FOLLOW US:


Kepergian Robert Enke, Bukti Kerasnya Tekanan Dunia Sepak Bola

13-11-2009 16:19
Robert Enke
(c)ap
Robert Enke (c)ap

Bola.net -

Oleh: Chandra Wijaya


Ketika dunia sepak bola sedang bersiap menyambut laga playoff untuk memperebutkan tempat di putaran final Piala Dunia 2010, berita mengejutkan datang dari Jerman. Robert Enke, kiper tim nasional Jerman dan klub Hannover 96, meninggal dunia setelah menabrakkan dirinya ke depan kereta yang melaju 160 km/jam di perlintasan Neustadt am Rubenberge, Jerman.

Mendengar berita itu semua orang dunia pasti bertanya-tanya kenapa Robert Enke nekat melakukan itu? Padahal selama ini tidak pernah ada berita miring tentang calon kiper nomor satu Jerman di Piala Dunia 2010 ini. Hidupnya juga terlihat baik-baik saja. Karirnya terlihat semakin menanjak. Pemain berusia 32 tahun ini dianggap berada dalam puncak permainan terbaiknya. Berita sempat berhembus kemungkinan dia akan pindah ke Bayern Munich. Robert juga dinobatkan sebagai kiper terbaik 2008-2009. Jelas sekali tidak ada masalah dengan karirnya. Dia juga punya istri yang cantik, rumah dan mobil yang bagus. Apa lagi yang kurang dalam hidupnya?

Tetapi ternyata di balik semua kegemilangan itu, Robert Enke ternyata memendam sejumlah penderitaan. Istrinya, Teresa Enke, mengatakan bagaimana selama ini suaminya berjuang keras mengatasi depresinya. Berbicara di konferensi pers yang diadakan di kantor pusat Hannover 96, Teresa mengatakan bagaimana suaminya selama bertahun-tahun mencoba menyembunyikan masalah depresi yang telah dideritanya selama 6 tahun terakhir. Takut kalau ini bisa menghancurkan karirnya dan menyebabkan pihak yang berwenang untuk mengambil kembali anak adopsi mereka, Leila, jika penyakitnya diketahui oleh publik. Leila yang sekarang berusia 8 bulan, diadopsi oleh pasangan Enke pada bulan Mei tahun ini.

Teresa mengatakan "Ketika depresinya begitu parah, itu saat yang sangat berat bagi kami, karena kemudian dia kehilangan seluruh jalan dan harapannya."

"Dia ingin merahasiakan itu karena dia takut akan kehilangan segalanya. Kami bersama-sama melewati begitu banyak, saat dia bermain di Istanbul dan Barcelona, itu sangatlah berat. Kemudian kami kehilangan Lara," tambahnya.

Lara merupakan putri kandung mereka yang meninggal saat masih berusia 2 tahun, pada tanggal 17 September 2006 karena menderita sindrom hypoplastic jantung bagian kiri yang merupakan penyakit jantung yang langka. Lara memang terlahir dengan kondisi jantung yang lemah. Enke meminta maaf dalam suratnya karena menyembunyikan kondisi mentalnya. Dalam surat yang tidak ditunjukkan pada umum itu, dia telah membohongi dokter dan keluarganya tentang keadaan mentalnya dalam beberapa minggu sebelumnya, dengan tujuan memuluskan rencananya untuk mengakhiri hidupnya.

Robert Enke dan Lara
Robert Enke dan Lara

Robert Enke dan Lara


Teresa juga mengatakan usahanya untuk membantu Enke dalam mengatasi depresinya. "Kami pikir kami mampu mengatasi segalanya. Kami pikir cinta akan membuat segalanya menjadi mungkin tetapi terkadang kamu tidak selalu bisa mengatasinya."

Dia menambahkan: "Ada ketakutan akan apa yang dipikirkan orang ketika Anda punya seorang anak dan ayahnya mengalami depresi. Saya selalu mengatakan padanya itu bukanlah suatu masalah."

"Robert menjaga Leila dengan penuh cinta sampai akhir hidupnya. Setelah kematian Lara, semuanya membuat kami lebih dekat. Dan kami berpikir lagi, kami bisa menghadapi semuanya dengan cinta kami. Saya berusaha mengatakan padanya kalau selalu ada solusi. Saya ikut berlatih bersamanya. Mencoba mengatakan padanya kalau sepak bola bukanlah segalanya, ada banyak hal indah lain dalam hidup. Saya ingin membantunya untuk melewati ini. Tetapi dia tidak ingin menerima bantuan lagi.."

Sebagai seorang kiper, Enke pernah beberapa kali menjadi korban penghinaan yang mana membuatnya merasa sulit untuk menghadapinya. Seperti saat pertandingan pertamanya bersama klub Turki, Fenerbahce, pada tahun 2003 di mana fans melemparinya dengan ponsel dan botol bir setelah dia melakukan kesalahan saat bertanding.

Setelah kejadian itu, Enke, mengatakan dia sangat terkejut dengan kemarahan yang dia terima dan merasa tidak sepatutnya mendapatkan kebencian itu.

Margot Dunne, reporter dan penyiar Jerman, mengatakan para pesepak bola sangat sulit mengakui menderita depresi karena dalam olahraga ini terkenal sangat kejam dalam menghukum pemain yang menunjukkan kelemahannya.

"Para pemain berada dalam tekanan untuk menjadi contoh kuat secara mental dan fisik. Menderita depresi... tidak sesuai dengan image yang diharapkan oleh para fans," katanya.

Ulf Baranowksy, manajer dari Asosiasi Pesepak bola Profesional Jerman, tidak menyangkal kepergian Enke ini berhubungan dengan meningkatnya tekanan psikologis yang diterima oleh pemain.

Perhatian adalah yang sebenarnya dibutuhkan oleh Robert Enke dan inilah yang sangat kurang didapatkannya dari lingkungannya. Selain perhatian dari istrinya yang begitu besar, dia hanya bisa memendam segala penderitaannya dalam kesunyian. Dia sudah melakukan terapi, mencoba memusnahkan segala rasa bersalah, kehilangan dan sakit yang dia rasakan. Tetapi tidak ada satu pun yang berada di sekitarnya menyadari dan membantu masalahnya ini.

Dr Valentin Markser, psikologis yang telah menanganinya sejak tahun 2003 mengatakan: "Saya masih sangat terguncang. Dia mengalami depresi dan takut akan kegagalan."

Memang menjadi seorang pemain sepak bola tidaklah mudah. Sebagai pelaku utama dalam olahraga yang populer di dunia, apapun yang ada di dalamnya selalu menjadi sorotan banyak orang. Sedikit kesalahan saja, sudah pasti menjadi pemicu datangnya gelombang kritikan yang bertubi-tubi. Seringkali kritikan tersebut datang dari pendukung klub lain yang memang sangat senang melihat kelemahan pemain klub lain terungkap. Tetapi yang lebih menyakitkan, kritikan tersebut juga tidak jarang datang dari fans dari klub pemain itu sendiri.

Fans yang sangat diharapkan bisa memberi suntikan moral ketika sang pemain berlaga, malah seringkali begitu mudah kehilangan kesabaran. Terkadang lupa pada hakekatnya pemain mereka adalah manusia, yang tidak pernah sempurna dan suatu kali pasti melakukan kesalahan. Dalam bayangan, mereka selalu memimpikan sosok pemain yang sempurna, karena itu nampaknya mereka tidak bisa menoleransi kesalahan sedikitpun. Akibatnya sangat jelas, pemain selalu bermain dalam penuh tekanan, takut menjadi menjadi bahan olok-olokan fans mereka sendiri. Memang terkadang ini bisa menjadi pemacu agar pemain itu bisa terus meningkatkan permainannya. Tetapi ini benar-benar membutuhkan kekuatan mental yang luar biasa.

Jika berada dalam kondisi yang sedikit down saja, mental pemain akan begitu mudah runtuh menerima tekanan yang begitu bertubi-tubi dari para fans dan pemilik klub. Terutama di sini berlaku di klub-klub besar. Memang mereka semua merasa telah mengeluarkan banyak uang untuk membuat pertandingan ini bisa berlangsung. Tetapi yang menjadi salah, mereka semua terlalu berharap akan terjadinya suatu pertandingan yang sempurna.

Hal inilah yang mungkin begitu menekan Robert Enke. Sosoknya yang begitu mencintai keluarga, pasti sangat takut kalau kondisi mentalnya itu diketahui oleh orang lain. Sudah terbayang bagaimana dia akan menjadi santapan empuk bagi lawan-lawannya, media dan ditambah lagi dengan mulai munculnya tatapan penuh keraguan dari fansnya sendiri. Bukannya membantu masalahnya ini, di mana-mana dia selalu rentan untuk dicap sebagai seorang penderita depresi.

Seperti saat pertandingan, pihak lawan yang selalu mencari celah-celah yang bisa digunakan untuk bisa memenangkan pertandingan, kemungkinan akan memakai masalah ini untuk mengacaukan fokus Enke. Belum lagi potensi olokan seperti ini bisa datang dari teriakan suporter lawan dan bahkan dari suporternya sendiri. Semuanya itu masih dilengkapi lagi dengan tulisan keras dari media-media tertentu yang sangat suka sekali mengungkit kelemahan seorang pemain.

Yang terlihat jelas di sini, Enke begitu tidak ingin keluarga yang sangat dicintainya itu menerima segala akibat yang ditimbulkan jika masalah depresinya ini diketahui banyak orang. Terutama sampai membuat pihak berwenang mengambil kembali Leila, anak adopsi mereka.

Belum lagi berkaitan dengan karirnya. Jika hal ini diketahui banyak orang, mungkin dia takut hal ini bisa menjadi pertimbangan buruk dalam karir sepak bolanya. Dia berpeluang menjadi kiper nomor satu Jerman dan berkesempatan pula pindah ke klub yang lebih besar jika nanti penampilannya cukup gemilang di Piala Dunia 2010. Apa jadinya nanti kalau suatu saat dia membuat sedikit kesalahan saja, semua tangan pasti menunjuk masalah depresi sebagai penyebabnya.

Apalagi di masa sekarang, ketika pemilihan pemain didasarkan dari banyak sisi termasuk mental. Hanya pemain dengan kondisi fisik dan mental yang terbaik yang dipilih untuk diturunkan. Bisa saja karena tahu Enke menderita masalah depresi, maka sang pelatih selalu berpikir dan mempertimbangkan kembali sebelum menurunkannya untuk bertanding. Semua inilah yang mungkin semakin membebani Enke, terutama pada saat-saat semakin mendekati momen besar penting seperti Piala Dunia 2010.

Hal ini menjadi seperti suatu bukti nyata begitu kerasnya tekanan yang ada di dalam dunia sepak bola, sama seperti di bidang lain yang cukup menarik perhatian banyak orang. Untuk bisa terus bertahan, benar-benar dibutuhkan kekuatan mental yang luar biasa.

Memang jelas sekali bunuh diri, apalagi meninggalkan seorang istri dan anak, bukanlah solusi yang terbaik untuk memecahkan masalah seperti ini. Sayangnya di sini, Robert Enke tidak bisa menemukan solusi yang lain sebelum dia memutuskan untuk melakukan hal ini.

Tetapi satu hal yang luar biasa di sini adalah bagaimana seorang Robert Enke yang begitu menderita karena depresi yang dideritanya dan harus berjuang keras menutupinya, masih bisa tampil saat pertandingan dengan begitu gemilang. Bahkan gelar kiper terbaik Bundesliga musim 2008-2009 pun didapatnya. Padahal bagi pemain lain, sedikit masalah saja sudah lebih dari cukup membuat penampilannya merosot tajam. Jadi sudah terlihat bagaimana luar biasanya dan begitu profesionalnya seorang Robert Enke.

Karena ini pula, Thomas Bach, presiden dari Komite Olimpiade Jerman mengatakan kejadian yang menimpa Enke ini sebagai suatu kejadian yang sangat tragis.

"Ketika Anda melihat betapa banyak pukulan dalam hidupnya yang harus dia hadapi dalam beberapa tahun ini dan bagaimana dia selalu bisa bertahan dan berdiri, itu menunjukkan bagaimana kualitasnya. Itulah mengapa menjadi semakin tragis di mana dia melihat tidak ada jalan keluar lagi," kata Bach.

Sekarang yang patut dilihat apakah kepergian Robert Enke akan menghasilkan perubahan perlakuan pada seorang pemain. Selamat jalan Robert Enke. Bagi kami, engkau selalu menjadi kiper dan figur ayah yang terbaik.