Cole Palmer Gagal ke Piala Dunia: Mencari Pembenaran di Balik Keputusan Kontroversial

Cole Palmer Gagal ke Piala Dunia: Mencari Pembenaran di Balik Keputusan Kontroversial
Bintang Chelsea, Cole Palmer. (c) AP Photo/Seth Wenig

Bola.net - Keputusan Thomas Tuchel tidak membawa Cole Palmer ke Piala Dunia 2026 menjadi salah satu kejutan terbesar dalam pemilihan skuad Inggris. Bagaimanapun, Palmer merupakan pemain Inggris dengan posisi tertinggi di Ballon d'Or tahun lalu.

Namun, di balik keputusan yang tampak kontroversial itu, terdapat sejumlah alasan yang sulit dibantah. Penurunan performa, masalah cedera, hingga persaingan ketat di lini serang membuat bintang Chelsea tersebut akhirnya tersingkir dari daftar pemain yang berangkat ke turnamen terbesar dunia.

Tuchel sendiri tidak berusaha menutupi kenyataan tersebut. Pelatih asal Jerman itu secara terbuka menjelaskan mengapa Palmer gagal mendapatkan tempat.

Tuchel Menilai Performa Palmer Tidak Cukup Meyakinkan

Tuchel Menilai Performa Palmer Tidak Cukup Meyakinkan

Ekspresi Cole Palmer dalam laga Chelsea vs PSG di 16 besar Liga Champions 2025/2026, Rabu (18/3/2026). (c) AP Photo/Kin Cheung

Tanpa melihat konteks yang lebih luas, absennya Palmer memang dapat dianggap sebagai keputusan kontroversial. Ia menempati posisi kedelapan dalam pemungutan suara Ballon d'Or tahun lalu, jauh di atas Harry Kane yang berada di peringkat ke-13.

Akan tetapi, performanya sepanjang musim 2025/2026 tidak mencerminkan status sebagai salah satu pemain terbaik dunia. Tuchel menilai kontribusinya, baik di Chelsea maupun tim nasional Inggris, tidak cukup kuat untuk menjamin tempat otomatis di skuad Piala Dunia.

Pelatih Inggris itu juga menyoroti kuatnya persaingan di posisi nomor 10. Jude Bellingham, Morgan Rogers, dan Eberechi Eze dinilai tampil lebih meyakinkan sehingga sulit mengabaikan mereka demi Palmer.

"Catatannya bersama kami tidak luar biasa, tidak cukup bagus untuk membuat kami berkata bahwa apa pun yang terjadi dia harus ikut," kata Tuchel.

"Ini keputusan yang sangat sulit. Tidak ada keraguan soal bakatnya dan tidak ada keraguan soal apa yang bisa dia berikan dalam momen-momen spesial, tetapi keputusan akhirnya tetap tidak berpihak kepadanya," lanjut sang pelatih.

Statistik Chelsea Menunjukkan Penurunan Tajam

Statistik Chelsea Menunjukkan Penurunan Tajam

Ekspresi Cole Palmer dalam laga Everton vs Chelsea di Premier League 2025/2026, Minggu (22/3/2026). (c) AP Photo/Jon Super

Data performa Palmer musim lalu memperkuat argumen Tuchel. Produktivitasnya bersama Chelsea mengalami penurunan yang cukup drastis dibanding musim-musim sebelumnya.

Ia hanya mampu mencetak 10 gol di Premier League dan baru mencapai dua digit gol pada laga terakhir musim melawan Sunderland. Dari jumlah tersebut, lima gol berasal dari titik penalti.

Lebih mengejutkan lagi, Palmer hanya mencatatkan satu assist liga sepanjang musim. Angka itu sangat rendah untuk pemain yang sebelumnya mampu membukukan total 19 assist dalam dua musim pertamanya di Stamford Bridge.

Penurunan juga terlihat dalam statistik kreatifnya. Rata-rata peluang yang ia ciptakan turun dari 2,5 per pertandingan menjadi hanya 1,1. Sementara jumlah umpan silang per laga menurun dari 4,1 menjadi 1,7.

Area kanan half-space yang sebelumnya menjadi sumber kreativitas utamanya juga tidak lagi memberikan dampak besar. Pengaruh Palmer di sepertiga akhir lapangan terlihat jauh berkurang dibanding musim sebelumnya.

Cedera Selangkangan Jadi Hambatan Besar

Dalam wawancara dengan The Guardian pada April lalu, Palmer mengungkap salah satu penyebab utama penurunan performanya.

Pemain berusia 24 tahun itu mengaku mengalami cedera selangkangan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Cedera tersebut tidak memiliki kepastian waktu pemulihan dan sangat mengganggu pergerakannya di lapangan.

Ia bahkan mengaku nyaris tidak bisa bergerak saat menghadapi Manchester United pada September. Ketika kembali bermain sebagai pemain pengganti melawan Leeds United pada Desember, kondisinya juga belum sepenuhnya pulih.

Menurut Palmer, saat itu ia tidak mampu berlari cepat, menembak dengan maksimal, ataupun mengirim umpan jauh seperti biasanya.

Situasi tersebut memunculkan kemungkinan bahwa operasi bisa menjadi solusi terbaik. Jika memang diperlukan, musim panas ini menjadi kesempatan pertama bagi Palmer dalam tiga tahun terakhir untuk benar-benar beristirahat dan menjalani pemulihan penuh.

Sebelumnya, ia terus bermain pada berbagai turnamen besar, mulai dari Euro U-21 2023, Euro 2024, hingga Piala Dunia Antarklub FIFA 2025. Menariknya, Palmer selalu mencetak gol atau memberikan assist di final ketiga kompetisi tersebut.

Xabi Alonso Punya Tugas Menghidupkan Kembali Palmer

Meski mengalami musim yang sulit, banyak pihak percaya kualitas Palmer belum hilang. Ia masih dianggap sebagai salah satu talenta terbaik Inggris dan pemain yang mampu tampil gemilang di panggung terbesar.

Buktinya terlihat pada final Piala Dunia Antarklub musim panas lalu. Saat Chelsea mengalahkan PSG 3-0, Palmer menjadi salah satu aktor utama kemenangan tersebut.

Namun, kebangkitan Palmer kini sangat bergantung pada proyek baru Chelsea bersama Xabi Alonso. Pelatih anyar The Blues itu akan menghadapi tantangan besar untuk mengembalikan pemain andalannya ke performa terbaik.

Gaya bermain Chelsea di era Enzo Maresca disebut kurang cocok bagi Palmer. Permainan penguasaan bola yang lambat dan sangat terstruktur sering kali membatasi kebebasannya untuk berkreasi.

Selain itu, perubahan personel juga memengaruhi chemistry permainan. Palmer sebelumnya memiliki koneksi kuat dengan Noni Madueke dan Nicolas Jackson, tetapi keduanya kemudian meninggalkan klub sehingga hubungan antarlini ikut terganggu.