FOLLOW US:


Pierluigi Collina - Semua Tunduk di Bawah Aura dan Tatapannya

28-02-2018 10:30
Pierluigi Collina - Semua Tunduk di Bawah Aura dan Tatapannya
Pierluigi Collina © AFP

Bola.net - Pernahkah dia merasa terintimidasi setelah memberikan kartu merah atau gol dalam sebuah pertandingan? "Tidak pernah," katanya tegas. "Tidak mudah mengintimidasi saya."

"Tidak, saya hanya bercanda," imbuh dia tentang kalimat terakhirnya.

Entah dia benar-benar bercanda atau tidak, tapi pernyataan dalam sebuah tanya-jawab dengan UEFA.com pada April 2012 itu sama sekali tidak salah. Memang tidak mudah mengintimidasinya. Jangan coba macam-macam dengannya.

Jika ada pertanyaan tentang siapa pesepakbola terbaik sepanjang masa, jawabannya pasti beragam dan bisa menimbulkan perdebatan. Lionel Messi, Cristiano Ronaldo, Pele, Diego Maradona adalah beberapa kandidatnya.

Namun jika pertanyaannya tentang wasit terbaik dalam sejarah sepakbola, pasti semua sepakat menyebut namanya. Pierluigi Collina.


Wasit sepakbola identik dengan Collina, yang sekarang merupakan Ketua Komite Wasit FIFA dan UEFA. Itu pun bukan tanpa alasan. Pria kelahiran Bologna, Italia, 13 Februari 1960, yang menekuni karier sebagai wasit dari 1988 hingga 2005 ini punya segalanya untuk menjadi seorang pengadil lapangan.

JEJAK KARIER PIERLUIGI COLLINA SEBAGAI WASIT
1988-1991: Serie C2/Serie C1
1991-2005: Serie B/Serie A
1995-2005: Wasit FIFA.

Kepala plontos (akibat Alopecia) dan tatapan setajam elang menjadi ciri khasnya. Dia adil serta tegas, dan tentu saja juga sangat paham tentang peraturan-peraturan pertandingan. Tak ada yang namanya 'faktor wasit' dengan dia sebagai pengadil di atas lapangan.

Ketika persebakbolaan Italia diguncang skandal Calciopoli yang memalukan pada 2006, hanya ada dua wasit yang tetap bersih, yakni Roberto Rosetti dan Collina.

Auranya luar biasa. Itulah yang membantunya mengendalikan ego hingga rasa frustrasi para superstar.

Di bawah kepemimpinannya, tak ada protes yang melampaui batas. Dia tak terintimidasi, karena para pemain itu biasanya justru sudah mundur bahkan sebelum mencoba. Itu pun kadang cukup hanya dengan tatapannya yang sedingin es, yang seolah mampu menciutkan nyali mereka. Semua tunduk di bawah aura dan tatapan matanya.

Jika itu tak cukup, dia tak segan membentak dan mendorong demi mengendalikan mereka. Meski begitu, semua tetap respek kepadanya. Itu karena dia juga respek pada mereka.



Collina lulus dari sebuah universitas di Bologna dengan gelar sarjana ekonomi. Di masa remajanya, Collina bermain sebagai bek sentral untuk tim lokal. Namun pada tahun 1977, di usia 17, Collina memilih mengambil kursus wasit, setelah diketahui kalau dia memiliki bakat alami untuk pekerjaan ini.

Karier Collina melesat kencang. Dari jenjang regional, dia naik ke Serie C1 dan Serie C2, lalu dipromosikan untuk menjadi wasit di Serie B dan Serie A.

Di masa keemasannya, Serie A tak hanya punya pemain-pemain dan tim-tim terbaik, tapi juga wasit terbaik - yang kemudian menjadi seorang wasit legendaris.

"Anda harus diterima di lapangan pertandingan bukan karena Anda wasitnya, tapi karena orang-orang percaya pada Anda," kata Collina.





Pada tahun 1995, setelah memimpin 43 pertandingan Serie A, Collina masuk daftar wasit FIFA. Tugas besar pertamanya di pentas internasional adalah Olimpiade 1996, termasuk final Nigeria kontra Argentina yang dimenangi Super Eagles dengan skor 3-2.

Pada 1998, Collina bertugas di Piala Dunia pertamanya.

Pada 26 Mei 1999, Collina dipercaya mewasiti final Liga Champions antara Manchester United kontra Bayern Munchen di Camp Nou. Suporter kedua tim senang dengan penunjukan Collina, begitu pula para penonton di rumah, karena mereka yakin kalau final ini akan ditentukan oleh 22 pemain di atas lapangan - bukan kesalahan wasit.

Orang-orang pasti ingat bagaimana final ini menjadi salah satu final paling dramatis berkat dua gol pembalik keadaan yang dicetak Teddy Sheringham dan Ole Gunnar Solskjaer saat injury time.

Namun mungkin tak banyak yang tahu kalau dalam partai final ini tersaji sebuah momen yang membuat Collina semakin disegani. Setelah kebobolan gol kedua, yang membuat United berbalik unggul 2-1 di menit-menit akhir, para pemain Bayern sudah tak sanggup berdiri untuk melanjutkan pertandingan.

Collina berusaha membujuk Oliver Kahn dan rekan-rekannya untuk bangkit dan mengakhiri pertandingan meski hasil akhirnya sudah terlihat.



"Saya benar-benar beruntung sudah pernah mewasiti banyak pertandingan hebat. Final Piala Dunia tentu salah satunya, tapi saya khusus mengingat final Manchester United vs Bayern," kata Collina kepada The Telegraph pada April 2008.

"Saya akan selalu mengingatnya karena beberapa alasan. Yang utama adalah reaksi para suporter Manchester United ketika mereka mencetak gol kedua - itu suara yang luar biasa, seperti auman singa."

"Lalu reaksi pemain-pemain Bayern - kekecewaan mereka yang membuat mereka tersungkur di lapangan setelah kebobolan gol itu. Reaksi kontras antara kebahagiaan dan kesedihan, juga tatapan kosong Lothar Matthaus ketika dia melihat trofi - semuanya tak terlupakan."


Collina mencapai puncak kariernya pada Juni 2002, ketika dia dipilih menjadi wasit untuk final Piala Dunia antara Brasil dan Jerman.

Jelang laga, Oliver Kahn berkata pada Irish Times: "Collina adalah wasit kelas dunia, itu tak perlu diragukan, tapi dia tak membawa keberuntungan." Kiper Jerman itu berkaca pada dua laga besar yang dipimpin Collina sebelumnya dan melibatkan dirinya, yakni final United vs Bayern dan kekalahan 1-5 Jerman lawan Inggris pada September 2001.

Kali ini pun keberuntungan Kahn ternyata tak berubah. Jerman kalah 0-2 lawan Brasil di final.


PENGHARGAAN-PENGHARGAAN PIERLUIGI COLLINA
IFFHS World's Best Referee (6): 1998, 1999, 2000, 2001, 2002, 2003
Serie A Referee of the Year (7): 1997, 1998, 2000, 2002, 2003, 2004, 2005
Italian Football Hall of Fame: 2011.

Collina menerima begitu banyak penghargaan. Itu karena dia memang wasit hebat.

Itu semua salah satunya berkat persiapan-persiapan yang dia lakukan sebelum pertandingan. Graham Poll, wasit wakil Inggris di Piala Dunia 2002, memberikan sebuah gambaran yang jelas tentang Collina.

Dalam laga Jepang vs Turki, Collina jadi wasit dengan Poll sebagai ofisial keempat.

"Dia menggambar line-up kedua tim di papan," tutur Poll. "Dia memberi tahu kami bagaimana mereka akan bermain, siapa saja pemain yang gampang emosi, di mana saja kemungkinan terjadinya pelanggaran, dan apa saja yang kemungkinan terjadi di wilayah tiap-tiap asisten wasit."

"Dia meng-cover semuanya. Itu luar biasa, sebuah persiapan yang sangat mengagumkan. Hebatnya, dia tidak salah."


Tak ada wasit seperti Collina. Federasi Sepakbola Italia (FIGC) bahkan sampai sempat mengubah regulasi tentang usia pensiun seorang wasit menjadi 46 tahun agar Collina bisa memimpin laga-laga Serie A lebih lama.

Namun pada Agustus 2005, muncul sebuah masalah. Collina mengikat sponsorship dengan Opel. Masalahnya, waktu itu mereka juga mensponsori AC Milan. Dikhawatirkan adanya konflik kepentingan, Collina dilarang mewasiti liga tertinggi Italia.

Collina langsung mengajukan pengunduran diri, dan mengakhiri kariernya. Asosiasi wasit Italia berusaha menolaknya, tapi Collina sudah membulatkan tekad untuk pensiun.

Tiap orang mungkin punya julukan berbeda untuk Collina. Kojak, E.T, alien adalah beberapa di antaranya.

Namun satu yang pasti, Pierluigi Collina adalah wasit terbaik yang pernah ada. Semua tunduk di hadapan aura dan tatapannya. (bola/gia)