
Bola.net - Bola.net - Musim 2009/10 silam, sebuah awal yang salah menjadi berkah. Dari situ, lahirlah satu skema permainan baru di AC Milan. System of play revolusioner racikan Leonardo itu dikenal dengan sebutan '4-2-Fantasia'.
Platform-nya adalah 4-2-3-1. Leonardo memberikan sentuhan kreativitas dan membuatnya jadi sebuah skema ofensif berbalut fantasi. Sebuah sepakbola yang atraktif. Pemilik nama lengkap Leonardo Nascimento de Araujo itu menghadirkannya di tengah-tengah dunia Calcio yang defensif.
Dia memakai empat pemain di belakang, dua penyeimbang di tengah, dan pemain-pemain ofensif yang kreatif serta ber-skill tinggi di posisi '3' untuk mendukung ujung tombak serangan. Hasilnya terbilang memuaskan.
Musim itu, Milan berada dalam masa transisi yang sulit usai ditinggal sejumlah pilar penting. Kaka baru dilego ke Real Madrid, kapten Paolo Maldini pensiun, sedangkan pelatih Carlo Ancelotti pindah ke Chelsea.
Leonardo, mantan gelandang serang Milan asal Brasil yang menjabat direktur teknik Rossoneri sejak 2008, kemudian ditunjuk menggantikan Ancelotti. Sebagai pelatih muda minim pengalaman, tak heran jika dia diragukan.
Leonardo mewarisi skuat berisikan sejumlah pemain top, seperti Alessandro Nesta, Andrea Pirlo, Clarence Seedorf, Ronaldinho, Filippo Inzaghi, Marco Borriello hingga Alexandre Pato. Untuk memperkuat lini depan, Thiago Silva didatangkan dari Fluminense. Untuk menambah daya gedor, Klaas-Jan Huntelar direkrut dari Real Madrid.
Namun, mengawali sesuatu tak pernah mudah. Start buruk pun tak terhindarkan.
Membuka musim dengan kemenangan sulit 2-1 di kandang Siena, Milan besutan Leonardo kemudian hancur 0-4 dalam derby melawan Inter Milan pada giornata 2. Isu pemecatan langsung mengalir deras, sampai akhirnya perlahan menghilang.
Titik baliknya adalah laga kandang melawan AS Roma pada giornata 8 setelah jeda internasional.
San Siro, 18 Oktober 2009. Milan menjamu Roma besutan Claudio Ranieri. Hanya meraup satu poin dalam tiga laga terakhirnya, atmosfer di Milan cukup panas. Situasinya semakin tidak nyaman setelah, akibat kesalahan Thiago Silva, Roma bisa mencuri keunggulan lewat Jeremy Menez cuma tiga menit sejak kick-off babak pertama. Milan tertinggal 0-1 hingga jeda, dan pada titik itu mereka berada tepat di atas zona merah.
Itulah periode terberat Milan musim itu, tapi Rossoneri bangkit.
Setelah jeda, Leonardo mengganti Ignazio Abate dengan Filippo Inzaghi. Leonardo mengubah skema awal 4-4-2 menjadi 4-2-3-1. Waktu itu, lahirlah sistem yang baru: empat di belakang, dua di tengah, dan limpahan 'fantasi' di lini serang. Alexandre Pato di kanan, Clarence Seedorf gelandang serang, di kiri, dan Inzaghi striker.
Milan akhirnya berbalik menang 2-1 lewat penalti Ronaldinho dan finishing Pato.
MILAN 2-1 ROMA
: Dida, Oddo, Nesta, Thiago Silva, Zambrotta, Abate (46' Inzaghi), Pirlo, Ambrosini, Seedorf, Ronaldinho (90' Flamini), Pato.
Roma: Doni, Cassetti, Mexes, Burdisso, Riise, Taddei (26'st Guberti), De Rossi, Pizarro, Perrotta, Menez (75' Baptista), Vucinic (71' Okaka).
Rosetti.
3' Menez (R), 56' pen. Ronaldinho (M), 57' Pato (M).
Kartu merah: 81' Ambrosini (M).
Adriano Galliani - wapres Milan waktu itu, menjuluki sistem tersebut '4-2-Fantasia'. Cahaya terang mulai terlihat di ujung terowongan.
Skema inilah yang kemudian paling sering dipakai Milan hingga akhir musim, dengan Marco Borriello sebagai striker utama. Berkat 'revolusi' itu, Milan membaik. Kepercayaan diri para pemainnya pulih. Sejumlah hasil impresif mereka raih, termasuk kemenangan 3-2 atas Real Madrid (dan Kaka) di Santiago Bernabeu di Liga Champions serta kemenangan 3-0 di markas Juventus di Serie A.
Berkat system of play baru itu, Milan bahkan sanggup melesat ke peringkat dua klasemen per medio Maret, hanya satu poin di belakang Inter.
Namun sayang, langkah Milan di Liga Champions dihentikan Manchester United dengan agregat 2-7 (2-3, 0-4) di fase knockout pertama. Kehadiran eks United David Beckham di tengah musim (periode peminjaman kedua) juga tak banyak membantu. Di Coppa Italia, mereka dieliminasi Udinese di perempat final. Milan pun fokus ke Serie A.
Hanya sayang, cederanya Alessandro Nesta dan Pato membuat Milan terlempar dari persaingan meraih Scudetto. Milan akhirnya finis peringkat tiga dengan 70 poin, terpaut 12 poin dari Inter dan 10 poin di belakang Roma. Meski begitu, harus diakui, jika bukan berkat terobosan Leonardo, Milan mungkin sudah berakhir lebih parah.
Di pekan-pekan terakhir, muncul spekulasi kalau Leonardo akan hengkang setelah hanya satu musim melatih Milan. Pada April 2010, Leonardo mengakui adanya perbedaan dengan sang presiden klub Silvio Berlusconi. Dia menyebut hubungan mereka waktu itu "sulit."
Leonardo kemudian dipastikan meninggalkan Milan dengan 'mutual agreement' setelah laga penutup musim melawan . Kecaman terhadap Berlusconi pun muncul dari kalangan tifosi Milan sendiri.
Leonardo berpisah di hadapan publik San Siro usai memberikan persembahan terakhir, yaitu kemenangan 3-0 (lagi) atas La Vecchia Signora.
Ronaldinho dan Borriello menjadi peyumbang gol terbanyak untuk Milan, masing-masing 15 gol di semua kompetisi. Pato di bawah mereka dengan 14 gol.
Musim berikutnya, Milan mengangkat Massimiliano Allegri dari Cagliari, sedangkan Leonardo menyeberang ke kubu tetangga. Leonardo diangkat menggantikan Rafael Benitez di Inter. Penunjukan ini terbilang mengejutkan, karena Leonardo sebelumnya identik dengan merah-hitam, baik sebagai pemain maupun pelatih.
Andai Leonardo dipertahankan dan Milan memberi dia kesempatan serta dana untuk meng-upgrade '4-2-fantasia' miliknya, mungkin bakal ada kisah-kisah lain yang lebih mengagumkan.
Waktunya di Milan memang singkat, tetapi cukup berkesan.
Jika seniman besar Italia Leonardo da Vinci melahirkan lukisan terkenal Mona Lisa, maka Leonardo Nascimento de Araujo juga sudah melahirkan sebuah 'karya seni' yang tak kalah indah.
Leonardo telah melukis '4-2-Fantasia' di Milan.
Klik juga:
- Prediksi AC Milan vs AS Roma 8 Mei 2017
- Data dan Fakta Serie A: AC Milan vs AS Roma
- Head-to-head: AC Milan vs AS Roma
- Replay 1998 Yang Dihubungkan 'Dua' Zidane
- Jejak Gol Argentina di Semifinal Liga Champions
- Hattrick Semifinal Awal dari Akhir Yang Tak Menyenangkan
- Menanti Hadirnya Kembali Nomor 9 Sejati di Rossoneri
- Ronaldinho, AC Milan 2008-2011
Advertisement
Berita Terkait
-
Liga Italia 4 September 2026 13:20Dusan Vlahovic Akhirnya Ungkap Alasan di Balik Kepergiannya dari Juventus
-
Liga Italia 4 September 2026 13:12Ruben Amorim Berpeluang Cetak Sejarah di Laga Juventus vs Milan
-
Liga Italia 4 September 2026 10:01Prediksi Inter vs Napoli 5 September 2026
LATEST UPDATE
-
Liga Inggris 5 September 2026 00:20Gabriel Martinelli Pergi, Mikel Arteta Tetap Puas dengan Opsi Serangan Arsenal
-
Liga Spanyol 4 September 2026 23:45Link Live Streaming Betis vs Madrid, 5 September 2026
-
Liga Inggris 4 September 2026 23:10Link Live Streaming Ipswich vs Liverpool, 5 September 2026
-
Liga Inggris 4 September 2026 22:35Xabi Alonso Minta Chelsea Move On dari Enzo Fernandez
-
Liga Inggris 4 September 2026 22:00Michael Carrick Yakin Joshua Zirkzee Masih Penting untuk Manchester United
BERITA LAINNYA
-
editorial 27 Agustus 2026 14:00Robert Sanchez Blunder Lagi, 5 Kiper Ini Bisa Jadi Solusi Chelsea
-
editorial 26 Agustus 2026 12:065 Pemain Manchester United yang Pernah Memakai Nomor 20 Sebelum Carlos Baleba
-
editorial 25 Agustus 2026 11:334 Klub yang Bisa Jadi Pelabuhan Nicolas Jackson, Aston Villa Paling Berpeluang?
-
editorial 12 Agustus 2026 12:515 Alternatif Bek Kiri Manchester United jika Gagal Mendapatkan Lewis Hall
SOROT
-
Liputan6 4 September 2026 23:46Deras Cimandiri dan Perjuangan Pelajar Leuwidingding Menuju Sekolah
-
Liputan6 4 September 2026 23:42Penjelasan Polisi Tak Blokade Demo PBRI Dekat Bundaran HI
-
Liputan6 4 September 2026 22:307 Catatan Kubu Andrie Yunus Usai 2 TNI Dihukum Ringan dan Tak Dipecat
-
Liputan6 4 September 2026 21:14Transjakarta 'Jalur Langit' Hanya Sampai Halte JORR Imbas Truk Mogok
-
Liputan6 4 September 2026 20:36Siswa SMP di Nabire Pembunuh Mantan Pacar Dihukum 10 Tahun
-
Liputan6 4 September 2026 19:57Cerita Kepanikan Penghuni Dapat Kabar Apartemen Pavilion Kebakaran
MOST VIEWED
HIGHLIGHT
Chelsea Rebut Morgan Rogers, Ini 5 Pemain yang Bis...
Gagal Dapat Michael Olise? Ini 5 Galactico Alterna...
7 Pemain Manchester United yang Wajib Bersinar di ...
8 Pemain Arsenal yang Berpotensi Dilepas untuk Dan...
5 Alternatif Lebih Murah dari Bradley Barcola yang...
Gagal Dapat Vinicius Junior? Ini 5 Winger yang Bis...
7 Transfer yang Bisa Dituntaskan Manchester United...

















:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9340958/original/004739600_1788540378-446747.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9340956/original/056974400_1788540157-Demo_PBRI_dekat_Bundaran_Hotel_Indonesia.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8062367/original/095492200_1780906692-1001350335.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9340916/original/029246600_1788531271-93396.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9340895/original/092729500_1788529017-WhatsApp-Image-2026-09-04-at-20.58.05.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9340875/original/044738600_1788526653-93357.jpg)

