5 Jejak Pep Guardiola di Premier League: Dari Revolusi Tiki-Taka hingga Ikon Fashion Pinggir Lapangan

Ari Prayoga | 19 Mei 2026 23:45
5 Jejak Pep Guardiola di Premier League: Dari Revolusi Tiki-Taka hingga Ikon Fashion Pinggir Lapangan
Pelatih Manchester City, Pep Guardiola. (c) AP Photo/Jon Super

Bola.net - 10 tahun setelah kedatangannya di Inggris, pengaruh Pep Guardiola terhadap sepak bola Inggris terasa semakin besar. Bukan hanya soal trofi dan dominasi bersama Manchester City, tetapi juga bagaimana ia mengubah cara bermain, cara berpikir, bahkan budaya di sekitar Premier League.

Saat pertama kali datang ke Inggris pada 2016, Guardiola sempat diragukan. Banyak yang mempertanyakan apakah filosofi bermain berbasis penguasaan bola miliknya bisa bertahan di kerasnya sepak bola Inggris. Kritik klasik seperti “bisakah dia menang di malam hujan di Stoke?” terus muncul.

Advertisement

Namun waktu membuktikan semuanya. Guardiola menjelma menjadi salah satu manajer tersukses dalam sejarah Premier League. Bersama Manchester City, ia mempersembahkan banyak gelar domestik dan Eropa, termasuk rekor-rekor baru yang sebelumnya terasa mustahil disentuh.

Meski demikian, warisan Guardiola jauh lebih besar dibanding sekadar jumlah trofi.

1 dari 6 halaman

Mengubah Wajah Sepak Bola Inggris

Mengubah Wajah Sepak Bola Inggris

Pelatih Manchester City, Pep Guardiola merayakan kemenangan timnya di final Carabao Cup, 23 Maret 2026 lalu melawan Arsenal. (c) AP Photo/Richard Pelham

Sebelum era Guardiola, sepak bola Inggris identik dengan permainan direct, duel fisik, dan bola-bola panjang. Formasi klasik 4-4-2 masih mendominasi banyak klub.

Namun Guardiola datang membawa filosofi positional play atau Juego de Posicion. Ia membangun permainan dari belakang, memanfaatkan penguasaan bola untuk mengontrol pertandingan, serta menciptakan overload di berbagai area lapangan.

Meski istilah “tiki-taka” sering dilekatkan kepadanya, Guardiola sebenarnya tidak menyukai sebutan itu. Baginya, penguasaan bola bukan sekadar mempertahankan bola, melainkan alat untuk mendikte permainan dan menekan lawan.

Dampaknya kini terlihat di seluruh level sepak bola Inggris. Klub-klub kecil hingga akademi usia muda mulai menerapkan build-up dari belakang, latihan rondo, hingga permainan berbasis posisi. Anak-anak yang tumbuh di era modern kini lebih akrab dengan konsep pressing dan penguasaan ruang dibanding sekadar mengirim umpan jauh ke depan.

2 dari 6 halaman

Merevolusi Peran Pemain

Merevolusi Peran Pemain

Pelatih Manchester City, Pep Guardiola, bereaksi dalam laga semifinal FA Cup melawan Southampton, Sabtu (25/4/2026) malam WIB. (c) AP Photo/Kin Cheung

Salah satu kelebihan Guardiola adalah kemampuannya mendefinisikan ulang posisi pemain.

Ia pernah memainkan winger murni seperti Leroy Sane dan Raheem Sterling untuk memaksimalkan ruang di sisi lapangan, saat tren saat itu justru mengarah pada winger inverted yang gemar menusuk ke tengah.

Eksperimen Guardiola semakin berkembang ketika ia memindahkan Joao Cancelo ke lini tengah saat fase build-up. Strategi itu kemudian melahirkan peran hybrid full-back yang kini mulai banyak ditiru klub-klub lain.

Pemain muda seperti Rico Lewis bahkan tumbuh sebagai spesialis di posisi tersebut. Tidak hanya itu, Guardiola juga pernah memainkan John Stones sebagai gelandang serang dalam situasi tertentu.

Eksperimen semacam ini sebelumnya terasa mustahil terjadi secara rutin di Premier League.

3 dari 6 halaman

Kiper Bukan Lagi Sekadar Penjaga Gawang

Kiper Bukan Lagi Sekadar Penjaga Gawang

Pelatih Manchester City, Pep Guardiola. (c) AP Photo/Dave Thompson

Perubahan besar lain yang dibawa Guardiola adalah evolusi peran penjaga gawang.

Ketika datang ke Manchester City, ia langsung menyingkirkan Joe Hart yang saat itu dianggap sebagai salah satu kiper terbaik klub. Alasannya sederhana: Guardiola membutuhkan kiper yang nyaman memainkan bola dengan kaki.

Meski Claudio Bravo gagal memenuhi ekspektasi, ide Guardiola tetap berjalan. Kehadiran Ederson kemudian menjadi simbol revolusi baru posisi penjaga gawang modern.

Ederson bukan hanya piawai melakukan penyelamatan, tetapi juga mampu membangun serangan lewat distribusi bola akurat. Bahkan banyak yang menilai kemampuan umpannya setara gelandang tengah.

Kini, hampir semua klub elite dunia mencari kiper dengan kemampuan distribusi bola yang baik, sesuatu yang semakin populer setelah Guardiola memperlihatkan pentingnya peran tersebut.

4 dari 6 halaman

Menaikkan Standar Persaingan Premier League

Menaikkan Standar Persaingan Premier League

Pelatih Manchester City, Pep Guardiola di laga melawan Real Madrid pada duel 16 besar Liga Champions, 18 Maret 2026. (c) AP Photo/Dave Thompson

Guardiola juga mengubah standar kompetitif Premier League.

Sebelum kedatangannya, raihan 95 poin milik Jose Mourinho bersama Chelsea dianggap luar biasa. Namun Guardiola membawa Manchester City menembus 100 poin pada musim 2017/2018, sesuatu yang belum pernah terjadi sebelumnya.

City juga mencetak 106 gol pada musim itu dan mendominasi liga dengan permainan atraktif.

Persaingan melawan Jurgen Klopp dan Liverpool kemudian melahirkan salah satu rivalitas terbesar dalam sejarah Premier League. Raihan 97 poin Liverpool bahkan gagal membawa mereka juara karena City mengoleksi 98 poin.

Di bawah Guardiola, Manchester City juga menjadi klub pertama yang memenangkan empat gelar Premier League secara beruntun, pencapaian yang bahkan tidak pernah diraih Sir Alex Ferguson bersama Manchester United.

5 dari 6 halaman

Guardiola dan Tren Fashion Pinggir Lapangan

Guardiola dan Tren Fashion Pinggir Lapangan

Pelatih Manchester City Pep Guardiola bereaksi saat mendampingi timnya menghadapi Chelsea pada final FA Cup Final, Sabtu (16/5/2026) (c) AP Photo/Richard Pelham

Menariknya, pengaruh Guardiola ternyata tidak hanya soal taktik.

Pelatih asal Spanyol itu juga berkembang menjadi ikon fashion di pinggir lapangan. Jika dulu ia identik dengan setelan formal, kini Guardiola lebih sering tampil dengan gaya smart-casual modern.

Sweater rollneck, hoodie premium, sneakers putih, hingga koleksi Stone Island menjadi ciri khas penampilannya saat mendampingi Manchester City.

Pilihan fashion Guardiola bahkan beberapa kali menjadi bahan pembicaraan media Inggris. Ia dianggap berhasil mengubah citra pelatih sepak bola modern menjadi lebih stylish tanpa kehilangan kharisma.

Bagi banyak penggemar, Guardiola bukan hanya pelatih jenius, tetapi juga simbol perubahan budaya sepak bola modern.

LATEST UPDATE