Shopee Liga 1: Mengupas Penyebab Terseok-seoknya Persipura Jayapura
Gia Yuda Pradana | 6 Juli 2019 13:49
Bola.net - Persipura Jayapura adalah salah satu tim dengan nama besar di kancah persepakbolaan Indonesia. Namun Mutiara Hitam saat ini berada dalam situasi yang tidak mengenakkan.
Persipura mengawali kiprahnya di kompetisi Shopee Liga 1 2019 yang disiarkan Indosiar dengan menyesakkan. Sampai pertandingannya yang ke-6, Persipura baru mengumpulkan tiga poin dan belum sekali pun mengecap manisnya kemenangan.
Tiga kali imbang dan tiga kali kalah membuat Persipura terdampar di zona merah.
Terakhir, Persipura dihajar Arema FC di Stadion Gajayana Malang. Kekalahan itu ditelan setelah Luciano Leandro dilengserkan dari posisi pelatih kepala.
Persipura adalah tim pengoleksi gelar terbanyak di era kompetisi Liga Indonesia (penggabungan Perserikatan dan Galatama, yakni dari musim 2005, 2008-2009, 2010-2011, dan 2013.
Pada musim 2016, mereka juga jadi kampiun Torabika Soccer Championship (kompetisi kasta tertinggi yang diselenggarakan saat PSSI diban FIFA).
Lalu, kenapa Persipura bisa jadi seperti sekarang? Seperti dilansir Bola.com, ada beberapa penyebabnya.
Scroll terus ke bawah.
Gagal Regenerasi

Sukses Persipura di percaturan elite sepak bola Tanah Air tak lepas dari kontribusi generasi emas Papua usai menjadi juara PON 2004.
Tim Mutiara Hitam kebanjiran pemain-pemain bertalenta yang secara signifikan mengerek performa dan prestasi tim. Boaz Solossa, Ian Kabes, Immanuel Wanggai, Christian Worabay, Ricardo Salampessy, Gerald Pangkali, adalah pemain belia alumnus PON 2004.
Khusus Boaz, ia melejit jadi superstar. Ia menjelma jadi penyerang terbaik Indonesia pasca era Bambang Pamungkas.
Ia satu-satunya bomber lokal yang bisa eksis di persaingan perburuan sepatu emas yang selalu didominasi penyerang-penyerang asing.
Boaz tercatat menjadi pencetak gol terbanyak Indonesia Super League musim 2008-2009 (28 gol), 2010-2011 (22 gol), 2013 (25 gol). Berbarengan dengan itu ia juga didapuk sebagai pemain terbaik.
Pada musim 2016 ia juga jadi best player Torabica Soccer Championship.
Realitanya, pemain-pemain yang masuk generasi emas sudah mulai dimakan umur. Boaz kini sudah masuk usia 33 tahun (kelahiran 16 Maret 1986). Demikian pula Wanggai dan Kabes. Ricardo malah usianya lebih uzur lagi, 35 tahun.
Persipura masih mengandalkan tenaga mereka, yang masuk periode pengujung karier.
Manajemen Persipura bisa dibilang gagal melakukan regenerasi tim. Agak ironis karena Papua dikenal sebagai provinsi yang produktif mencetak pemain-pemain bertalenta.
Persoalannya mereka tak pernah dapat porsi besar menjadi tulang punggung Tim Mutiara Hitam. Di sisi lain, pemain-pemain senior mereka satu per satu mulai kehilangan taji.
Ambil contoh Immanuel Wanggai, yang tiga musim terakhir lebih sering absen karena cedera lutut kambuhan. Padahal pada masa jayanya, ia termasuk gelandang jangkar terbaik yang dimiliki Indonesia.
Dua musim terakhir manajemen Persipura memberikan porsi besar pada darah muda. Sayangnya, mereka terlihat gagap menghadapi persaingan keras kompetisi. Butuh waktu bagi mereka untuk menjadi matang.
Terlalu Sering Ganti Pelatih

Manajemen Persipura dikenal kejam pada seorang pelatih. Ekspektasi mereka amat tinggi. Mulai dari prestasi hingga style bermain. Saat tak terpuaskan mereka tak segan-segan mendepak seorang pelatih.
Praktis hanya seorang Jacksen F. Tiago, yang bisa berkarier panjang di Persipura. Nakhoda asal Brasil itu sukses mempersembahkan tiga gelar juara pada musim 2005, 2008-2009, 2010-2011, 2013. Sang mentor menepi dari tim karena terlibat percekcokan dengan petinggi klub.
Apesnya, selepas Jacksen jarang ada pelatih berkarier panjang. Sejak musim 2014 Persipura ditukangi delapan pelatih!
Oswaldo Lessa, Jafri Sastra, Angel Alfredo Vera, Liestiadi, Wanderley Machoda da Silva, Peter James Butler, Amilton Silva de Oliviera, dan Luciano Leandro deretan arsitek yang berkarier pendek di Persipura.
Rata-rata mereka terpental karena prestasi. Namun, ada juga yang terpinggirkan sekalipun berprestasi, yakni Angel Alfredo Vera usai mempersembahkan gelar juara musim 2016.
"Persipura tim besar, manajemen ingin tim selalu berprestasi. Tak mudah melatih di sana karena tekanannya besar," ujar Peter Butler dalam sebuah kesempatan saat bercerita pengalamannya menukangi Persipura.
Ada anggapan bahwa untuk bisa berkarier panjang di Persipura, seorang pelatih harus bisa nyetel dengan pemainnya, bukan sebaliknya pelatih yang mengendalikan pelatih. Kondisi ini agak unik dan berimbas buruk bagi tim.
Gagal Memagari Pemain Potensial

Persipura sejatinya tidak kering pemain-pemain berkualitas. Di luar pemain-pemain jebolan PON 2004, Tim Mutiara Hitam punya stok pemain bagus didikan akademi atau hasil merekrut dari klub lain.
Marinus Wanewar (penyerang), Ferinando Pahabol (winger), Osvaldo Haay (winger), Ruben Sanadi (bek sayap), adalah deretan pilar kunci saat Persipura memenangi gelar liga 2016 lalu. Tiga nama pertama disebut disebut calon penerus generasi emas PON 2004.
Sayangnya, mereka tak lama bertahan di tim. Krisis keuangan yang dialami Persipura pasca mundurnya Freeport sebagai sponsor utama membuat bintang-bintang tim pergi mencari peruntungan di tim lain.
Alhasil, Persipura harus membangun ulang kekuatan tim. Hal yang tak mudah tentunya, karena pemain-pemain belia yang ada di tim belum siap memikul beban berat.
Di sisi lain, silih berganti Persipura juga kehilangan pemain-pemain asing motor permainan. Bio Pauline, Alberto Goncalves (belakangan jadi WNI), Robertino Pugliara, Otavio Dutra, Zah Rahan, merupakan deretan legiun asing keren yang dibajak klub pesaing. Kepergian mereka tak ditambal pemain dengan kualitas sepadan.
Ketergantungan pada Boaz Solossa

Selama 15 tahun Persipura amat bergantung pada sosok Boaz Solossa. Hal yang wajar karena sang penyerang sosok pemain dengan karakter kuat yang menginspirasi tim.
Boaz secara alamiah dilahirkan sebagai pesepak bola bermental juara dan sosok pemimpin buat Persipura. Tiga kali dihantam cedera berat, ia selalu bisa bangkit dan jadi sosok kunci Persipura memenangi gelar juara.
Tapi dunia berputar. Boaz kini memasuki masa sejakala karier. Ia mulai kehilangan kecepatan dan taji mencetak gol. Belakangan pun pemain yang identik dengan nomor punggung 86 itu mulai sering diganggu cedera.
Saat Boaz performanya menurun, Persipura tidak punya figur pengganti sepadan. Titus Bonai, striker senior yang ada di tim terbukti tidak bisa memikul beban sebagai tukang gedor utama Tim Mutiara Hitam.
Demikian pula Marinus Wanewar, bomber muda yang didatangkan dari Bhayangkara FC.
Tak hanya urusan produktivitas saja jadi persoalan, tapi juga figur kepemimpinan. Selain Boaz, tak ada lagi pemain dengan mentalitas pemimpin yang kuat. Ricardo Salampessy dan Ian Kabes, pemain senior seangkatan Boaz bukan sosok motivator ulung.
Jika Boaz Solossa pensiun dari tim, siapa yang akan melanjutkan tongkat estafet sebagai ikon tim?
Sumber: Bola.com
TAG TERKAIT
BERITA TERKAIT
-
Link Live Streaming Borneo FC vs Persija Jakarta di BRI Super League 2026/2027
Bola Indonesia 5 September 2026, 17:00
-
Link Live Streaming PSIM vs Persita di BRI Super League 2026/2027
Bola Indonesia 5 September 2026, 15:19
-
Link Live Streaming Persik Kediri vs Dewa United di BRI Super League 2026/2027
Bola Indonesia 5 September 2026, 15:13
-
Link Live Streaming Bhayangkara FC vs Persebaya di BRI Super League 2026/2027
Bola Indonesia 5 September 2026, 15:07
-
Jadwal BRI Super League 2026/27: Menjelang Pertandingan Persib vs PSM di Vidio
Bola Indonesia 5 September 2026, 07:58
LATEST UPDATE
-
Bukan Main Jelek, MU Gak Hoki Aja Gagal Menang Lawan Everton!
Liga Inggris 7 September 2026, 09:47
-
Wow! Baru Tiga Laga, Fiorentina Pecat Pelatih Kepala Mereka
Liga Italia 7 September 2026, 09:08
-
Rapor Pemain AC Milan Saat Ditahan Imbang Juventus: Cisse Brillian, De Winter Solid!
Liga Italia 7 September 2026, 08:30
-
Comeback di Menit Akhir, Luciano Spalletti Acungi Jempol Perjuangan Juventus
Liga Italia 7 September 2026, 08:00
-
Rapor Pemain Chelsea Usai Kalah dari Arsenal: Rogers Menjanjikan, Palmer Tenggelam!
Liga Inggris 7 September 2026, 07:45
-
Pengakuan Jujur Ruben Amorim: AC Milan Tidak Layak Menang Lawan Juventus!
Liga Italia 7 September 2026, 07:30
-
Rapor Pemain Arsenal usai Comeback Lawan Chelsea: Saka Mematikan, Odegaard Pembeda!
Liga Inggris 7 September 2026, 07:15
-
Cetak Gol Tapi MU Gagal Menang, Perasaan Benjamin Sesko Campur Aduk
Liga Inggris 7 September 2026, 07:00
-
Barcelona Hancurkan Valencia, Hansi Flick Full Senyum!
Liga Spanyol 7 September 2026, 06:30
-
Kena Comeback Arsenal, Xabi Alonso Akui Chelsea Sempat Lengah
Liga Inggris 7 September 2026, 05:45
-
Bekuk Chelsea, Mikel Arteta Sanjung Mental Juara Arsenal
Liga Inggris 7 September 2026, 05:15
-
Man of the Match Juventus vs AC Milan: Francisco Conceicao
Liga Italia 7 September 2026, 04:34
-
Hasil Juventus vs AC Milan: Gol Telat Gatti Buyarkan Kemenangan Rossoneri!
Liga Italia 7 September 2026, 04:25
-
Man of the Match Arsenal vs Chelsea: Martin Odegaard
Liga Inggris 7 September 2026, 00:53
LATEST EDITORIAL
-
Robert Sanchez Blunder Lagi, 5 Kiper Ini Bisa Jadi Solusi Chelsea
Editorial 27 Agustus 2026, 14:00
-
5 Pemain Manchester United yang Pernah Memakai Nomor 20 Sebelum Carlos Baleba
Editorial 26 Agustus 2026, 12:06
-
4 Klub yang Bisa Jadi Pelabuhan Nicolas Jackson, Aston Villa Paling Berpeluang?
Editorial 25 Agustus 2026, 11:33
-
5 Alternatif Bek Kiri Manchester United jika Gagal Mendapatkan Lewis Hall
Editorial 12 Agustus 2026, 12:51

