Serba-serbi: Perjuangan Peter Taslim Bagi Indonesia
Editor Bolanet | 20 November 2011 13:10
- Ajang Sea Games tahun ini rupanya menjadi momen yang tidak akan terlupakan bagi pejudo Indonesia kelas 66 kg, Peter Taslim.
Peter berhasil mempersembahkan medali emas untuk Indonesia dan merupakan emas terakhir Peter di usianya yang menginjak 33 tahun.
Ia berkisah bahwa dirinya sudah bertekad untuk mempersembahkan emas di akhir karirnya sebagai pejudo.
Saya minta kepada pelatih agar diberi kesempatan untuk mempersembahkan emas terakhir, ungkap Peter.
Impiannya terwujud. Peter berhasil menundukan pejudo asal Thailand, Amornthep Namwiset pada final kelas putra 66kg SEA Games XXVI di Gedung Judo, Kelapa Gading, Jakarta Utara, Jumat (18/11) dengan skor 11-1.
Gemuruh kegembiraan penonton membahana di arena Gedung Judo. Peter bahkan tak kuasa menahan tangis bahagianya. Ia disambut orang-orang tercintanya yang juga tak kuasa menahan air mata kebahagiaan mereka atas kemenangan Peter yang bermain sangat maksimal. Ibu, istri, dua anaknya, saudara, dan pelatih memeluk Peter satu-persatu.
Kemenangan ini bukan karena saya, tetapi berkat doa ibu, istri, keluarga dan teman-teman. Saya bukan apa-apa tanpa mereka dan pelatih saya hebat, tukas Peter yang juga pernah berlaga di ASEAN Games 2006 itu.
Menurut pelatihnya, Perry Pantouw, Peter dan beberapa pejudo lainnya sempat dikirim ke Jepang selama tiga bulan (Agustus-November) secara khusus untuk persiapan SEA Games.
Tadi Peter bermain sangat bagus, ujar Perry.
Sebelumnya, pada SEA Games 1997, di Jakarta, Peter juga mempersembahkan medali emas untuk Indonesia. Disusul kemudian pada 2001, ia mempertahanakan medali emas saat SEA Games di Filipina.
Namun, keberuntungan belum berpihak pada Peter di SEA Games berikutnya yang berlangsung di Vietnam tahun 2003. Ia hanya mendapat medali perak. Sebelum ia terbang ke Vietnam, ayahnya yang selama ini selalu mendukung karirnya, meninggal dunia.
Dan di Jakarta, dimana Peter pernah membuka kemenangannya atas medali emas SEA Games 14 tahun yang lalu, di sana juga ia menutup karirnya dengan manis melalui persembahan medali emas pada SEA Games XXVI.
Baju Judo Pertama dari Ayah Kelahiran Palembang, 14 Oktober 1978, Peter Taslim berkenalan dengan Judo saat duduk di kelas 5 Sekolah Dasar (SD).
Awalnya karena melihat tetangga bermain judo, saya jadi tertarik, kata Peter yang merupakan anak ketiga dari empat bersaudara itu.
Ayahnya, yang memang menginginkan Peter menjadi seorang atlet, langsung membelikannya baju Judo.
Sejak saat itu, ia mulai serius bermain judo dan ikut kejuaraan-kejuaraan di daerahnya, palembang. Peter mengisahkan bahwa ayahnya sangat berperan selama karirnya sebagai pejudo dan tak pernah berhenti memberi dukungan padanya.
Kemudian, saat ia duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP) kelas 1, Peter masuk ke Pelatnas Judo di Ciloto, Puncak, Jawa Barat.
Setelah Peter memutuskan SEA Games XXVI sebagai penampilan terakhirnya, ia berencana akan turut membantu junior-juniornya.
Saya mau jadi pelatih jika diberi kepercayaan, kata ayah dari Dico Taslim dan Mico Taslim itu.
Kegembiraan terpancar dari wajahnya. Peter menutup karirnya dengan medali emas yang ia persembahkan untuk Indonesia.
Indonesiaaaa...., teriak Peter yang lalu mencium lambang Garuda di bajunya. (ant/rev)
Peter berhasil mempersembahkan medali emas untuk Indonesia dan merupakan emas terakhir Peter di usianya yang menginjak 33 tahun.
Ia berkisah bahwa dirinya sudah bertekad untuk mempersembahkan emas di akhir karirnya sebagai pejudo.
Saya minta kepada pelatih agar diberi kesempatan untuk mempersembahkan emas terakhir, ungkap Peter.
Impiannya terwujud. Peter berhasil menundukan pejudo asal Thailand, Amornthep Namwiset pada final kelas putra 66kg SEA Games XXVI di Gedung Judo, Kelapa Gading, Jakarta Utara, Jumat (18/11) dengan skor 11-1.
Gemuruh kegembiraan penonton membahana di arena Gedung Judo. Peter bahkan tak kuasa menahan tangis bahagianya. Ia disambut orang-orang tercintanya yang juga tak kuasa menahan air mata kebahagiaan mereka atas kemenangan Peter yang bermain sangat maksimal. Ibu, istri, dua anaknya, saudara, dan pelatih memeluk Peter satu-persatu.
Kemenangan ini bukan karena saya, tetapi berkat doa ibu, istri, keluarga dan teman-teman. Saya bukan apa-apa tanpa mereka dan pelatih saya hebat, tukas Peter yang juga pernah berlaga di ASEAN Games 2006 itu.
Menurut pelatihnya, Perry Pantouw, Peter dan beberapa pejudo lainnya sempat dikirim ke Jepang selama tiga bulan (Agustus-November) secara khusus untuk persiapan SEA Games.
Tadi Peter bermain sangat bagus, ujar Perry.
Sebelumnya, pada SEA Games 1997, di Jakarta, Peter juga mempersembahkan medali emas untuk Indonesia. Disusul kemudian pada 2001, ia mempertahanakan medali emas saat SEA Games di Filipina.
Namun, keberuntungan belum berpihak pada Peter di SEA Games berikutnya yang berlangsung di Vietnam tahun 2003. Ia hanya mendapat medali perak. Sebelum ia terbang ke Vietnam, ayahnya yang selama ini selalu mendukung karirnya, meninggal dunia.
Dan di Jakarta, dimana Peter pernah membuka kemenangannya atas medali emas SEA Games 14 tahun yang lalu, di sana juga ia menutup karirnya dengan manis melalui persembahan medali emas pada SEA Games XXVI.
Baju Judo Pertama dari Ayah Kelahiran Palembang, 14 Oktober 1978, Peter Taslim berkenalan dengan Judo saat duduk di kelas 5 Sekolah Dasar (SD).
Awalnya karena melihat tetangga bermain judo, saya jadi tertarik, kata Peter yang merupakan anak ketiga dari empat bersaudara itu.
Ayahnya, yang memang menginginkan Peter menjadi seorang atlet, langsung membelikannya baju Judo.
Sejak saat itu, ia mulai serius bermain judo dan ikut kejuaraan-kejuaraan di daerahnya, palembang. Peter mengisahkan bahwa ayahnya sangat berperan selama karirnya sebagai pejudo dan tak pernah berhenti memberi dukungan padanya.
Kemudian, saat ia duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP) kelas 1, Peter masuk ke Pelatnas Judo di Ciloto, Puncak, Jawa Barat.
Setelah Peter memutuskan SEA Games XXVI sebagai penampilan terakhirnya, ia berencana akan turut membantu junior-juniornya.
Saya mau jadi pelatih jika diberi kepercayaan, kata ayah dari Dico Taslim dan Mico Taslim itu.
Kegembiraan terpancar dari wajahnya. Peter menutup karirnya dengan medali emas yang ia persembahkan untuk Indonesia.
Indonesiaaaa...., teriak Peter yang lalu mencium lambang Garuda di bajunya. (ant/rev)
TAG TERKAIT
BERITA TERKAIT
LATEST UPDATE
-
Beckham Putra Ingin Berselebrasi di Stadion Gelora Bung Karno
Bola Indonesia 11 September 2026, 23:51
-
Barcelona Belum Siapkan Laga Penghormatan untuk Lionel Messi, Hubungan Masih Retak
Liga Spanyol 11 September 2026, 23:11
-
Baru Pekan ke-2, Bek Asing Bali United Cedera Parah dan Absen Hingga Akhir Musim
Bola Indonesia 11 September 2026, 22:36
-
Janji Shin Tae-yong: Persija Dapat 3 Poin Lawan Persib
Bola Indonesia 11 September 2026, 21:50
-
Hasil BRI Super League: Duel Dewa United vs Bhayangkara Berakhir Imbang 2-2
Bola Indonesia 11 September 2026, 21:14
-
Prediksi Madrid vs Rayo 13 September 2026
Liga Spanyol 11 September 2026, 21:10
-
Menpora Erick Thohir Minta Olahraga Dianggap Sebagai Investasi, Bukan Beban Biaya
Bola Indonesia 11 September 2026, 20:30
-
Prediksi Sunderland vs Arsenal 13 September 2026
Liga Inggris 11 September 2026, 20:09
-
Balsa Sekulic Tertantang Bobol Gawang Persija Lagi
Bola Indonesia 11 September 2026, 20:02
-
Teja Paku Alam Siap Tampil di Laga Persija vs Persib
Bola Indonesia 11 September 2026, 19:36
-
Prediksi BRI Super League: Bali United vs Isenmulang FC 12 September 2026
Bola Indonesia 11 September 2026, 19:20
-
Prediksi BRI Super League: Persijap vs Borneo FC 12 September 2026
Bola Indonesia 11 September 2026, 19:16
-
Prediksi Lazio vs Milan 12 September 2026
Liga Italia 11 September 2026, 19:07
LATEST EDITORIAL
-
Bukan Cuma Ronaldo, 3 Pemain Ini Juga Pernah Membela Real Madrid dan Inter Milan
Editorial 8 September 2026, 20:58
-
Robert Sanchez Blunder Lagi, 5 Kiper Ini Bisa Jadi Solusi Chelsea
Editorial 27 Agustus 2026, 14:00
-
5 Pemain Manchester United yang Pernah Memakai Nomor 20 Sebelum Carlos Baleba
Editorial 26 Agustus 2026, 12:06
-
4 Klub yang Bisa Jadi Pelabuhan Nicolas Jackson, Aston Villa Paling Berpeluang?
Editorial 25 Agustus 2026, 11:33


