Atlet Kempo Pakai Doping di SEA Games, Emas Indonesia Dikurangi
Editor Bolanet | 23 Juli 2012 21:45
- Peraih medali emas bagi indonesia dari cabang olahraga kempo pada SEA Games 2011, Arif Rahman Nasir harus terima diskorsing dengan larangan bertanding selama dua tahun.
Pasalnya, Arif terbukti menggunakan doping ketika tampil. Selain itu, emas yang direbut Arif juga dikembalikan kepada Federasi SEA Games. Buntutnya, jumlah emas Indonesia harus berkurang satu, dari 182 menjadi 181.
Hukuman bagi atlet yang berlaga di nomor Kyu Kensi tersebut, diputuskan pada pertemuan SEA Games Council Meeting yang berlangsung di Myanmar pada 13-15 Juli lalu.
Selain Arif, dua atlet Malaysia juga bernasib sama. Keduanya adalah M. Yunus Lasaleh, peraih emas yang turun di cabang atletik nomor 4x400 meter dan Firdaus Abdul Razak yang menyabet perunggu dari cabang angkat besi.
Komisi Sports and Law Komite Olimpiade Indonesia (KOI) Haryo Yuniarto menyatakan, kasus tersebut sebenarnya sudah terindikasi sejak lama. Namun pihaknya harus melaporkan hasil secara keseluruhan dalam SEA Games Council Meeting. Karena itu, baru bisa diumumkan baru-baru ini,” kata Haryo.
Dikatakannya lagi, doping yang digunakan atlet tersebut adalah anabolic steroid metandionone. Zat terlarang tersebut dapat mengencangkan otot. Namun sebenarnya obat tersebut sangat berbahaya karena dapat merusak jantung. (esa/kny)
Pasalnya, Arif terbukti menggunakan doping ketika tampil. Selain itu, emas yang direbut Arif juga dikembalikan kepada Federasi SEA Games. Buntutnya, jumlah emas Indonesia harus berkurang satu, dari 182 menjadi 181.
Hukuman bagi atlet yang berlaga di nomor Kyu Kensi tersebut, diputuskan pada pertemuan SEA Games Council Meeting yang berlangsung di Myanmar pada 13-15 Juli lalu.
Selain Arif, dua atlet Malaysia juga bernasib sama. Keduanya adalah M. Yunus Lasaleh, peraih emas yang turun di cabang atletik nomor 4x400 meter dan Firdaus Abdul Razak yang menyabet perunggu dari cabang angkat besi.
Komisi Sports and Law Komite Olimpiade Indonesia (KOI) Haryo Yuniarto menyatakan, kasus tersebut sebenarnya sudah terindikasi sejak lama. Namun pihaknya harus melaporkan hasil secara keseluruhan dalam SEA Games Council Meeting. Karena itu, baru bisa diumumkan baru-baru ini,” kata Haryo.
Dikatakannya lagi, doping yang digunakan atlet tersebut adalah anabolic steroid metandionone. Zat terlarang tersebut dapat mengencangkan otot. Namun sebenarnya obat tersebut sangat berbahaya karena dapat merusak jantung. (esa/kny)
TAG TERKAIT
BERITA TERKAIT
-
HT Review: Indonesia Sementara Tertinggal Satu Gol
Tim Nasional 21 Desember 2013, 20:48
-
Inilah Starting Line-Up Indonesia vs Thailand
Tim Nasional 21 Desember 2013, 19:40
-
Bedah Kekuatan: Indonesia vs Thailand
Editorial 20 Desember 2013, 21:21
-
Rahmad Darmawan Puji Kualitas Penggawa Garuda Muda
Tim Nasional 20 Desember 2013, 20:54
-
Preview: Indonesia vs Thailand, Berebut Emas di Final
Tim Nasional 20 Desember 2013, 20:30
LATEST UPDATE
-
Mimpi-mimpi Mitchell Baker: Bermain di Piala Dunia dan Premier League
Tim Nasional 31 Oktober 2026, 23:47
-
Kata-kata Michael Carrick Usai Manchester United Dihajar Chelsea
Liga Inggris 31 Oktober 2026, 22:39
-
Lisandro Martinez yang Konyol!
Liga Inggris 31 Oktober 2026, 22:02
-
Halloween untuk MU: Kalah dari Chelsea, Setan Merah Ukir Rekor Terburuk Sejak 1988!
Liga Inggris 31 Oktober 2026, 21:47
-
Ketika Vinicius Junior Justru Dianggap Masalah bagi Real Madrid
Liga Spanyol 31 Oktober 2026, 20:19
-
Statistik Ini Jadi Bukti Nyata Bernardo Silva Ubah Permainan Real Madrid
Liga Spanyol 31 Oktober 2026, 19:45
-
Strategi Cerdas Marc Marquez Sprint Race MotoGP Malaysia 2026: Pantang Memimpin Balapan!
Otomotif 31 Oktober 2026, 19:14
LATEST EDITORIAL
-
4 Pemain Inggris yang Meraih Ballon d'Or sebelum Harry Kane
Editorial 27 Oktober 2026, 13:52
-
Kursi Panas Pelatih Premier League: 4 Manajer yang Berisiko Dipecat Lebih Dulu
Editorial 26 Oktober 2026, 23:49
-
7 Pelatih Gratis yang Bisa Gantikan Michael Carrick di Manchester United
Editorial 26 Oktober 2026, 16:03
-
5 Pemain Argentina yang Bisa Mewarisi Nomor 10 Lionel Messi
Editorial 8 Oktober 2026, 11:18



