Fadly Alberto Hengga, Dari Latar Belakang Sederhana ke Tantangan Karier yang Berat

Ari Prayoga | 23 April 2026 12:38
Fadly Alberto Hengga, Dari Latar Belakang Sederhana ke Tantangan Karier yang Berat
Fadly Alberto ketika membela Timnas Indonesia U-17. (c) Dok. AFC

Bola.net - Dunia sepak bola Tanah Air kembali mendapat perhatian lewat kisah menginspirasi dari talenta muda bernama Fadly Alberto Hengga. Pemain yang saat ini memperkuat Timnas Indonesia U-20 tersebut dikenal berasal dari keluarga dengan kondisi ekonomi yang sangat terbatas. Perjalanan kariernya dipenuhi perjuangan keras, dari berlatih menggunakan sepatu hasil meminjam hingga kini menjadi sosok penting di level nasional.

Fadly dilahirkan di Mimika, Papua Tengah, pada 22 Juni 2008, tetapi masa kecilnya banyak dihabiskan di Desa Banjarsari, Bojonegoro, Jawa Timur. Ia hidup bersama sang ibu dan adik perempuannya di sebuah rumah papan sederhana berukuran 4x8 meter yang jauh dari kesan nyaman. Meski hidup dalam keterbatasan, hal itu tak pernah mengurangi semangat Fadly untuk mengejar cita-citanya di dunia sepak bola.

Advertisement

Bakat Fadly Alberto Hengga di lapangan hijau telah terlihat sejak usia dini, mengantarkannya bergabung dengan Sekolah Sepak Bola (SSB) Sukorejo. Ia kemudian menembus akademi Bhayangkara FC dan menjadi striker andalan Timnas Indonesia U-16, U-17, hingga kini di level U-20. Prestasinya menjadi bukti nyata dari kerja keras dan dedikasi.

Terbaru, nama Fadly Alberto Hengga juga mencuat setelah terlibat dalam insiden "tendangan kung fu" saat pertandingan Elite Pro Academy (EPA) Super League U-20. Insiden tersebut melibatkan pemain Dewa United U-20, Rakha Nurkholis, dan telah diselesaikan secara damai melalui mediasi yang dilakukan oleh kedua klub.

1 dari 3 halaman

Dari Mimika ke Bojonegoro

Fadly Alberto Hengga, nama yang kini menjadi perbincangan di kalangan pecinta sepak bola Tanah Air, lahir di Mimika, Papua Tengah, pada tanggal 22 Juni 2008. Ia merupakan anak sulung dari pasangan John Clif Hengga dan Piana. Meskipun lahir di Papua, Fadly telah tinggal di kampung halaman ibunya di Desa Banjarsari, Kecamatan Trucuk, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, sejak usia tiga tahun. Pemain muda ini menganut agama Islam dan memiliki seorang adik perempuan bernama Iriana Beatrik Hengga.

Latar belakang keluarga Fadly Alberto Hengga jauh dari kemewahan. Ia bersama ibu dan adiknya menempati sebuah rumah yang sangat sederhana di Bojonegoro. Rumah tersebut hanya terbuat dari material papan berukuran 4x8 meter, dengan dinding triplek, lantai tanah, dan atap seng. Kondisinya digambarkan memprihatinkan dan menyerupai gubuk, di mana ruang tamu, kamar tidur, dan dapur menyatu tanpa sekat. Rumah ini berdiri di atas tanah milik Perhutani, yang berarti bukan hak milik pribadi.

Ibunda Fadly, Piana, bekerja serabutan demi menghidupi kedua anaknya dan membayar uang sewa lahan. Meskipun dihadapkan pada berbagai keterbatasan, Fadly memiliki semangat yang membara untuk membanggakan orang tua. Impiannya adalah membangun rumah yang layak untuk ibu serta adiknya, sebuah motivasi kuat di balik setiap langkahnya di lapangan hijau.

2 dari 3 halaman

Semangat dari Keterbatasan

Kecintaan Fadly Alberto Hengga terhadap sepak bola telah tumbuh sejak kecil. Ia mulai serius mengasah bakatnya sejak kelas 3 SD, sekitar usia delapan tahun, dengan bergabung di Sekolah Sepak Bola (SSB) Sukorejo, Bojonegoro. Pada awal perjalanannya, Fadly bahkan harus meminjam sepatu dari teman-temannya karena belum mampu membeli sendiri, sebuah fakta yang menunjukkan betapa besar tekadnya. Bakatnya yang menonjol membuatnya mampu mengimbangi pemain yang lebih tua, menarik perhatian para pelatih.

Setelah menyelesaikan pendidikan SMP, Fadly Alberto Hengga berhasil lolos seleksi dan diterima di Akademi Sepak Bola Bhayangkara di Bojonegoro. Ini menjadi langkah awal yang signifikan dalam karier profesionalnya. Ia kemudian bergabung dengan Bhayangkara Presisi Indonesia FC dan menjadi bagian dari tim Elite Pro Academy (EPA) Bhayangkara FC U-16. Perkembangan pesatnya terus berlanjut, membawanya ke level yang lebih tinggi.

Fadly Alberto Hengga dikenal sebagai seorang striker dan kreator serangan yang diandalkan. Ia pernah menjadi bagian penting dari Timnas Indonesia U-16 yang berlaga di Kejuaraan AFF U-16 atau Turnamen ASEAN U-16 Boy Championship 2024. Setelah itu, ia juga memperkuat Timnas Indonesia U-17. Kini, Fadly tercatat sebagai bagian dari skuad Timnas Indonesia U-20, menunjukkan konsistensinya di level internasional. Di luar lapangan, Fadly juga seorang siswa SMKN 1 Dander dengan jurusan teknik kendaraan ringan.

3 dari 3 halaman

Berakhir Damai

Pada hari Minggu, 19 April 2026, sebuah insiden memanas terjadi dalam pertandingan Elite Pro Academy (EPA) Super League U-20 2025/2026. Pertandingan antara Bhayangkara FC U-20 dan Dewa United U-20 di Stadion Citarum, Semarang, berakhir dengan kemenangan Dewa United U-20 2-1. Namun, setelah peluit akhir dibunyikan, situasi menjadi tegang dan memicu keributan di lapangan. Dalam insiden tersebut, Fadly Alberto Hengga, pemain Bhayangkara FC U-20, diduga melakukan "tendangan kung fu" ke arah pemain Dewa United U-20, Rakha Nurkholis.

Menyikapi insiden tersebut, Bhayangkara FC U-20 segera mengambil langkah proaktif. Pada Rabu, 22 April 2026, tim tersebut melakukan kunjungan ke markas Dewa United Arena di Tangerang untuk mengadakan audiensi dan mediasi. Pertemuan penting ini dihadiri oleh sejumlah tokoh kunci, termasuk Direktur Akademi Dewa United, Firman Utina, serta Direktur Akademi Bhayangkara FC, Agus Rumekso Carel. Manajer Bhayangkara U-20, Yongki Pandu Pamungkas, juga turut hadir bersama kedua pemain yang terlibat, Fadly Alberto dan Rakha Nurkholis.

Hasil mediasi menunjukkan penyelesaian damai dan kekeluargaan atas kasus "tendangan kung fu" tersebut. Fadly Alberto Hengga secara langsung menyampaikan permintaan maaf kepada Rakha Nurkholis dan seluruh jajaran Dewa United. Ia mengakui tindakannya tidak sportif dan murni dipicu oleh emosi yang lepas kendali di tengah tensi pertandingan yang memanas. Permintaan maaf ini diterima dengan baik oleh Direktur Akademi Dewa United, Firman Utina, yang mengapresiasi inisiatif Bhayangkara FC U-20 demi masa depan para pemain muda.

Kedua belah pihak sepakat bahwa kejadian ini harus menjadi pelajaran berharga bagi semua pemain muda untuk lebih dewasa dalam bersikap di lapangan. Firman Utina juga menegaskan bahwa proses evaluasi internal akan tetap berjalan bagi siapa pun yang melanggar kode etik, menunjukkan komitmen terhadap disiplin. Meskipun telah ada penyelesaian damai, kedua klub kini masih menantikan putusan resmi dari Komite Disiplin (Komdis) terkait insiden yang melibatkan Fadly Alberto Hengga ini.

Disadur dari Bola.com (Hery Kurniawan) 23 April 2026

LATEST UPDATE