FIFA Tutup Investigasi Dugaan Gestur Rasis Shaun Evans di Piala Dunia 2026

Ari Prayoga | 17 Juni 2026 03:15
FIFA Tutup Investigasi Dugaan Gestur Rasis Shaun Evans di Piala Dunia 2026
Opening ceremony Piala Dunia 2026 di Stadion Azteca, Jumat (12/6) dini hari WIB (c) AP Photo/Natacha Pisarenko

Bola.net - Badan sepak bola dunia FIFA memastikan tidak menemukan bukti adanya tindakan atau gestur bernuansa rasis yang dilakukan asisten VAR, Shaun Evans, menjelang pertandingan Grup Piala Dunia 2026 antara Jerman dan Curacao, Senin (15/6) lalu.

Kasus ini mencuat setelah siaran resmi pertandingan menampilkan ruang tim video review sebelum kick-off. Dalam tayangan tersebut, Evans terlihat membentuk simbol "OK" menggunakan tangan kanannya di dekat kaki kanan saat kamera menyorot jajaran petugas VAR.

Advertisement

Gestur tersebut menuai perhatian karena dalam beberapa tahun terakhir simbol "OK" sempat dikaitkan dengan kelompok supremasi kulit putih. Bahkan pada 2019, organisasi Anti-Defamation League (ADL) yang berbasis di New York memasukkannya ke dalam daftar simbol kebencian.

Meski demikian, FIFA menegaskan hasil penyelidikan internal tidak menemukan pelanggaran apa pun yang dilakukan oleh Evans.

"Dewan Disiplin Independen FIFA dapat mengonfirmasi bahwa setelah melakukan pemeriksaan terkait insiden yang melibatkan support video assistant referee Shaun Evans, tidak ditemukan bukti pelanggaran terhadap Kode Disiplin FIFA," demikian pernyataan resmi FIFA pada Senin (16/6).

1 dari 3 halaman

Shaun Evans Bantah Tuduhan

Evans yang berasal dari Australia juga memberikan klarifikasi terkait gestur yang menjadi sorotan tersebut. Ia dengan tegas membantah bahwa tindakannya memiliki maksud tertentu, apalagi berkaitan dengan pesan rasial atau ideologi tertentu.

Menurut Evans, gerakan itu terjadi secara tidak sadar dan bukan sesuatu yang sengaja dilakukan di depan kamera.

"Saya ingin menjelaskan bahwa saya tidak dengan sengaja membuat gestur atau simbol tangan untuk menyampaikan pesan, afiliasi, permainan, ataupun keyakinan apa pun," ujar Evans.

Ia menyebut satu-satunya penjelasan yang dapat diberikan adalah gerakan refleks yang terjadi tanpa disadari. Evans juga mengatakan rekaman lain selama pertandingan menunjukkan dirinya beberapa kali melakukan gerakan serupa ketika memegang pena di sela-sela jarinya.

Evans mengaku memahami mengapa gestur tersebut menimbulkan berbagai interpretasi. Namun ia menegaskan tidak pernah secara sadar ataupun sengaja membuat simbol yang diasosiasikan dengan kelompok tertentu.

"Menjadi bagian dari perangkat pertandingan Piala Dunia adalah kehormatan terbesar dalam karier saya. Saya menantikan kesempatan untuk terus mendukung rekan-rekan saya sepanjang turnamen ini," tambahnya.

2 dari 3 halaman

Bertugas di Pusat VAR Dallas

FIFA menyatakan bahwa keterangan Evans turut menjadi salah satu pertimbangan dalam pengambilan keputusan akhir.

Meski laga Jerman kontra Curacao berlangsung di Houston, seluruh tim VAR bekerja dari pusat siaran Piala Dunia yang berlokasi di Dallas. Dari lokasi itulah Evans terekam kamera saat insiden tersebut terjadi.

Evans sendiri termasuk dalam 30 analis video yang dipilih FIFA untuk bertugas selama Piala Dunia 2026 yang digelar bersama di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko.

3 dari 3 halaman

Kontroversi Simbol OK

Simbol "OK" yang umumnya digunakan untuk menunjukkan persetujuan atau tanda bahwa semuanya baik-baik saja, mulai menjadi kontroversial sekitar satu dekade lalu. Awalnya, penggunaan simbol tersebut sebagai lambang supremasi kulit putih muncul dari kampanye hoaks yang berkembang di forum daring sayap kanan 4chan.

Perhatian dunia terhadap simbol itu meningkat tajam setelah pelaku penembakan massal di Christchurch, Selandia Baru, pada Maret 2019, terlihat memperagakan tanda tersebut saat menghadiri sidang pertamanya. Pelaku diketahui merupakan penganut ideologi supremasi kulit putih dan bertanggung jawab atas tewasnya 51 jamaah Muslim di dua masjid.

Pada tahun yang sama, ADL akhirnya memasukkan simbol "OK" ke dalam basis data simbol kebencian. Namun organisasi tersebut juga menekankan bahwa konteks penggunaan sangat penting dalam menentukan apakah simbol itu digunakan untuk tujuan kebencian atau hanya sebagai gestur biasa.

Direktur Center on Extremism ADL, Oren Segal, saat itu menjelaskan bahwa keputusan memasukkan simbol tersebut ke dalam daftar dilakukan karena semakin banyak contoh penggunaannya dalam konteks yang bermuatan kebencian, meskipun tidak semua penggunaan simbol "OK" dapat diartikan demikian.