Thomas Tuchel dan Kutukan Pelatih Inggris yang Tak Kunjung Berakhir

Richard Andreas | 8 Juni 2026 18:45
Thomas Tuchel dan Kutukan Pelatih Inggris yang Tak Kunjung Berakhir
Pelatih Timnas Inggris, Thomas Tuchel bereaksi di laga melawan Jepang, 1 April 2026. (c) AP Photo/Kirsty Wigglesworth

Bola.net - Menjadi pelatih Timnas Inggris sering dianggap sebagai salah satu pekerjaan paling berat dalam dunia sepak bola. Harapan besar publik, tekanan media, dan tuntutan untuk mengakhiri penantian panjang gelar Piala Dunia membuat posisi tersebut memiliki reputasi yang unik.

Sejak Sir Alf Ramsey membawa Inggris menjadi juara dunia pada 1966, tidak ada satu pun pelatih yang mampu mengulangi pencapaian tersebut.

Advertisement

Dalam kurun hampir enam dekade, sejumlah pelatih datang dan pergi tanpa mampu menghapus dahaga gelar terbesar sepak bola internasional.

Kini giliran Thomas Tuchel yang memikul tanggung jawab tersebut. Pelatih asal Jerman itu memasuki sebuah jabatan yang selama bertahun-tahun dikenal dengan sebutan "pekerjaan mustahil".

1 dari 3 halaman

Warisan Sejarah yang Terus Membayangi Inggris

Warisan Sejarah yang Terus Membayangi Inggris

Starting XI Timnas Inggris sebelum pertandingan melawan Selandia Baru dalam laga uji coba internasional di Florida, 7 Juni 2026 (c) AP Photo/Chris OMeara

Sejak keberhasilan pada 1966, Timnas Inggris memiliki hubungan yang penuh emosi dengan Piala Dunia. Berbagai momen menyakitkan terus menumpuk dan menjadi bagian dari sejarah sepak bola negara tersebut.

Mulai dari gol kontroversial Diego Maradona yang dikenal sebagai "Hand of God" pada 1986 hingga kegagalan melalui adu penalti pada 1990, 1998, dan 2006. Di antara rentetan kekecewaan itu, Inggris juga pernah gagal lolos ke putaran final Piala Dunia 1994.

Rangkaian pengalaman tersebut menciptakan tekanan tersendiri bagi setiap pelatih yang menangani Inggris. Harapan untuk mengakhiri penantian panjang gelar dunia selalu hadir di setiap turnamen.

Situasi itu membuat jabatan pelatih Inggris berkembang menjadi sesuatu yang lebih dari sekadar pekerjaan teknis. Posisi tersebut membawa beban sejarah yang terus diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

2 dari 3 halaman

Sorotan Media yang Tak Pernah Surut

Sorotan Media yang Tak Pernah Surut

Penyerang Timnas Inggris Harry Kane (kanan) merayakan gol bersama John Stones dan Jordan Henderson pada laga persahabatan Inggris vs Selandia Baru di Tampa, Florida, Sabtu, 6 Juni 2026 (c) AP Photo/Chris OMeara

Selain tekanan hasil pertandingan, para pelatih Inggris juga harus menghadapi sorotan media yang sangat intens. Sejumlah pelatih pernah menjadi sasaran kritik keras ketika hasil tidak sesuai harapan.

Graham Taylor pernah digambarkan sebagai lobak di halaman depan surat kabar. Setelah itu, Sven-Goran Eriksson juga menerima perlakuan serupa ketika ditampilkan sebagai swede atau sejenis umbi-umbian dalam pemberitaan.

Bobby Robson bahkan pernah diminta mundur setelah hasil imbang melawan Arab Saudi. Sementara Glenn Hoddle dan Sam Allardyce sama-sama meninggalkan jabatan mereka setelah kontroversi yang berawal dari interaksi dengan media.

Namun, situasi sempat berubah pada era Gareth Southgate. Pendekatannya yang lebih terbuka terhadap media membantu meredakan ketegangan yang selama ini mengelilingi tim nasional.

Kesuksesan Southgate di lapangan juga ikut menciptakan suasana yang lebih positif dibandingkan era-era sebelumnya. Meski demikian, hubungan tersebut mulai memburuk menjelang Euro 2024 hingga akhirnya Southgate memutuskan mundur.

3 dari 3 halaman

Tuchel Membawa Pendekatan Berbeda

Kini Tuchel mencoba menghadapi tantangan yang sama dengan gaya yang berbeda. Pelatih berusia 52 tahun itu dikenal memiliki pendekatan yang terbuka dan lugas ketika berhadapan dengan media.

Sejauh ini, pendekatan tersebut dinilai membantu mengurangi sebagian tekanan dan sorotan negatif yang biasanya mengiringi Timnas Inggris. Kehadirannya juga membawa perspektif yang berbeda karena ia tidak tumbuh dalam sejarah panjang kegagalan Inggris di turnamen besar.

Hal itu memunculkan pertanyaan menarik menjelang Piala Dunia 2026. Apakah jarak emosional terhadap narasi panjang sepak bola Inggris justru bisa menjadi keuntungan bagi Tuchel?

Bagi banyak pihak, jawabannya baru akan terlihat ketika Inggris kembali menjalani perjalanan mereka di panggung Piala Dunia.

Namun untuk saat ini, pelatih asal Jerman tersebut menjadi sosok terbaru yang mencoba menaklukkan pekerjaan yang selama puluhan tahun dianggap mustahil.

LATEST UPDATE