Bob Hippy: WO Adalah Hak, Bukan Kesalahan
Editor Bolanet | 29 Maret 2013 17:29
- Anggota Komite Eksekutif (Exco) Bob Hippy merasa keberatan skorsing yang diterimanya dari Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI).
Dikatakannya lagi, penilaian bahwa alasan skorsing akibat walk out (WO) yang dilakukan enam Exco pada Kongres Luar Biasa (KLB) di Hotel Borobudur, Jakarta, pada 17 Maret 2013, merupakan kesalahan fatal. Pasalnya, WO tersebut adalah hak asasi dan bukan suatu kesalahan.
WO adalah salah satu mekanisme dalam forum demokrasi. Sama halnya jika dalam Kongres suatu keputusan sulit diambil secara musyawarah, maka ditempuh jalur voting, ujar Bob Hippy.
Misalnya, dicontohkan Bob Hippy, dalam sidang parlemen DPR-RI, kerap terlihat adanya peserta WO dari sidang karena tidak sepaham dengan peserta lainnya. Tapi, diterangkan Bob, mereka tidak dikenai sanksi, karena memang WO itu hak.
Itu sebabnya, dituturkan Bob, WO pernah terjadi di Kongres FIFA pada Mei 2013, ketika agenda pemilihan Presiden FIFA. WO dilakukan sepuluh dari total 46 delegasi negara asal Asia anggota AFC peserta Kongres FIFA, sebagai bentuk empati terhadap Mohamed bin Hammam yang dihukum seumur hidup dan boleh ikut kegiatan sepak bola akibat dituduh terlibat suap.
Kemudian, tahun 1999, delegasi Asia menggelar protes dengan melakukan WO dari ruangan Kongres FIFA di Los Angeles saat pemilihan tuan rumah Piala Dunia. Sampai kini, FIFA tak melakukan skorsing atau memberikan sanksi apapun kepada mereka yang WO tersebut.
Jadi, skorsing tersebut tidak benar, tegas Bob.
Lebih jauh dikatakan Bob, semua pihak harus berpegangan terhadap surat FIFA tertanggal 22 Maret 2013, yang secara gamblang menegaskan bahwa tiga agenda FIFA telah dilaksanakan sesuai arahan dalam KLB 17 Maret 2013. Yakni, unifikasi Liga, revisi statuta, secara resmi menerima 4 Exco terhukum.
Tidak ada agenda lain yang disetujui oleh FIFA selain tiga agenda tersebut.
Dikatakannya lagi, penilaian bahwa alasan skorsing akibat walk out (WO) yang dilakukan enam Exco pada Kongres Luar Biasa (KLB) di Hotel Borobudur, Jakarta, pada 17 Maret 2013, merupakan kesalahan fatal. Pasalnya, WO tersebut adalah hak asasi dan bukan suatu kesalahan.
WO adalah salah satu mekanisme dalam forum demokrasi. Sama halnya jika dalam Kongres suatu keputusan sulit diambil secara musyawarah, maka ditempuh jalur voting, ujar Bob Hippy.
Misalnya, dicontohkan Bob Hippy, dalam sidang parlemen DPR-RI, kerap terlihat adanya peserta WO dari sidang karena tidak sepaham dengan peserta lainnya. Tapi, diterangkan Bob, mereka tidak dikenai sanksi, karena memang WO itu hak.
Itu sebabnya, dituturkan Bob, WO pernah terjadi di Kongres FIFA pada Mei 2013, ketika agenda pemilihan Presiden FIFA. WO dilakukan sepuluh dari total 46 delegasi negara asal Asia anggota AFC peserta Kongres FIFA, sebagai bentuk empati terhadap Mohamed bin Hammam yang dihukum seumur hidup dan boleh ikut kegiatan sepak bola akibat dituduh terlibat suap.
Kemudian, tahun 1999, delegasi Asia menggelar protes dengan melakukan WO dari ruangan Kongres FIFA di Los Angeles saat pemilihan tuan rumah Piala Dunia. Sampai kini, FIFA tak melakukan skorsing atau memberikan sanksi apapun kepada mereka yang WO tersebut.
Jadi, skorsing tersebut tidak benar, tegas Bob.
Lebih jauh dikatakan Bob, semua pihak harus berpegangan terhadap surat FIFA tertanggal 22 Maret 2013, yang secara gamblang menegaskan bahwa tiga agenda FIFA telah dilaksanakan sesuai arahan dalam KLB 17 Maret 2013. Yakni, unifikasi Liga, revisi statuta, secara resmi menerima 4 Exco terhukum.
Tidak ada agenda lain yang disetujui oleh FIFA selain tiga agenda tersebut.
Maka, dengan kata lain, Sekjen FIFA Jerome Vackle melalui suratnya tertanggal 22 Maret 2013, membalas surat Farid Rahman selaku Wakil Ketua Umum PSSI membuktikan bahwa skorsing itu tidak ada, tuntasnya. (esa/dzi)
TAG TERKAIT
BERITA TERKAIT
LATEST UPDATE
-
FIFA Hapus Kartu Merah Leandro Paredes di Final Piala Dunia 2026
Piala Dunia 21 Juli 2026, 22:29
-
Real Madrid dan Seragam Putih yang Lahir dari Sebuah Mimpi di Inggris
Liga Spanyol 21 Juli 2026, 22:10
-
Pemain PSG di Piala Dunia 2026: Fabian Ruiz Juara, Dembele Bersinar
Piala Dunia 21 Juli 2026, 21:21
-
Marcos Santos Bangun Identitas Baru untuk Arema FC Musim 2026/2027
Bola Indonesia 21 Juli 2026, 21:07
-
Setelah Jadi Pahlawan Spanyol, Ferran Torres Diincar Real Madrid dan PSG
Liga Spanyol 21 Juli 2026, 21:00
-
Menanti Daya Ledak Kembalinya Iwan Budianto Tangani Arema FC
Bola Indonesia 21 Juli 2026, 20:59
LATEST EDITORIAL
-
6 Alternatif Enzo Fernandez untuk Real Madrid
Editorial 3 Juli 2026, 14:19
-
Makin Panas! 5 Opsi Klub Baru Julian Alvarez, Barcelona Jadi Tujuan Impian
Editorial 24 Juni 2026, 15:34
-
6 Kemenangan Terbesar dalam Sejarah Piala Dunia
Editorial 15 Juni 2026, 16:55















