Membedah Seperti Apa Sepak Bola Chelsea Bersama Liam Rosenior: Formasi Bisa Fleksibel!
Richard Andreas | 9 Januari 2026 18:29
Bola.net - Chelsea kembali memasuki era baru. Liam Rosenior resmi menjadi pelatih kepala permanen kelima klub itu dalam lima tahun terakhir, sebuah angka yang mencerminkan ketidakstabilan di Stamford Bridge.
Pelatih muda itu datang dengan janji sepakbola agresif dan menghibur. Rosenior ingin suporter “berdiri dari kursinya di 10 menit pertama” setiap pertandingan, sebuah visi ambisius di tengah kondisi Chelsea yang sedang melewati lima laga tanpa kemenangan.
Pertanyaannya bukan hanya soal filosofi, tetapi soal penerapan. Seperti apa sebenarnya gaya main Rosenior, dan bagaimana wajah Chelsea akan berubah di bawah arahannya?
Fondasi Bertahan: Menutup Ruang, Bukan Sekadar Bertahan

Pengalaman Rosenior bersama Hull City dan Strasbourg memberi gambaran yang cukup jelas tentang pendekatannya saat tanpa bola. Prinsip utamanya adalah mencegah lawan menciptakan keunggulan jumlah pemain di lini terakhir.
Saat lawan menyerang dengan lima pemain, tim Rosenior akan turun ke bentuk lima bek di area sendiri. Struktur ini bisa hadir lewat tiga bek tengah dan dua wing-back, atau dengan cara lain, meminta satu winger turun sejajar dengan empat bek.
Di Chelsea, sosok seperti Pedro Neto berpotensi menjalani peran tersebut. Etos kerjanya memungkinkan transisi cepat dari menyerang ke bertahan, sesuatu yang krusial dalam sistem Rosenior.
Lima pemain belakang ini dilindungi dua gelandang tengah serta tiga penyerang yang posisinya cenderung sempit. Fokus utamanya adalah mematikan jalur progresi lawan melalui tengah lapangan, memaksa mereka bermain melebar.
Intensitas Pressing dan Fleksibilitas Bentuk

Menariknya, struktur 5-2-3 tidak hanya dipakai dekat gawang sendiri. Di Strasbourg, Rosenior kerap mempertahankan bentuk ini lebih tinggi di lapangan untuk menekan lawan secara agresif.
Namun fleksibilitas tetap dijaga. Jika lawan membangun serangan dengan empat bek, Rosenior tidak ragu mengubah pressing awal menjadi 4-4-2. Pendekatan ini membuat pemain sayapnya tidak perlu menutup jarak terlalu jauh saat menekan full-back lawan.
Bagi Chelsea, fleksibilitas ini penting. Premier League dihuni banyak tim dengan pola build-up berbeda, dan kemampuan beradaptasi sering kali menjadi pembeda antara tekanan efektif dan sekadar lari tanpa hasil.
Struktur Saat Menguasai Bola: 3-2-2-3 yang Aman

Bagian paling menarik dari filosofi Rosenior justru terlihat saat timnya menguasai bola. Dalam fase ini, timnya hampir selalu membentuk struktur 3-2-2-3, terlepas dari jumlah bek alami yang dimainkan.
Pola ini tidak asing di Stamford Bridge. Pendahulunya, Enzo Maresca, juga menggunakan struktur serupa yang kadang berkembang menjadi 3-1-6. Kesamaan ini diyakini mempermudah transisi bagi skuad Chelsea.
Perbedaan utamanya terletak di dua gelandang di depan tiga bek. Maresca sering mengandalkan full-back inverted untuk menemani Moises Caicedo. Rosenior lebih memilih dua gelandang tengah murni.
Pendekatan ini dinilai lebih aman karena meminimalkan pertukaran peran yang berisiko membuka ruang di tengah. Tantangannya kini adalah menentukan siapa pendamping ideal Caicedo.
Perebutan Peran di Lini Tengah Chelsea

Beberapa nama langsung masuk pertimbangan. Reece James, bek kanan sekaligus kapten Chelsea, bahkan bisa diproyeksikan sebagai gelandang tengah di bawah Rosenior.
Ada pula Andrey Santos, yang pernah dilatih Rosenior di Strasbourg. Pelatih asal Inggris itu mengenal betul karakter sang pemain Brasil dan tahu bagaimana memaksimalkan potensinya.
Sementara itu, Enzo Fernandez tetap menjadi opsi alami. Namun, kontribusi menyerangnya bisa membuat Rosenior memilih menempatkannya lebih tinggi di lapangan, sebagai bagian dari dua gelandang serang di belakang penyerang utama.
Keputusan-keputusan ini akan sangat menentukan keseimbangan Chelsea, terutama dalam menghadapi tekanan cepat khas Premier League.
Variasi Serangan: Posisi Bukan Lagi Label
Empat posisi di belakang striker utama memberi Rosenior ruang eksperimen besar. Dua gelandang serang dan dua pemain lebar bisa diisi oleh winger, full-back, atau wing-back, tergantung kebutuhan pertandingan.
Jika bek sayap tampil dominan di tengah, Rosenior memberi mereka kebebasan naik ke area half-space, seperti yang pernah dilakukan Maresca dengan Marc Cucurella dan Malo Gusto. Skenario ini ideal jika didukung winger yang kuat dalam duel satu lawan satu dan menjaga lebar lapangan.
Sebaliknya, jika pemain seperti Cole Palmer atau Estevao Willian lebih efektif bergerak ke dalam, bek sayap yang disiplin menjaga sisi lapangan menjadi pilihan logis.
Dalam beberapa skema, Rosenior bahkan memadukan satu bek dan satu penyerang di posisi sentral, dengan pasangan lainnya menjaga lebar.
Di Chelsea, ini bisa berarti Cucurella dan Palmer di belakang striker, sementara Alejandro Garnacho dan Gusto beroperasi di sisi. Dalam sistem ini, definisi klasik bek, gelandang, dan penyerang menjadi cair.
Peran Kiper dan Risiko yang Mengintai
Satu elemen krusial lainnya adalah kiper. Di Strasbourg, penjaga gawang Mike Penders terlibat aktif dalam build-up, sesuatu yang menuntut adaptasi cepat dari Robert Sanchez.
Dari situasi sepak mula, Strasbourg sering membangun dengan bentuk 5-2-4, dengan kiper menjadi bagian dari lini pertama. Umpan-umpan pendek berisiko sengaja dimainkan untuk memancing pressing lawan.
Ketika ruang terbuka, tim Rosenior akan mempercepat tempo lewat kombinasi satu sentuhan, pergerakan third-man, dan lari pemain sayap ke belakang garis pertahanan.
Pendekatan ini atraktif, tetapi tidak tanpa konsekuensi. Strasbourg tercatat sebagai salah satu tim dengan jumlah kesalahan terbanyak yang berujung gol di Ligue 1 musim ini.
Dengan kualitas pemain Chelsea, harapannya risiko itu bisa ditekan. Namun tekanan di Premier League dikenal jauh lebih agresif dan terorganisasi.
Jangan sampai ketinggalan infonya
Arne Slot Parkir Bus Liverpool di Emirates: Bikin Arsenal Frustrasi, Bungkus 1 Poin
Liverpool Banting Tulang Imbangi Arsenal: Pertama Kali Catat 0 Shot on Target Setelah 600 Laga
Jadwal Lengkap Manchester United 2025/2026
Duel Arsenal vs Liverpool Dihiasi Sikap tak Terpuji Martinelli pada Bradley: Berujung Cap tak Mengenakkan dari Legenda MU
Kok Bisa Benjamin Sesko Yakin Man Utd Bakal Keluar dari Zaman Kegelapan?
TAG TERKAIT
BERITA TERKAIT
-
Live Streaming Man City vs Brighton: Jadwal dan Link Nonton
Liga Inggris 31 Oktober 2026, 15:06
-
Live Streaming Chelsea vs Man Utd: Jadwal dan Link Nonton
Liga Inggris 31 Oktober 2026, 15:01
-
Prediksi Liverpool vs Arsenal 1 November 2026
Liga Inggris 31 Oktober 2026, 13:08
-
Jadwal Liga Inggris di SCTV Pekan Ini, 31 Oktober - 3 November 2026
Liga Inggris 31 Oktober 2026, 10:30
LATEST UPDATE
-
Mimpi-mimpi Mitchell Baker: Bermain di Piala Dunia dan Premier League
Tim Nasional 31 Oktober 2026, 23:47
-
Kata-kata Michael Carrick Usai Manchester United Dihajar Chelsea
Liga Inggris 31 Oktober 2026, 22:39
-
Lisandro Martinez yang Konyol!
Liga Inggris 31 Oktober 2026, 22:02
-
Halloween untuk MU: Kalah dari Chelsea, Setan Merah Ukir Rekor Terburuk Sejak 1988!
Liga Inggris 31 Oktober 2026, 21:47
-
Ketika Vinicius Junior Justru Dianggap Masalah bagi Real Madrid
Liga Spanyol 31 Oktober 2026, 20:19
-
Statistik Ini Jadi Bukti Nyata Bernardo Silva Ubah Permainan Real Madrid
Liga Spanyol 31 Oktober 2026, 19:45
-
Strategi Cerdas Marc Marquez Sprint Race MotoGP Malaysia 2026: Pantang Memimpin Balapan!
Otomotif 31 Oktober 2026, 19:14
LATEST EDITORIAL
-
4 Pemain Inggris yang Meraih Ballon d'Or sebelum Harry Kane
Editorial 27 Oktober 2026, 13:52
-
Kursi Panas Pelatih Premier League: 4 Manajer yang Berisiko Dipecat Lebih Dulu
Editorial 26 Oktober 2026, 23:49
-
7 Pelatih Gratis yang Bisa Gantikan Michael Carrick di Manchester United
Editorial 26 Oktober 2026, 16:03
-
5 Pemain Argentina yang Bisa Mewarisi Nomor 10 Lionel Messi
Editorial 8 Oktober 2026, 11:18




