FOLLOW US:


Pavel Nedved - Tuttocampista Bersenjatakan Sepasang Meriam

28-02-2018 15:01
Pavel Nedved - Tuttocampista Bersenjatakan Sepasang Meriam
Pavel Nedved © ist

Bola.net - Dia adalah sosok gelandang yang komplet dan serbabisa. Dia memiliki kaki kiri dan kaki kanan yang sama kuatnya.

Sepanjang kariernya, dia lebih sering dipasang di sektor kiri, baik sebagai offensive wide midfielder maupun left-winger. Itu karena dia mampu melepas crossing dengan kaki kiri, juga memiliki keahlian untuk melakukan cutting-inside dan menembak dengan kaki kanan.

Selain aktif menyerang, dia juga tak tak kenal lelah membantu bertahan. Staminanya luar biasa. Kecepatannya sangat bisa diandalkan. Tekniknya di atas rata-rata. Itu membuatnya mampu menempati posisi manapun di lini tengah.

Diberi peran sebagai gelandang serang, playmaker atau second striker, dia tidak mengecewakan. Dia bisa menjadi perancang assist jempolan. Itu berkat dribbling skill, jangkauan operan dan visi permainan yang ada pada dirinya.

Kemampuannya mencetak gol tak terbantahkan, terutama gol-gol yang lahir lewat tembakan keras atau tendangan voli dari luar kotak penalti lawan. Bola-bola mati juga termasuk spesialisasinya. Kaki kiri dan kaki kanannya ibarat sepasang meriam.

Dia adalah salah satu tuttocampista atau all-rounder terbaik dalam sejarah Serie A.

Dia dijuluki 'Furia Ceca' (Czech Fury) oleh para tifosi di Italia, yang mengagumi skill, konsistensi, semangat tanding, stamina, kecepatan, power dan determinasinya. Oleh media-media berbahasa Inggris, dia dijuluki 'The Czech Cannon' - Si Meriam Ceko.

Pavel Nedved - itu namanya.


BIODATA PAVEL NEDVED
Tanggal lahir: 30 Agustus 1972
Tempat lahir: Cheb, Cekoslovakia
Karier profesional*:
1991-1992 Dukla Praha (19 penampilan, 3 gol)
1992-1996 Sparta Praha (97 penampilan, 23 gol)
1996-2001 Lazio (138 penampilan, 33 gol)
2001-2009 Juventus (247 penampilan, 51 gol)
Tim nasional:
1992-1993 Cekoslovakia U21 (7 penampilan, 0 gol)
1994-2006 Republik Ceko (91 penampilan, 18 gol).
* Jumlah penampilan dan gol di liga domestik.


Sejak muda, Nedved sudah terbiasa berlatih dengan keras. Dia terus mengasah kekuatan kedua kakinya dan menempa fisik agar bisa menghadapi lawan seperti apapun di atas lapangan.

Setahun setelah mengawali karier profesional bersama Dukla Praha, Nedved direkrut Sparta Praha. Itu adalah transfer besar pertamanya. Namun hingga titik itu potensi kelas dunianya belum terlihat jelas. Dalam sebuah kolom di surat kabar, Karol Dobias - mantan pemain timnas Cekoslovakia - bahkan sempat menulis kalau Nedved adalah pemuda "tanpa masa depan".

Empat tahun berselang, setelah membantu Sparta meraih tiga gelar juara liga, Nedved membuktikan kalau prediksi Dobias itu salah besar.

EURO 1996 menjadi salah satu titik tolak dalam karier Nedved. Dia berperan sebagai dinamo lini tengah di timnas Republik Ceko, yang dipenuhi pemain bertalenta seperti Patrik Berger dan Karel Poborsky. Sepak terjang mereka sampai ke final, terutama performa brilian Nedved di semifinal kontra Prancis, membuatnya dilirik oleh klub-klub besar Eropa.


Lazio, yang kala itu dilatih Zdenek Zeman, yang mendapatkannya. Nedved pun berlabuh di Serie A.

Bermain di liga yang waktu itu merupakan liga paling kompetitif di seantero Eropa, Nedved jadi semakin berkembang. Permainan apik dan semangat tanding yang selalu dia tunjukkan membuat Nedved mendapatkan tempat istimewa di hati para Laziale, juga respek dari lawan.

Seiring berjalannya waktu, kemampuan Nedved semakin terasah.

Nedved mampu bermain di posisi manapun di lini tengah. Dari sektor sayap, dia bisa mengirim crossing atau menusuk ke dalam untuk melepas tembakan menakutkan dengan kaki kiri maupun kanan. Di posisi sentral, dia memiliki visi dan passing skill yang mumpuni untuk mengorkestra permainan. Dengan kecepatannya, dia bisa masuk ke jantung pertahanan secara tiba-tiba.

Tuttocampista - itulah sebutan orang-orang Italia untuk gelandang serbabisa sepertinya.



Setelah lima tahun dan tujuh trofi bersama Lazio, termasuk Scudetto kedua dalam sejarah Biancoceleste pada musim 1999/00, Nedved dilego.

Sempat dikaitkan dengan klub-klub seperti Manchester United dan Chelsea, pada akhirnya Juventus lah yang mendapatkan jasa Nedved. Dia pindah ke Juventus pada Juli 2001 dengan nilai transer 75 juta Lira (sekitar 38,7 juta Euro).

Para Laziale memprotes keras keputusan pihak klub untuk menjual Nedved. Namun transfer sudah terlaksana, dan Nedved menyeberang ke Turin.

Di Juventus, Nedved diplot menjadi pengganti Zinedine Zidane - yang musim panas itu bergabung dengan Real Madrid. Mulanya, hal ini dianggap mustahil. Menggantikan maestro seperti Zidane jelas bukan pekerjaan mudah, terlebih lagi mereka punya karakteristik permainan yang berbeda.

Namun, sama seperti ketika dia dicap tak punya masa depan di Sparta, Nedved kembali membuktikan bahwa anggapan ini salah. Nedved mampu membuat Juventus move on dari Zidane.

Di Turin, Nedved juga meraih trofi demi trofi, termasuk empat Scudetto beruntun (dua kemudian dicabut setelah skandal Calciopoli), dan meloloskan Bianconeri ke final Liga Champions 2003. Tak hanya itu, Nedved juga menyabet penghargaan individu bergengsi, yakni Ballon d'Or 2003.

Waktu itu, Nedved mengalahkan Thierry Henry (Prancis/Arsenal) dan Paolo Maldini (Italia/AC Milan). Dia menjadi pemain Ceko kedua yang meraih bola emas ini setelah Josef Masopust pada 1962. Hingga kini, belum ada yang mengikuti jejak mereka berdua.


Nedved pun menunjukkan loyalitasnya dengan bertahan di Juventus setelah mereka diturunkan paksa ke Serie B seiring munculnya skandal Calciopoli 2006. Setelah membantu Bianconeri kembali ke Serie A, Nedved bertahan tiga tahun lagi.

Dia turut membangun ulang pondasi Juventus, yang kemudian kembali mendominasi di era baru. Status Nedved sebagai legenda Bianconeri pun terpatri.

Pada 2015, Nedved diangkat menjadi Wakil Presiden Juventus.





Di tim nasional, nama Nedved memang masuk dalam daftar penampilan terbanyak maupun gol terbanyak. Namun namanya tidak berada di puncak dua daftar tersebut.

International caps yang dikantongi Nedved masih kalah dibandingkan Petr Cech, Poborsky, Tomas Rosicky hingga Milan Baros. Gol internasionalnya pun kalah dari Jan Koller maupun Pavel Kuka.

Namun statusnya sebagai salah satu pemain terbaik dalam sejarah Republik Ceko tak terbantahkan. Status itu bahkan sudah ditegaskan dengan Ballon d'Or yang dia raih di masa-masa keemasannya. (bola/gia)