Pengakuan Victor Osimhen: Nyaris Pensiun Dini dan Peran Vital Luciano Spalletti
Afdholud Dzikry | 19 Februari 2026 15:16
Bola.net - Victor Osimhen baru saja merilis curahan hati yang sangat emosional mengenai perjalanan kariernya yang penuh liku. Penyerang tajam ini mengaku sempat berada di titik terendah hingga ingin berhenti menendang bola selamanya.
Momen kelam itu terjadi saat proses kepindahannya dari Lille menuju Napoli beberapa tahun silam. Ada luka mendalam yang ia simpan rapat-rapat sebelum akhirnya diungkapkan ke publik melalui tulisan di The Player's Tribune.
Kepahitan tersebut bermula ketika manajemen Lille mempersulitnya untuk pulang menemui sang ayah yang tengah sekarat. Fokus klub yang hanya tertuju pada bisnis transfer di tengah pandemi Covid-19 membuat Osimhen merasa sangat muak.
Baginya, perlakuan tersebut benar-benar melukai sisi kemanusiaannya sebagai seorang anak. Kehilangan figur orang tua di tengah tekanan karier profesional hampir menghancurkan mentalitasnya sebagai pemain bintang.
Beruntung, Naples datang sebagai penyelamat yang mengembalikan gairah hidupnya. Simak bagaimana transformasi emosional Osimhen yang menyeret nama besar Luciano Spalletti berikut ini.
Trauma Lille dan Penyelamatan di Naples

Saat mendarat di Italia, kondisi mental Osimhen sebenarnya sedang tidak baik-baik saja. Ia merasa kehilangan arah akibat konflik batin yang dialaminya di klub sebelumnya.
"Ketika saya meninggalkan Lille, saya merasa tersesat. Namun saat saya tiba di Napoli, saya merasa ditemukan kembali," ungkap Osimhen dengan penuh rasa syukur.
Ia memberikan apresiasi setinggi langit kepada seluruh elemen di Napoli yang membantu memulihkan kondisinya. Baginya, dukungan suporter dan rekan setim adalah kunci utama ia bisa bangkit dari keterpurukan.
"Saya benar-benar harus berterima kasih kepada kota ini, para penggemar, dan rekan setim saya karena telah mengubah hidup saya," tegas penyerang Nigeria tersebut.
Sosok Ayah dalam Diri Luciano Spalletti

Pertemuan pertama Osimhen dengan Luciano Spalletti di Napoli tidak diawali dengan pembicaraan taktik yang rumit. Justru, ia memilih untuk jujur mengenai luka yang sedang ia bawa di dalam kepalanya.
"Saya ingat pertemuan pertama saat saya tiba, saya katakan kepada pelatih, Tuan Spalletti, bahwa saya sedang tidak baik-baik saja," kenang Osimhen.
Ia mengaku saat itu sedang dikuasai kemarahan serta kesedihan yang luar biasa besar. Secara terang-terangan, ia menyebutkan bahwa fokusnya sedang berantakan akibat trauma masa lalu.
"Saya sedang sangat marah saat itu. Sangat sedih. Kepala saya sedang tidak benar," imbuhnya dengan jujur.
Di sinilah peran Spalletti menjadi sangat krusial karena ia tak sekadar bertindak sebagai pelatih di lapangan. Ia hadir sebagai figur pelindung yang sangat keras namun penuh kasih sayang kepada Osimhen.
"Spalletti sudah seperti ayah bagi saya. Ketika saya melakukan kesalahan, dia akan memarahi saya dengan keras, tetapi dia benar-benar percaya pada jiwa saya," tuturnya.
Keyakinan Spalletti terhadap potensi Osimhen sangatlah mutlak tanpa ada keraguan sedikit pun. Pelatih kawakan tersebut yakin bahwa anak asuhnya itu mampu bertransformasi menjadi striker terbaik di dunia.
"Dia benar-benar yakin saya bisa menjadi yang terbaik di dunia, saya bersumpah akan hal itu," tegas Osimhen mengenang dukungan sang mentor.
Tidur di Kantor Demi Sejarah Scudetto

Totalitas Spalletti dalam membawa Napoli meraih gelar juara liga ternyata berada di luar nalar. Ia menunjukkan dedikasi yang sangat militan dengan cara mengisolasi diri demi fokus strategi.
"Tuan Spalletti tidur di kantornya selama waktu itu. Dia menyiapkan tempat tidur kecil di sana, persis seperti di barak tentara," cerita Osimhen.
Meskipun memiliki keluarga dan rumah yang nyaman, Spalletti memilih untuk menetap di pusat latihan selama lima bulan. Langkah ekstrem ini diambil agar ia bisa memberikan segalanya demi memutus puasa gelar Napoli.
"Dia punya istri di rumah, tapi selama lima bulan dia tidur di kantor. Kami bahkan tidak bisa mengeluh melihat pengorbanannya," jelasnya lagi.
Visi Spalletti tentang arti sebuah gelar juara di Naples selalu ia tanamkan kepada para pemain sebelum laga besar. Ia menekankan bahwa sejarah akan mencatat nama mereka selamanya jika berhasil membawa pulang trofi.
"Dia bilang, jika kami menang, orang mungkin akan membicarakan dia selama 2 atau 3 tahun. Tapi bagi pemain, mereka akan dibicarakan hingga menjadi kakek-kakek nanti," pungkasnya.
TAG TERKAIT
BERITA TERKAIT
-
Carlo Ancelotti Ungkap Alasan Menolak Tawaran Melatih Timnas Italia
Piala Dunia 30 Juli 2026, 08:22
-
Marcus Rashford Berpotensi Gabung Klub Rival Manchester United
Liga Inggris 30 Juli 2026, 07:05
-
Inter Milan Tak Bisa Belanja Gila-gilaan seperti Klub Premier League
Liga Italia 30 Juli 2026, 05:55
LATEST UPDATE
-
Arsenal Siapkan Rencana Cadangan jika Gagal Rekrut Vinicius Junior
Liga Inggris 30 Juli 2026, 15:00
-
Apakah Bradley Barcola Layak Dihargai Sangat Mahal?
Liga Inggris 30 Juli 2026, 12:52
-
Liverpool Taklukkan Wrexham 1-0, Rio Ngumoha Jadi Pahlawan The Reds
Liga Inggris 30 Juli 2026, 12:35
-
Leon Goretzka Tawarkan Diri ke Barcelona, Respons Klub Tak Terduga
Liga Spanyol 30 Juli 2026, 11:52
-
Persib Vs Tampines Rovers: Mariano Peralta Dipastikan Masih Absen
Bola Indonesia 30 Juli 2026, 09:52
-
Ruben Amorim Minta AC Milan Rekrut Pierre-Emile Hojbjerg, Ada Syaratnya
Liga Italia 30 Juli 2026, 09:22
-
Dari Lapangan Langsung Nongkrong? Grooming Pria Kini Makin Praktis
Lain Lain 30 Juli 2026, 09:15
LATEST EDITORIAL
-
5 Alternatif Lebih Murah dari Bradley Barcola yang Bisa Diburu Liverpool
Editorial 29 Juli 2026, 13:16












