
Bola.net - Arsenal harus mengubur mimpi meraih gelar Liga Champions setelah kalah 3-4 dalam adu penalti melawan PSG pada final yang berlangsung di Budapest. Setelah bermain imbang 1-1 selama 120 menit, The Gunners gagal di babak adu penalti.
Ironisnya, jalannya pertandingan sebenarnya banyak berjalan sesuai rencana Mikel Arteta. Arsenal berhasil membatasi ancaman PSG dan memaksa laga berlangsung ketat, tetapi kembali mengalami masalah yang sepanjang musim menghantui mereka: kurang tajam dalam menyerang.
Meski PSG datang sebagai favorit, Arsenal mampu membawa pertandingan ke area yang mereka inginkan. Namun pada akhirnya, minimnya ancaman di sepertiga akhir lapangan membuat mereka gagal mengubah performa disiplin menjadi trofi.
Agar kamu tidak ketinggalan informasi terbaru seputar Liga Champions, kamu bisa join di Channel WA Bola.net dengan KLIK DI SINI.
Rencana Arteta Berjalan Sesuai Skenario

Sebelum laga dimulai, banyak yang memperkirakan PSG akan mendominasi penguasaan bola. Tim asuhan Luis Enrique memang memiliki lini tengah yang lebih kuat dalam mengontrol permainan serta lini depan yang penuh kreativitas dan kemampuan menggiring bola.
Karena itu, Arsenal memilih pendekatan yang lebih pragmatis. Arteta ingin laga berlangsung ketat dan tidak terbuka karena pertukaran serangan akan lebih menguntungkan PSG.
Strategi tersebut bahkan mendapat keuntungan ketika Kai Havertz mencetak gol cepat. Penyerang asal Jerman itu memanfaatkan situasi yang menguntungkan setelah dua bek tengah PSG keluar dari posisinya, sebelum berlari bebas dan menuntaskan peluang menjadi gol pembuka.
Keputusan memainkan Havertz sebagai starter di depan Viktor Gyokeres sebenarnya tidak terlalu mengejutkan. Dalam pertandingan besar, Arteta hampir selalu mempercayai Havertz ketika sang pemain berada dalam kondisi fit.
Pilihan yang lebih menarik justru datang di lini tengah. Declan Rice dimainkan di sisi kanan duet gelandang Arsenal, kemungkinan untuk membantu Cristhian Mosquera menghadapi ancaman dari sektor kiri PSG sekaligus mengimbangi kekuatan fisik Fabian Ruiz.
Arsenal Berani Menekan Sebelum PSG Menguasai Laga

Gol cepat sempat memunculkan kekhawatiran bahwa Arsenal mencetak gol terlalu dini. Namun hingga turun minum, pertandingan tidak berubah menjadi serangan melawan pertahanan.
Ketika PSG mencoba membangun serangan dari belakang, Arsenal tetap berani menekan tinggi. Empat pemain depan mereka terus melakukan pressing sehingga PSG kesulitan membawa bola keluar dari area pertahanannya sendiri.
Beberapa peluang menjanjikan lahir dari pendekatan tersebut. Dalam satu momen, Mosquera bahkan mengikuti pergerakan Ruiz hingga ke tengah lapangan sebelum merebut bola dan memulai serangan Arsenal.
Situasi itu membuat PSG menghabiskan lebih banyak waktu daripada yang diperkirakan untuk mengalirkan bola ke area pertahanan Arsenal. Namun keseimbangan tersebut mulai berubah setelah jeda pertandingan.
Arsenal perlahan mundur lebih dalam. PSG pun semakin sering memainkan bola di area pertahanan lawan sambil memutar posisi para penyerangnya untuk mencari celah.
Penalti Dembele Mengubah Arah Pertandingan

Meski PSG mendominasi wilayah permainan pada babak kedua, mereka tetap kesulitan menciptakan peluang benar-benar bersih.
Meski begitu, kartu kuning yang diterima Mosquera dan Bukayo Saka di sisi kanan Arsenal memberi petunjuk area mana yang akan terus diserang PSG. Tim asal Prancis itu kemudian memanfaatkan situasi tersebut.
Khvicha Kvaratskhelia berhasil melewati Mosquera melalui kombinasi umpan cepat. Bek Arsenal itu kemudian menjatuhkan sang winger di kotak penalti dan wasit menunjuk titik putih.
Ousmane Dembele menjalankan tugasnya dengan sempurna untuk menyamakan kedudukan.
Menariknya, meski terlibat langsung dalam proses gol, Dembele dan Kvaratskhelia sebenarnya tidak terlalu berbahaya sepanjang pertandingan. Arsenal cukup berhasil mencegah keduanya melakukan penetrasi berbahaya lewat dribel.
Fakta yang cukup unik justru datang dari Nuno Mendes. Bek kiri PSG itu menjadi pemain yang paling sering melewati lawan melalui dribel. Di belakangnya ada bek tengah Arsenal, William Saliba, yang beberapa kali maju membawa bola ke depan.
Pergantian Arteta Tidak Memberikan Dampak Positif

Tak lama setelah gol penyeimbang PSG, Arteta melakukan perubahan. Jurrien Timber masuk menggantikan Mosquera yang sudah mengantongi kartu kuning.
Perubahan yang lebih besar terjadi ketika Viktor Gyokeres dimasukkan ke lapangan. Menariknya, striker asal Swedia itu tidak menggantikan Havertz, melainkan bermain bersama sang penyerang Jerman. Korban dari perubahan tersebut adalah kapten tim, Martin Odegaard.
Gyokeres sebelumnya tampil cukup baik pada semifinal melawan Atletico Madrid. Namun, di final ini, ia kesulitan mempertahankan bola dan menghubungkan permainan dengan rekan-rekannya.
Masalah lain muncul karena Havertz terpaksa turun lebih dalam. Sebelumnya, Arsenal cukup efektif memainkan bola langsung kepada Havertz. Setelah Gyokeres masuk, jalur distribusi lebih sering diarahkan kepada striker baru tersebut.
Secara teori, keputusan itu masuk akal karena Arteta berharap Gyokeres bisa mengeksploitasi ruang di sisi lapangan. Namun, praktiknya berbeda. Arsenal justru semakin sulit keluar dari tekanan dan nyaris tidak menciptakan peluang berarti setelah pergantian tersebut.
Persoalan Pergantian Pemain Lainnya
Lebih lanjut, Gabriel Martinelli memang menambah energi dalam membantu pertahanan menghadapi pergerakan Achraf Hakimi, tetapi kualitas umpan akhirnya mengecewakan. Noni Madueke juga gagal memaksimalkan beberapa situasi bola mati meski sempat membuat Arsenal menuntut penalti setelah dijatuhkan Mendes.
Dari seluruh pemain pengganti, Eberechi Eze menjadi satu-satunya yang mampu memberikan ketenangan saat menguasai bola. Dengan melihat jalannya pertandingan, Arteta mungkin akan bertanya-tanya apakah seharusnya Eze masuk menggantikan Odegaard lebih dulu ketimbang memasukkan Gyokeres.
Fakta yang paling mencolok adalah kiper PSG, Matvey Safonov, tidak perlu melakukan satu pun penyelamatan setelah pergantian-pergantian tersebut dilakukan.
Final yang Berakhir Seimbang
Di sisi lain, bangku cadangan PSG juga tidak memberikan dampak besar terhadap pertandingan. Meski demikian, menjelang akhir waktu normal, laga sempat menjadi lebih terbuka dengan kedua tim mendapatkan ruang lebih besar.
Babak tambahan berlangsung relatif minim peluang dan karena tidak ada gol tambahan yang tercipta, final Liga Champions untuk pertama kalinya dalam satu dekade harus ditentukan melalui adu penalti.
Pada akhirnya harus ada pemenang dan pecundang. Namu, jika melihat keseluruhan pertandingan, laga ini lebih menyerupai hasil imbang yang sangat ketat. Kedua tim sama-sama gagal menunjukkan kualitas serangan yang cukup untuk memenangkan pertandingan dalam permainan terbuka.
Arsenal sebenarnya berhasil membawa pertandingan ke skenario yang mereka inginkan. Sayangnya, ketika laga ditentukan dari titik penalti, hasil akhirnya tidak berpihak kepada mereka.
Advertisement
Berita Terkait
-
Liga Inggris 3 September 2026 19:00Terungkap, Bintang Arsenal Ini Nyaris Gabung Manchester United di Musim Panas 2026
-
Liga Eropa Lain 3 September 2026 09:51Prediksi PSG vs Monaco 5 September 2026
-
Liga Inggris 2 September 2026 21:01Reiss Nelson Memulai Hidup Baru Tanpa Arsenal
-
Liga Inggris 2 September 2026 20:45Hanya Manchester City yang Bisa Hentikan Arsenal Jadi Juara EPL 2026/2027
LATEST UPDATE
-
Liga Inggris 3 September 2026 20:04Manchester United Tiru Strategi Transfer Carlos Baleba untuk Datangkan Lewis Hall
-
Liga Inggris 3 September 2026 19:50Andoni Iraola Menunggu Magis Bradley Barcola di Liverpool
-
Liga Inggris 3 September 2026 19:29Manchester United Bakal Jor-joran Belanja Bek di Tahun 2027?
-
Liga Spanyol 3 September 2026 19:21Marc Cucurella Sukses Bikin Real Madrid Merasa Dapat Bek Kiri Istimewa
-
Liga Inggris 3 September 2026 19:12Eks Liverpool Ini Bakal Gantikan Enzo Fernandez di Chelsea?
BERITA LAINNYA
-
champions 28 Agustus 2026 19:00Dear Manchester United, Bayern Munchen Rindu Kalian!
-
champions 28 Agustus 2026 13:51Inter Milan Tetap Berani Bermimpi di Liga Champions meski Hadapi Lawan Berat
-
champions 28 Agustus 2026 11:49Barcelona di Liga Champions: Reuni dan Misi Balas Dendam
-
champions 28 Agustus 2026 11:42Liga Champions Jadi Ujian Terbesar Manchester United Era Carrick
-
champions 28 Agustus 2026 11:36Liverpool Dapat Undian Bagus di Liga Champions, Ini Alasannya
SOROT
-
Liputan6 3 September 2026 19:14Prabowo Buka Jalan bagi Pengusaha Rusia Masuk Indonesia
-
Liputan6 3 September 2026 19:01Prabowo Undang Dunia Usaha Rusia: Datang ke Indonesia, Bekerja Bersama Kami
-
Liputan6 3 September 2026 18:05Prabowo Dorong Penerbangan Langsung Indonesia-Rusia
-
Liputan6 3 September 2026 17:09Prabowo Bongkar Kekuatan Indonesia dan Rusia yang Saling Melengkapi
-
Liputan6 3 September 2026 17:05Target Makan Bergizi Gratis 2027 Tembus 72 Juta Orang
-
Liputan6 3 September 2026 17:04Prabowo Ungkap Alasan Indonesia dan Rusia Cocok Kerja sama
MOST VIEWED
HIGHLIGHT
Chelsea Rebut Morgan Rogers, Ini 5 Pemain yang Bis...
Gagal Dapat Michael Olise? Ini 5 Galactico Alterna...
7 Pemain Manchester United yang Wajib Bersinar di ...
8 Pemain Arsenal yang Berpotensi Dilepas untuk Dan...
5 Alternatif Lebih Murah dari Bradley Barcola yang...
Gagal Dapat Vinicius Junior? Ini 5 Winger yang Bis...
7 Transfer yang Bisa Dituntaskan Manchester United...
















:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9339705/original/068348200_1788425865-Screenshot_20260903_154355_YouTube.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9339706/original/040033500_1788425888-Screenshot_20260903_154328_YouTube.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9339813/original/043317800_1788429733-IMG-20260903-WA0058.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9339811/original/011225000_1788429721-869200de-72b1-40c7-b214-7735941dee0e.jpg)
