FOLLOW US:


Gagal Premier League, 5 Pemain Ini Justru Bersinar di Luar Inggris

04-12-2019 14:09

 | Aga Deta

Gagal Premier League, 5 Pemain Ini Justru Bersinar di Luar Inggris
Perayaan gol penyerang Lyon, Memphis Depay. © AP Photo

Bola.net - Klub-klub Premier League selalu menginginkan pemain terbaik untuk memperkuat skuadnya. Karena itu, mereka tidak ragu untuk menggelontorkan dana yang besar untuk mendapatkan pemain incarannya.

Premier League dianggap sebagai tempat yang pas untuk menunjukkan kualitas permainan. Liga kasta tertinggi di Inggris tersebut terkenal sangat kompetitif.

Itu menjadi satu di antara alasan banyak pemain ingin bermain di Premier League. Namun, tak semua pemain cocok bermain di Inggris.

Ada pemain yang benar-benar kesulitan beradaptasi dengan gaya permainan ala Premier League dan akhirnya memutuskan hengkang. Menariknya, sebagian pemain yang hengkang tersebut akhirnya bisa bangkit dan bersinar di luar Inggris.

Berikut lima pemain gagal Premier League yang berhasil bersinar di luar Inggris seperti dilansir Sportskeeda, Selasa (3/12/2019).

1 dari 5

1. Memphis Depay

Pemain asal Belanda, Memphis Depay, memutuskan bergabung dengan Manchester United pada 2015. Setan Merah mendatangkan Depay dari PSV Eindhoven dengan banderol 25 juta pounds (Rp485,5 miliar).

Kedatangan Depay ke Old Trafford menimbulkan banyak ekspektasi. Tak sedikit fans yang membandingkannya dengan Cristiano Ronaldo atau Arjen Robben.

Bersama PSV, Depay mampu mencetak 22 gol dari 30 pertandingan. Namun, kondisi berbeda saat ia bermain untuk Manchester United.

Depay terlihat sangat kesulitan beradaptasi dengan sepak bola Inggris. Pada musim pertamanya bersama Manchester United, Depay hanya mencetak dua gol dari 29 pertandingan.

Kemudian pada awal musim 2016-2017, Depay hanya mencatatkan 8 penampilan. Alhasil, pada bursa transfer musim dingin Depay dijual ke klub Prancis, Olympique Lyon, dengan harga 16 juta pounds.

Bersama Lyon, Memphis Depay justru kembali menemukan permainan terbaiknya. Ia kini sudah mengemas 50 gol dari 130 penampilan.

Dengan 11 gol di antaranya ia catatkan dalam 14 pertandingan musim ini. Kondisi tersebut membuatnya kembali dilirik klub-klub Premier League.

Dua klub Premier League yang dikabarkan kepincut ialah Tottenham Hotspur dan Liverpool. Dengan nakhoda anyar sekelas Jose Mourinho, Tottenham tentunya ingin mendatangkan pemain dengan status bintang.

Sementara, Liverpool yang tidak aktif selama bursa transfer musim panas lalu diyakini akan menambal sektor-sektor yang masih kurang.

Apalagi The Reds saat ini berada di puncak klasemen. Demi mempertahankan posisi puncak, tim asuhan Jurgen Klopp itu diprediksi bakal menambah sejumlah pemain baru.

2 dari 5

2. Florian Thauvin

Pemain asal Prancis, Florian Thauvin, bergabung dengan Newcastle United dari Marseille pada 2015. Newcastle mendatangkan pemain tersebut dengan banderol 15 juta pounds.

Banyak yang menganggap ia satu di antara pemain masa depan di Eropa. Apalagi dia dinobatkan sebagai pemain muda terbaik pada 2012-2013.

Namun, bersama Newcastle United performa Thauvin justru meredup. Dari 16 pertandingan yang dilakoni Thauvin hanya mengemas satu gol.

Kondisi tersebut membuatnya menuai banyak kritikan terutama dari Alan Sharer, legenda Newcastle United. Performanya yang menurun membuatnya dikembalikan ke Marseille dengan status pinjaman.

Kemudian pada 2016, Thauvin resmi diikat secara permanen oleh Marseille. Setelah itu perlahan tapi pasti Thauvin kembali menemukan permainan terbaiknya.

Pemain yang berposisi sebagai penyerang sayap itu sukses mencatatkan 15 gol pada musim 2016-2017. Musim berikutnya, Thauvin mempunyai torehan yang lebih bagus.

Selama satu musim, Thauvin sukses mencetak 22 gol dari 34 pertandingan. Pencapaian tersebut membuatnya masuk nominasi pemain terbaik Ligue 1.

Ia juga menjadi bagian saat Timnas Prancis menjuarai Piala Dunia 2018 di Rusia. Sayang, cedera yang menimpanya membuat Thauvin harus absen musim musim ini.

3 dari 5

3. Gerard Pique

Mungkin tak adil jika menyebut Gerard Pique sebagai pemain yang gagal di Premier League. Seperti diketahui, Pique memiliki waktu yang relatif singkat bersama Manchester United.

Bersama Setan Merah, pemain asal Spanyol itu mengawali debut dengan kurang baik. Kala itu, Manchester United harus mengakui keunggulan Bolton Wanderers dengan skor 0-1.

Dalam pertandingan tersebut, Pique beberapa kali gagal meredam aksi penyerang Bolton, Nicolas Anelka. Termasuk saat terjadinya, Pique telat menghalau sundulan Anelka.

Kondisi tersebutlah yang membuat Sir Alex Ferguson berpikir keras untuk terus mempertahankannya. Alhasil, Pique pun dijual ke Barcelona, klub masa kecilnya.

Saat di Barcelona, Pique langsung menjadi pilihan utama hingga sekarang. Bersama Blaugrana, Pique sudah mencatatkan 515 penampilan dan sudah mempersembahkan 7 gelar La Liga dan dua trofi Liga Champions.

Kondisi tersebut tentunya yang menunjukkan Pique lebih sukses bermain di Spanyol ketimbang di Inggris.

4 dari 5

4. Radamel Falcao

Radamel Falco bisa dibilang menjadi satu di antara predator terbaik di dunia. Pemain berjuluk El Tigre itu mencetak banyak gol di tiga liga berbeda, yakni Portugal, Spanyol dan Prancis.

Namun, ia gagal bersinar saat bermain di Premier League. Saat bermain untuk FC Porto, Falcao sukses mencetak 34 gol dari 43 penampilan di semua kompetisi pada musim 2008-2009.

Pada musim berikutnya, pemain asal Kolombia itu tampil sebanyak 44 laga dengan mengemas 38 gol. Setelah itu, Falcao memutuskan pindah ke klub asal Spanyol, Atletico Madrid.

Performa apik Falcao berlanjut saat berseragam Los Rojiblancos. Selama berkostum Atletico Madrid, Falcao berhasil menyumbang 70 gol dari 91 penampilan.

Dia juga ikut mengantarkan Atletico juara Liga Europa pada 2012. Kemudian pada musim 2013, Falcao melanjutkan petualangannya ke klub asal Prancis, AS Monaco pada musim panas 2013.

Falcao sejatinya megawali musim yang sangat baik bersama Monaco. Namun ia harus mengalami cedera ACL pada awal 2014.

Kondisi tersebut membuatnya absen selama kurang lebih satu tahun. Setelah sembuh dari ceder, Falcao langusung dipinjamkan ke klub Premier League, Manchester United.

Bersama Setan Merah, Falcao mendapatkan gaji 265 ribu pounds per minggu. Sayang, Falcao gagal bersinar bersama klub yang bermarkas di Old Trafford itu.

Falcao hanya mencetak empat gol sepanjang berkostum Manchester United. Setelah itu, Falcao dipinjamkan ke klub Premier League lainnya, Chelsea.

Ia mengalami nasib yang sama saat membela The Blues. Falcao hanya diberi kesempatan tampil sebanyak 12 kali dan hanya mencetak satu gol.

Kondisi tersebut membuat Falcao dikembalikan ke AS Monaco. Namun, performa apik justru ditampilkan Falcao ketika kembali ke Monaco. Kala itu, Falcao mampu mencetak 30 gol dari 43 penampilan. Performa gemilang Falcao tersebut pun berlanjut ke musim-musim berikutnya.

Namun, banyak yang beranggap penampilan buruk Falcao di Premier League karena ia baru kembali dari cedera yang cukup lama.

5 dari 5

5. Paulinho

Tottenham Hotspur pernah mendatangkan Paulinho pada bursa transfer musim panas 2013. Kala itu, Paulinho diplot untuk menggantikan Gareth Bale yang hengkang Ke Real Madrid.

Bahkan, kedatangan Paulinho ke Spurs sampai memecahkan rekor transfer klub. Pemain asal Brasil itu diboyong Spurs dengan banderol 17 juta pounds (Rp311,5 miliar).

Dengan harga yang tinggi, Paulinho diharapkan bisa menjadi pembeda di skuat Tottenham Hotspur. Namun, ia harus berjuang menemukan permainan terbaiknya.

Performa yang terus menurun membuatnya dilepas pada bursa transfer musim panas 2015. Setelah itu Paulinho melanjutkan petualangannya ke klub China, Guangzhou Evergrande.

Guangzhou mendatangkan Paulinho dengan banderol 14 juta pounds. Performa apiknya bersama Guangzhou membuat Barcelona kepincut.

El Barca memboyongnya pada 2017 dengan harga yang mengejutkan, yakni sebesar 40 juta pounds. Namun, pada musim berikutnya ia dipinjamkan ke Guangzhou Evergrande.

Bersama Barcelona, Paulinho mencetak sembilan gol dari 49 penampilan. Tak hanya itu, ia juga sukses mempersembahkan trofi La Liga dan Copa del Rey.

Disadur dari: Bola.com/Penulis Faozan Tri Nugroho/Editor Yus Mei Sawitri
Published: 4 Desember 2019