Membedah Masalah Arsenal: Main Terlalu Aman, Gak Berani Ambil Risiko, Sulit Menang!?
Richard Andreas | 17 April 2026 13:43
Bola.net - Kekalahan dari Bournemouth membuka kembali pertanyaan besar soal Arsenal musim ini, mengapa tim ini kesulitan melangkah dari penantang menjadi juara. Mikel Arteta pun tidak menutupinya.
Pelatih asal Spanyol itu menyinggung faktor sederhana sederhana krusial, yaitu keberanian mengambil risiko dan mendorong keberuntungan. Menurutnya, kualitas saja tidak cukup tanpa dorongan mental untuk menciptakan momen penentu.
Dalam beberapa pekan terakhir, performa Arsenal justru menunjukkan arah sebaliknya. Mereka solid, tetapi kurang menggigit. Dari sinilah masalah yang lebih dalam mulai terlihat.
Arsenal Terlalu Mengandalkan Fondasi, Minim Risiko

Arteta menegaskan bahwa menjadi juara tidak hanya soal kualitas, tetapi juga soal bagaimana tim “memaksa” keberuntungan datang. Ia mencontohkan gol Vincent Kompany ke gawang Leicester pada 2019 sebagai momen yang lahir dari keberanian.
Arteta mengatakan bahwa banyak hal memang harus berjalan sesuai rencana, tetapi tim juga harus mendorong faktor keberuntungan itu sendiri. Dalam konteks Arsenal, hal tersebut dinilai belum terjadi musim ini.
Sepanjang musim, Arsenal lebih sering bermain aman. Mereka mengandalkan struktur permainan yang rapi, tetapi jarang mengambil risiko yang bisa membuka peluang lebih besar. Pendekatan ini membuat mereka stabil, namun kurang tajam di momen krusial.
Ketika kekurangan dalam penguasaan bola mulai menghambat serangan sejak awal, fokus tim pun bergeser hanya pada upaya memenangkan pertandingan secara pragmatis, bukan menciptakan dominasi.
Serangan Mandek dan Minim Kreativitas

Masalah Arsenal semakin terlihat dari data performa mereka. Dalam laga melawan Bournemouth, mereka hanya mencatat expected goals sebesar 0,18 dari open play, angka yang sangat rendah untuk tim papan atas.
Peluang yang tercipta pun tidak berasal dari pola permainan yang matang. Dua percobaan jarak jauh Declan Rice dan peluang terlambat dari Viktor Gyokeres menjadi gambaran betapa terbatasnya kreativitas mereka.
Permainan Arsenal dalam beberapa laga terakhir juga menunjukkan pola yang sama. Di Lisbon melawan Sporting mereka bermain lambat, saat menghadapi Southampton penuh kesalahan, dan ketika bertemu Manchester City terlihat mudah dikendalikan.
Kondisi ini mencerminkan stagnasi. Arsenal tidak lagi menunjukkan variasi serangan yang cukup untuk membongkar pertahanan lawan secara konsisten.
Minim Pergerakan Tanpa Bola, Serangan Mudah Dibaca

Salah satu masalah paling mencolok adalah kurangnya pergerakan tanpa bola. Para penyerang Arsenal jarang melakukan lari di belakang garis pertahanan lawan saat rekan setim menguasai bola.
Padahal, pergerakan semacam itu penting untuk membuka ruang, meski tidak selalu berujung pada umpan. Tanpa pergerakan ini, pertahanan lawan bisa tetap terorganisir dan mudah membaca arah serangan.
Situasi tersebut terlihat jelas saat melawan Bournemouth. Ketika Martin Zubimendi menerima bola dan mencari opsi ke depan, hampir tidak ada pergerakan dari Gabriel Martinelli, Viktor Gyokeres, maupun Kai Havertz.
Akibatnya, serangan terhenti sebelum berkembang. Zubimendi bahkan terpaksa memutar arah dan memainkan bola ke samping, tanda bahwa tidak ada progresi berarti dalam fase menyerang.
Transisi Lambat dan Build-up Kurang Tajam

Arsenal juga dinilai kurang efektif dalam situasi serangan balik. Sepanjang musim ini, mereka hanya mencatat 32 fast break dan mencetak empat gol dari situasi tersebut.
Sebagai perbandingan, Manchester City mencatat 41 fast break dengan sembilan gol, meski dikenal sebagai tim dengan build-up paling lambat di liga. Perbedaan ini menegaskan efektivitas yang belum dimiliki Arsenal.
Gaya bermain Arsenal memang cenderung sabar. Mereka lebih sering mengalirkan bola dengan banyak sentuhan dibanding bermain langsung. Namun, bermain cepat tidak selalu berarti harus langsung panjang ke depan.
Pada periode terbaiknya, Arsenal dikenal dengan kombinasi umpan pendek cepat dan progresif. Kini, pola tersebut jarang terlihat, terutama dalam distribusi bola dari lini belakang yang kurang mampu menembus garis pertahanan lawan.
Absennya Kreator dan Ketergantungan pada Odegaard
Faktor cedera juga turut memengaruhi performa Arsenal. Beberapa pemain kunci di lini tengah absen secara bersamaan sejak pergantian tahun, yang berdampak besar pada kreativitas tim.
Martin Odegaard, meski hanya bermain sekitar 37,4 persen dari total menit di Premier League musim ini, tetap menjadi salah satu kreator utama dengan 28 peluang dari open play. Ia bahkan menempati posisi kedua dalam statistik through ball per 90 menit.
Ketergantungan pada Odegaard menjadi semakin jelas saat ia tidak tersedia. Arsenal kehilangan pemain yang mampu mengambil risiko dalam bentuk umpan terobosan atau keputusan progresif.
Bandingkan dengan pemain seperti Rayan Cherki di Manchester City yang tampil berani dan bebas. Keberanian tersebut membuatnya menjadi salah satu kreator paling produktif musim ini, sekaligus memberi dimensi berbeda dalam serangan timnya.
Jangan Lewatkan!
Baru Dibeli dari Man United, Chelsea Kini Siap Jual Alejandro Garnacho
De Zerbi Mencoba Selamatkan Tottenham dengan 'Gaya Italia'
Saran untuk Liverpool: Pecat Arne Slot dan Pilih Xabi Alonso
Man City vs Arsenal: Demi Juara, Arteta Diminta Cadangkan Viktor Gyokeres
Jadwal Lengkap Premier League 2025/2026 Live di SCTV dan Vidio
TAG TERKAIT
BERITA TERKAIT
-
Jadwal Lengkap Premier League 2026/2027
Liga Inggris 31 Oktober 2026, 07:01
-
Dominic Calvert-Lewin Diincar MU, Leeds: Maaf, Gak Dulu!
Liga Inggris 30 Oktober 2026, 22:57
-
Youri Tielemans Lega Michael Carrick Selamat dari Pemecatan di MU
Liga Inggris 30 Oktober 2026, 22:07
-
Tidak Takut, Michael Carrick Justru Tidak Sabar MU Hadapi Chelsea
Liga Inggris 30 Oktober 2026, 21:46
-
Legenda Liverpool Dukung MU Pekerjakan Unai Emery: Dia Pelatih yang Luar Biasa!
Liga Inggris 30 Oktober 2026, 17:54
LATEST UPDATE
-
Hasil BRI Super League: Madura United Raih Poin Penuh dari Markas PSM Makassar
Bola Indonesia 31 Oktober 2026, 17:44
-
Legenda Thailand Dukung Timnas Indonesia ke Piala Dunia 2030
Tim Nasional 31 Oktober 2026, 16:36
-
Live Streaming Barcelona vs Alaves: Jadwal dan Link Nonton
Liga Spanyol 31 Oktober 2026, 15:21
-
Live Streaming AC Milan vs Inter Milan: Jadwal dan Link Nonton
Liga Italia 31 Oktober 2026, 15:16
-
Live Streaming Udinese vs Roma: Jadwal dan Link Nonton
Liga Italia 31 Oktober 2026, 15:11
-
Live Streaming Man City vs Brighton: Jadwal dan Link Nonton
Liga Inggris 31 Oktober 2026, 15:06
-
Live Streaming Chelsea vs Man Utd: Jadwal dan Link Nonton
Liga Inggris 31 Oktober 2026, 15:01
-
Klasemen MotoGP 2026 Usai Sprint Race Malaysia: Marc Marquez Makin Kokoh di Puncak
Otomotif 31 Oktober 2026, 14:43
-
Hasil Sprint Race MotoGP Malaysia 2026: Pedro Acosta Menang, Marc Marquez Posisi ke-2
Otomotif 31 Oktober 2026, 14:34
-
Prediksi Juventus vs Napoli 2 November 2026
Liga Italia 31 Oktober 2026, 14:16
-
Prediksi Liverpool vs Arsenal 1 November 2026
Liga Inggris 31 Oktober 2026, 13:08
LATEST EDITORIAL
-
4 Pemain Inggris yang Meraih Ballon d'Or sebelum Harry Kane
Editorial 27 Oktober 2026, 13:52
-
Kursi Panas Pelatih Premier League: 4 Manajer yang Berisiko Dipecat Lebih Dulu
Editorial 26 Oktober 2026, 23:49
-
7 Pelatih Gratis yang Bisa Gantikan Michael Carrick di Manchester United
Editorial 26 Oktober 2026, 16:03
-
5 Pemain Argentina yang Bisa Mewarisi Nomor 10 Lionel Messi
Editorial 8 Oktober 2026, 11:18




