Bola Beli: Membedah Plus-Minus Bola Sepak Nike yang Mendominasi Pasar Bersama Adidas
Darojatun | 18 November 2020 15:21
Bola.net - Bola Adidas Telstar merupakan salah satu bola sepak legendaris yang sangat terkenal dan kerap menjadi acuan. Bola sepak adidas ini sangat mudah dikenali karena kombinasi panel segienam warna putih dan segilima warna hitamnya.
Konon dengan teknologi saat bola tersebut diluncurkan pada 1970 kombinasi panel-panel tersebut adalah yang paling klop untuk menghasilkan bulatan bola sempurna. Lalu kenapa kini bola sepak Nike ikut mendominasi pasar bola sepak dunia?
Pada Piala Dunia 1970 di Meksiko, Brasil menjadi juara dengan sentuhan khas Selecao yang ditunjukkan Jairzinho, Tostao, Pele, hingga Rivellino dan disebut-sebut sepakan-sepakan ajaib yang mereka perlihatkan adalah karena andil dan pengaruh karakter bola sepak baru, Adidas Telstar.
Karakter Telstar memang unik, disebut bergulir lebih lancar di atas rumput sehingga cocok untuk tim yang suka memperagakan liukan dribel bola individual seperti yang dipraktikkan pemain Brasil. Selain itu, bola anyar tersebut lebih mudah dikontrol karena memiliki massa homogen di semua bagian bola dan titik beratnya pun benar-benar terpusat di inti bola.
Gol Carlos Alberto dengan tendangan sisi luar kaki kanan dari arah sayap kanan ke gawang Italia pada grand final Meksiko 1970 tidak akan tercipta bila bola yang dipakai adalah generasi sebelum Telstar. Tendangan seperti itu membutuhkan bola yang seimbang dan memiliki balance point yang tepat berada di inti bola.
Mengurangi Risiko Cedera Kepala dan Leher
Desain bola modern dengan 32 panel seperti Telstar mulai diterapkan pada 1962 oleh Eigil Nielsen, namun kualitas bahan kulit luar dan kantung udara karet di dalamnya terus meningkat di awal 70-an. Pola panel ini kemudian digantikan dengan desain 24 panel dan 42 panel yang memiliki peningkatan performa hingga medio 2000-an.
Praktis sejak 2007 hingga sekarang model panel bola, teknologi bahan, pola penjahitan/perekatan dan perangkaian panel tidak banyak berubah karena dinilai sudah mencapai batas maksimal teknologi manufaktur bola sepak. Imbasnya bukan hanya Adidas dan Nike yang memberikan banyak pilihan varian bola sepak dengan kualitas prima, tapi juga brand-brand lain seperti Molten, Umbro, Puma, Select, Mikasa, Mitre, dll..
Ya, proses tiru dan modifikasi dari produk bola sepak yang dilakukan dalam kurun satu dekade terakhir memang terus berjalan. Riset tidak perlu dilakukan sejak awal, tapi cukup dengan melakukan proses reverse engineering (bongkar, pelajari, tiru, dan rangkai ulang) dari produk unggulan yang sudah ada di pasar. Bahan-bahan sintetik yang kini menjadi lapisan luar bola sepak pun kini semuanya tidak lagi mudah menyerap air di kala hujan air / hujan salju karena dilapisi materi transparan yang dibuat dengan teknologi nano.
Dengan serapan air yang mendekati nol, bobot bola pun menjadi stabil dan bisa mengurangi risiko cedera kepala dan leher bagi pemain yang melakukan sundulan. Kualitas lain yang menjadi kunci keandalan performa sebuah bola sepak juga ditentukan dari ketahanan bentuk bulat sempurna bola, kestabilan daya pantul, serta letak balance point bola yang stabil di inti bola.
Bola Makin Sensitif Terhadap Manipulasi Tendangan
Untuk memastikan aspek-aspek sensitif tersebut, Nike melakukan riset dan penelitian dengan menggunakan sensor serta kamera mini yang diletakkan di dalam bola. Hasilnya, kini bola-bola modern buatan Nike tidak hanya dibuat dari bahan yang kuat dan mudah difabrikasi, tapi juga memiliki kemampuan menyerap dan meneruskan energi tendangan dan tenaga sundulan secara efisien.
Hasil dari proses transfer energi yang mulus ini membuat lintasan gerakan bola di udara dalam kurun dua puluh tahun terakhir semakin ajaib karena semakin sesuai dengan keinginan penendang dan semakin menyulitkan kiper untuk melakukan antisipasi. Hampir semua produk bola modern, termasuk yang dibuat Nike, tidak lagi menggunakan bahan kulit sebagai lapisan luar tapi dari material sintetik polyurethane.
Bahan canggih ini pun sangat mudah dibentuk dan dicetak embos agar memiliki permukaan sentuh dengan mikro relief yang sensitif saat bergesekan dengan sepatu sepak bola. Hasilnya manipulasi perputaran bola, yang kelak mempengaruhi gerakan lintasan bola di udara, pun semakin mudah dirancang pemain dengan sejumlah efek tendangan yang tidak mungkin dilakukan di era 70-an dan 80-an.
Menguasai Pasar Bersama Adidas

Bagian dalam bola Nike juga dibuat dari lateks atau karet butyl yang saat diisi dengan udara bisa dengan homogen menekan bola dari bagian dalam ke semua arah dengan merata. Produsen alat olahraga asal Amerika Serikat ini pun masih menggunakan gabungan teknologi penjahitan manual dengan dikombinasikan bersama proses perekatan lem yang dipanaskan melalui mesin yang dikendalikan robot.
Diameter bola sepak standard saat ini adalah 22 centimeter (ukuran 5 internasional) dengan keliling bola maksimal sepanjang 70 centimeter. Bola Nike dengan standard FIFA berukuran 5 digunakan pemain bola pria dan wanita usia 15 tahun ke atas dengan berat maksimal 450 gram saat diisi udara dengan tekanan maksimal 1,1 bar.
Parameter standard ini juga dipenuhi para kompetitor-nya namun hanya penetrasi pasar Adidas dan Nike yang secara bersama-sama menguasai total 48,7% market share (krause research 2019), di mana di saat yang sama belasan brand lainnya tidak ada yang mencetak persentase hingga dua digit di pasar. Apakah ini semata karena strategi marketing yang agresif atau karena penyajian teknologi tinggi dengan harga murah yang mereka mainkan?
Terobosan Standard Baru di 2014

Kini Nike menjadi sponsor penyedia bola resmi untuk 25 liga domestik di seantero dunia, yang di antaranya adalah A-League Australia, Liga Brasil, Liga Super China, Serie A Italia, Premier League Inggris, dan mereka pun menjadi sponsor bola turnamen resmi internasional antarnegara di level konfederasi (AFC dan Conmebol). Semua itu tidak akan terjadi bila Nike tidak terus memperbaiki pola manufaktur agar kualitas bola yang dihasilkan selalu konsisten.
Sejak 2014, Nike menerapkan sebuah standar baru produksi dengan nama desain Nike Ordem yang dibuat dari inspirasi Adidas Telstar 32 panel namun mereka melakukan penggabungan beberapa panel menjadi berjumlah 12 panel dengan masing-masing terdiri dari tiga lapisan yang membuat bola menjadi tahan air, kuat dan sensitif terhadap transfer energi kinetik dari tendangan dan sundulan pemain. Jumlah jahitan di bola Nike standar baru ini diminimalkan dan lebih banyak menggunakan teknik penggabungan panel menggunakan lem, suhu tinggi, dan tekanan tinggi.
Hasil riset saat itu pun membuat Ordem untuk pertama kalinya menggunakan pola pewarnaan yang disebut Radar Rapid Decision and Response yang digadang-gadang mampu membuat bola makin muda dikenali dan dianalisis pola gerakan dan perputarannya oleh mata pemain di dalam situasi pertandingan. Dengan sejumlah pengembangan teknologi dalam enam tahun terakhir inilah akhirnya Nike pun memiliki sejumlah produk turunan Ordem yang digunakan di Premier League Inggris, Serie A Italia, hingga Copa America Centenario yang tipenya diberi nama Nike Ordem Ciento.
Daya Tahan Rendah Bahan Sintetik
Bola-bola dengan standar tinggi ini rata-rata dihargai di atas satu juta rupiah per buah, bahkan ada yang di atas dua juta rupiah, namun untuk pasar sepak bola non-profesional yang lebih luas Nike seperti halnya para kompetitor mencetak bola dengan kualitas replika resmi dengan rentang harga dari Rp 200 - 400 ribu. Untuk setiap rentang harga tersebut, Adidas juga memiliki seri berkualitas serupa.
Pada rentang Rp 200-300 ribu, Nike mengeluarkan seri Brazil Strike, Paris Saint-Germain Skills, dan Phantom; sedangkan di rentang Rp 300 - 400 ribu ada seri FC Barcelona Striker, FFF Supporters, England Prestige, Striker CR 7, FC Barcelona Pitch, Striker, dan Premier League Strike. Bila pembaca ingin mendapatkan bola sepak berkualitas internasional, baiknya membeli produk standard internasional asli di toko daring maupun offline resmi Nike.
Sementara untuk bola-bola di kisaran harga Rp 200-400 ribu yang tersedia di banyak market place Indonesia secara daring dan offline, Nike jelas menawarkan seri bola sepak dengan standard tinggi. Akan tetapi, beberapa pengurus Sekolah Sepak Bola di Jabodetabek yang menggunakan line up produk tersebut menilai seharusnya Nike mengeluarkan produk dengan lapisan luar yang terbuat dari kulit asli yang berumur lebih panjang karena lebih tahan gesekan dan benturan.
Semua seri bola sepak Nike yang disebut di atas memang enak digunakan tapi lapisan luarnya relatif mudah cacat dalam penggunaan latihan terus menerus dalam 1-3 bulan. Beberapa bagian di tepian panel bola sepak akan mulai mengelupas setelah digunakan pada 12-15 kali sesi latihan dalam tiga pekan, dan bagian ini akan semakin terbuka dan memperlihatkan permukaan layer kedua dalam bola saat memasuki bulan kedua dan ketiga. Well, kelihatannya dibutuhkan modal besar untuk penyediaan bola bila Anda ingin mendirikan SSB ya.
TAG TERKAIT
BERITA TERKAIT
-
Nostalgia Chelsea: Rilis Jersey Ketiga untuk Musim 2025/2026 Bernuansa Retro
Liga Inggris 21 Agustus 2025, 16:36
LATEST UPDATE
-
Setelah 12 Tahun Bersama, MU Bakal Berpisah dengan Luke Shaw?
Liga Inggris 16 September 2026, 18:20
-
Jose Mourinho Acungi Start Pertama Yan Diomande di Real Madrid
Liga Spanyol 16 September 2026, 17:56
-
Hasil BRI Super League: Kalah Lawan Dewa United, Borneo FC Terpuruk di Kandang
Bola Indonesia 16 September 2026, 17:34
-
Puja-puji Mikel Arteta untuk Bocah Ajaib Arsenal, Max Dowman
Liga Inggris 16 September 2026, 17:34
-
Arti Penting Carabao Cup untuk Michael Carrick dan Manchester United
Liga Inggris 16 September 2026, 17:25
-
Link Streaming Seoul FC vs Persib Bandung di ACL 2, 16 September 2026
Bola Indonesia 16 September 2026, 16:14
-
Taisei Marukawa Jalani Proses Naturalisasi WNI, Didorong untuk Bela Timnas Indonesia
Bola Indonesia 16 September 2026, 15:56
-
Ivan Mamut ke Persija Diklaim Sebagai Transfer Termahal dalam Sejarah Liga Indonesia
Bola Indonesia 16 September 2026, 15:51
-
Jay Idzes Cedera, Timnas Indonesia Terancam Tanpa Sang Kapten di FIFA ASEAN Cup 2026
Tim Nasional 16 September 2026, 15:43
-
Streaming Asian Games 2026 Sepak Bola Putra: Kuda Hitam yang Bisa Mengejutkan di Vidio
Lain Lain 16 September 2026, 15:00
-
Jadwal Lengkap Timnas Voli Putra dan Putri Indonesia di Asian Games 2026
Voli 16 September 2026, 13:49
-
Daftar Atlet Bulutangkis Indonesia di Asian Games 2026: Jonatan Christie Bakal jadi Tumpuan
Bulu Tangkis 16 September 2026, 13:35
-
Mengapa Timnas Sepak Bola Indonesia Tidak Tampil di Asian Games 2026? Ini Penyebabnya
Tim Nasional 16 September 2026, 13:23
-
Prediksi Real Sociedad vs Bournemouth 18 September 2026
Liga Eropa UEFA 16 September 2026, 13:17
LATEST EDITORIAL
-
Bukan Cuma Ronaldo, 3 Pemain Ini Juga Pernah Membela Real Madrid dan Inter Milan
Editorial 8 September 2026, 20:58
-
Robert Sanchez Blunder Lagi, 5 Kiper Ini Bisa Jadi Solusi Chelsea
Editorial 27 Agustus 2026, 14:00
-
5 Pemain Manchester United yang Pernah Memakai Nomor 20 Sebelum Carlos Baleba
Editorial 26 Agustus 2026, 12:06
-
4 Klub yang Bisa Jadi Pelabuhan Nicolas Jackson, Aston Villa Paling Berpeluang?
Editorial 25 Agustus 2026, 11:33





