Dari Cemooh ke Pesta Gol: Malam Kebangkitan Real Madrid di Liga Champions

Dari Cemooh ke Pesta Gol: Malam Kebangkitan Real Madrid di Liga Champions
Kylian Mbappe merayakan gol kedua timnya bersama Vinicius Junior dalam laga Liga Champions antara Real Madrid vs AS Monaco di Santiago Bernabeu, 21 Januari 2026 (c) AP Photo/Jose Breton

Bola.net - Tiga hari bisa mengubah segalanya di Santiago Bernabeu. Dari atmosfer penuh siulan cemooh saat menang tipis atas Levante, Real Madrid tiba-tiba tampil meledak-ledak di Liga Champions.

Kemenangan telak 6-1 atas Monaco bukan sekadar soal skor. Laga ini menjadi panggung pembalikan emosi publik Bernabeu, respons keras para pemain, dan napas lega bagi pelatih anyar Alvaro Arbeloa.

Vinicius Junior dan Kylian Mbappe berdiri di garis depan kebangkitan itu, masing-masing dengan cerita dan pesan yang kuat di balik performa gemilang mereka.

Agar kamu tidak ketinggalan informasi terbaru seputar Liga Champions, kamu bisa join di Channel WA Bola.net dengan KLIK DI SINI.

1 dari 4 halaman

Malam yang Sangat Dibutuhkan Arbeloa

Malam yang Sangat Dibutuhkan Arbeloa

Selebrasi Kylian Mbappe dkk. dalam laga Real Madrid vs Monaco di Liga Champions, Rabu (21/1/2026). (c) AP Photo/Jose Breton

Kemenangan ini datang pada waktu yang krusial bagi Real Madrid. Beberapa pekan terakhir berjalan penuh gejolak, mulai dari kekalahan di final Supercopa de Espana melawan Barcelona, tersingkir dini di Copa del Rey oleh Albacete, hingga pemecatan Xabi Alonso.

Situasi itu memuncak akhir pekan lalu, ketika siulan mengiringi para pemain, pelatih, dan presiden Florentino Perez di Bernabeu. Arbeloa, yang menjalani laga Liga Champions pertamanya sebagai pelatih kepala, ikut merasakan tekanan tersebut.

Respons timnya melawan Monaco menjadi jawaban paling nyata. Intensitas tinggi sejak menit awal, gol cepat, serta sikap agresif membuat stadion perlahan berpihak kembali kepada tuan rumah. Monaco yang rapuh di lini belakang memberi ruang bagi Madrid untuk membangun kepercayaan diri.

Tiga poin ini menjaga posisi Madrid tetap aman dalam persaingan delapan besar fase liga. Namun, untuk memastikan tiket otomatis ke babak 16 besar, mereka masih membutuhkan setidaknya satu poin di laga terakhir melawan Benfica, yang kini dilatih Jose Mourinho.

2 dari 4 halaman

Vinicius Junior Menjawab Semua Keraguan

Vinicius Junior Menjawab Semua Keraguan

Selebrasi Vinicius Junior dalam laga Real Madrid vs Monaco di Liga Champions, Rabu (21/1/2026). (c) AP Photo/Jose Breton

Vinicius Junior selalu memecah opini publik Bernabeu. Sorak dan cemooh bercampur, bahkan dalam satu pertandingan yang sama. Namun, satu hal tak pernah berubah: hasratnya untuk menentukan permainan.

Penyerang Brasil itu tampil eksplosif sejak awal. Umpan matang dengan sisi luar kaki kirinya membuka gol pertama Mbappe, sekaligus menandai kontribusi awal dari tiga assist yang ia catatkan. Vinicius terus menjadi ancaman, baik lewat dribel langsung maupun keputusan tanpa ego.

Assist lain ia berikan kepada Franco Mastantuono di babak kedua, sebelum akhirnya melengkapi malamnya sendiri. Setelah melewati beberapa bek dengan tenang, Vinicius memilih menuntaskan sendiri peluang itu dengan tembakan keras ke atap gawang.

Usai laga, ia berbicara jujur tentang tekanan yang ia rasakan. Kata Vinicius kepada Movistar, beberapa hari terakhir terasa sangat sulit, bukan hanya bagi dirinya tetapi juga seluruh tim.

Ia menegaskan ingin dinilai dari apa yang ia lakukan di lapangan, bukan dari hal-hal di luar sepak bola, seraya mengakui tekanan di Madrid selalu sangat tinggi.

3 dari 4 halaman

Mbappe dan Bayang-Bayang Rekor Cristiano Ronaldo

Mbappe dan Bayang-Bayang Rekor Cristiano Ronaldo

Selebrasi Kylian Mbappe usai laga Real Madrid vs Monaco di Liga Champions, Rabu (21/1/2026). (c) AP Photo/Jose Breton

Laga ini memiliki makna emosional bagi Kylian Mbappe. Monaco adalah klub tempat ia memulai karier profesionalnya, sebelum berkembang menjadi salah satu penyerang paling mematikan di dunia.

Mbappe membuka skor dalam lima menit pertama, memanfaatkan pergerakan cerdas untuk lepas dari kawalan Eric Dier. Ia mencetak gol dengan tenang, lalu mengangkat tangan ke arah suporter Monaco, seolah meminta maaf.

Gol keduanya datang dari skema serangan balik sempurna. Vinicius Jr mengirim umpan tanpa pamrih, dan Mbappe menyelesaikannya dari jarak dekat. VAR sempat memeriksa posisi, tetapi gol dinyatakan sah.

Tambahan dua gol itu membuat Mbappe kini mengoleksi 11 gol di fase liga Liga Champions, menyamai rekor Cristiano Ronaldo pada musim 2015/2016. Dengan satu laga tersisa, peluang memecahkan rekor terbuka lebar.

Ronaldo sendiri memegang rekor gol terbanyak dalam satu musim Liga Champions dengan 17 gol pada 2013-14. Mbappe masih harus melangkah jauh, tetapi jika Madrid mampu melaju dalam kompetisi ini, peluang mengejar rekor idolanya itu semakin nyata.

4 dari 4 halaman

Mastantuono Memberi Warna Baru di Lini Depan

Di balik sorotan Vinicius dan Mbappe, performa Franco Mastantuono patut mendapat perhatian khusus. Pemain berusia 18 tahun itu menjalani starter pertamanya di Liga Champions di luar Copa del Rey sejak awal November, dan langsung memanfaatkannya.

Mastantuono memberi keseimbangan berbeda di sisi kanan. Ia lebih natural bergerak ke tengah, membuka ruang tembak atau umpan dengan kaki kirinya. Kombinasinya dengan Federico Valverde membuat serangan Madrid lebih variatif dan sulit ditebak.

Sebelum mencetak gol, Mastantuono sudah berperan dalam proses gol pembuka lewat pergerakan dan umpan cerdas. Gol pertamanya di Liga Champions datang dengan cara meyakinkan, menyelinap ke tiang jauh dan menuntaskan peluang dengan kaki kanan.

Penampilannya memberi Arbeloa alternatif nyata di lini depan, sekaligus sinyal bahwa Madrid tak lagi bergantung pada pola serangan yang timpang.