Bola Mati Bisa Jadi Mimpi Buruk Barcelona di El Clasico

Asad Arifin | 22 Oktober 2026 21:52
Bola Mati Bisa Jadi Mimpi Buruk Barcelona di El Clasico
Starting XI Barcelona saat menghadapi Sevilla di jornada 7 La Liga 2026/2027 (c) AP Photo/Jose Breton

Bola.net - Barcelona menyambut El Clasico kontra Real Madrid di Camp Nou dengan keunggulan enam poin di klasemen. Kemenangan pada Senin (26/10) dini hari WIB akan memperlebar jarak menjadi sembilan poin, tetapi ada satu kelemahan yang harus segera dibenahi Hansi Flick.

Situasi bola mati atau set piece menjadi pekerjaan rumah bagi Barcelona menjelang duel krusial tersebut. Sejumlah pertandingan terakhir memperlihatkan rapuhnya pertahanan Blaugrana ketika menghadapi bola udara, terutama dalam situasi sepak pojok.

Advertisement

Menurut laporan SPORT, kekalahan 2-4 dari Paris Saint-Germain (PSG) kembali menyoroti masalah tersebut. Kelemahan serupa juga terlihat saat Barcelona menghadapi Real Betis dan Galatasaray, sehingga menjadi perhatian serius sebelum bertemu rival abadi mereka.

Real Madrid berpotensi memanfaatkan celah itu melalui pemain-pemain yang unggul secara fisik dan kuat dalam duel udara. Antonio Rudiger dan Dean Huijsen termasuk sosok yang bisa menyulitkan lini belakang Barcelona jika organisasi pertahanan mereka kembali goyah.

1 dari 3 halaman

Pertahanan Barcelona Kembali Disorot akibat Situasi Bola Mati

Pertahanan Barcelona Kembali Disorot akibat Situasi Bola Mati

Pemain Barcelona, Lamine Yamal (tengah), tampak kecewa pada akhir pertandingan Liga Champions melawan PSG, Rabu (21/10/2026). (c) AP Photo/Teresa Suarez

Barcelona memiliki tinggi badan rata-rata skuad sekitar 1,82 meter, dengan sejumlah pemain bertubuh jangkung di dalam tim. Namun, beberapa pemain yang mengandalkan kemampuan teknis, seperti Fermin Lopez, Gavi, dan Xavi Espart, memiliki keterbatasan ketika harus berduel di udara.

Masalah itu terlihat ketika Barcelona menghadapi Real Betis. Valentin Gomez berhasil mencetak gol penyeimbang setelah memenangi duel udara melawan Espart di kotak penalti, memanfaatkan sepak pojok yang gagal diantisipasi dengan baik.

Kelemahan serupa kembali muncul saat Barcelona berhadapan dengan PSG. Lucas Hernandez berhasil lepas dari pengawalan dan mencetak gol melalui sundulan, memperlihatkan masalah koordinasi pertahanan dalam mengawal pemain lawan.

Barcelona juga sempat mendapat peringatan ketika melawan Galatasaray. Victor Osimhen memenangi duel udara melawan Pau Cubarsi dalam situasi sepak pojok, meski gol tersebut dianulir karena offside.

2 dari 3 halaman

Rudiger dan Huijsen Bisa Jadi Ancaman Real Madrid

Rudiger dan Huijsen Bisa Jadi Ancaman Real Madrid

Pemain Real Madrid Dean Huijsen (kanan) melakukan pelanggaran terhadap pemain Atletico Madrid Giuliano Simeone dalam pertandingan La Liga, Minggu (20/9/2026). (c) AP Photo/Bernat Armangue

Real Madrid memiliki sejumlah pemain yang bisa memanfaatkan kelemahan Barcelona dalam duel udara. Rudiger dan Huijsen, yang memiliki tinggi badan di atas 1,90 meter, berpotensi memberikan ancaman besar melalui sepak pojok maupun tendangan bebas.

Kedua bek tersebut dikenal bisa menjadi sasaran umpan silang dalam situasi bola mati. Karena itu, Barcelona perlu memastikan pengawalan berjalan disiplin dan tidak memberi ruang bagi pemain Madrid untuk menyambut bola dengan leluasa.

Selama ini, Barcelona mengandalkan kualitas teknis, pergerakan dinamis, dan penguasaan bola untuk mengontrol pertandingan. Namun, keunggulan tersebut tidak akan cukup jika mereka terus kehilangan konsentrasi saat menghadapi bola mati lawan.

Flick perlu membenahi organisasi pertahanan dan meningkatkan efektivitas penjagaan di kotak penalti sebelum El Clasico dimulai.

LATEST UPDATE