FOLLOW US:


Meneladani Javier Zanetti - Legenda Yang Begitu Disegani

31-01-2018 15:22
Meneladani Javier Zanetti - Legenda Yang Begitu Disegani
Javier Zanetti © ist

Bola.net - "Dia adalah lawan yang paling saya segani," kata Paolo Maldini.

"Pemain paling bersih yang pernah saya temui," kata Sir Alex Ferguson.

"Dia mengajarkan pada saya bagaimana menjadi seorang kapten," kata Fabio Cannavaro.

"Jika ingin belajar tentang sportivitas, belajarlah dari Javier Zanetti," kata Fabio Capello.

"Jika ingin menjadi seorang pesepakbola, lihatlah Zanetti," kata wasit legendaris Pierluigi Collina.


Lionel Messi mungkin dianggap pahlawan oleh para pendukung Barcelona. Sementara itu, Cristiano Ronaldo merupakan idola nomor satu para suporter Real Madrid saat ini. Namun bintang-bintang itu kerap dimusuhi oleh kubu rival.

Tak banyak pesepakbola yang dicintai kawan sekaligus disegani lawan.

Untuk urusan yang satu ini, persepakbolaan Italia bisa dibilang sebagai gudangnya. Sepanjang sejarahnya, ada beberapa ikon dan legenda yang telah membuat Serie A jadi sebuah liga yang hebat.

Sebut saja Paolo Maldini atau Andrea Pirlo. Tak ketinggalan tentu saja mantan Il Capitano dan nomor 4 abadi Inter Milan, Javier Zanetti.


Memperkuat Inter dari 1995 hingga pensiun pada 2014 di usia 40 tahun, pria Argentina ini telah memenangi hampir semuanya. Sederet rekor di Inter telah dipecahkannya. Yang paling hebat, dia melalui 22 tahun karier profesionalnya dengan cara elegan dan berkelas. Hanya dua kartu merah yang pernah diterimanya.

Zanetti identik dengan stamina luar biasa, yang menjadi asal julukan El Tractor pada dirinya. Itu juga yang membuat dia bisa memainkan tak kurang dari 1114 pertandingan resmi sepanjang kariernya.

Salah satu full-back terbaik sepanjang masa, pemain asing dengan jumlah penampilan terbanyak dalam sejarah Serie A ini juga mampu meng-cover beberapa posisi berbeda. Sebagai winger, kecepatannya merepotkan lawan. Sebagai gelandang bertahan, kedisiplinan dan kemampuan defensifnya sangat bisa diandalkan.


Pemain sayap legendaris Manchester United, Ryan Giggs, pernah berkata kepada Gazzetta dello Sport: "Saya pertama kali menghadapi Zanetti di perempat final Liga Champions pada tahun 1999. Dia bek kanan, sedangkan saya di kiri."

"Kualitas, kecepatan, power, kecerdasan dan kelihaiannya membuat saya terkesan."

"Saya melawannya dua kali lagi setelah itu. Dia adalah lawan paling sulit yang pernah saya hadapi, seorang pemain yang komplet."

Itu sekilas tentang kualitas teknik Zanetti sebagai seorang pesepakbola. Namun tulisan ini akan lebih fokus pada beberapa kualitas pribadinya yang luar biasa, yang membuat dia begitu disegani.

KESEDERHANAAN
Selama menjadi presiden Inter, Massimo Moratti telah mendatangkan sederet pemain untuk memperkuat timnya. Dari semua pemain itu, Zanetti adalah rekrutan pertamanya. Selain Zanetti, ada pula sang kompatriot Sebastian Rambert. Namun mereka tidak datang bersamaan. Zanetti lah yang pertama.

Didatangkan dari klub Argentina Banfield di usia 22 pada tahun 1995, tak ada yang mengenalnya. Waktu itu, tak ada yang mengira kalau pria sederhana dan rendah hati tersebut di kemudian hari akan menjadi pemain dengan jumlah penampilan terbanyak untuk Inter (858) dan membawa Nerazzurri meraih 16 trofi juara - 15 dengan ban kapten di lengannya.

Dari sebuah artikel di situs resmi UEFA yang ditulis Juli 2012, berikut cerita singkatnya.

Ketika pertama kali datang ke training ground Inter untuk diperkenalkan kepada para suporter dan media, hanya tas plastik berisi sepatu dan tanda pengenal yang dibawa oleh Zanetti. "Permisi," katanya kepada para suporter dan jurnalis yang berkumpul di sana menunggu rekrutan-rekrutan baru.

"Ketika saya melangkah ke balkon, para suporter seolah tak percaya. Saya baru saja berjalan melewati mereka dan mereka sama sekali tidak tahu siapa saya. Bahkan penjaga gerbang pun sama."

"Ketika menandatangani kontrak pertama, mereka menyuruh saya untuk memilih satu mobil. Saya memilih BMW. Namun sehari sebelum latihan pertama, saya merasa aneh. Saya pun menelepon [kapten Inter] Giuseppe Bergomi dan bertanya apa tidak masalah kalau saya datang dengan BMW. Saya tak mau rekan-rekan baru saya salah persepsi. Namun begitu sampai, saya sadar kalau mobil saya ternyata yang paling jelek di tempat parkir! Saya merasa sangat lega."

Kesederhanaan dan kerendahan hati seperti itulah yang senantiasa menjadi bagian tak terpisahkan dari seorang Zanetti. Aura itu terus terasa dari dirinya, bahkan sampai sekarang saat dia sudah menjadi wakil presiden di Inter Milan.

Sekarang, Zanetti memang sering tampil dengan setelan rapi dan berdasi. Namun dia masih sama dengan seperti ketika pertama kali datang, tetap ramah dan murah senyum.


RESPEK
Hargailah orang lain, maka orang lain pun akan menghargai kita. Zanetti benar-benar paham tentang itu.

Respek yang didapatkan Zanetti selama ini tidak datang begitu saja. Zanetti mendapatkannya karena dia juga respek pada orang-orang di sekitarnya.

Final UEFA Cup 1997 leg kedua. Inter, yang kala itu dilatih oleh Roy Hodgson, menghadapi Schalke dalam laga penentuan.

Agregat masih sama kuat 1-1 saat extra time, dan adu penalti mulai membayang di depan mata, Hodgson memutuskan mengganti Zanetti dengan Nicola Berti. Zanetti, yang waktu itu masih cukup muda, rupanya tidak bisa menerima keputusan sang pelatih dan menunjukkannya secara terang-terangan.

Meski demikian, Zanetti tetap tak lupa memeluk Berti saat dia digantikan. Tak hanya itu, Zanetti juga memeluk Hodgson walau di saat bersamaan juga terus memprotes pelatih asal Inggris tersebut.



Biasanya pemain yang marah karena digantikan langsung 'ngeloyor' begitu saja ke bangku cadangan atau bahkan lebih parah. Zanetti berada di level yang berbeda dibandingkan mereka.



DEDIKASI
Zanetti sangat berdedikasi pada negaranya, dalam hal ini tim nasional Argentina. Kapanpun dibutuhkan, Zanetti selalu siap memberikan yang terbaik.

Meski karier internasionalnya cukup penuh cobaan, bahkan sempat melalui sebuah momen mengecewakan, Zanetti tetap mencintai timnasnya. Hingga kini, dia juga masih tercatat sebagai pemain dengan jumlah penampilan terbanyak untuk timnas Argentina (143).

Musim 2009/10, Zanetti menjadi pemain pertama yang mengkapteni klub Italia meraih treble Serie A, Coppa Italia dan Liga Champions. Namun usai mengangkat trofi impian di bawah langit kota Madrid itu, Zanetti bersama sang rekan seklub Esteban Cambiasso tak dipanggil ke skuat Argentina untuk putaran utama Piala Dunia 2010. Padahal, Zanetti bermain di hampir semua laga kualifikasi.

Diego Maradona, pelatih Argentina kala itu, justru mencoret Zanetti dari skuat final. Ban kapten Zanetti diserahkan pada Javier Mascherano, sedangkan posisinya diambil Jonas Gutierrez. Keputusan Maradona itu memancing reaksi negatif dari jurnalis dan pengamat di seluruh Amerika Selatan serta Eropa.

Meski kecewa, Zanetti menerimanya. Namun dia tidak lantas mempertimbangkan atau mengumumkan akan pensiun dari timnas. Dia mungkin bisa dibilang berbeda dibandingkan kapten Argentina yang mengatakan kalau kariernya di timnas sudah habis usai kalah di final Copa America 2016.

Selama masih bisa memberikan kontribusi, Zanetti akan memberikannya.

Setelah Argentina gagal juara di Afrika Selatan 2010, tongkat kepelatihan beralih ke tangan Sergio Batista. Salah satu langkah pertama yang diambilnya adalah memanggil kembali Zanetti ke skuat.

Copa America 2011 pun menjadi turnamen terakhir Zanetti dengan seragam La Albiceleste. Setelah itu, Zanetti benar-benar pensiun dari pentas internasional.


Kesetiaan dan kecintaan Zanetti pada klub dan timnas terbilang istimewa. Itu terlihat dari jawaban Zanetti ketika ditanya tentang rekor favoritnya.

"Semua rekor itu spesial, tapi ada dua yang jadi favorit saya."

"Yang pertama adalah pemain dengan penampilan terbanyak untuk Argentina, karena tak mudah bermain di negara seperti negara saya, di pemain-pemain hebat bermunculan setiap saat."

"Yang satunya adalah menjadi kapten Inter selama 12 tahun dan memegang rekor penampilan, terlebih lagi sebagai pemain asing. Itu luar biasa."



Zanetti juga memiliki jiwa sosial yang tinggi.

Bersama sang istri Paula, seiring krisis ekonomi yang melanda Argentina pada 2001, Zanetti mendirikan Fundacion PUPI untuk membantu anak-anak miskin di tanah kelahirannya.

Bersama Cambiasso, dia juga mendirikan yayasan amal Leoni di Potrero untuk membantu anak-anak dengan masalah isolasi sosial dan kesulitan koordinasi motorik.

Javier Adelmar Zanetti, dia adalah teladan di dalam maupun luar lapangan. Dunia sepakbola sungguh beruntung pernah memiliki sosok sepertinya. (bola/gia)