

Giornata 2 La Liga musim 2017/18, Sociedad menjamu tim kuat Villarreal. Pertandingan baru berjalan 10 menit, skor masih 0-0, dan mendadak terdengar gemuruh aplaus di Anoeta, para suporter secara berirama meneriakkan satu nama, padahal tak terjadi apa-apa - bukan peluang emas maupun gol yang tercipta.
Satu nama itu adalah Xabi Prieto, dan 10 adalah nomornya. Laga itu adalah laga ke-500 yang dia mainkan dengan seragam Sociedad.
Dalam laga itu, Prieto mencetak golnya yang ke-62, membantu Sociedad menang 3-0 dan melesat ke puncak klasemen sementara.
Saya akan mengingat hari ini seumur hidup saya, kata Prieto waktu itu. Merasa dicintai adalah hal terindah yang bisa saya dapatkan di sini.
Tak Ada Penyesalan

Selama memperkuat Sociedad, Prieto tak pernah sekalipun merasakan nikmatnya menjadi juara maupun dipanggil ke tim senior La Furia Roja. Selama bertahun-tahun tanpa satupun gelar bergengsi, Prieto tak pernah menyesalinya.
Meraih gelar juara memang sebuah impian, tapi tanpa itu pun saya takkan pergi dengan perasaan getir. Saya takkan menyesalinya seumur hidup saya, ujarnya.
Prieto menikmati setiap saat bersama Sociedad.
Pensiun dengan 73 gol dan sebagai pemain dengan jumlah penampilan terbanyak kelima (532) sepanjang sejarah Sociedad, Prieto telah memberikan segalanya. Setiap aksi yang ditunjukkan oleh spesialis penalti pemilik dribbling skill bagus ini juga sudah menjadi memori indah bagi para suporter Sociedad.
Saatnya Berpisah

Pada 13 Mei 2018, Sociedad memainkan laga kandang terakhirnya di La Liga 2017/18. Itu juga menjadi laga terakhir Prieto di depan publik San Sebastian.
Prieto sudah mengumumkan sebulan sebelumnya kalau dia akan gantung sepatu.
Untuk laga melawan Leganes di Anoeta itu, pihak Sociedad menyiapkan sebuah tribute spesial untuk kapten mereka.
Khusus laga tersebut, Sociedad mengganti emblem klub di seragam pemain dengan karikatur wajah Prieto. Itu merupakan salah satu bentuk penghargaan terhadap Prieto dengan semua dedikasi, cinta dan kesetiaan yang telah dia tunjukkan selama ini.
Nomor 10 yang dipakai Prieto telah 'diwariskan' kepada Mikel Oyarzabal.
Saya sangat bangga bisa memakai nomor ini. Mengikuti jejak Xabi adalah sebuah kehormatan, kata Oyarzabal seperti dilansir situs resmi Sociedad.
Nomor 10 Sociedad telah berganti pemilik. Namun kisah cinta dan kesetiaan dari pemilik sebelumnya akan selalu abadi.
Xabi Prieto sudah menjadi legenda Real Sociedad. Kesetiaannya telah membawa dia sejajar dengan pemain-pemain legendaris seperti Carles Puyol (Barcelona), Jamie Carragher (Liverpool), Ryan Giggs (Manchester United), Francesco Totti (AS Roma) maupun Paolo Maldini (AC Milan) sebagai salah satu one-club men dalam sejarah sepakbola. [initial]
TAG TERKAIT
BERITA TERKAIT
-
Mbappe Muak Lihat Rekannya di Madrid Dibully: Kritik Timnya, Jangan Orangnya!
Liga Spanyol 20 Januari 2026, 10:10
-
Usai Cabut dari Real Madrid, Tujuan Xabi Alonso Berikutnya Terungkap
Liga Spanyol 20 Januari 2026, 04:30
-
Vinicius Dicemooh Fans Real Madrid, Kylian Mbappe tak Terima
Liga Spanyol 20 Januari 2026, 01:15
LATEST UPDATE
-
Selebrasi Unik Jude Bellingham: Gestur Minum di Bernabeu, Respons Kritik Fans?!
Liga Champions 21 Januari 2026, 10:47
-
Sesumbar Alvaro Arbeloa: Real Madrid Favorit Juara Liga Champions Musim 2025/2026!
Liga Champions 21 Januari 2026, 10:29
-
Arsenal Tak Terbendung, Inter Terpuruk di Liga Champions
Liga Champions 21 Januari 2026, 10:24
-
Habis Dihajar MU, Terbitlah Bodo/Glimt: Apa Kata Pep Guardiola?
Liga Champions 21 Januari 2026, 10:19
-
Arsenal Kalahkan Inter Milan di San Siro, Mikel Merino: Mantap betul!
Liga Champions 21 Januari 2026, 10:16
-
Siapa Mampu Hentikan Arsenal di Liga Champions Musim Ini?
Liga Champions 21 Januari 2026, 10:10
-
Manchester City Kalah Lagi, Erling Haaland: Maaf, Ini karena Salah Saya!
Liga Champions 21 Januari 2026, 10:05
-
Dari Cemooh ke Pesta Gol: Malam Kebangkitan Real Madrid di Liga Champions
Liga Champions 21 Januari 2026, 09:47
-
Manchester City Tersungkur di Norwegia: Bodo/Glimt Bongkar Masalah Besar Guardiola
Liga Champions 21 Januari 2026, 09:15
-
Usai Hancurkan Inter Milan, Arsenal Langsung Kirim Teror ke Manchester United
Liga Inggris 21 Januari 2026, 09:15
LATEST EDITORIAL
-
9 Pemain yang Pernah Bermain untuk Inter Milan dan Arsenal
Editorial 20 Januari 2026, 14:06
-
6 Bek Tengah yang Bisa Datangkan Liverpool Setelah Kehilangan Marc Guehi
Editorial 20 Januari 2026, 13:05
-
5 Pemain Liverpool yang Bisa Ikuti Jurgen Klopp ke Real Madrid
Editorial 19 Januari 2026, 12:24
-
4 Bek Tengah yang Bisa Jadi Target Chelsea di Bursa Januari: Ada Eks Real Madrid
Editorial 19 Januari 2026, 12:06






