Madrid Racikan Zidane dan Kedigdayaan di Extra Time

19-04-2017 14:02
Madrid Racikan Zidane dan Kedigdayaan di Extra Time
Real Madrid, Zinedine Zidane © AFP

Bola.net - Real Madrid digdaya di extra time sejak ditangani oleh Zinedine Zidane. Dari pertama kali dilatih mantan maestro Prancis itu, Los Merengues selalu menang di setiap laga yang tidak bisa diselesaikan lewat waktu normal.

Bayern Munchen adalah saksi sekaligus korban teranyarnya.

Madrid menang 4-2 lewat extra time saat menjamu Bayern di Santiago Bernabeu pada leg kedua babak perempat final Liga Champions 2016/17, Rabu (19/4). Madrid lolos ke semifinal dengan agregat 6-3.

Madrid pun menjadi tim pertama sepanjang sejarah yang sanggup mencapai semifinal Liga Champions tujuh musim secara beruntun.


Zidane telah mengalahkan sang guru Carlo Ancelotti, yang sebelumnya melatih Madrid dengan Zidane sebagai asistennya dan mempersembahkan La Decima pada musim 2013/14.

Dengan hasil melawan Bayern, berarti Madrid memenangi semua pertandingan yang telah mereka mainkan hingga extra time di bawah kepelatihan Zidane. Semua ada empat pertandingan, salah satunya lewat adu penalti.


Yang pertama adalah final Liga Champions melawan sang rival sekota Atletico Madrid racikan Diego Simeone di San Siro pada 28 Mei 2016. Skor 1-1 bertahan hingga habis waktu normal. Saat extra time, tak ada gol yang tercipta. Madrid lalu menjadi juara setelah menang adu penalti 5-3 dan meraih La Undecima - gelar ke-11 di kompetisi ini.




Pada titik itu, Zidane menjadi orang ketujuh yang pernah menjuarai European Cup/Liga Champions sebagai pemain sekaligus pelatih. Dia adalah orang kedua (setelah Miguel Munoz) yang meraih trofi ini dengan Real Madrid sebagai pemain sekaligus pelatih. Dia juga tercatat sebagai pelatih asal Prancis pertama yang menjadi juara di kompetisi elit Eropa ini.

Juara Liga Champions, Madrid berhadapan dengan juara Liga Europa Sevilla di Lerkendal Stadion, Trondheim, Norwegia, pada 9 Agustus 2016 untuk memperebutkan trofi Piala Super Eropa. Madrid menang 3-2, juga lewat extra time.

Madrid unggul melalui Marco Asensio di menit 21, tapi pasukan Jorge Sampaoli bisa membalikkan keadaan lewat gol Franco Vazquez menit 41 dan penalti Yevhen Konoplyanka menit 72. Sampai habis waktu normal, Sevilla tetap unggul dan Madrid berada di ambang kekalahan. Kapten Sergio Ramos muncul sebagai penyelamat dengan gol penyama kedudukan yang dicetaknya saat injury time. Madrid kemudian menyudahi perlawanan Sevilla dengan gol kemenangan Dani Carvajal di extra time.




Sang jawara extra time kemudian menunjukkan kehebatan mereka di pentas global, Piala Dunia Antarklub FIFA 2016 di Jepang. Setelah mengalahkan Club America 2-0 di semifinal, Madrid berhadapan dengan Kashima Antlers di final.

Madrid unggul lewat Karim Benzema di menit 9, tetapi Kashima sanggup berbalik memimpin melalui dua gol Gaku Shibasaki menit 41 dan 52. Madrid menyamakan kedudukan jadi 2-2 lewat penalti Cristiano Ronaldo di menit 60. Skor itu bertahan hingga peluit panjang babak kedua, dan laga pun berlajut ke extra time. Ronaldo lalu mencetak dua gol di menit 98 dan 104 untuk menggenapi hattrick-nya sekaligus mengantarkan Madrid ke puncak dunia.




Fast forward ke 18 April 2017. Perempat final Liga Champions leg kedua, Madrid vs Bayern, Santiago Bernabeu.

Madrid turun di laga ini bermodal kemenangan 2-1 berkat dua gol Ronaldo di Allianz Arena seminggu sebelumnya. Madrid diprediksi bisa menang, tapi pasti tak banyak yang mengira kalau pasukan Zidane bakal membutuhkan extra time dan perfect hattrick Ronaldo - mungkin juga beberapa keputusan kontroversial wasit Viktor Kassai - untuk menuntaskan pekerjaan mereka.





Terlepas dari segala kontroversi yang ada, Madrid di bawah asuhan Zidane sukses memenangi semua laga extra time yang sudah pernah mereka mainkan. Di tangan Zidane, Madrid digdaya di extra time.

Zidane adalah salah satu pesepakbola terbaik yang pernah ada. Sepanjang kariernya memperkuat Cannes, Bordeaux, Juventus, Madrid dan timnas Prancis, salah satu atribut dalam diri Zidane yang terasah dengan tajam adalah mental juara dan spirit pantang menyerahnya. Setelah jadi pelatih, itulah yang dia tularkan ke pasukannya.

Salah satu hasilnya adalah statistik di atas.

***

Zidane diangkat menggantikan Rafael Benitez yang dipecat pada 4 Januari 2016. Itu adalah sebuah keputusan yang berani, dan sejauh ini terbukti tidak salah.

Zidane langsung membuktikannya dengan prestasi demi prestasi.

Madrid juga dibuatnya menjadi tim yang lebih baik dan tahan banting di menit-menit krusial. Musim ini, Madrid racikan Zidane bahkan berada di jalur yang tepat menuju takhta La Liga, juga selangkah lebih dekat untuk menjadi tim pertama di era Liga Champions yang sanggup mempertahankan gelar mereka. (bola/gia)



Rekomendasi Pilihan



.


ARTIKEL TERKAIT



ARTIKEL LAINNYA