FIFPro: Kematian Salomon Bukti Ada Krisis di Indonesia
Editor Bolanet | 20 Desember 2013 23:33
- Kematian Salomon Begondo tampaknya mulai mendapat sorotan dari dunia. Organisasi pemain FIFPro dunia pun memberikan perhatian atas kasus tersebut.
Seperti diketahui, Salomon Begondo menghembuskan nafas terakhir pada 29 November lalu karena sakit. Kematian pemain asal Kamerun yang memperkuat Persipro Probolinggo ini mendapat sorotan karena gajinya tertunggak selama berbulan-bulan dan sempat mengemis di pinggir jalan dan bermain tarkam untuk menyambung hidupnya.
Menanggapi tragedi tersebut, FIFPro melalui Brendan Schwab selaku Presiden FIFPro Asia/Oceania menyatakan bahwa sepakbola Indonesia berada dalam puncak krisis.
Para pemain di Indonesia bisa 10 bulan tak digaji, atau hanya mendapatkan satu atau dua bulan dari kesepakatan gaji yang membuat para pemain semakin miskin dan putus asa, ujarnya.
Di Indonesia tengah terjadi krisis. Ini situasi yang tragis. Seharusnya sepakbola tidak menjadi masalah hidup dan mati, seharusnya ini adalah tentang olahraga, tandasnya.
Seakan memperkuat pernyataan dari FIFPro tentang adanya krisis di sepakbola Indonesia, mantan asisten pelatih timnas Indonesia, Fabio Oliviera juga menjelaskan bagaimana krisis yang terjadi di sepakbola Indonesia dan membuat klub-klub kesulitan mencari dana.
Situasinya sangat buruk karena beberapa tim tak memiliki sponsor. Klub-klub tersebut tidak punya apa-apa, ujarnya.
Ini benar-benar sebuah hutan belantara bagi pemain yang datang bermain ke Indonesia, tandasnya.
Sebelum kasus Salomon Begondo, sepakbola Indonesia juga telah mengalami duka yang sama dan memiliki kesamaan sebab saat meninggalnya Diego Mendieta.[initial]
(bbc/dzi)
Seperti diketahui, Salomon Begondo menghembuskan nafas terakhir pada 29 November lalu karena sakit. Kematian pemain asal Kamerun yang memperkuat Persipro Probolinggo ini mendapat sorotan karena gajinya tertunggak selama berbulan-bulan dan sempat mengemis di pinggir jalan dan bermain tarkam untuk menyambung hidupnya.
Menanggapi tragedi tersebut, FIFPro melalui Brendan Schwab selaku Presiden FIFPro Asia/Oceania menyatakan bahwa sepakbola Indonesia berada dalam puncak krisis.
Para pemain di Indonesia bisa 10 bulan tak digaji, atau hanya mendapatkan satu atau dua bulan dari kesepakatan gaji yang membuat para pemain semakin miskin dan putus asa, ujarnya.
Di Indonesia tengah terjadi krisis. Ini situasi yang tragis. Seharusnya sepakbola tidak menjadi masalah hidup dan mati, seharusnya ini adalah tentang olahraga, tandasnya.
Seakan memperkuat pernyataan dari FIFPro tentang adanya krisis di sepakbola Indonesia, mantan asisten pelatih timnas Indonesia, Fabio Oliviera juga menjelaskan bagaimana krisis yang terjadi di sepakbola Indonesia dan membuat klub-klub kesulitan mencari dana.
Situasinya sangat buruk karena beberapa tim tak memiliki sponsor. Klub-klub tersebut tidak punya apa-apa, ujarnya.
Ini benar-benar sebuah hutan belantara bagi pemain yang datang bermain ke Indonesia, tandasnya.
Sebelum kasus Salomon Begondo, sepakbola Indonesia juga telah mengalami duka yang sama dan memiliki kesamaan sebab saat meninggalnya Diego Mendieta.[initial]
TAG TERKAIT
BERITA TERKAIT
-
Benarkah Luke Vickery Tengah Dinaturalisasi Timnas Indonesia?
Tim Nasional 8 April 2026, 09:03
LATEST UPDATE
-
Gagal Total di Eropa, Real Madrid Siap Rombak Besar-Besaran?
Liga Spanyol 17 April 2026, 12:45
-
Insiden Kartu Merah Camavinga Bikin Real Madrid Meradang
Liga Champions 17 April 2026, 12:15
-
Rugi Besar Jika Manchester United Lepas Michael Carrick!
Liga Inggris 17 April 2026, 11:44
-
Chelsea Dapat Suntikan Tenaga, Enzo Fernandez Kembali ke Skuad Utama
Liga Inggris 17 April 2026, 11:14
-
Prediksi Chelsea vs Man Utd 19 April 2026
Liga Inggris 17 April 2026, 11:09
-
Persebaya vs Madura United: Derbi Suramadu, Bajol Ijo Bidik Poin Penuh!
Bola Indonesia 17 April 2026, 10:44
LATEST EDITORIAL
-
9 Kandidat Pengganti Alvaro Arbeloa di Real Madrid
Editorial 16 April 2026, 23:37
-
6 Top Skor Sepanjang Masa Liga Champions
Editorial 15 April 2026, 20:59
-
10 Kegagalan Juara Paling Tragis di Premier League, Arsenal 2025/2026 Menyusul?
Editorial 14 April 2026, 18:00














