Inggris Lolos dari Hukuman Penalti di Laga Lawan Ghana: Mengapa VAR Tidak Meninjau Insiden?
Asad Arifin | 24 Juni 2026 11:01
Bola.net - Laga Inggris vs Ghana pada matchday kedua Grup L Piala Dunia 2026 berakhir tanpa gol di Boston Stadium, Foxborough. Pertandingan yang digelar Rabu (24/6/2026) dini hari WIB itu ditutup dengan skor imbang 0-0 yang berlangsung ketat.
Inggris memang mendominasi penguasaan bola sepanjang laga. Namun, mereka kesulitan menembus pertahanan rapat Ghana yang tampil disiplin dan kompak.
Ghana sendiri beberapa kali mengancam lewat serangan balik cepat. Meski begitu, minimnya peluang bersih membuat kedua tim gagal memecahkan kebuntuan.
Di balik hasil tersebut, satu insiden di penghujung laga menjadi sorotan utama. Inggris disebut beruntung karena terhindar dari potensi hadiah penalti untuk Ghana.
Insiden Konsa dan Adu Picu Perdebatan Penalti

Momen krusial terjadi ketika Prince Adu menerobos masuk ke kotak penalti Inggris. Ezri Konsa kemudian melakukan tekel dalam upaya menghentikan laju sang gelandang Ghana.
Kontak antara Konsa dan Adu sempat membuat pemain Ghana terjatuh di dalam kotak penalti. Namun wasit tidak menunjuk titik putih dan permainan tetap berlanjut.
"Saya pikir itu penalti. Konsa mengambil risiko besar. Kakinya terangkat dari lantai saat ia menerjang dan ia mengenai pemain lawan, bukan bola. Menurut saya, itu bisa saja menjadi penalti," kata mantan striker Inggris, Wayne Rooney, di BBC One.
Mantan bek Manchester City, Micah Richards, juga menilai insiden tersebut berada di batas abu-abu. Ia menyebut dalam situasi lain, keputusan bisa saja berbeda.
"Inggris sedang mengejar ketertinggalan, mereka mencoba mencetak gol tetapi Anda tetap membutuhkan perlindungan di belakang Anda. Di hari lain, itu bisa saja menjadi penalti," ucap Richards.
Mengapa Wasit Tidak Tinjau VAR?

Tidak adanya intervensi VAR dalam insiden tersebut turut memunculkan pertanyaan. Banyak pihak menilai wasit seharusnya meninjau ulang kontak antara Konsa dan Adu.
Pierluigi Collina sebagai kepala wasit FIFA disebut menginginkan standar yang lebih tinggi untuk intervensi VAR. Tujuannya agar permainan tidak terlalu sering terhenti oleh tinjauan video.
Pendekatan tersebut membuat sejumlah keputusan borderline tidak selalu dikoreksi oleh VAR. Hal inilah yang diduga menjadi alasan insiden Konsa tidak ditinjau lebih lanjut.
"Sebagai penggemar Inggris, saya senang gol itu tidak diberikan. Tapi jujur saja, menurut saya ini seharusnya ditinjau ulang," kata Darren Cann di BBC One.
"Konsa sama sekali tidak menyentuh bola, dia menjatuhkan lawannya. Dia berada di udara, dia kehilangan kendali, dia melakukan kontak dengan penyerang. Bagi saya ini adalah tendangan penalti," sambung mantan wasit di Piala Dunia 2010 itu.
Sumber: BBC Sport
Baca Ini Juga
Rapor Pemain Inggris vs Ghana: Bellingham Mati Kutu, Guehi Paling Menonjol
Rapor Pemain Portugal Saat Hajar Uzbekistan: Ronaldo Balik Bungkam Kritik
Catatan Menarik Kroasia vs Panama: Rekor Luka Modric Warnai Kemenangan Tipis Vatreni
Catatan Menarik Inggris vs Ghana: Dominan Sepanjang Laga, Three Lions Tetap Mandul
Catatan Menarik Portugal vs Uzbekistan: Ronaldo Cetak Brace, Selecao Das Quinas Menggila
TAG TERKAIT
BERITA TERKAIT
LATEST UPDATE
-
Segini Dana yang Harus Dikeluarkan Liverpool untuk Permanenkan Ronald Araujo
Liga Inggris 8 Agustus 2026, 19:01
-
Jadwal Pre-season Friendly Match 2026 - Chelsea vs Johor Darul Tazim di Vidio
Liga Inggris 8 Agustus 2026, 18:21
-
Piala AFF 2026 Jadi Panggung John Herdman Seleksi Pemain untuk FIFA ASEAN Cup
Tim Nasional 8 Agustus 2026, 18:01
-
Timnas Indonesia Tersingkir dari Piala AFF 2026, John Herdman Tak Salahkan Wasit
Tim Nasional 8 Agustus 2026, 16:31
-
Barcelona Siapkan Tawaran Kedua untuk Rodri Setelah Proposal Awal Ditolak
Liga Spanyol 8 Agustus 2026, 15:46
LATEST EDITORIAL
-
6 Pemain yang Bisa Dijual Real Madrid demi Datangkan Rekrutan Baru
Editorial 5 Agustus 2026, 10:59
-
5 Pemain yang Masih Bisa Direkrut Manchester United Sebelum Bursa Transfer Ditutup
Editorial 4 Agustus 2026, 13:00
-
7 Transfer yang Bisa Dituntaskan Manchester United Pekan Ini
Editorial 3 Agustus 2026, 10:59
















