FOLLOW US:


Deretan Nomor Punggung yang Dipensiunkan Klub Sepak Bola Indonesia

27-07-2020 13:37

 | Gia Yuda Pradana

Deretan Nomor Punggung yang Dipensiunkan Klub Sepak Bola Indonesia
Mengenang legenda Persebaya Surabaya, Eri Irianto © Bola.com/Aditya Wany

Bola.net - Di kancah olahraga, memensiunkan nomor punggung bukanlah hal yang ganjil. Banyak tim yang memensiunkan nomor punggung di skuad mereka.

Hal tersebut lazimnya dilakukan sebagai bentuk penghormatan dari tim tersebut. Biasanya, pemilik nomor punggung, yang dipensiunkan tersebut, merupakan sosok legenda bagi tim tersebut. Namun, juga bisa jadi nomor punggung tersebut dipensiunkan secara anumerta, karena pemiliknya meninggal dunia.

Dalam sejarah olahraga profesional, nomor punggung yang pertama dipensiunkan adalah milik Irvine Wallace Bailey, soerang pemain hoki es profesional asal Kanada. Ia harus pensiun dini menyusul cedera parah yang ia alami ketika memperkuat Toronto Maple Leafs pada Desember 1933.

Di sepak bola dunia, memensiunkan nomor punggung pun bukan hal baru. Sejumlah tim seperti AC Milan, Ajax Amsterdam, Napoli, dan Real Betis melakukan hal tersebut sebagai bentuk penghormatan.

AC Milan memensiunkan nomor punggung 6 untuk menghormati legenda klub, Franco Baresi. Mereka pun memensiunkan nomor punggung 3 guna mengenang legenda klub, Paolo Maldini. Serupa dengan Milan, Napoli melakukan hal yang sama dengan nomor punggung 10 demi menghormati legenda mereka, Diego Maradona.

Sementara itu, di Indonesia sendiri ada sejumlah nomor punggung yang dipensiunkan. Tak hanya bentuk penghormatan bagi pemain, ada juga nomor punggung yang dipensiunkan demi menghormati suporter.

Nomor punggung berapa saja yang dipensiunkan di kancah sepak bola Indonesia? Simak artikel selengkapnya di bawah ini.

1 dari 6

Nomor Punggung 19 di Persebaya

View this post on Instagram

A post shared by BONEK HIJRAH (@bonekhijrah) on

Persebaya Surabaya tercatat sebagai klub pertama di Indonesia yang memensiunkan salah satu nomor punggung di tim mereka. Bajul Ijo, julukan Persebaya, memensiunkan nomor punggung 19 demi mengenang salah seorang pemain mereka, Eri Irianto.

3 April 2000, Eri Irianto meninggal dunia usai memperkuat Persebaya dalam pertandingan menghadapi PSIM Yogyakarta. Pada laga tersebut, pemain kelahiran 12 Januari 1974 ini memang sempat berbenturan dengan pemain asing PSIM, Samson Noujine Kinga.

Eri sempat digantikan pada tengah-tengah pertandingan. Karena ia terus mengeluh pusing dan sesak napas, pemain asal Sidoarjo ini pun dilarikan ke rumah sakit. Namun, setelah menjalani observasi dan perawatan, Eri Irianto mengembuskan napas terakhir.

Sepeninggal Eri, manajemen Persebaya memutuskan memensiunkan nomor punggung 19. Selain itu, nama Eri Irianto diabadikan sebagai nama wisma Persebaya, yang ada di Karanggayam.

Soal nomor punggung Eri ini, sempat terjadi sedikit polemik pada 2013 silam. Pasalnya, Evan Dimas, yang waktu itu berstatus pemain muda Persebaya, mengenakan jersey bernomor punggung 19 pada sebuah sesi latihan.

Evan sendiri mengaku tak sengaja mengenakan nomor punggung tersebut. Pasalnya, menurut pemain yang kini memperkuat Persija Jakarta tersebut, hanya jersey bernomor 19 itulah yang tersedia.

2 dari 6

Nomor 12 di Persija Jakarta

Nomor 12 di Persija Jakarta
Salah satu koreo karya The Jakmania © Bola.com/Vitalis Yogi Trisna

Pada 2011, Persija Jakarta memensiunkan nomor punggung 12 mereka. Namun, hal ini tak dilakukan sebagai penghormatan kepada para pemain atau legenda.

Ferry Paulus, yang waktu itu menjabat sebagai Ketua Umum Persija Jakarta, memensiunkan nomor punggung 12 dan memberikannya kepada Jakmania. FP, sapaan karib Ferry Paulus, menyebut bahwa hal ini merupakan penghargaan bagi Jakmania, yang sudah menjadi pemain ke-12 mereka selama ini.

"Persija mengabadikan nomor punggung 12. Tak ada satu pemain pun yang akan mengenakan jersey dengan angka tersebut," kata FP, waktu itu.

"Nomor 12 sudah kami dedikasikan untuk suporter, yaitu The Jakmania. Alasannya simpel, Jakmania adalah pemain ke-12 kami di lapangan," imbuhnya.

Kebijakan Persija ini berdampak bagi Andritany Ardhiyasa, yang saat ini menjadi kiper utama Macan Kemayoran. Andritany tak bisa mengenakan nomor 12, yang menjadi favoritnya. Walhasil, kiper berusia 28 tahun tersebut mengenakan nomor punggung 26, sampai saat ini.

3 dari 6

Nomor 33 di Persis Solo

Tahun 2012, sepak bola Indonesia menjadi perhatian dunia. Penyebabnya, tragedi yang menimpa pesepak bola asal Paraguay, Diego Mendieta.

Mendieta menderita sakit dan meninggal di Indonesia. Yang menjadi pokok perhatian dunia bukanlah penyakit pemain yang meninggal pada usia 32 tahun tersebut.

Mendieta disebut terlantar akibat gajinya masih ditunggak klub yang sempat ia bela, Persis Solo. Akibat gajinya tertunggak, ia tak bisa maksimal dalam menjalani pengobatan.

Manajemen Persis Solo sendiri akhirnya membayar tanggungan mereka. Selain itu, sebagai pengingat tragedi ini, mereka pun memensiunkan nomor punggung 33, yang biasa dikenakan Mendieta.

4 dari 6

Nomor 47 di Arema FC

View this post on Instagram

A post shared by Art Of Aremania (@aremadesign) on

Tahun 2017 menjadi tahun duka bagi Arema FC. Pada tahun itu, klub berlogo singa mengepal ini kehilangan salah seorang penjaga gawang senior mereka, Achmad Kurniawan.

Kiper yang karib disapa AK ini meninggal dunia pada 10 Januari 2017. Pria yang juga kakak kandung Kurnia Meiga Hermansyah ini meninggal akibat komplikasi jantung, ginjal, dan gangguan pernapasan.

AK sendiri pada 2016 menjadi andalan Arema selama hampir setengah musim. Penampilan cemerlangnya sepanjang bermain seakan menjadi kado perpisahannya dengan Arema.

Sebagai pengenang atas kesetiaan AK, Arema FC memutuskan untuk memensiunkan nomor punggung 47, yang pada ISC A 2016 menjadi nomor punggung AK. Sebelumnya, ia lebih lekat dengan nomor 31.

Jika nomor punggung 47 dipensiunkan, nomor punggung 31 masih dipakai sampai saat ini. Musim 2020, nomor 31 dikenakan kiper muda nan potensial, Andriyas Francisco.

5 dari 6

Nomor 1 di Persela Lamongan

Nomor 1 di Persela Lamongan
Choirul Huda © Persela Lamongan

15 Oktober 2017 merupakan hari terakhir bagi Choirul Huda mengawal gawang Persela Lamongan. Hari itu juga menjadi hari terakhir Huda berada di dunia fana.

Huda wafat usai bertabrakan dengan rekannya sendiri, Ramon Rodrigues, kala menghalau serbuan penyerang Semen Padang, Marcel Sacramento. Insiden ini terjadi di Stadion Surajaya Lamongan, dalam laga kompetisi Liga 1 2017.

Kiper berusia 38 tahun ini sempat mendapat perawatan di lapangan dan dilarikan ke rumah sakit. Namun, ia mengembuskan napas terakhirnya di rumah sakit.

Manajemen Persela Lamongan mengapresiasi dedikasi dan kesetiaan yang ditunjukkan Huda, selama 18 tahun memperkuat klub tersebut. Mereka memensiunkan nomor punggung 1, yang selama nyaris dua dasawarsa dikenakan Huda.

6 dari 6

Nomor 20 di Persija Jakarta

View this post on Instagram

A post shared by • Bambang Pamungkas • (@bepe20) on

Laga kontra Persebaya Surabaya, 17 Desember 2019 lalu menjadi aksi terakhir Bambang Pamungkas di lapangan hijau. Pria berusia 40 tahun ini menutup 20 tahun perjalanannya sebagai pesepak bola profesional.

Sebagai pesepak bola profesional, Bepe -sapaan karibnya- menghabiskan sebagian besar karirnya di Persija Jakarta. Karenanya, tak salah jika Macan Kemayoran -julukan Persija Jakarta- memberinya penghormatan besar.

Nomor 20, yang sangat identik dengan Bepe, dipensiunkan oleh manajemen Persija Jakarta.

"Nomor 20 saat ini memang sangat fenomenal. Selama Persija Jakarta berdiri, memang ada pendahulu-pendahulu pemain yang punya kebiasaan memiliki nomor punggung tertentu. Sekarang manajemen akan memensiunkan nomor 20," ujar Direktur Olahraga Persija Jakarta, Ferry Paulus.

Selain mendapat penghormatan dengan dipensiunkannya nomor punggung 20, Bepe juga mendapat penghormatan lain dari manajemen Persija Jakarta. Salah satu kelas di Akademi Persija Jakarta dinamai kelas Bepe 20. Selain itu, legenda Timnas Indonesia ini juga diangkat menjadi Manajer Persija Jakarta.

(Bola.net/Dendy Gandakusumah)