Dari Layar TV ke Kasir UMKM: Bagaimana Piala Presiden 2026 Mengubah Rating Menjadi Rupiah bagi Rakyat Kecil

Dari Layar TV ke Kasir UMKM: Bagaimana Piala Presiden 2026 Mengubah Rating Menjadi Rupiah bagi Rakyat Kecil
Ketua Organizing Committee (OC) Piala Presiden 2026, Tsamara Amany, bersama pelaku UMKM. (c) instagram/tsamaradki

Bola.net - Di balik angka TVR 8,9% dan share 45,3% yang membuat Final Piala Presiden 2026 jadi program TV nomor 1, ada cerita lain yang jarang masuk headline: bagaimana 25,8 juta penonton itu berubah menjadi Rp1,5 miliar perputaran uang bagi UMKM.

Malam itu, Kamis 6 Agustus 2026, Stadion Kapten I Wayan Dipta di Gianyar, Bali, justru hening tanpa hiruk-pikuk penonton. Laga puncak antara Persib Bandung vs Persebaya Surabaya memang digelar tanpa penonton, sesuai kesepakatan panitia, klub, dan rekomendasi aparat. Tapi di ribuan titik nobar di seluruh Indonesia mulai dari warkop dan kafe di Bandung dan Surabaya, teras rumah, hingga pos keamanan, sorak-sorai tetap meledak setiap kali peluang gol datang. Bedanya, di tribune stadion sorak itu hanya bergema di kepala para pemain dan ofisial, sementara di warung dan UMKM yang menggelar nonton bareng, sorak itu juga tentang kasir yang tak berhenti berdering.

Piala Presiden 2026 bukan hanya soal siapa yang juara, tapi juga soal berapa banyak keluarga yang bisa tersenyum lebih lebar karena omzet mereka ikut “menang” di malam final.

Sejak kick-off pada 25 Juli 2026 di Bandung dan Surabaya, Piala Presiden 2026 dirancang bukan hanya sebagai turnamen sepak bola, tapi juga sebagai panggung ekonomi rakyat. Di fase grup, penonton masih bisa masuk ke Stadion Si Jalak Harupat dan Gelora Bung Tomo. Tribune terisi, nyanyian suporter menggema, dan di lorong-lorong stadion ratusan stan UMKM berjejer menawarkan kuliner, minuman, fesyen, suvenir, hingga produk kreatif.

Panitia tidak main-main. Mereka menyediakan stan UMKM secara gratis di kota-kota tuan rumah, tanpa biaya sewa atau pungutan liar. Pelaku UMKM yang lolos kurasi—mulai dari yang sudah mapan, yang sedang naik kelas, hingga yang baru merintis—diberi ruang untuk berjualan di tengah kerumunan puluhan ribu penonton yang datang langsung ke stadion.

Hasilnya? Perputaran uang bagi UMKM hingga menjelang laga final mencapai Rp1,5 miliar. Angka ini bukan sekadar statistik. Di balik setiap rupiahnya ada pedagang gorengan yang bisa menambah stok, hingga pemilik warung yang bisa mempekerjakan anggota keluarga.

"Angka ini meningkat jauh, meningkat 27 persen dari turnamen Piala Presiden 2025," kata Ketua Organizing Committee (OC) Piala Presiden 2026 Tsamara Amany saat jumpa pers menuju laga final Piala Presiden 2026 di Jakarta, Rabu lalu.

Berdasarkan pengalaman edisi-edisi sebelumnya, setiap pelaku UMKM mampu meraup omzet antara Rp2 juta hingga Rp5 juta per hari selama turnamen berlangsung. Nilai itu belum termasuk dampak ekonomi turunan dari penjualan tiket, transportasi, hotel, restoran, dan parkir. Efek berganda inilah yang membuat Piala Presiden bukan hanya sukses sebagai ajang olahraga, tapi juga sebagai mesin penggerak ekonomi lokal.

Ketika babak semifinal dan final dipindahkan ke Bali dan diputuskan tanpa penonton, pola ekonomi ini tidak ikut mati. Ia hanya berpindah bentuk: dari lorong stadion ke titik-titik nobar di seluruh Indonesia.

Dari Layar TV ke Mesin Kasir yang Terus Berdering

Bagi yang hanya menonton dari layar televisi, Piala Presiden 2026 adalah tontonan hiburan belaka. Rata-rata rating dan share turnamen ini sejak fase grup hingga semifinal mencapai 4,5% dan 24,5%, naik sekitar 16% dibanding tahun sebelumnya. Laga semifinal Persib vs Persija bahkan mencatat share 38,7%, menunjukkan bahwa hampir empat dari lima orang yang menonton TV pada jam itu memilih sepak bola.

Puncaknya terjadi di laga final. TVR laga Persib vs Persebaya berada di angka 8,9%, atau sekitar 25,8 juta orang di seluruh Indonesia. Share-nya bahkan mencapai 45,3%, tertinggi sepanjang sejarah turnamen ini. Artinya, hampir separuh dari total orang Indonesia yang menonton televisi pada jam itu, menyaksikan final Piala Presiden 2026.

"Piala Presiden tahun ini jauh lebih sukses ya menurut saya. Apalagi kalau dari saya sebagai official broadcaster melihat dari sisi kepemirsaan TV saja, itu meningkat 16 persen dibanding tahun lalu dan ini adalah paling tinggi dibanding tahun-tahun sebelumnya," ujar Direktur Emtek Media, Harsiwi Achmad, setelah partai final.

"Jadi, ini merupakan turnamen pre-season paling besar di Indonesia saat ini," tegas Harsiwi Achmad.

Yang membuat Piala Presiden 2026 berbeda dari turnamen lain adalah kesadaran penuh panitia bahwa dampak ekonomi ini harus dirancang, bukan dibiarkan terjadi begitu saja. Tsamara Amany, Ketua Organizing Committee (OC) Piala Presiden 2026, menegaskan bahwa pelibatan UMKM bukan sekadar pelengkap. Ini adalah bagian dari ekosistem turnamen yang bertujuan menggerakkan ekonomi masyarakat.

"Kami berharap Piala Presiden bukan hanya menghadirkan hiburan bagi rakyat, tetapi juga membawa dampak ekonomi yang jelas bagi masyarakat di kota-kota tempat turnamen berlangsung," ucapnya.

UMKM yang dilibatkan dibagi menjadi tiga kategori: UMKM lokal yang sudah cukup dikenal, UMKM yang sedang naik kelas, dan UMKM baru yang sedang berkembang. Kurasi ini memastikan bahwa turnamen tidak hanya menguntungkan UMKM lama, tapi juga memberi kesempatan bagi pelaku usaha baru untuk mendapatkan eksposur dan pelanggan tetap.

Maruarar Sirait, Ketua Steering Committee Piala Presiden, mengutip arahan Presiden Prabowo saat meninjau gerai UMKM di Stadion I Wayan Dipta, Bali: "UMKM ini harus mendapatkan kesempatan, harus mendapatkan keuntungan."

Pernyataan ini bukan sekadar retorika. Di lapangan, komitmen itu diterjemahkan dalam bentuk stan gratis, kurasi yang berpihak pada UMKM lokal, dan penataan area yang memudahkan penonton untuk membeli produk lokal sambil menonton pertandingan—baik di stadion maupun di titik nobar.

"Kita senang kalau UMKM-nya maju. Jadi harus bikin orang lain bahagia," tutur Maruarar.

Lebih dari itu, seluruh pembiayaan turnamen ini tidak menggunakan APBN atau uang BUMN. Semua dana berasal dari sponsor swasta, dengan total nilai sponsor yang menembus Rp70 miliar hingga berakhirnya fase grup. Laporan keuangannya pun diaudit oleh PricewaterhouseCoopers (PwC), auditor independen bertaraf internasional. Transparansi ini membuat dampak ekonomi yang dihasilkan terasa lebih otentik: ini adalah uang swasta yang benar-benar berputar di masyarakat, bukan uang negara yang dialokasikan dari anggaran.

"Piala Presiden dananya tidak ada dari APBN, tidak ada dari BUMN, semuanya dari swasta. Dan diaudit dari auditor yang kelasnya internasional," tegas Maruarar.

Ketika Peluit Akhir Berbunyi, Ekonomi Tidak Ikut Berhenti

Ketika Peluit Akhir Berbunyi, Ekonomi Tidak Ikut Berhenti

Ramadhan Sananta merayakan gol pada laga Persebaya Surabaya melawan Persib Bandung di final Piala Presiden 2026 (c) Dok. Piala Presiden

Ketika Persebaya akhirnya mengangkat trofi usai drama adu penalti di final, sorak-sorai suporter Bajul Ijo menggema di seluruh Indonesia melalui layar TV dan titik nobar. Tapi di luar stadion, ada sorak lain yang lebih pelan tapi tak kalah penting: pedagang yang menghitung omzet malam itu, pemilik warkop yang tersenyum melihat kasir penuh, atau pengrajin suvenir yang akhirnya bisa menyambung hidup kembali dengan uang hasil jualan selama turnamen.

Piala Presiden 2026 membuktikan bahwa sepak bola bisa jadi lebih dari sekadar hiburan. Dengan rating TV yang memecahkan rekor dan perputaran ekonomi UMKM yang mencapai miliaran rupiah, turnamen ini menunjukkan bahwa setiap gol di lapangan bisa punya "gol ekonomi" di warung kopi dan stan UMKM.

Model seperti inilah yang seharusnya menjadi standar baru penyelenggaraan turnamen olahraga di Indonesia: bukan hanya soal siapa yang juara, tapi juga soal berapa banyak keluarga yang bisa tersenyum lebih lebar karena kasir mereka ikut bersorak dan tak berhenti berdenting.