Irfan Bachdim: Nasionalisme, Timnas Indonesia, dan Widodo C Putro
Gia Yuda Pradana | 21 Juli 2020 09:00
Bola.net - Nama Irfan Bachdim mencuat ketika tampil memperkuat Timnas Indonesia di Piala AFF 2010. Meski kembali gagal meraih trofi juara di ajang bergengsi di Asia Tenggara ini, dia mendapat apresiasi tersendiri.
Dari tujuh partai yang dimainkan, Indonesia menang pada enam partai dan sekali kalah. Sementara itu, Malaysia yang tampil sebagai juara, mencatat 3 kemenangan, 2 imbang dan 2 kali kalah.
Pada ajang itu, Irfan dikenang dengan selebrasinya usai mencetak gol. Satu di antaranya dengan berjoget ala tarian pernikahan di Turki.
"Saya punya seorang teman di Belanda. Dia mendukung dan mendoakan saya tampil baik bersama timnas. Ia pun meminta melakukan selebrasi dengan cara itu kalau memcetak gol," ungkap Irfan pada channel YouTube Hanif dan Rendy Show.
Kenangan di Piala AFF 2010 membuat Irfan tanpa sungkan mengakui tampil di ajang itu adalah momen paling berkesan buatnya. Apalagi pada laga perdana di penyisihan Grup A, ia mencetak satu dari lima gol kemenangan Indonesia atas Malaysia.
"Sulit untuk diungkapkan dengan kata-kata. Sejak kecil, saat masih bersekolah di Belanda, saya memang punya impian bermain bersama Timnas Indonesia," ujar Irfan.
Irfan bercerita saat menempuh pendidikan dasar di Belanda. Tas punggung yang ia pakai ke sekolah bergambar Garuda dan tulisan Indonesia.
"Saya juga kerap diledek sama teman-teman di sekolah. Di Belanda rasisme sangat kuat. Tapi, saya tidak peduli," kenang Irfan.
Begitu pun ketika ia mulai menggeluti sepak bola dengan memasuki akademi.
"Kala latihan, kalau tampil baik dan mencetak gol, saya tidak pernah mendapat apresiasi dari teman setim. Begitu pun ketika bermain di Liga Belanda," ungkap Irfan Bachdim.
Ikatan Emosional dengan Indonesia

Menurut Irfan Bachdim, selama bermain di Liga Belanda, ia tetap merasa sebagai orang Indonesia.
"Saya juga bisa mengukur kemampuan diri. Jadi tak pernah sekalipun saya berpikir bermain untuk timnas Belanda baik di level Junior," tegas Irfan.
Ikatan emosional Irfan dengan Indonesia sangat kuat meski lahir di Amsterdam. Apalagi, Noval Bachdim, sang ayah, menanamkan cerita dan budaya Indonesia sejak Irfan masih kanak-kanak. Termasuk berkunjung ke Indonesia saat liburan.
Itulah mengapa Irfan sangat antusias ketika mendapat kesempatan berlatih bersama timnas U-23 yang sedang berlatih di Belanda.
"Saat itu, usia saya masih 16 tahun," ungkap Irfan.
Pengalaman berlatih bersama timnas U-23 membuat Irfan bulat memilih paspor Indonesia saat usianya 18. "Dulu kan saat masih anak-anak, masih boleh memegang dua paspor," tutur Irfan yang berkostum PSS Sleman di Liga 1 2020 ini.
Memuji Widodo C Putro

Selama berkarier sebagai pemain, Irfan Bachdim tercatat dua kali membawa klubnya mencetak prestasi. Pertama, ketika ia mengantar Consadole Sapporo meraih trofi juara Liga 2 Jepang pada 2016.
Di klub Jepang ini, Irfan mengaku mendapatkan segalanya sebagai pemain profesional. Selain kontrak yang lumayan besar, fasiitas yang diterimanya juga baik.
"Malah lebih baik dibandingkan saya bermain di Liga Belanda," ungkap Irfan.
Sepulang dari Sapporo, Irfan memperkuat Bali United pada Liga 1 2017. Pada musim itu, Bali United nyaris menjadi juara. Mereka hanya kalah head to head dengan sang peraih trofi juara, Bhayangkara FC yang sama-sama mengoleksi poin 68.
Irfan mengungkapkan, musim itu kemampuannya tergali optimal bersama Widodo C Putro yang menangani Bali United.
"Stategi dan visi coach Widodo. Ini yang membuat saya tampil lepas bersama Bali United."
Kenangan baik bersama Widodo jadi alasan Irfan lebih memilih sang mentor dibandingkan Stefano Cugurra Teco. Meski bersama Teco, Bali United meraih trofi juara untuk kali pertama pada Liga 1 2019.
"Visi Teco jauh berbeda dengan Widodo. Jadi, meski tampil baik saat dimainkan, menit bermain saya di era Teco sangat berkurang. Tapi, itu selera pelatih," pungkasnya.
Disadur dari: Bola.com/Abdi Satria/Wiwig Prayugi
Published: 21 Juli 2020
Baca juga artikel-artikel lainnya:
Cerita Mukhlis Nakata, Kapten Persiraja yang Juga Pegawai Bank
Gelandang Persebaya Memaklumi Pemotongan Gaji 50 Persen
Pelatih Persebaya Apresiasi Gerakan Bonek Wani Lawan Covid-19
Shopee Liga 1 2020 Mandek Empat Bulan, Ricky Fajrin Ungkap Perasaannya
Liga 1 2020 Tanpa Degradasi, Penyerang Arema FC Tak Ambil Pusing
TAG TERKAIT
BERITA TERKAIT
-
Borussia Monchengladbach Ungkap Penyebab Hilangnya Kevin Diks pada 2 Laga Beruntun
Tim Nasional 28 Oktober 2026, 19:42
-
3 Hal yang Bisa Ditawarkan Taisei Marukawa untuk Timnas Indonesia
Bola Indonesia 28 Oktober 2026, 19:14
-
Hasil BRI Super League: Kartu Merah Warnai Kemenangan Borneo FC atas PSS
Bola Indonesia 27 Oktober 2026, 17:30
LATEST UPDATE
-
Pemain Juventus Muak, Luciano Spalletti Dianggap Terlalu Banyak Bicara!
Liga Italia 30 Oktober 2026, 22:58
-
Dominic Calvert-Lewin Diincar MU, Leeds: Maaf, Gak Dulu!
Liga Inggris 30 Oktober 2026, 22:57
-
Hitung Mundur Menuju 1000 Gol Cristiano Ronaldo, Kurang Berapa?
Piala Dunia 30 Oktober 2026, 22:20
-
Youri Tielemans Lega Michael Carrick Selamat dari Pemecatan di MU
Liga Inggris 30 Oktober 2026, 22:07
-
Tidak Takut, Michael Carrick Justru Tidak Sabar MU Hadapi Chelsea
Liga Inggris 30 Oktober 2026, 21:46
-
Prediksi BRI Super League: PSM vs Madura United 31 Oktober 2026
Bola Indonesia 30 Oktober 2026, 20:10
-
Prediksi BRI Super League: Persik vs Persita 31 Oktober 2026
Bola Indonesia 30 Oktober 2026, 20:05
LATEST EDITORIAL
-
4 Pemain Inggris yang Meraih Ballon d'Or sebelum Harry Kane
Editorial 27 Oktober 2026, 13:52
-
Kursi Panas Pelatih Premier League: 4 Manajer yang Berisiko Dipecat Lebih Dulu
Editorial 26 Oktober 2026, 23:49
-
7 Pelatih Gratis yang Bisa Gantikan Michael Carrick di Manchester United
Editorial 26 Oktober 2026, 16:03
-
5 Pemain Argentina yang Bisa Mewarisi Nomor 10 Lionel Messi
Editorial 8 Oktober 2026, 11:18




