Mengapa Laga Piala Dunia 2026 Dimainkan Bersamaan? Skandal Lama Jadi Alasannya

Gia Yuda Pradana | 25 Juni 2026 00:58
Mengapa Laga Piala Dunia 2026 Dimainkan Bersamaan? Skandal Lama Jadi Alasannya
Bendera nasional kedua negara dikibarkan sebelum laga Grup J Piala Dunia antara Argentina vs Austria di Arlington, Texas, dekat Dallas, Senin, 22 Juni 2026 (c) AP Photo/Sam Hodde

Bola.net - Piala Dunia 2026 kini memasuki fase krusial pada putaran terakhir babak grup. Pada tahap ini, dua pertandingan terakhir di masing-masing dari 12 grup digelar pada waktu yang sama.

Keputusan tersebut bukan tanpa alasan. FIFA menerapkan kickoff serentak untuk menjaga integritas kompetisi dan mencegah tim bermain berdasarkan hasil pertandingan lain.

Advertisement

Aturan ini lahir dari salah satu insiden paling kontroversial dalam sejarah turnamen. Peristiwa itu dikenal sebagai “Disgrace of Gijon”, yang terjadi pada Piala Dunia 1982.

1 dari 3 halaman

Berawal dari Skandal Disgrace of Gijon

Berawal dari Skandal Disgrace of Gijon

FIFA - Federation Internationale de Football Association. (c) dok.FIFA

Kontroversi itu melibatkan Jerman Barat dan Austria dalam laga penentuan grup. Hasil pertandingan tersebut menentukan nasib Aljazair.

Saat itu, Aljazair sudah menuntaskan seluruh laga grup sehari lebih dulu. Kondisinya membuat Jerman Barat dan Austria masuk lapangan dengan kalkulasi yang sangat jelas.

Jika Jerman Barat menang tipis, kedua tim akan lolos ke fase berikutnya. Skenario itu sekaligus menyingkirkan Aljazair lewat selisih gol.

Jerman Barat mencetak gol pada menit ke-10. Setelah unggul, intensitas pertandingan turun drastis karena kedua tim sama-sama diuntungkan oleh skor tersebut.

Pada fase akhir laga, kedua tim nyaris berhenti menyerang. Situasi itu memicu kemarahan besar karena pertandingan terlihat seperti hasil kompromi di atas lapangan.

FIFA akhirnya merombak format mulai Piala Dunia 1986. Sejak saat itu, laga terakhir fase grup dimainkan secara bersamaan.

2 dari 3 halaman

Piala Dunia 2026 Hadirkan Tantangan Baru

Piala Dunia 2026 Hadirkan Tantangan Baru

Pemain Aljazair Nadhir Benbouali melakukan selebrasi setelah mencetak gol ke gawang Yordania di Piala Dunia 2026, Selasa (23/6/2026). (c) AP Photo/Jeff Chiu

Meski aturan kickoff serentak masih berlaku di Piala Dunia 2026, format turnamen terbaru menghadirkan tantangan berbeda. Salah satunya adalah penggunaan head-to-head sebagai penentu peringkat saat poin sama, menggantikan selisih gol sebagai prioritas awal.

Perubahan ini membuat beberapa tim tetap bisa menghitung peluang dengan cukup akurat sebelum laga terakhir selesai. Mereka dapat mengetahui hasil seperti apa yang cukup untuk lolos.

Contohnya terjadi di Grup J. Dengan Argentina sudah memastikan diri sebagai juara grup, Aljazair dan Austria memahami bahwa hasil imbang di Kansas City sangat mungkin menguntungkan kedua pihak.

Empat poin diperkirakan cukup untuk melaju, bahkan sebagai tim peringkat ketiga terbaik. Kondisi serupa juga terjadi pada duel Australia melawan Paraguay di Grup D.

Menariknya, skenario lolos tidak selalu membuat tim mengejar posisi lebih tinggi. Dalam kasus Austria, finis sebagai runner-up Grup J justru berpotensi menghadapi Spanyol pada babak 32 besar.

Sementara itu, tim yang finis di posisi ketiga kemungkinan memperoleh lawan yang lebih ringan, seperti Belgia atau Mesir. Artinya, bahkan di Piala Dunia 2026, kickoff bersamaan belum tentu sepenuhnya menghapus peluang strategi hasil tertentu.

Sumber: The Independent

3 dari 3 halaman

Klasemen Piala Dunia 2026

LATEST UPDATE