Kolom Bola.net: Spanyol Menciptakan Sistem, Bukan Bintang
Serafin Unus Pasi | 21 Juli 2026 11:46
Bola.net - Pekan lalu sebelum pertandingan semifinal Spanyol melawan Prancis saya sudah menuliskan tentang transformasi Spanyol. Dalam tulisan itu saya menjelaskan bagaimana La Roja berhasil mematahkan ungkapan bernada sarkas, "Silakan bawa pulang bolanya, saya yang angkut trofinya."
Dalam transformasinya, Spanyol tidak lagi sekadar tim yang menikmati dominasi penguasaan bola, tetapi juga tim yang memiliki obsesi menang. Filosofi tiki-taka tidak ditinggalkan, melainkan dipadukan dengan mentalitas kompetitif yang pernah ditanamkan Luis Aragones. Transformasi itu mengantar rekor luar biasa Luis de la Fuente dengan hanya sekali kalah dalam 39 pertandingan kompetitif hingga menjadi juara Piala Dunia 2026. Kekalahan terakhir adalah 0-2 dari Skotlandia pada Maret 2023.
Dalam tulisan kali ini, saya ingin menjelaskan perubahan yang lebih mendasar. Mengapa penguasaan bola yang dulu hanya dianggap indah, kini berubah menjadi mesin kemenangan? Jawabannya bukan semata-mata soal taktik tetapi terbangunnya sebuah sistem.
Luis de la Fuente tidak datang sebagai penyihir yang mengubah wajah Spanyol dalam semalam. Dia justru merupakan produk dari sistem itu sendiri. Sejak 2013 dia menangani tim kelompok umur Spanyol, membawa U-19 menjuarai Euro 2015, kemudian mengantar U-21 menjadi juara Eropa sebelum dipercaya menangani tim senior.
Selama lebih dari satu dekade, dia mengajarkan bahasa sepak bola yang sama kepada beberapa generasi pemain. Ketika naik ke level berikutnya, para pemain tidak sedang belajar filosofi baru. Mereka hanya melanjutkan pelajaran yang sama dengan tingkat kesulitan yang lebih tinggi.
Sekadar ilustrasi, saat juara Euro U-19 2015, De la Fuente membawa tim yang termasuk Unai Simon, Rodri and Mikel Merino. Lawannya saat itu Prancis, tidak ada yang tersisa hingga 2026 kecuali Ousmane Dembele dan Marcus Thuram yang menjadi cadangan 11 tahun lalu.
Anda juga akan kaget, saat kalah melawan Prancis di semifinal Euro U-19 tahun 2013 Aymeric Laporte yang kini menjadi tulang punggung De la Fuente masih tergabung dengan lawan. Laporte baru membela timnas Spanyol pada 2021.
"Siapa yang menyangka, sejak 2015, bahwa 11 tahun kemudian kita akan berada di final Piala Dunia setelah perjalanan yang telah kita lalui?" kata De la Fuente dikutip dari tulisan David Alvarez di El Pais berjudul "Bagaimana pelatih Spanyol menghabiskan lebih dari satu dekade merekrut para pemain yang akan tampil di final Piala Dunia."
Sempurnakan Sistem yang Ada

Dari sisi teknis, perubahan terbesar yang dilakukan De la Fuente bukanlah mengurangi penguasaan bola, melainkan mengubah tujuan penguasaan bola. Dalam salah satu wawancaranya, dia mengatakan persoalan Spanyol bukan memiliki bola terlalu lama, melainkan menguasai bola tanpa mampu bergerak maju. Bola bukan lagi digerakkan kanan dan kiri melainkan alat untuk menciptakan progresi vertikal.
Dalam praktik misalnya, De la Fuente menuntut Rodri berani mengambil risiko umpan vertikal dan membawa bola melewati lini pertahanan lawan, bukan cuma jadi ban serep di depan bek tengah.
Perubahan lain yang sering luput dibicarakan adalah orientasi permainan. Jika era sebelumnya begitu terobsesi pada jumlah operan, maka Spanyol hari ini lebih terobsesi menguasai ruang. Emma Hayes dalam artikelnya di The Guardian menggambarkan mereka sebagai "masters of time and space" atau penguasa waktu dan ruang.
Bola memang tetap berputar dari kaki ke kaki, tetapi yang sesungguhnya sedang mereka kendalikan adalah posisi lawan, ritme pertandingan, dan ruang yang akan dieksploitasi. Operan tidak lagi menjadi angka statistik, melainkan instrumen untuk menciptakan keunggulan posisi.
Semua itu hanya mungkin terjadi karena Spanyol memiliki sesuatu yang belum banyak dimiliki negara lain yaitu kesinambungan sistem. Di akademi-akademi mereka, dari Barcelona hingga Bilbao, dari Sevilla hingga Madrid, anak-anak belajar prinsip yang serupa yaitu orientasi tubuh, rondo, permainan posisi (juego de posicion), rotasi ruang, hingga kapan harus mempercepat serangan. Ketika mereka mengenakan seragam tim nasional, De la Fuente tidak perlu mengajari ejaan alfabet sepak bola lagi. Dia tinggal menyusun kalimat.
Warisan De La Fuente untuk Sepakbola Spanyol

Menyaksikan Spanyol di final lawan Argentina, identitas permainan tidak berubah. Mekanisme tetap berjalan, karena yang menjadi fondasi bukan kecemerlangan individu, melainkan pemahaman kolektif terhadap sistem. Berbeda dengan banyak tim yang kehilangan arah ketika bintang utamanya absen, Spanyol tetap mampu memainkan sepak bola yang sama karena setiap pemain memahami fungsi dan peran. Perhatikan saat Rodri ditarik keluar dan masuk Martin Zubimendi, permainan Spanyol tidak berubah. Padahal sepanjang Piala Dunia 2026 sebelum final, Zubimendi belum pernah main.
Final melawan Argentina terasa seperti puncak evolusi Spanyol. Mereka mendominasi penguasaan bola, menekan tinggi, mengendalikan ritme pertandingan, dan akhirnya mencetak gol kemenangan pada menit-menit akhir. Trofi itu bukan sekadar kemenangan satu generasi, melainkan pembuktian bahwa sistem mampu mengalahkan ketergantungan pada individu.
Banyak negara berusaha melahirkan pemain hebat. Banyak pula yang berharap menemukan pelatih jenius. Spanyol memilih jalan yang lebih panjang sekaligus lebih sulit dengan membangun sistem. Dan ketika sistem itu matang, mereka tidak lagi sekadar menciptakan bintang. Mereka menciptakan generasi demi generasi yang mampu membuat sepak bola indah sekaligus memenangi pertandingan.
Itulah warisan terbesar Luis de la Fuente bahwa di era sepak bola modern, yang paling sulit bukan menemukan pemain hebat. Inilah yang perlu disadari semua stakeholder sepak bola termasuk di Indonesia, yang paling sulit adalah membangun sebuah sistem yang membuat siapa pun mampu menjadi hebat. Anda setuju?
*Kolom opini ini ditulis oleh Titis Widyatmoko, Pemimpin Redaksi dari Liputan6.com.
TAG TERKAIT
BERITA TERKAIT
-
Terungkap, Roy Keane Nyaris jadi Staff Pelatih Manchester United
Liga Inggris 29 Oktober 2026, 17:17
-
Terus Cadangkan Estevao, Ini Penjelasan Xabi Alonso
Liga Inggris 29 Oktober 2026, 16:15
-
Tersingkir dari Carabao Cup, Xabi Alonso Sebut Chelsea Mainnya Gak Jelek-jelek Amat!
Liga Inggris 29 Oktober 2026, 15:41
-
Habis Diobok-obok, Manchester United Ingin Bajak Super Star Como Ini
Liga Inggris 29 Oktober 2026, 15:32
LATEST UPDATE
-
Prediksi Udinese vs Roma 1 November 2026
Liga Italia 30 Oktober 2026, 11:25
-
Prediksi Man City vs Brighton 31 Oktober 2026
Liga Inggris 30 Oktober 2026, 10:38
-
Prediksi Chelsea vs Man Utd 31 Oktober 2026
Liga Inggris 30 Oktober 2026, 09:38
-
Prediksi Le Havre vs PSG 31 Oktober 2026
Liga Eropa Lain 30 Oktober 2026, 08:15
-
Sesko Cedera, Ini 5 Striker yang Bisa Direkrut Manchester United pada Januari
Liga Inggris 30 Oktober 2026, 07:02
-
Cristiano Ronaldo Raih B.O.A.T Award, Mengapa Penghargaan Ini Kontroversial?
Liga Champions 30 Oktober 2026, 06:55
-
Mendalami Kebangkitan Ronald Araujo di Liverpool usia Tinggalkan Barcelona
Liga Inggris 30 Oktober 2026, 06:48
-
Manchester United Catat Kerugian Transfer Terbesar di Eropa
Liga Inggris 30 Oktober 2026, 06:41
-
Raphinha Dipanggil Timnas Brasil, Barcelona Kembali Khawatir
Liga Spanyol 30 Oktober 2026, 06:33
-
Barcelona Tutup Sementara Tribune Suporter Usai Insiden El Clasico
Liga Spanyol 30 Oktober 2026, 06:29
-
Barcelona dan Kekalahan di El Clasico yang Mengungkap Pentingnya Evolusi Taktik
Liga Spanyol 30 Oktober 2026, 06:24
-
Arda Guler Bikin Jose Mourinho Sulit Mencadangkannya Lagi
Liga Spanyol 30 Oktober 2026, 05:51
-
Bernardo Silva Buktikan Fans Real Madrid Benar, Jose Mourinho Keliru
Liga Spanyol 30 Oktober 2026, 05:46
-
Bagaimana Jude Bellingham Mendominasi Lini Tengah Barcelona
Liga Spanyol 30 Oktober 2026, 05:42
LATEST EDITORIAL
-
4 Pemain Inggris yang Meraih Ballon d'Or sebelum Harry Kane
Editorial 27 Oktober 2026, 13:52
-
Kursi Panas Pelatih Premier League: 4 Manajer yang Berisiko Dipecat Lebih Dulu
Editorial 26 Oktober 2026, 23:49
-
7 Pelatih Gratis yang Bisa Gantikan Michael Carrick di Manchester United
Editorial 26 Oktober 2026, 16:03
-
5 Pemain Argentina yang Bisa Mewarisi Nomor 10 Lionel Messi
Editorial 8 Oktober 2026, 11:18


