Nostalgia Dario Hubner dari Era Keemasan Serie A: Si Bison yang Hanya Butuh Bola dan Ruang Tembak
Gia Yuda Pradana | 16 Juli 2025 12:29
Bola.net - Nama Dario Hubner tak akan muncul jika Anda mencari ikon Serie A era 2000-an. Ia bukan bagian dari tim besar, tak punya sponsor pribadi, dan nyaris tak pernah tampil di layar kaca internasional. Namun, siapa sangka, di antara bintang-bintang besar itu, ia pernah jadi raja.
Musim 2001/02, di usia 35 dan berseragam Piacenza, Hubner menjadi Capocannoniere Serie A bersama David Trezeguet. Torehan 24 golnya bukan kebetulan. Itu hasil insting, kecerdikan, dan keteguhan seorang striker dari dunia antitesis glamor.
Julukannya 'Tatanka'—bison dalam bahasa penduduk asli Amerika—menggambarkan semuanya. Ia bukan pelari cepat, bukan dribbler memukau, tapi di kotak penalti, dia pemburu. Diam, sabar, dan mematikan.
Dari Divisi Bawah ke Debut Melawan Ronaldo
Karier Hubner bukan kisah anak ajaib. Ia memulai di Pievigina, klub kecil di Serie D. Bertahun-tahun berlaga di Serie C dan B, ia perlahan mencetak namanya sebagai pencetak gol ulung. Namun, Serie A masih tampak seperti mimpi yang jauh.
Mimpi itu akhirnya terwujud ketika Brescia promosi pada 1997. Dan laga debutnya? Langsung melawan Inter Milan yang diperkuat Ronaldo, sang pemain termahal dunia kala itu. Semua perhatian tertuju pada si Fenomena asal Brasil.
Namun, yang lebih dulu mencetak gol adalah Hubner. Memanfaatkan umpan Andrea Pirlo, ia membalikkan badan dan menaklukkan Gianluca Pagliuca di Giuseppe Meazza. Tak banyak yang mengingat momen itu—karena Alvaro Recoba mencuri perhatian dengan dua gol balasan. Namun, mereka yang tahu, tahu: bison itu datang.
Era Bersama Baggio dan Pirlo
Meski Brescia sempat terdegradasi, Hubner tetap setia dan mencetak 42 gol di dua musim Serie B. Ketika mereka kembali ke kasta tertinggi pada 2000/01, segalanya berubah. Klub merekrut Roberto Baggio dan mengembalikan Andrea Pirlo dari pinjaman.
Banyak yang mengira Baggio sudah melewati masa emas, dan Hubner tak lebih dari pelengkap. Namun, kombinasi mereka justru menjelma jadi duet maut. Hubner dan Baggio mencetak total 27 gol, membawa Brescia ke peringkat tujuh dan lolos ke Piala Intertoto.
Itu adalah musim terbaik dalam sejarah klub. Namun, seiring waktu berjalan, Hubner tahu waktunya hampir habis. Luca Toni muda sudah mengetuk pintu, dan Brescia memilih melepas si bison yang sudah berjasa.
Musim Puncak di Piacenza
Piacenza menampung Hubner. Tak banyak yang berekspektasi, tapi justru di sanalah Hubner menorehkan musim terbaik dalam hidupnya. Di usia 35, ia mencetak 24 gol dan menyabet gelar Capocannoniere—bersama David Trezeguet dari Juventus.
Musim itu, ia mencetak gol ke gawang tim-tim besar. Dari total 24 gol, enam berasal dari titik putih, sisanya hasil kecermatan, posisi, dan naluri yang tak bisa diajarkan. Ia membungkam bek-bek tangguh seperti Alessandro Nesta, Fabio Cannavaro, hingga Paolo Montero.
Itu adalah bentuk puncak dari karier yang dibangun dengan kerja keras, bukan sensasi. Sayangnya, meski publik bersuara, pelatih Italia saat itu Giovanni Trapattoni tetap tak memanggilnya ke Piala Dunia 2002. Dunia sepak bola memang kadang tidak adil.
Cinta yang Tak Pernah Selesai
Setelah Piacenza, Hubner sempat ke Perugia dan Mantova. Ia tak mau berhenti. Bahkan hingga usia 44 tahun, ia masih bermain di klub-klub kecil dan amatir. Ia mencetak gol demi gol, tanpa peduli ada kamera atau tidak. Sepak bola bukan pekerjaan baginya—melainkan cinta.
Ia tercatat sebagai satu dari dua pemain (bersama Igor Protti) yang pernah menjadi top skor di Serie A, Serie B, dan Serie C. Ini prestasi langka, tapi tak banyak dirayakan. Hubner tak peduli. Ia tak butuh tepuk tangan, hanya butuh bola dan ruang tembak.
Kini, setiap kali kita membahas bintang-bintang dari era keemasan Serie A, jangan lupakan satu nama: Dario 'Tatanka' Hubner. Ia mungkin bukan legenda untuk semua orang, tapi bagi mereka yang mencintai sepak bola dengan hati, ia adalah lambang keindahan yang sederhana.
Baca Artikel-artikel Menarik Lainnya:
- Muhammad Ardiansyah, Saksi Pesta Gol Timnas Indonesia U-23 dari Jarak Paling Dekat
- Lemparan ke Dalam, Senjata Lama Timnas yang Kini Berpindah Tangan
- Jalan Buntu Marc-Andre ter Stegen di Barcelona
- Rodrygo, Kunci Tak Langsung Barcelona untuk Wujudkan Transfer Luis Diaz
- Dua Gelandang Mudanya Diincar PSG, Barcelona Pasang Harga Rp2 Triliun
TAG TERKAIT
BERITA TERKAIT
-
Cristiano Ronaldo Menang Telak di Meja Hijau: Juventus Harus Bayar Rp165 Miliar
Liga Italia 19 Januari 2026, 21:54
-
Update Saga Mike Maignan: Ada Kabar Positif dari AC Milan
Liga Italia 19 Januari 2026, 21:53
-
Vinicius Jr ke Chelsea? Mantan Pemain The Blues Anggap Itu Sekadar Khayalan
Liga Inggris 19 Januari 2026, 19:39
LATEST UPDATE
-
Usai Cabut dari Real Madrid, Tujuan Xabi Alonso Berikutnya Terungkap
Liga Spanyol 20 Januari 2026, 04:30
-
Kabar Panas dari Stamford Bridge: Chelsea Siap Lepas Gelandang Juara Piala Dunia Ini
Liga Inggris 20 Januari 2026, 03:29
-
Prediksi Copenhagen vs Napoli 21 Januari 2026
Liga Champions 20 Januari 2026, 03:03
-
Prediksi Olympiakos vs Leverkusen 21 Januari 2026
Liga Champions 20 Januari 2026, 03:02
-
Prediksi Sporting CP vs PSG 21 Januari 2026
Liga Champions 20 Januari 2026, 03:01
-
Prediksi Inter vs Arsenal 21 Januari 2026
Liga Champions 20 Januari 2026, 03:00
-
Prediksi Tottenham vs Dortmund 21 Januari 2026
Liga Champions 20 Januari 2026, 03:00
-
Vinicius Dicemooh Fans Real Madrid, Kylian Mbappe tak Terima
Liga Spanyol 20 Januari 2026, 01:15
-
Prediksi Bodo/Glimt vs Man City 21 Januari 2026
Liga Champions 20 Januari 2026, 00:45
-
Prediksi Kairat vs Club Brugge 20 Januari 2026
Liga Champions 19 Januari 2026, 22:30
LATEST EDITORIAL
-
5 Pemain Liverpool yang Bisa Ikuti Jurgen Klopp ke Real Madrid
Editorial 19 Januari 2026, 12:24
-
4 Bek Tengah yang Bisa Jadi Target Chelsea di Bursa Januari: Ada Eks Real Madrid
Editorial 19 Januari 2026, 12:06
-
5 Kekalahan Terburuk Real Madrid di Copa del Rey Abad Ini
Editorial 16 Januari 2026, 10:19
-
5 Kandidat Pelatih Real Madrid Musim Depan: Zidane, Klopp, Siapa Lagi?
Editorial 15 Januari 2026, 07:26



