
Bola.net - Arsenal harus kembali menunda mimpi meraih gelar Liga Champions pertama setelah kalah dari PSG di final, Sabtu (30/5/2026) malam. Tim asal London itu tumbang lewat adu penalti setelah bermain imbang sepanjang waktu normal dan perpanjangan waktu. Kekalahan ini terasa semakin menyakitkan karena mereka sempat berada di posisi yang menjanjikan.
Dua kegagalan eksekutor penalti menjadi titik balik yang menentukan hasil akhir. Padahal, David Raya sempat menjaga harapan Arsenal tetap hidup dengan menggagalkan satu tendangan pemain PSG.
Dari tribun kehormatan, Arsene Wenger menyaksikan langsung drama tersebut. Mantan manajer legendaris Arsenal itu terlihat tegang saat duduk bersama Luis Figo, seolah kembali mengingat kekecewaan yang pernah dirasakan klubnya di final dua dekade lalu.
Di atas lapangan, pendekatan yang dipilih Mikel Arteta menjadi sorotan. Arsenal tampil sangat hati-hati sejak awal dan perlahan kehilangan kendali permainan seiring berjalannya pertandingan.
Agar kamu tidak ketinggalan informasi terbaru seputar Liga Champions, kamu bisa join di Channel WA Bola.net dengan KLIK DI SINI.
Kejutan Gol Cepat yang Mengubah Pendekatan

Arsenal membuka keunggulan saat laga baru berjalan enam menit. Kai Havertz memanfaatkan bola hasil intersepsi Leandro Trossard untuk membawa timnya unggul lebih dulu.
Gol itu membuat Havertz masuk dalam daftar pemain yang pernah mencetak gol final Eropa untuk dua klub berbeda, menyamai catatan Mario Mandzukic. Namun, pencapaian tersebut akhirnya kehilangan makna karena tidak diikuti kemenangan.
Setelah unggul cepat, Arsenal memilih bermain lebih konservatif. Mereka bahkan gagal mencatatkan satu pun tembakan tepat sasaran hingga pertandingan berakhir.
Pilihan Arteta terlihat jelas dari susunan pemain yang diturunkannya. Viktor Gyokeres memulai laga dari bangku cadangan, sementara Arsenal lebih banyak mengandalkan pemain dengan karakter defensif untuk menjaga keunggulan.
Harga Mahal Pendekatan Negatif

PSG perlahan mengambil alih pertandingan setelah tertinggal. Arsenal hanya menguasai bola sebesar 24,7 persen, angka yang menggambarkan betapa dominannya tim asal Prancis tersebut.
Perbedaan itu terlihat jelas dari statistik operan. PSG mencatatkan 837 umpan sepanjang laga, sementara Arsenal hanya mampu membukukan 199 operan sukses.
Menariknya, para pemain Arsenal justru menempuh jarak lari yang lebih jauh. Mereka dipaksa bekerja keras tanpa bola untuk menutup ruang dan meredam serangan lawan.
Dalam fase bertahan, Arsenal kerap berubah menjadi formasi 4-4-2 tanpa penyerang murni di depan. Struktur itu memang membuat PSG kesulitan menemukan ruang, tetapi strategi seperti ini menuntut konsentrasi sempurna selama 120 menit.
Mengorbankan Kreativitas Demi Meredam Lawan

Fokus besar pada pertahanan berdampak langsung pada kreativitas Arsenal. Martin Odegaard kesulitan berkembang dan hanya mencatatkan 12 sentuhan sebelum ditarik keluar pada menit ke-65.
Bukayo Saka juga gagal memberi pengaruh besar seperti biasanya. Sementara itu, assist Leandro Trossard untuk gol Havertz lahir dari situasi bola liar setelah sapuan pemain belakang PSG.
Di tengah minimnya suplai bola, Havertz tetap menjadi ancaman utama Arsenal. Penyerang Jerman itu tampil efektif dan menjadi satu-satunya pemain depan yang mampu meninggalkan jejak signifikan sepanjang pertandingan.
Semua itu menunjukkan betapa berhati-hatinya Arteta menghadapi juara bertahan. Dalam sejumlah keputusan penting, ia lebih memilih keamanan di lini belakang dibanding menambah daya serang timnya.
Tragedi Titik Putih

Pertandingan yang berlangsung ketat akhirnya harus ditentukan lewat adu penalti. Arsenal sebenarnya memiliki alasan untuk percaya diri mengingat rekam jejak mereka dalam situasi bola mati sepanjang musim.
Harapan sempat membesar ketika David Raya berhasil menggagalkan tendangan Nuno Mendes. Di sisi lain, kiper PSG Matvei Safonov tidak mampu menepis satu pun penalti Arsenal, sehingga peluang tetap terbuka lebar.
Namun momentum berubah saat Eberechi Eze gagal mengarahkan bola ke sasaran setelah awalan yang tidak biasa. Situasi semakin buruk ketika Gabriel Magalhaes, yang sering menjadi penentu dalam situasi bola mati, juga melambungkan tendangannya.
Dua kegagalan itu memastikan Arsenal kembali pulang tanpa trofi Liga Champions. Mimpi mengangkat Si Kuping Besar harus ditunda lagi, sementara PSG mempertahankan status mereka sebagai penguasa Eropa.
Advertisement
Berita Terkait
-
Liga Inggris 30 Agustus 2026 07:00Prediksi Aston Villa vs Arsenal, 1 September 2026
-
Liga Inggris 30 Agustus 2026 05:40Jadwal Lengkap Premier League 2026/2027
-
Liga Inggris 30 Agustus 2026 05:02Hasil Lengkap, Klasemen, Jadwal dan Top Skor Premier League 2026/2027
-
Liga Inggris 29 Agustus 2026 20:00Bradley Barcola Sengaja Tunda Kepindahannya ke Liverpool, Kenapa?
-
Liga Inggris 29 Agustus 2026 17:11Rekor Head-to-Head Premier League 2026/27 Matchweek Kedua di Vidio
LATEST UPDATE
-
Otomotif 30 Agustus 2026 08:39Jadwal MotoGP Aragon 2026 Hari Ini, Minggu 30 Agustus: Live Streaming di Vidio
-
Liga Spanyol 30 Agustus 2026 08:00Prediksi Barcelona vs Rayo Vallecano, 1 September 2026
-
Liga Inggris 30 Agustus 2026 07:00Prediksi Aston Villa vs Arsenal, 1 September 2026
-
Liga Inggris 30 Agustus 2026 06:37Jadwal Liga Inggris di SCTV Pekan Ini, 29 Agustus - 1 September 2026
BERITA LAINNYA
-
champions 28 Agustus 2026 19:00Dear Manchester United, Bayern Munchen Rindu Kalian!
-
champions 28 Agustus 2026 13:51Inter Milan Tetap Berani Bermimpi di Liga Champions meski Hadapi Lawan Berat
-
champions 28 Agustus 2026 11:49Barcelona di Liga Champions: Reuni dan Misi Balas Dendam
-
champions 28 Agustus 2026 11:42Liga Champions Jadi Ujian Terbesar Manchester United Era Carrick
-
champions 28 Agustus 2026 11:36Liverpool Dapat Undian Bagus di Liga Champions, Ini Alasannya
SOROT
-
Liputan6 30 Agustus 2026 07:27Prabowo Rapat Bareng Menhan-Panglima TNI, Bahas Syarat Suku Dayak Jadi Prajurit TNI
-
Liputan6 30 Agustus 2026 05:00Cerita Warga NTT Bertahan Hidup di Tengah Gempa Susulan
-
Liputan6 29 Agustus 2026 20:26Pendekar Pagar Nusa Dikerahkan Amankan Muktamar NU
-
Liputan6 29 Agustus 2026 19:54Polisi Gerebek Sarang Narkoba, Ibu Rumah Tangga Diduga Jadi Bandar
-
Liputan6 29 Agustus 2026 18:54Lodewyk Pusung Ajukan Praperadilan Ketiga, Begini Respons Kejagung
-
Liputan6 29 Agustus 2026 18:0130 Hektare Lahan di Rorotan Terbakar, Diduga Sengaja Dibakar
MOST VIEWED
Aturan Liga Champions UEFA, Arsenal Takkan Hadapi Inter Milan di San Siro
Hasil Undian Liga Champions 2026-27: Siapa Dapat Jalur Ringan, Siapa Dapat Jalur Berat?
Semua yang Perlu Diketahui Fans Real Madrid Tentang Drawing Liga Champions
Pembagian Pot Liga Champions 2026/2027: Manchester United di Pot 2
HIGHLIGHT
Chelsea Rebut Morgan Rogers, Ini 5 Pemain yang Bis...
Gagal Dapat Michael Olise? Ini 5 Galactico Alterna...
7 Pemain Manchester United yang Wajib Bersinar di ...
8 Pemain Arsenal yang Berpotensi Dilepas untuk Dan...
5 Alternatif Lebih Murah dari Bradley Barcola yang...
Gagal Dapat Vinicius Junior? Ini 5 Winger yang Bis...
7 Transfer yang Bisa Dituntaskan Manchester United...
















:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9335703/original/000734600_1788049643-unnamed__79_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9326201/original/003720900_1786965126-gem3.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9335646/original/011346500_1788009959-IMG-20260829-WA0049.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9335626/original/080018000_1788008067-1000118220.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5292222/original/022875000_1753247405-efee62e2-84c3-4d97-89c6-32bf7b5f099d.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9335594/original/051360000_1788001267-f88a50f6-f3e5-4260-8d0d-80e85f511f82.jpg)

