Piala Dunia 2010: Spanyol vs Belanda, Kalah di Awal dan Kalah di Akhir
Richard Andreas | 21 Mei 2020 07:30
Bola.net - Piala Dunia 2010 merupakan salah satu edisi terbaik karena banyak faktor. Mulai dari official song yang mudah diingat (waka waka eh eh!), Jabulani, suara bising vuvuzela, dan keberhasilan tiki-taka Spanyol di level internasional.
Edisi di Afrika Selatan ini termasuk yang paling sukses karena animo dan kemeriahan yang luar biasa. Duel Belanda vs Spanyol di partai pemungkas juga berjalan selayaknya duel dua tim terkuat di dunia, pertandingan berjalan sengit selama 120 menit.
Sebelum pertandingan ini, Belanda dan Spanyol tidak pernah bertemu di panggung turnamen akbar seperti Piala Dunia dan Euro. Mereka lebih sering bertemu di laga persahabatan dan kualifikasi, hasilnya cukup imbang.
Uniknya, perjalanan Spanyol dan Belanda menuju final Piala Dunia 2010 ini berjalan bertolak belakang. Mengapa demikian? Baca selengkapnya di bawah ini ya, Bolaneters!
Spanyol Kalah Dahulu
Spanyol memasuki Piala Dunia 2010 sebagai juara bertahan Eropa, tepatnya usai menjuarai Euro 2008. Mereka juga memegang rekor tidak terkalahkan dalam 35 pertandingan untuk tim nasional, tepatnya pada rentang 2007-09.
La Roja juga memenangi 10 pertandingan mereka di babak kualifikasi, melaju dengan sempurna. Intinya, Spanyol sangat kuat dan dianggap sebagai favorit juara.
Biar begitu, pada laga pertama Grup H, Spanyol justru langsung menelan kekelahan 0-1 dari Swiss. Hasil ini sungguh di luar dugaan, kualitas mereka mulai diragukan lagi.
Untungnya Spanyol berhasil bangkit di laga berikutnya, mengalahkan Honduras (2-0) dan Chile (2-1) untuk melaju ke fase gugur sebagai juara grup.
Memasuki fase gugur, Spanyol pun tidak benar-benar meyakinkan. Mereka hanya bisa memetik kemenangan 1-0 atas Portugal (16 besar), 1-0 atas Paraguay (perempat final), dan 1-0 lagi atas Jerman (semifinal)
Belanda Sapu Bersih
Langkah awal Belanda jauh berbeda dengan Spanyol. Tim Oranye sempurna sejak awal, yang sebenarnya sedikit di luar dugaan.
Belanda mulai dengan mengalahkan Denmark 2-0, lalu mengalahkan Jepang 1-0 dan Kamerun 2-1 untuk meraih predikat juara Grup E.
Di fase gugur, Belanda pun memulai dengan apik saat mengalahkan Slovakia 2-1 di babak 16 besar. Mereka juga bisa menundukkan Brasil 2-1 di perempat final dan menggulingkan Uruguay dengan skor 3-2 di semifinal.
Sampai titik ini, total gol Belanda (12) lebih banyak dari Spanyol (7). Mereka pun bertemu di partai final, laga yang pada akhirnya berjalan sengit.
Partai Final
Melihat laju kedua kontestan di fase grup dan fase gugur, wajar jika Belanda lebih dijagokan sebagai juara. Spanyol tidak benar-benar meyakinkan karena sebagian besar kemenangan mereka diraih dengan skor tipis.
Final ini dilangsungkan pada 11 Juli 2010, Johannesburg. Pertandingan ini ternyata banjir kartu kuning, Howard Webb terpaksa lebih banyak menghentikan pertandingan. Total ada 14 kartu kuning yang dihadiahkan (9 untuk Belanda, 4 untuk Spanyol.
Belanda punya banyak kesempatan untuk mencetak gol, tapi pertahanan Spanyol ternyata lebih rapi. Pemain-pemain Spanyol pun tampak lebih tenang, memainkan sepak bola khas andalan mereka.
Tidak ada gol tercipta selama 90 menit, laga memasuki babak tambahan. Pertandingan kian panas, Belanda harus bermain hanya dengan 10 pemain sejak menit ke-109 usai kartu kuning kedu Heitinga. Saat itu, laga diduga bakal dilanjutkan ke babak adu penalti.
Gol Iniesta
Momen yang ditunggu-tunggu akhirnya tercipta di menit ke-116. Jesus Navas berlari memasuki wilayah permainan lawan, memulai aliran umpan yang berujung ke kaki Andres Iniesta.
Gelandang andalan Barcelona itu kemudian mencetak gol paling penting salam sejarah negaranya di ajang Piala Dunia. Hanya empat menit sebelum akhir babak tambahan, Iniesta mencetak gol indah setengah voli yang mengarah rendah ke sudut kanan Maarten Stekelenburg.
Gol itu memupus harapan Belanda, permainan keras mereka benar-benar menyita energi. Pada empat menit tersisa, pasukan bert van Marwijk tidak benar-benar berusaha menyamakan kedudukan.
Spanyol pun keluar sebagai juara, yang uniknya hanya dengan skor 1-0 -- sama dengan skor mereka di fase gugur.
Salah Keputusan
Kendati demikian, tepat sebelum gol itu tercipta, Howard Webb mungkin membuat kesalahan. Belanda mendapatkan tendangan bebas, bola terlihat membentur Cesc Fabregas dan keluar lapangan.
Namun, Webb sepertinya tidak melihat belokan bola, juga masih belum ada VAR pada saat itu. Seharusnya bola itu jadi tendangan sudut Belanda, tapi dia menutuskannya jadi tendangan gawang Spanyol.
Tendangan gawang inilah yang jadi awal bencana bagi Belanda. Spanyol balik menyerang, Navas membawa bola, dan sisanya adalah sejarah.
Momen unik: Tendangan de Jong
Kesalahan Webb tidak hanya salah menghadiahkan tendangan gawang di atas. Dia juga tidak tegas menghukum Nigel de Jong atas pelanggaran keras terhadap Xabi Alonso.
Betapa tidak, pada salah satu momen duel di lini tengah, De Jong mengangkat kakinya terlalu tinggi dan benar-benar menginjak dada Xabi Alonso (menit ke-28).
Pelanggaran seperti itu seharusnya langsung berujung kartu merah, tapi Webb hanya mengeluarkan kartu kuning. Andai Webb lebih tegas, Belanda seharusnya bermain dengan 10 pemain sejak babak pertama.
Kalah di Awal, Kalah di Akhir
Bagaimanapun, laju dua finalis ini cukup unik. Total ada 7 pertandingan yang mereka lalui, termasuk partai pemungkas.
Spanyol memulai dengan kekalahan, tapi terus menang dan akhirnya jadi juara. Belanda sebaliknya, mulai dengan laju sempurna kemenangan, tapi kalah di partai pemungkas.
Sumber: Berbagai sumber
Baca ini juga ya!
- Foto-foto Nostalgia sang 'Superman' Gianluigi Buffon Saat Membela Parma
- Foto-foto Giuseppe Signori, Penyerang Legendaris Lazio
- Kala Lionel Messi Mencetak Hat-trick dan Mengukir Rekor di El Clasico
- Ketika Ruud van Nistelrooy Unjuk Ketajaman di Premier League dan La Liga
- Saat Costacurta Mengukir Sebuah Rekor Serie A di Laga Terakhirnya
TAG TERKAIT
BERITA TERKAIT
-
Daftar Juara Thomas Cup dan Uber Cup, Berapa Gelar yang Dikoleksi Indonesia?
Bulu Tangkis 21 April 2026, 14:53
-
Eduardo Camavinga Tolak Tinggalkan Real Madrid Meski Rumor Transfer Menguat
Liga Spanyol 21 April 2026, 14:49
-
Luis Figo Ungkap Penyebab Musim Sulit Real Madrid
Liga Spanyol 21 April 2026, 14:22
LATEST UPDATE
-
Jose Mourinho Tawarkan Diri ke Real Madrid, Ada Urusan yang Belum Selesai
Liga Spanyol 22 April 2026, 00:22
-
Barcelona Perlu Buka Ruang Finansial: 5 Pemain Bisa Dilepas
Liga Spanyol 22 April 2026, 00:13
-
Barcelona Butuh Pemimpin untuk Wujudkan Mimpi Liga Champions Hansi Flick
Liga Spanyol 22 April 2026, 00:06
-
Tawaran Rp400 Miliar dari Arab untuk Gelandang Muda Barcelona
Liga Spanyol 22 April 2026, 00:02
-
Samator Kalahkan Garuda Jaya 3-0, Satu Langkah Lagi Menuju Podium ke-3 Proliga 2026
Voli 21 April 2026, 23:57
-
Hansi Flick Tegaskan Komitmen Perpanjang Kontrak di Barcelona
Liga Spanyol 21 April 2026, 23:52
-
Tempat Menonton Real Madrid vs Alaves: Tayang di Mana dan Jam Berapa?
Liga Spanyol 21 April 2026, 23:34
-
Tempat Menonton Brighton vs Chelsea: Tayang di Mana dan Jam Berapa?
Liga Inggris 21 April 2026, 23:18
-
Juventus Sudah Membaik, tapi Kualitas Skuad Masih Belum Cukup untuk Bersaing
Liga Italia 21 April 2026, 22:49
-
Juventus Inginkan Gelandang Atalanta, tapi Harga Tinggi Jadi Rintangan
Liga Italia 21 April 2026, 22:22
-
Prediksi Barcelona vs Celta 23 April 2026
Liga Spanyol 21 April 2026, 21:51
-
Prediksi Burnley vs Man City 23 April 2026
Liga Inggris 21 April 2026, 21:29
-
Prediksi Atalanta vs Lazio 23 April 2026
Liga Italia 21 April 2026, 20:57
LATEST EDITORIAL
-
Darurat Lini Depan Liverpool: 4 Opsi Pengganti Hugo Ekitike Usai Cedera Parah
Editorial 21 April 2026, 11:46
-
9 Kandidat Pengganti Alvaro Arbeloa di Real Madrid
Editorial 16 April 2026, 23:37
-
6 Top Skor Sepanjang Masa Liga Champions
Editorial 15 April 2026, 20:59





