Premier League Makin Chaos: Trik Set Piece, Kontroversi VAR, dan Duel-Duel Brutal
Richard Andreas | 12 Mei 2026 18:18
Bola.net - Premier League musim ini terasa dipenuhi drama bola mati. Bukan hanya soal gol yang tercipta, tetapi juga duel fisik di kotak penalti yang semakin sulit dikendalikan wasit.
Dorongan, tarikan jersey, hingga aksi saling mengunci tubuh kini hampir selalu muncul dalam situasi sepak pojok. Puncaknya terjadi saat Arsenal menang tipis 1-0 atas West Ham dalam laga yang diwarnai keputusan VAR kontroversial.
Gol West Ham dianulir setelah VAR menilai terjadi pelanggaran terhadap David Raya. Keputusan itu kembali memunculkan perdebatan besar tentang batas duel fisik dalam situasi set-piece di Premier League musim ini.
Gol Dianulir yang Memicu Perdebatan

Di laga West Ham vs Arsenal kemarin, momen kontroversial bermula ketika Jarrod Bowen mengirim sepak pojok ke kotak penalti Arsenal. Situasi di depan gawang langsung berubah kacau dengan banyak pemain saling tarik dan dorong.
Bola akhirnya jatuh ke Callum Wilson yang sukses menembakkannya ke gawang. Para pemain West Ham sempat merayakan gol penyama kedudukan sebelum VAR Darren England melakukan pemeriksaan panjang.
Keputusan akhirnya berpihak kepada Arsenal. VAR menilai Pablo melakukan pelanggaran terhadap David Raya sebelum bola masuk ke gawang.
Insiden tersebut menjadi sangat rumit karena terdapat lima potensi pelanggaran berbeda dalam satu rangkaian permainan. VAR harus menentukan pelanggaran mana yang paling berdampak terhadap jalannya aksi.
Keputusan itu terasa ironis mengingat Arsenal sendiri menjadi salah satu tim paling mematikan dari situasi bola mati musim ini. Sebanyak 21 dari 68 gol liga mereka lahir dari set-piece.
Lima Duel yang Diperiksa VAR

Potensi pelanggaran pertama terjadi antara Tomas Soucek dan Kai Havertz di tiang dekat. Soucek terlihat naik ke punggung Havertz sebelum penyerang Arsenal itu terjatuh.
Kendati demikian, VAR menilai Havertz tidak berada di area jatuhnya bola sehingga tidak benar-benar kehilangan peluang memainkan bola. Situasi itu akhirnya dianggap tidak cukup untuk menjadi pelanggaran.
Duel lain melibatkan Martin Odegaard dan Jean-Clair Todibo. Keduanya saling memegang satu sama lain sehingga dianggap melakukan pelanggaran secara bersamaan. Dalam kasus seperti ini, wasit biasanya membiarkan permainan berjalan.
Situasi berikutnya terjadi saat Leandro Trossard berduel dengan Pablo. Trossard sempat memegang pinggang Pablo ketika bek West Ham itu mencoba bergerak ke arah bola.
Meski demikian, VAR menilai Pablo masih bisa bergerak dan tidak dijatuhkan secara jelas. Insiden itu tidak dianggap cukup kuat untuk menghasilkan penalti.
Fokus utama akhirnya tertuju pada duel Pablo dengan David Raya. Pablo dinilai menghalangi pergerakan kiper Arsenal dengan menahan lengannya secara langsung.
Tangan kanan Raya tertahan oleh tubuh Pablo, sementara lengan kirinya juga dipegang. VAR menilai kontak tersebut secara langsung memengaruhi kemampuan Raya untuk memainkan bola.
Pada saat hampir bersamaan, Declan Rice juga terlihat memegang Konstantinos Mavropanos. Namun VAR memprioritaskan pelanggaran yang paling berdampak terhadap permainan, yakni gangguan terhadap Raya.
Arsenal dan Evolusi Set-Piece Modern

Arsenal menjadi simbol dominasi bola mati di Premier League musim ini. Tim asuhan Mikel Arteta dikenal agresif memenuhi area enam yard lawan untuk menciptakan ruang dan mengganggu kiper.
Pendekatan itu sebenarnya bukan hal baru. Tony Pulis dan Sam Allardyce sudah lama memaksimalkan situasi bola mati sebagai senjata utama tim mereka.
Meski begitu, Arsenal membawa pendekatan tersebut ke level berbeda lewat detail taktik yang lebih modern. Kehadiran Nicolas Jover sebagai pelatih set-piece memberi dimensi baru pada strategi sepak pojok mereka.
Umpan lambung ke area padat di depan gawang kini menjadi pola yang paling sering digunakan. Arsenal juga memiliki kualitas pengirim bola yang sangat baik melalui Declan Rice dan Bukayo Saka.
Ancaman udara Gabriel membuat pola itu semakin efektif. Keberhasilan Arsenal akhirnya diikuti banyak klub lain seperti Manchester United, Chelsea, dan Tottenham.
Sean Dyche sebenarnya sudah menerapkan pola serupa bersama Burnley beberapa tahun lalu. Bedanya, kualitas eksekusi dan pemain Arsenal membuat strategi tersebut jauh lebih mematikan.
Premier League Mulai Kehilangan Kendali?
Meningkatnya duel fisik saat corner kick membuat banyak pihak merasa wasit mulai kehilangan kontrol. Everton manager David Moyes bahkan pernah mengatakan wasit kini tampak enggan terlibat dalam kekacauan di kotak penalti.
Fenomena ini ternyata bukan hanya masalah Premier League. Kepala wasit UEFA Roberto Rosetti juga disebut memberi perhatian khusus terhadap tekanan yang diterima kiper dalam situasi bola mati.
Musim ini sudah ada 17 penalti yang diberikan karena aksi tarik-menarik dan dorong-mendorong. Lima di antaranya lahir lewat intervensi VAR.
Meski demikian, gol West Ham menjadi satu-satunya gol musim ini yang dianulir karena pelanggaran dalam duel fisik saat set-piece setelah pemeriksaan VAR.
Beberapa insiden lain sempat memicu perdebatan serupa. Arsenal pernah lolos dari penalti ketika William Saliba memberi tekanan kepada Altay Bayindir saat menghadapi Manchester United.
Gabriel juga sempat berbenturan dengan Emiliano Martinez dalam laga melawan Aston Villa. Namun kedua situasi itu dinilai tidak cukup menghalangi pergerakan kiper secara signifikan.
Usulan Perubahan Aturan Mulai Bermunculan
Situasi yang semakin kacau membuat ide perubahan aturan mulai dibahas. Salah satu usulan datang dari mantan asisten wasit Premier League, Darren Cann.
Cann mengusulkan agar pemain menyerang dilarang masuk ke area enam yard sebelum sepak pojok diambil. Menurutnya, aturan itu bisa menciptakan jarak alami dan mengurangi duel fisik berlebihan.
Ada juga gagasan agar bola dianggap aktif sejak ditempatkan di area corner. Dengan begitu, pelanggaran sebelum bola ditendang tetap bisa langsung dihukum dengan penalti atau tendangan bebas.
Selama ini banyak aksi tarik-menarik terjadi sebelum bola dimainkan sehingga wasit hanya bisa menghentikan laga dan meminta sepak pojok diulang. Cara tersebut dianggap tidak cukup efektif.
Premier League dan PGMO diperkirakan akan membahas isu ini pada musim panas nanti. Masalah grappling, holding, dan bahkan hair pulling disebut berpotensi masuk agenda evaluasi.
Namun solusi paling sederhana sebenarnya tetap berada di tangan para tim dan pemain sendiri. Masalahnya, dalam sepak bola modern, mencari keuntungan sekecil apa pun sudah menjadi bagian dari permainan.
Jangan Lewatkan!
TAG TERKAIT
BERITA TERKAIT
-
Prediksi Chelsea vs Man Utd 31 Oktober 2026
Liga Inggris 30 Oktober 2026, 09:38
-
Cristiano Ronaldo Raih B.O.A.T Award, Mengapa Penghargaan Ini Kontroversial?
Liga Champions 30 Oktober 2026, 06:55
-
Manchester United Hidupkan Lagi Minat pada Bintang Berbakat Barcelona Ini
Liga Inggris 29 Oktober 2026, 22:18
-
Michael Carrick Tidak Terkejut Dirinya Tidak Jadi Dipecat Manchester United
Liga Inggris 29 Oktober 2026, 21:58
LATEST UPDATE
-
Pemain Juventus Muak, Luciano Spalletti Dianggap Terlalu Banyak Bicara!
Liga Italia 30 Oktober 2026, 22:58
-
Dominic Calvert-Lewin Diincar MU, Leeds: Maaf, Gak Dulu!
Liga Inggris 30 Oktober 2026, 22:57
-
Hitung Mundur Menuju 1000 Gol Cristiano Ronaldo, Kurang Berapa?
Piala Dunia 30 Oktober 2026, 22:20
-
Youri Tielemans Lega Michael Carrick Selamat dari Pemecatan di MU
Liga Inggris 30 Oktober 2026, 22:07
-
Tidak Takut, Michael Carrick Justru Tidak Sabar MU Hadapi Chelsea
Liga Inggris 30 Oktober 2026, 21:46
-
Prediksi BRI Super League: PSM vs Madura United 31 Oktober 2026
Bola Indonesia 30 Oktober 2026, 20:10
-
Prediksi BRI Super League: Persik vs Persita 31 Oktober 2026
Bola Indonesia 30 Oktober 2026, 20:05
-
Prediksi BRI Super League: Arema FC vs Bali United 31 Oktober 2026
Bola Indonesia 30 Oktober 2026, 20:00
-
Prediksi BRI Super League: Dewa United vs Persija 31 Oktober 2026
Bola Indonesia 30 Oktober 2026, 19:55
-
Tempat Menonton Persebaya vs Persijap di BRI Super League, 30 Oktober 2026
Bola Indonesia 30 Oktober 2026, 18:05
-
Nova Arianto Semringah Lihat Amar Brkic Bersinar di Borneo FC
Bola Indonesia 30 Oktober 2026, 18:00
-
Link Streaming Persebaya vs Persijap, 30 Oktober 2026
Bola Indonesia 30 Oktober 2026, 17:59
LATEST EDITORIAL
-
4 Pemain Inggris yang Meraih Ballon d'Or sebelum Harry Kane
Editorial 27 Oktober 2026, 13:52
-
Kursi Panas Pelatih Premier League: 4 Manajer yang Berisiko Dipecat Lebih Dulu
Editorial 26 Oktober 2026, 23:49
-
7 Pelatih Gratis yang Bisa Gantikan Michael Carrick di Manchester United
Editorial 26 Oktober 2026, 16:03
-
5 Pemain Argentina yang Bisa Mewarisi Nomor 10 Lionel Messi
Editorial 8 Oktober 2026, 11:18




