Jelang Final Liga Champions PSG vs Arsenal, Legenda Milan Bela Mikel Arteta yang Dicap Cuma Andalkan Bola Mati

Jelang Final Liga Champions PSG vs Arsenal, Legenda Milan Bela Mikel Arteta yang Dicap Cuma Andalkan Bola Mati
Pelatih Arsenal, Mikel Arteta dalam sesi konferensi pers jelang final Liga Champions, 29 Mei 2026. (c) Ina Fassbender, Pool Photo via AP

Bola.net - PSG dan Arsenal akan saling berhadapan pada final Liga Champions 2025/2026 yang digelar di Budapest. Duel ini mempertemukan dua juara liga domestik yang sama-sama menjalani musim luar biasa.

PSG datang dengan reputasi sebagai salah satu tim paling tajam di Eropa. Sementara itu, Arsenal tampil sebagai tim dengan pertahanan paling solid sepanjang perjalanan mereka menuju partai puncak.

Menjelang laga besar tersebut, Arsenal menjadi sorotan karena dianggap terlalu bergantung pada situasi bola mati. Tim asuhan Mikel Arteta bahkan kerap mendapat label sebagai tim yang mengandalkan skema sepak pojok dan pendekatan yang pragmatis.

Namun, anggapan itu tidak disetujui oleh legenda sepak bola Italia, Andrea Pirlo. Mantan gelandang AC Milan dan Juventus tersebut menilai Arsenal memiliki identitas permainan yang jauh lebih kompleks dibanding sekadar memanfaatkan bola-bola mati.

Agar kamu tidak ketinggalan informasi terbaru seputar Liga Champions, kamu bisa join di Channel WA Bola.net dengan KLIK DI SINI.

Pirlo Pasang Badan untuk Mikel Arteta

Pirlo Pasang Badan untuk Mikel Arteta

Pelatih Arsenal Mikel Arteta bersama pemainnya dalam sesi latihan tim, 29 Mei 2026, jelang final Liga Champions melawan PSG di Budapest. (c) AP Photo/Vadim Ghirda

Perjalanan Arsenal menuju final Liga Champions tidak lepas dari berbagai kritik terhadap gaya bermain mereka. Banyak pihak menilai The Gunners terlalu pragmatis dan mengandalkan efektivitas dibanding hiburan.

Pirlo justru melihat perkembangan besar yang dilakukan Arteta sejak mengambil alih Arsenal. Menurutnya, pelatih asal Spanyol itu berhasil membangun filosofi permainan yang unik dan efektif.

Legenda Italia tersebut menegaskan bahwa kekuatan Arsenal tidak hanya terletak pada sepak pojok atau umpan silang. Ia menilai Arteta telah menciptakan sistem permainan yang memiliki karakter kuat.

"Ya, saya menyukainya karena ini bukan hanya soal sepak pojok dan umpan silang ke dalam kotak penalti. Selama beberapa tahun terakhir, ia telah mengembangkan cara bermainnya sendiri yang istimewa, termasuk cara khusus ini dalam memanfaatkan sepak pojok. Ia mempelajari semuanya dengan saksama dan sangat berbakat. Memenangkan Liga Inggris dan mencapai final ini adalah pencapaian yang luar biasa,” jelas Pirlo, seperti dikutip oleh Marca, via Goal.

Sepak Bola Kolektif Jadi Senjata Utama Arsenal

Sepak Bola Kolektif Jadi Senjata Utama Arsenal

Manajer Arsenal, Mikel Arteta (tengah) bergandengan tangan dengan staf pelatih dalam sesi latihan jelang laga final Liga Champions melawan PSG di Budapest, 29 Mei 2026. (c) AP Photo/Andreea Alexandru

Pirlo juga menilai kekuatan terbesar Arsenal justru berada pada permainan kolektif mereka. The Gunners dinilai mampu tampil sebagai satu kesatuan yang sangat terorganisasi di setiap lini.

Meski PSG memiliki banyak pemain yang bisa mengubah jalannya pertandingan secara individu, Arsenal dianggap mempunyai keunggulan dalam hal disiplin tim. Faktor tersebut menjadi modal penting untuk menghadapi laga final.

Selain itu, lini pertahanan Arsenal mendapat pujian khusus dari Pirlo. Kehadiran dua bek tengah yang tangguh dinilai memberikan fondasi kuat bagi seluruh sistem permainan tim.

"Ini adalah sepak bola yang sangat kolektif, meskipun PSG memiliki pemain yang, secara individu, dapat menentukan pertandingan dengan lebih menentukan. Arsenal perlu sangat solid secara kolektif dan kemudian memanfaatkan setiap situasi bola mati. Selain itu, kedua bek tengah mereka sangat kuat, dan itu memberi tim banyak soliditas," jelas Pirlo.

Final Terbesar dalam Karier Arteta

Final Terbesar dalam Karier Arteta

Trofi Liga Champions terpampang di Puskas Arena (c) UEFA

Laga melawan PSG akan menjadi salah satu pertandingan paling penting dalam karier kepelatihan Mikel Arteta. Kesempatan membawa Arsenal meraih trofi Liga Champions pertama mereka menjadi momen bersejarah bagi pelatih berusia 44 tahun tersebut.

Arsenal sendiri melaju ke final setelah menyingkirkan Atletico Madrid dalam semifinal yang berlangsung ketat. Gol tunggal Bukayo Saka pada leg kedua menjadi pembeda yang mengantar The Gunners ke partai puncak.

Di sisi lain, PSG memastikan tempat di final setelah melewati duel spektakuler melawan Bayern Munchen. Tim asuhan Luis Enrique menang agregat 6-5 dalam salah satu semifinal paling dramatis musim ini.

Kini, dua filosofi berbeda akan saling bentrok di Budapest. Arsenal mengandalkan kekuatan kolektif dan organisasi permainan, sementara PSG bertumpu pada kualitas individu para bintangnya untuk memburu mahkota Eropa.