Walau Gagal ke Piala Dunia 2026, Irlandia Utara Bangga Mampu Bikin Italia Kelimpungan

Afdholud Dzikry | 27 Maret 2026 13:32
Walau Gagal ke Piala Dunia 2026, Irlandia Utara Bangga Mampu Bikin Italia Kelimpungan
Timnas Irlandia Utara setelah laga melawan Italia di semifinal playoff Piala Dunia 2026. (c) AP Photo/Antonio Calanni

Bola.net - Langkah Irlandia Utara menuju putaran final Piala Dunia 2026 harus terhenti secara dramatis setelah kalah 0-2 dari Italia. Meski tersingkir, performa militan skuat asuhan Michael O'Neill di babak semifinal playoff ini menuai decak kagum.

Bermain di kandang lawan, Irlandia Utara tampil tanpa beban menghadapi juara dunia empat kali tersebut. Italia yang membawa misi wajib menang justru sempat dibuat frustrasi oleh kedisiplinan tim tamu.

Advertisement

Harapan publik Belfast akhirnya pupus lewat dua gol di babak kedua yang dicetak Sandro Tonali dan Moise Kean. Kendati demikian, perjuangan para pemain muda ini memberikan sinyal positif bagi masa depan sepak bola mereka.

Pelatih Michael O'Neill mengaku tetap bangga melihat cara anak asuhnya memberikan perlawanan sengit sepanjang laga. Baginya, skuat ini telah melampaui ekspektasi banyak pihak meski harus menelan pil pahit.

1 dari 4 halaman

Taktik Brilian yang Mengejutkan Italia

Italia awalnya menganggap remeh strategi lawan dan mengira Irlandia Utara hanya akan bermain bola panjang. Namun, perkiraan pelatih Italia, Gennaro Gattuso, ternyata meleset total karena tim tamu berani bermain terbuka.

Gattuso mengakui timnya sempat kesulitan mengembangkan permainan akibat skema taktis yang diterapkan O'Neill. Italia dipaksa bekerja ekstra keras untuk menemukan celah di lini pertahanan Irlandia Utara yang sangat rapat.

"Irlandia Utara mengejutkan kami. Kami mengira mereka akan bermain jauh lebih vertikal, tapi mereka justru mencoba mengalirkan bola," kata Gennaro Gattuso.

Gattuso juga menambahkan bahwa butuh waktu bagi timnya untuk beradaptasi dengan gaya main lawan. Mentalitas dan taktik Italia di babak pertama diakui tidak berjalan sesuai rencana awal.

"Setelah 15 atau 20 menit, kami menyadari hal itu dan mulai bergerak lebih baik. Mentalitas dan taktik kami di babak pertama bukan yang kami inginkan," lanjut Gattuso.

2 dari 4 halaman

Rekor Pemain Muda di Panggung Krusial

Irlandia Utara turun dengan rata-rata usia pemain yang sangat muda, yakni hanya 22,5 tahun. Catatan ini menjadi rata-rata usia terendah kedua bagi negara tersebut dalam sejarah era pasca-perang.

Tanpa kehadiran pilar utama seperti Conor Bradley dan Dan Ballard, para pemain muda ini tetap tampil solid. Mereka mampu menjaga skor tetap kacamata hingga babak pertama usai berkat organisasi pertahanan yang rapi.

"Saya tidak bisa meminta lebih banyak lagi dari para pemain. Rencana permainan kami di babak pertama sangat luar biasa," tutur Michael O'Neill.

O'Neill menilai timnya sangat disiplin dalam meredam setiap peluang yang diciptakan oleh Gli Azzurri. Bahkan, Irlandia Utara sempat memiliki peluang emas lewat skema sepak pojok yang hampir berbuah gol.

"Kami memberi mereka sangat sedikit peluang. Kami bertahan dengan sangat baik dari sepak pojok, dan kami sendiri punya peluang bagus dari korner," ujar O'Neill.

3 dari 4 halaman

Blunder Fatal yang Mengubah Keadaan

Momen krusial terjadi di babak kedua saat Irlandia Utara mulai kehilangan bentuk permainan terbaiknya. Sebuah sapuan bola yang kurang sempurna dari Isaac Price justru jatuh ke kaki Sandro Tonali.

Tonali tidak menyia-nyiakan peluang tersebut dengan melepaskan tembakan keras yang langsung mengubah atmosfer stadion. Gol tersebut meruntuhkan konsentrasi tim tamu yang sejak awal bermain sangat disiplin.

"Pada akhirnya, di babak kedua kami menciptakan masalah kami sendiri. Kami mengalami beberapa momen gugup sebelum gol terjadi dan posisi kami tidak tepat," jelas O'Neill.

Sang pelatih menyayangkan kesalahan kecil yang berujung fatal karena bola jatuh ke pemain yang salah. Namun, ia tetap memuji sikap pantang menyerah yang ditunjukkan anak asuhnya hingga peluit panjang.

"Itu bukan sundulan yang bagus dari Price dan bola mendarat di orang yang salah, Tonali, yang menendang bola dengan hebat. Begitu Anda tertinggal, itu sulit, tapi saya pikir sikap dan level performa kami tetap luar biasa," tambahnya.

4 dari 4 halaman

Menatap Masa Depan Menuju Euro 2028

Meski gagal melaju ke Amerika Serikat, fondasi tim yang dibangun Michael O'Neill terlihat sangat menjanjikan. Pengalaman bertanding melawan tim raksasa seperti Italia menjadi modal berharga untuk kualifikasi Euro 2028.

Keterbatasan kedalaman skuat memang menjadi kendala utama bagi negara kecil seperti Irlandia Utara. Namun, potensi individu para pemain muda ini diyakini akan terus berkembang di level klub maupun internasional.

"Ada banyak karakter dan energi di tim ini, tapi ada juga beberapa pemain yang sangat bagus. Pemain yang saya rasa akan berkembang dan bermain di level yang lebih tinggi," ungkap O'Neill.

Ia meminta publik untuk bersabar karena membangun skuat yang kompetitif tidak bisa dilakukan secara instan. Hasil di babak play-off ini sudah menjadi pencapaian besar yang patut untuk diapresiasi.

"Sangat sulit untuk melihat sisi positif saat kalah, tapi untuk negara seukuran kami, bermain seperti itu dengan tim muda, ada banyak hal positif. Kami hanya harus bersabar," tutupnya.

LATEST UPDATE