Tenis Meja: Masih Banyak Pekerjaan Rumah Untuk Indonesia

Editor Bolanet | 19 November 2011 10:43
Tenis Meja: Masih Banyak Pekerjaan Rumah Untuk Indonesia
Feng Tian Wei peringkat empat dunia tenis meja. (c) AFP
- Dalam tiga SEA Games terakhir, yang digelar di Thailand, Laos, dan di Indonesia, prestasi yang ditorehkan para petenis meja Indonesia sebatas medali perunggu, padahal dalam pesta olahraga serupa akhir 1980-an, Indonesia pernah menyapu bersih tujuh medali emas.

Keadaaan itu telah membuka mata pengurus PB PTMSI bahwa untuk berprestasi dibutuhkan persiapan panjang, program latihan tepat, atlet yang bermental juara serta ujicoba atau ikut kompetisi di level Internasional.

Keberhasilan Singapura menyapu lima medali emas dan bahkan menempatkan empat partai dalam bentuk All Singapore Final merupakan bukti bahwa pembinaan tenis meja di negara itu telah dilakukan dengan benar.

Adalah hal yang menggembirakan yaitu terbukanya mata seluruh pemangku kebijakan untuk memformulasikan pola pembinaan tenis meja usai pelaksanaan SEA Games, kata Ketua Umum PB PTMSI Tahir.

Untuk SEA Games XXVI di Jakarta, petenis meja putri Indonesia hanya mengikuti latihan di China selama lima bulan sementara di bagian putra latihan yang dijalani di China hanya selama satu bulan.

Waktu lima bulan itu dinilai terlalu singkat mengingkat dalam tenis meja persaingan sangat ketat sekali dan banyak atlet dari negara ASEAN secara rutin mengikuti kompetisi di berbagai negara sehingga teknik permainan mereka jadi makin matang.

Saya tidak melihat pencapaian Indonesia dengan tiga perunggu atau meningkat dibanding dengan hanya satu perunggu. Hasil itu tidak pantas dirayakan tapi ada hal manis yang bisa dipetik yaitu pola pembinaan, ujar pemilik Bank Mayapada itu.

Manajer tim tenis meja Indonesia Dedi Kurniawan Wikanta menyatakan evaluasi terhadap prestasi atlet Indonesia akan dilakukan untuk melihat hasil latihan selama beberapa bulan di China sekaligus mengkaji kekuatan dan kelemahan atlet termasuk kemampuan petenis meja negara lain.

Ia menyatakan kemampuan petenis meja Indonesia tidak terlalu berbeda jauh dengan Singapura hanya saja mereka terlihat lebih matang dan tenang ketika permainan sedang berlangsung. Hal itu yang banyak membantu mereka mendapatkan poin demi poin.

Agus Fredi Pramono petenis meja muda usia yang baru pertama kali tampil di SEA Games mampu memaksa peraih medali emas tunggal putera Gao Ning bermain lima set. Bahkan di set terakhir Fredi yang sudah unggul 9-6 gagal menyudahi permainan untuk kemenangannya.

Kalau dibina dengan program TC yang panjang ditambah mengikuti turnamen internasional jelas kemampuan teknis mereka akan meningkat dan mampu mengungguli negara lain terutama Singapura.

Sulit ditandingi

Pertandingan cabang tenis meja SEA Games 2011 di GOR Soemantri Brojonegoro Jakarta telah berakhir dengan mengukuhkan hegemoni kekuatan Singapura yang masih sulit ditandingi oleh atlet-atlet negara Asia Tenggara lainnya, termasuk Indonesia.

Tim tenis meja Singapura diperkuat atlet-atlet dengan peringkat dunia yang jauh di atas rata-rata petenis meja negara peserta lainnya, seperti Feng Tian Wei peringkat empat dunia, Gao Ning (18), Sun Bei Bei (22), dan Yang Zi (45).

Sementara petenis terbaik Indonesia Ficky Supit Santoso baru berperingkat 347 dunia, sehingga kesulitan mengimbangi permainan mereka.

Kekuatan Singapura ada pada pemain naturalisasinya, baik di putra maupun putri. Kalau pemain yang betul-betul dibina di Singapura, atlet kita masih lebih baik, kata Dedi Kurniawan Wikanta.

Salah satu petenis meja andalan Indonesia Ficky Supit yang juga pernah menimba ilmu di China, mengakui kehebatan atlet lawannya dari Singapura itu.

Atlet yang besar di PTM Surya Kediri, Jawa Timur, itu, mengakui bahwa petenis meja Singapura memiliki kelebihan dalam banyak variasi permainan, mulai dari servis, penempatan bola, spin, reli, stroke, pengembalian servis, serta strategi.

Kompetisi ketika mereka masih di China sangat ketat dengan begitu banyaknya petenis meja yang berkemampuan dunia. Atmosfer seperti itu menjadikan seseorang bila ingin jadi petenis meja top harus berlatih teramat keras dan disiplin, ujarnya.

Sebelum mencapai All Singapore Finals di tunggal putri, petenis meja Indonesia Christine Ferliana mampu memberikan perlawanan, kendati akhirnya harus kalah 1-4 dari Feng Tian Wei.

Secercah harapan sempat diperlihatkan oleh Christine petenis meja asal Surya Kediri itu ketika merebut set pertama dengan skor 11-6.

Christine yang bermain agresif serta didukung penonton yang memenuhi GOR Soemantri Brojonegoro berhasil menekan lawannya dengan variasi pukulan.

Di set kedua, Feng yang mulai bisa mengatasi ketegangan dan memperlihatkan kualitasnya dengan berkali kali memenangi permainan saling serang, baik kiri dan kanan lawan untuk meraih poin.

Ia juga memiliki spin keras dengan penempatan bola terarah serta kemampuan dalam mengembalikan serangan Christine, baik spin maupun smes dengan backhand dan forehand. Feng akhirnya merebut empat set terakhir dengan 11-4, 11-9, 11-8 dan 11-4.

Pada nomor tunggal putra, petenis meja masa depan Indonesia Ficky Supit dijegal oleh Yang Zi di semifinal, meski ia telah bermain habis-habisan serta didukung 500-an penonton.

Ficky menyerah dengan skor 2-4 dari Yang Zi (9-11, 5-11, 13-11, 3-11, 12-10 dan 3-11). Ia berkali-kali mampu melakukan serangan mematikan baik menggunakan spin kiri maupun kanan yang sama baiknya.

Putra dari mantan petenis meja nasional Sinyo Supit itu, juga memiliki servis yang baik dan sering kali mampu meraih poin dari serangan atas pengembalian bola lawan.

Kekalahan Ficky banyak diakibatkan ketidakmampuannya meladeni adu spin dari Yang Zi yang bertubuh tinggi besar dan lebih bertenaga serta lincah.

Pelatih Tenis Meja Indonesia Abdul Rojak menyatakan bahwa Ficky Supit telah mengeluarkan permainan terbaiknya dan lawan yang peringkat dunianya jauh di atasnya juga mampu diladeni.

Pertandingan berjalan menarik dengan seringnya terjadi adu pukulan. Kalau saja Ficky tidak tertekan dari awal, tentunya hasil akhir akan berbeda, ujarnya.

Pertandingan yang disaksikan langsung Ketua Umum PB PTMSI Tahir itu, mampu menghibur penonton dengan aksi memukau dari kedua atlet hingga tidak jarang terdengar tepukan panjang sebagai bentuk kekaguman.

Melihat hasil SEA Games XXVI Jakarta, sebenarnya petenis meja Indonesia memiliki prospek besar dan mematahkan dominasi Singapura.

Tahir mencontohkan Agus Fredi, Ficky Supit merupakan atlet-atlet yang berusia muda dan memiliki waktu cukup panjang untuk terus meningkatkan kualitas permainannya. Bahkan petenis meja puteri Stella Palit baru berusia lima belas tahun sementara pemain Singapura rata-rata di atas 25 tahun.

Ketua Umum PB PTMSI yang rajin menyaksikan anak asuhannya bermandi keringat di lapangan telah mendapatkan gambaran untuk meningkatkan prestasi atlet Indonesia.

Untuk SEA Games Myanmar 2013 atlet sudah dipersiapkan untuk berlatih kembali di luar negeri dan negara yang dipilih adalah China, sedangkan untuk prasarana di Indonesia kini akan dibangun GOR Tenis Meja internasional memuat 20 buah meja pada lahan 6.500 meter di Cikupa Tangerang, ujar Tahir.

Rakyat Indonesia kini menunggu terulangnya masa keemasan saat tahun 1980-an saat Indonesia sukses menyapu bersih emas saat diperkuat Rossy Syehbubakar, Ling Ling Agustine, Muhammad Arkam, Tjan Lie Yung.  (ant/jef)

TAG TERKAIT

BERITA TERKAIT

LATEST UPDATE